
Setelah selesai sholat Maghrib, mereka pun pergi ke restoran yang tidak jauh dari mesjid tersebut. Israr menceritakan saat dia di introgasi di kantor polisi selama hampir 5 jam, rasanya sungguh membosankan. Di saat Israr asyik bercerita, ponsel Rans berdering.
"Ya hallo, wa'alaikumussalam..!"
"Iya saya lagi di perjalanan bersama yang lainnya,"
"Apa? garis polisi uda di lepas? alhamdulilah...!"
"Hem..! sekarang coba kamu sempurna kan lagi mesin Portalnya menurut buku panduan yang uda saya catat, jika ada kendala telfon lagi saya,"
"Oke oke wa'alaikumussalam..!" Rans mematikan ponselnya, wajah Rans terlihat gembira sekali setelah berbincang singkat dengan anggota teamnya yang berada di lab.
"Ada apa Pah? kok kelihatan gembira sekali!?" Aletris bertanya, ia penasaran dengan sikap suaminya tiba-tiba ceria.
"Kabar gembira dari team saya, lab uda boleh di gunakan kembali," senyum Rans tambah sumringah setelah memberitahukan secara singkat berita tentang lab mereka.
"Alhamdulillah..!" Mereka serempak mengucapkan rasa syukur.
"Nah kalau gini kan kita bisa tenang makan malamnya..!" Israr sedikit malu-malu mengungkapkan tentang keadaan perutnya yang sedari tadi sudah kelaparan, maklumlah introgasi tadi memakan waktu yang cukup lama, sehingga waktu makan siang Israr terlewatkan.
"Tenang saja Pak Israr! biar saya yang mentraktir, hingga Pak Israr kenyang, bebas mau makan apa saja dan bila perlu nanti bisa di bungkus untuk anak istri Pak Israr," Jihan dengan percaya diri memamerkan kartu debit yang di keluarkan dari tas Cely, namun Cely tidak sadar, Cely malah tersenyum melihat tingkah Jihan, tapi sepertinya Cely mulai menyadari dengan kartu debit yang di pegang Jihan, sepertinya sangat familiar.
Cely mengetuk-ngetuk kan jari telunjuk kanannya, di kepala dia sendiri, seperti sedang berfikir.
Jihan melihat itu terkekeh dengan mulut yang di tutup, sakit perut rasanya menahan tawa yang hampir meledak.
"Han..!" panggil Cely, matanya terus memperhatikan kartu debit yang berada di tangan Jihan dalam keremangan.
"Iya Cely ada apa..!? tenang aja, kamu juga aku traktir kok! jangan khawatir..!" dengan sombong Jihan sok merasa tidak bersalah.
Cely membuka tas kecilnya, ia nyalakan lampu dalam mobil.
"Dimana ya kartu debit aku..? " Cely mengguman.
Cely tidak menjawab, dia terus mencari kartu debitnya.
"Jangan-jangan kartu debit yang di pegang Jihan itu punya ku..," sontak Cely baru sadar.
Tiba-tiba Cely menjewer telinga Jihan
"Hayoo...! sini balikin kartu debit ku, dari mana pula kamu punya kartu debit, ha..?" akhirnya Cely menyadari dan tanpa basa-basi ia langsung mengeksekusi tersangkanya.
"Aduh-aduh ampun Cel..!"
"Sakittttt..,"
"Jahat kamu Cel..!"
"Lepasin..!"
"Aku nyerah dech..! iya-iya ini aku balikin..!" Jihan endingnya menyerah, ia merogoh kantong celananya mengambil kartu debit Cely.
Rans dan yang lainnya, hanya geleng-geleng kepala dan ketawa saja melihat tingkah laku 2 gadis jelita itu.
Tak terasa Rans sudah menemukan restoran yang tepat, ia membelokkan mobil yang di kemudikan, langsung memasuki tempat parkir.
Setelah turun dari mobil, mereka berjalan menyusuri beberapa tempat yang cocok dan nyaman, saat itu suasana restoran tidak terlalu ramai, jadinya bebas memilih tempat.
"Ini buku menunya Pak Israr, Bapak saat ini kami prioritaskan..!" Cely tersipu malu mengatakan itu.
"Akh..! Buk Cely, saya jadi gak enak nih..!" Israr sebenarnya ingin menolak buku menu yang di suguhkan Cely, tapi tidak enak juga karena Cely sedikit memaksa.
Setelah Israr memesan beberapa menu, kini giliran mereka bergantian memesan menu pilihan kesukaan masing-masing.