
Tiba-tiba getaran hebat, serasa seperti gempa, Cely dan para team lainnya saling berpegangan erat, lampu ruangan berkedip-kedip, namun tidak berlangsung lama setelah padam seluruh nya.
Suasana ruang bawah tanah gelap gulita dalam beberapa saat, lalu hidup kembali, barang-barang di sekitar mereka berserakan.
Setelah getaran hebat itu berhenti, mereka terdiam sesaat, menunggu keadaan benar-benar kondusif,
Cely orang yang pertama kali bangkit, dia terlihat sedikit bingung seperti mengingat-ingat kejadian yang barusan terjadi.
"Aduh.., sakit..,"
Terdengar keluh kesah beberapa anggota team, karena saat gelombang Plasma di aktifkan terjadi getaran yang menyebabkan mereka terbentur ke sana kemari.
"Jihan..!" Cely tiba-tiba teringat, Cely bangkit dengan sempoyongan, terasa sakit di sekujur tubuh Cely. Namun ia tetap bangkit berjalan menuju lift. Cely memencet-mencet tombol lift, tapi tidak bisa terbuka.
"Ayo lewat pintu darurat saja Cel," Rans berjalan menuju pintu darurat, Rans membuka paksa pintu tersebut. Dengan tertatih-tatih mereka menaikkan anak tangga menuju ruangan laboratorium. Hampir 50% anggota team terluka, bahkan ada yang sangat parah, Aletris pun tidak sanggup menanganinya.
Sesampai di ruang lab..
Mereka terperangah melihat kondisi ruangan lab itu, hampir-hampir tidak ada yang utuh.
Cely langsung lemas, pandangan nya kosong, buliran bening mulai mengalir membasahi pipi. Dada Cely terasa sakit, netra nya mulai memindai ke segala penjuru, Cely mencari sesuatu yang amat teramat penting. Namun yang di cari tidak di temukan, Cely mulai berputus asa.
Rans menuju meja monitor yang telah di tutup untuk menghindari penghancuran gelombang Plasma, Rans kemudian menekan tombol off mematikan mesin Portal, setelah mesin Portal mati, Rans terduduk lemas dilantai, fikiran nya melayang-layang mencoba mengembalikan akal nya, mengingat semua yang telah terjadi.
Terdengar dari loudspeaker mini dekat monitor suara Seyla menghubungi,
"Hallo Profesor Rans!? anda ada di sana...!?" suara Seyla memanggil, tapi tidak ada jawaban. Rans berasa hancur, hingga dia tidak merasa bersemangat.
"Hallo siapa pun yang berada di sana..! tolong jawab panggilan saya!" untuk kesekian kali nya Seyla memanggil, perasaan Seyla mulai khawatir, Seyla mulai memukul-mukul kaca pelindung dari luar, terlihat jelas kepanikan diwajahnya. Melihat Seyla panik, Komisaris Kepolisian yang berada dekat Seyla langsung mengambil microphone dari tangan Seyla.
"Hallo di sini Komisaris dan yang mulia Raja Arthur ingin mengetahui kondisi di dalam, siapa pun yang berada di sana, bicara lah pada kami..!" Komisaris itu terlihat cemas, wajah nya serius, berkali-kali ia mengulang panggilan itu secara bergantian dengan Seyla, namun belum ada jawaban.
"Sepertinya kita harus dobrak pintu nya atau pecah kan saja kaca pelindung ini." Raja Arthur tiba-tiba angkat bicara
"Maaf yang mulia kaca ini anti peluru dan juga anti benda keras lainnya, pintu lab ini juga terbuat dari besi baja yang sangat kuat, butuh 1 harian kita membuka nya!" Seyla dengan antusias menjelaskan pada Raja Arthur,
"Jadi apa yang harus kita lakukan? kita tidak bisa berdiam diri di sini..!" Raja Arthur sudah mulai tidak sabar, karena ini juga tanggung jawab Raja, lab ini di resmikan juga karena persetujuan Raja, bagaimana jika seluruh rakyat nya mengetahui.
Seyla mencoba menghubungi kembali tanpa ekspresi,
Sesaat kemudian..
Aletris bergegas berjalan menuju monitor,
"Iya, kami masih di sini dan selamat dari marah bahaya," jawab Aletris, sembari tangannya memegangi luka ringan yang berada diperut sebelah kiri.
