
Derry dengan perasaan kesal melangkah keluar gedung, sebaliknya, Israr dengan santai menyilangkan kakinya dan tersenyum penuh rahasia.
Derry tidak kehabisan ide, sesampai dirumahnya ia mencoba menghubungi Cely melalui email. Berkali-kali Derry membuka emailnya berharap ada balasan dari Cely, tapi hasilnya nihil.
' Kayaknya aku kenal mah wanita yang terluka ini..?' Derry mencoba memperhatikan dengan sangat teliti. Wajahnya seperti familiar untuk di lihat, Derry mencoba mengumpulkan memori masa lalunya, tiba-tiba...
Seketika matanya terbelalak kaget!
' Ya Allah ternyata wanita ini Jihan! ' Derry terkejut dalam bathinnya setelah kesekian kalinya memutar video tersebut dengan cermat, men-pause, dan men-zoom baru kelihatan siapa pemilik wajah itu.
Derry membuka laptopnya, ia searching profil tentang Jihan di internet, tapi hasilnya -nihil-, Derry benar-benar bingung untuk mencari informasi tentang Jihan harus dimulai dari mana.
""
Diapartemen Cely
'Tok tok tok '
"Assalamu'alaikum Cely..!?"Jihan terlihat mengetuk pintu apartemen Cely, keadaan Jihan sangat berbeda dengan sebelumnya, kini ia mengenakan jilbab dan wajah serta tubuhnya terlihat lebih segar, ia pun membuka kacamata hitam yang dikenakan.
Lama Cely membuka pintu apartemennya, hampir 10 menit baru dibuka, itu pun setelah kesekian kalinya Jihan, Rans, dan Aletris bergantian mengetuk mau pun mengucapkan salam.
'Cklek '
Terdengar suara pintu dibuka, muncul lah sosok wajah yang sudah familiar, tapi terlihat sedikit bengkak yang membuat berbeda.
"Wa'alaikumussalam..!" Cely membalas salam mereka, suaranya parau, mungkin sudah berhari-hari dia menangis karena kehilangan Jihan, ditambah lagi Rans yang tiba-tiba menghilang.
Jihan langsung memeluk Cely, tanpa memberi kesempatan Cely untuk berbicara selanjutnya dan melihat wajah orang yang memeluknya.
"Maaf..! kamu siapa ya..? kok tiba-tiba.... Jihan..??? ini benar kamu Jihan...???" Cely terkejut saat melepaskan pelukannya dan menatap orang yang di depan dirinya itu.
"Ya Allah Jihannn....! alhamdulilah ya Allah...!" Cely memeluk kembali tubuh Jihan dan menangis sejadi-jadinya begitu pun juga Jihan. Rans dan Aletris cuma memperhatikan saja, Rans juga terbawa situasi, ia merangkul istrinya Aletris dan buliran bening menetes membasahi kepala Aletris, Rans sangat merasakan sekali apa yang di alami Cely.
Setelah beberapa menit mereka saling melepaskan perasaannya, Cely pun melepaskan pelukannya dan baru menyadari rupanya Jihan tidak sendirian, ada Rans dan istrinya Aletris.
"Om Rans..?? dokter Aletris..?? kok bisa barengan disini..??" Cely antara senang dan bingung.
"Kita memang sejak tadi disini, kamu sih terlalu bawa perasaan ke Jihan, sehingga gak lihat kami berdua," Aletris menerangkan.
"Sebaiknya kita ngobrol di dalam saja!" Rans melihat kanan kiri, lalu mendorong pelan Cely dan Jihan kedalam.
Mereka pun masuk dan ngobrol di ruang tamu, berulang kali Cely memeluk Jihan, serasa tidak percaya sahabat barunya itu telah kembali.
Rans dan Aletris menceritakan kejadiannya sejak Cely pingsan, Jihan terluka, Jihan menyembuhkan lukanya sendiri disaat tak sadarkan diri, hingga Jihan, Rans, dan Aletris menghilang.
"Pa..! ini saatnya kita tampil di media, kita temui mereka digedung Cely," Aletris penuh percaya diri.
