
Flora pun menceritakan kejadian yang menimpah Jihan dengan penuh seksama, mulai dari ritual dikampus sampai ritual dipinggir sungai dibawah pohon palem.
'Deg'
Jantung Asraf serasa berhenti ketika mendengar pohon palem, begitu pun juga Lolita. Serasa flasback ketika mereka menemukan Jihan, kala itu masih bayi. Kepala Lolita terasa berputar-putar, membayangkan Jihan yang telah raib dari kehidupan mereka, badannya gemetaran tak kuasa menerima kenyataan.
"Jihaaannn...! ya Allah anakku...!" pekik Lolita, kedua tangan Lolita mencengkram erat kepalanya.
"Sayang...! tenangkan hatimu, bukankah selama ini kita sering melihat kejadian-kejadian aneh pada diri Jihan..!?" Asraf mendekati Lolita dan memeluknya, sebenarnya fikiran Asraf sangat kacau sekali, tapi dia harus kelihatan tegar didepan Lolita dan Inka sebagai kepala keluarga.
Inka yang berada di dapur pun berlari kedepan, karena mendengar suara histeris Lolita. Sesampai didepan, Inka pun bertanya pada Flora apa yang sebenarnya yang terjadi. Setelah dijelaskan Flora, Inka hampir jatuh karena kakinya lemas.
"Kak...! kenapa kalian menuruti kemauan kak Jihan...! kenapa kak???" Inka menatap lekat wajah Flora dan Anggi, kedua tangannya mengguncang pundak Flora dan Anggi secara bergantian. Netranya tak terbendung lagi mengeluarkan buliran bening.
Flora dan Anggi terbungkam mulutnya, tidak bisa menjawab pertanyaan Inka, hanya isak tangis saja yang terdengar. Flora dalam hal ini sangat merasa bersalah, karena selama ini dia lah yang paling mendukung keinginan Jihan, bahkan saat ritual pertama kali tepatnya dikampus mereka Flora semua yang mempersiapkan segalanya.
Inka pun menatap Asraf penuh dengan wajah yang memelas tanpa daya.
"Abi..! apa yang harus kita lakukan?" Inka walaupun sudah berderai air mata, tapi masih kelihatan tegar seperti Asraf. Asraf kelihatan berfikir keras, ingin memecahkan masalah ini.
"Abi akan hubungi seorang kenalan, beliau seorang Kiayi soleh, in syaa Allah beliau bisa bantu, tapi rumah beliau ada diprovinsi Jambi. Abi mau beresin pakaian ganti dulu, kamu Inka tetap dirumah jaga Ummi mu!" Asraf pergi kemar dengan terburu-buru, ia mengemasi pakaian ganti seadanya saja. Sebelum berangkat ia sholat 2 rakaat, baru setelah itu ia keluar kamar lengkap dengan kopernya.
"Bi mau kemana?" Lolita kaget, melihat Asraf membawa koper, ia bingung disaat seperti ini kenapa Asraf ingin pergi, itu karena dia tadi tidak mendengar obrolan antara Asraf dan Jihan.
"Tapi Bi..! apa Ummi gak bisa ikut?" Lolita berharap Asraf mengizinkan untuk menyertainya dalam perjalanan ke Jambi.
"Gak Mi! sayang kamu harus tetap dirumah, perbanyak dzikir, sholat istikharah, dan bila perlu besok Ummi puasa, ajak juga Inka, beribadah lah kalian secara jamaah," dengan tegas Asraf tetap dalam pendiriannya, yaitu pergi sendiri.
Setelah berfikir sejenak akhirnya Lolita mengizinkan Asraf untuk pergi sendirian, walaupun hatinya berat.
"Ya uda lah Bi, berangkat lah..! semakin cepat semakin baik, in syaa Allah Ummi dan Inka akan menjalankan amanah Abi," dengan terpaksa Lolita merestui keberangkatan Asraf ke Jambi.
"Iya sayang, ya uda Abi berangkat dulu. Jaga baik-baik diri kalian dirumah, ingat..! ini semua rahasia kita, selain yang ada diruangan ini jangan ada yang boleh tahu!" Asraf menatap satu persatu wajah orang yang saat ini ada diruang tamu tersebut.
Asraf pun melangkah keluar, menuju garasi. Setelah kopernya dimasukkan kebagasi ia pun berpamitan.
"Assalamu'alaikum...! Abi berangkat, ingat pesan Abi..! oiya Flora dan Anggi nginap saja dulu disini, tolong temani istri saya dan Inka, tapi minta izin dulu ke orang tua kalian!" Asraf berharap Flora dan Anggi tidak keberatan menginap di rumahnya.
"Wa'alaikumussalam..!" serempak mereka menjawab.
"O iya Pak, in syaa Allah, makasih Pak sebelumnya," Flora mau tidak mau harus menerima tawaran Asraf, karena dia merasa bersalah dalam hal ini.
'Bismillahirrahmanirrahim' guman Asraf pelan, seiringan menutup kaca jendela mobilnya. Perlahan mobil melaju menyusuri kompleks perumahan mereka dan menghilang setelah melewati perempatan.