"Syukur Alhamdulillah, Dokter Aletris bisa buka pelindung penutup kaca pengunjungnya?" pinta Seyla dari luar lab, Seyla menghela nafas lega dan tersenyum merekah
"Baiklah..!" Aletris langsung menekan tombol untuk membuka perlindungan, namun baru hanya beberapa centimeter terbuka perlindungan kaca tersebut, sudah tidak bisa lagi, macet total. Aletris berulang kali menekan kembali tombol open, tapi tetap tidak bisa.
"Baiklah Dokter, saya akan memanggil ahli mekanik untuk memperbaiki nya,"
"Bagaimana keadaan Dokter dan beserta rekan team lainnya?" tanya Seyla,
"Keadaan kami sedang tidak baik-baik saja, tolong segera dan secepat mungkin team medis datang kan kemari, siap kan ruang darurat di rumah sakit terdekat, tolong cepat..!" Aletris sudah mulai merintih menahan sakit di bagihan perut kiri nya, melihat Aletris kesusahan saat akan duduk di samping Rans, Rafi berlari mendekati kedua orang tua nya, ia memapah Aletris untuk duduk.
"Baik Dokter..! secepat mungkin pertolongan akan segera datang," Seyla menimpali, tangan Seyla gemetaran hingga sulit untuk memencet keyboard diponsel nya.
"Biar saya yang menangani!" Komisaris memegang kedua tangan Seyla, mencoba menenangkan dirinya yang sedang panik.
"Yang Mulia Raja, izinkan saya untuk menggunakan team-team khusus Kerajaan, ini situasi nya darurat, harus ditangani oleh yang profesional..!" terlihat wajah Komisaris memelas, memohon kerendahan hati Sang Raja untuk mengabulkan permohonannya,
"Jangan banyak tanya lagi, lakukan yang terbaik, saya beri izin kamu!" dengan tegas Raja Arthur meninggikan suaranya,
"Baik yang Mulia!" Komisaris itu memanggut, ia pun mulai sibuk menelfon team-team khusus Kerajaan.
Di dalam lab...
"Bagaimana luka Mama? parah?" Rafi mengecek luka Aletris, ternyata luka Aletris cukup lumayan, dengan sigap Rafi merobek lengan baju miliknya, ia ikat kan di luka itu dengan cara melingkar kan dipinggang Aletris.
"Mama baik-baik saja kok Raf!" Aletris tersenyum dan ia cukup bangga mempunyai anak yang bisa di andalkan, ternyata anaknya sudah tumbuh dewasa.
Rafi tidak perduli dengan ucapan Aletris, ia tetap mengecek keadaan Aletris dan beralih ke Rans, bersyukur ternyata Rans dalam keadaan baik-baik saja.
"Raf..! Jihan..! dimana Jihan? Astaghfirullah..!" Aletris tiba-tiba tersentak kaget tersadar, Aletris bangkit dari duduknya di ikuti Rans dan Raffi.
"Jihaaaannn...!"
"Jihaaaannn...!"
Suara Cely memanggil-manggil Jihan tanpa henti, Cely berjalan tergesa-gesa menyusuri tiap jengkal ruangan laboratorium tersebut,
Seluruh orang yang berada di ruangan itu kini sibuk mencari Jihan, mereka pun membongkar-bongkar barang yang berserakan, namun Jihan tidak di temukan.
Tiba-tiba salah seorang anak buah Derry menemukan tameng pelindung Jihan, ia membalikkan tameng tersebut dan melihat sesuatu yang bergerak-gerak berwarna merah tua.
"Komandan..!" teriak anak buah Derry, matanya terus saja memandang benda kenyal yang bergerak-gerak itu,
Derry dan Cely langsung bergegas lari ke anak buahnya yang memanggil tadi, Aletris mengikuti mereka dengan di papah Rafi.
"Astaghfirullah...! apa ini?" Derry mendekati benda kenyal tersebut dan memberanikan diri membersihkan dari kotoran,
"Ini jantung manusia..! tapi... Hati siapa ini? kenapa masih bergerak?" tiba-tiba Aletris menyeletuk dan jongkok di samping Derry.
Aletris terus memperhatikan jantung tersebut dengan seksama..
"Mungkinkah ini jantung Jihan?" Cely menimpali perkataan Aletris.