"Ide bagus..! Cely, Jihan ayo siap-siap! jika kita terlalu lama menghilang, bisa jadi lab peninggalan ayah mu di tutup selamanya oleh pemerintah!" Rans antusias ingin segera ke lab.
"Oke tunggu sebentar om, aku mau ganti baju dulu," Cely langsung bangkit dan menuju kamar.
Lima menit kemudian mereka pun berangkat menuju gedung megah Cely.
Sesampai digedung megah, mereka masuk dari jalur evakuasi agar tidak bertemu dengan media dan langsung menuju loby.
Diloby..
"Saya bisa buktikan bahwa wanita yang terluka itu adalah.... Jihan, teman Cely. Mungkin saat ini wanita dia uda tewas akibat dari percobaan kalian kan..? dan jasadnya kalian sembunyikan!" Derry ternyata tidak menyerah, dia berusaha mengungkap kebenaran. Kali ini Derry tersenyum puas, merasa dirinya akan menang.
Israr masih dengan santai menepis tangan para bawahan Derry, Israr berjalan menuju Derry dan berhenti tepat di depannya yang berjalan hanya 5 centimeter.
"Siapa takut..! tangkap aku jika kamu mampu!" Israr menantang dan tersenyum mengejek.
"Tangkap dia..! cepaattt..!" Derry penuh emosional menyeru bawahannya.
Bawahan Derry dengan sigap langsung berjalan menuju Israr dan hendak memborgol ke dua tangan Israr.
"Tunggu"
Seyla tiba-tiba muncul dan berjalan menuju Derry.
"Ada kejutan..!" Seyla tersenyum manis, tapi kelihatan mengejek.
'Tklak tklek tklak tlek...!'
Terdengar suara langkah kaki dari belakang menuju mereka, kedengaran seperti langkah 3 atau 4 orang.
'Jreng jreng'
Rans, Cely, dan Jihan tiba di saat yang tepat, sedangkan Aletris setelah berunding memutuskan untuk tidak tampil di media, karena nanti malah akan menimbulkan ke curigaan.
"Agen Derry..! apa anda mencari kami?" sapa Rans dengan senyuman merekah, ternyata Rans cukup mengenal Derry juga.
"Mengapa wajah anda begitu kaku..? apakah Tuan Israr tidak menawarkan kopi untuk anda..?" Rans langsung saja menyeletuh dan melayangkan pertanyaan tidak penting yang sifatnya mengejek.
Derry berdiri kaku, wajahnya memerah menahan amarah serta merasa di permalukan di depan media.
Ketika media melihat Rans, Cely, dan Jihan, mereka langsung mau menyerbu mendekati. Beruntung di tahan oleh aparat maupun anak buah Cely.
Suara riuh pun langsung memenuhi ruangan itu, pertanyaan dari media pun tidak berhenti-henti, suara kamera memotret pun tak mau kalah.
Israr pun mengangkat tangannya, memberikan kode agar semuanya diam.
"Sepertinya apa yang di katakan Tuan Rans benar, aku tidak beramah tamah dengan agen Derry, Seyla tolong buatkan secangkir untuk agen Derry!" Israr menyuruh Seyla dengan wajah bercanda.
"Dengan senang hati," Seyla tersenyum dan menunduk 45 derajat, setelah itu ia ingin bergegas pergi kebelakang.
Namun,
"TIDAK PERLU..! Derry sedikit membentak, matanya menyorot tajam ke wajah Israr dan Rans.
Rans dan Israr tersenyum puas, ingin rasanya mereka berdua segera mengusir Derry dari hadapan mereka.
Derry memberikan kode pada bawahan untuk segera meninggalkan gedung tersebut. Mereka melangkah keluar dengan penuh rasa malu.
'Brum brum brum....!:
Suara kendaraan Derry dan bawahannya meninggalkan gedung megah itu.
'Prok prok prok '
Tiba-tiba Aletris muncul dengan di sertai tepuk tangan, sontak semuanya melihat ke sumber suara itu dan ketika melihat dokter Aletris, mereka seperti terhipnotis untuk mengikuti.
'Prok prok prok '
Suara riuh tepuk tangan memenuhi loby, semuanya tersenyum menatap Cely dan Jihan.