Jihan Taylor

Jihan Taylor
23. Keadaan Jihan



Tidak sampai 10 menit, keadaan Jihan pulih total. Namun belum sadarkan diri.


Aletris kembali keruang operasi dan memberikan instruksi untuk memindahkan Jihan keruang pemulihan, mereka kembali melewati koridor.


Saat melewati koridor orang-orang yang melihat mereka lewat tadi pada berguman riuh, merasa heran karena baru kali ini ada pasien yang luka parah masuk UGD dan keluar dengan sangat singkat, tapi luka-lukanya sudah sembuh total.


"Ha?? bukannya ini pasien yang barusan masuk UGD?"


"Iya ini pasien tadi, tapi kok gak ada lagi luka-lukanya??"


"Maa Syaa Allah...! benar-benar hebat dokter Aletris!"


Banyak orang yang mengekori perawat yang tengah mendorong tubuh Jihan diatas kasur, mereka masih penasaran dengan apa yang terjadi.


Setelah memasuki ruang instensif, mereka tertahan didepan pintu dan berebut ingin melihat Jihan dari balik kaca mungil di bagihan pintu.


Tiba-tiba Aletris datang


"Bapak, ibu mohon beri saya pintu untuk masuk, pasien masih butuh saya periksa!" Aletris berdiri tepat dibelakang kerumunan depan pintu.


"O iya buk dokter..! silahkan, maaf kami mengganggu!" salah seorang memberi jalan dan membuka kan pintu.


"Makasih," Aletris tersenyum, melangkah masuk dan menutup kembali pintunya.


"Atur oksigennya jangan terlalu cepatn!" ucap Aletris sambil masih terus memeriksa kondisi Jihan.


"Apa perlu kita pasang infus buk dokter?" perawat tersebut sudah siap siaga mengambil jarum infus.


"Hem..! tidak perlu, setelah saya cek kondisinya saat ini hanya pingsan, bukan koma. Ini benar-benar aneh dan ajaib, baru kali ini saya menemukan pasien seperti ini," Aletris sepertinya masih bertanda tanya besar, ingin rasanya segera berbincang-bincang dengan Rans, suaminya.


"Pah..! lagi nelfon siapa?" Aletris menepuk pundak Rans.


"Astaghfirullahuladzim Mamaa....! buat jantung copot saja," Rans mengusap-usap dadanya sendiri.


"Ini lagi nelfon asisten Papa di lab, banyak wartawan yang datang ke gedung Cely, mereka ingin mengetahui apa yang telah terjadi di lab, sepertinya kali ini akan terjadi kehebohan seantero kota!" Rans menjelaskan.


Rans teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, perihal menghilangnya ibu dan ayah Cely, di kala itu media masih bisa ditahan untuk menggali informasi mengenai Portal Telefortasi, yang mengakibatkan hilangnya sang pemilik Portal tersebut.


Tapi kali ini sepertinya tidak bisa, media sudah terlalu canggih. Apa pun bisa cepat tersebar melebihi kecepatan virus.


Aletris membuka ponselnya, matanya langsung mencari berita utama. Tepat dugaan kedua pasangan itu, ada berita yang menyangkut keluarga Cely dan Portal Telefortasi, beberapa video pendek juga. Terlihat video ketika Jihan saat meradang kesakitan dikursi percobaan sampai Jihan terhisap ke Portal hingga video Jihan terlempar kembali keluar dari Portal.


Masih banyak lagi video yang mengenai Jihan, bahkan video saat Jihan memasuki rumah sakit, UGD, keluar dari UGD, dan video ketika memasuki ruang instensif.


"Ini gawat Mah, bisa-bisa pemerintah salah paham dan menutup lab ayah Cely!" Rans panik, berjalan mondar mandir gak tentu arah.


"Tenang dulu Pah, sebaiknya saat ini Papah dan Cely jangan pulang dulu, hindari semua media. Masalah teman Cely biar Mama yang urus, ntar Mama pindahkan ke rumah sakit lain. Setelah teman Cely sadar dan keadaannya uda kondusif, baru Papa temui media!" Aletris memberikan solusi pada suaminya.


"Hemm..! oke lah kalau gitu, Papa ke ruangan Cely dulu, kayaknya tadi dia mulai sadar. Sebaiknya Mama pindahkan sekarang juga teman Cely, oiya nama gadis itu Jihan. Sampai lupa Papa ngasih tau nya!" Rans pamitan dan bergegas meninggalkan Aletris.


Aletris cuma bisa menghela nafasnya


"Cepat Ma, Papa yakin media segera kesini. Jangan sampai mereka menemukan kamar Jihan!" Rans berhenti sebentar dan menoleh pada Aletris.


"Iya Pa!" Aletris pun buru-buru menuju ruang instensif Jihan.