Jihan Taylor

Jihan Taylor
21. Panik



Sementara itu Flora dan Anggi.


"Jihaannnnn....!" Flora dan Anggi memanggil sahabatnya.


"Jihannnn...!" tangisan mereka begitu pilu


Entah berapa lama mereka menangis, hingga kelelahan.


Mereka benar-benar bingung, panik, dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka berdua duduk terpaku, menikmati sisa-sisa tangisannya.


"Gi...! kita harus ngomong apa ke orang tua Jihan?" Flora tiba-tiba bersuara memecah keheningan.


"Ak..ak.. Aku gak tau Flo...! aku juga bingung...!" terlihat Anggi lebih bingung, badannya gemetaran. Mungkin jika kepergian Jihan kabur dari rumah, itu lebih mudah menjelaskannya, tapi.... Ini sangat tidak masuk akal, jika tidak melihatnya secara langsung.


"Kita harus pulang Gi, kita harus terima kenyataan kalau nanti orang tua Jihan murka," Flora bangkit berdiri, menatap Anggi dan berjalan menuju mobil.


Anggi pun buru-buru bangkit, karena Flora sudah menyalakan mobil.


Mereka tidak tahu, sesungguhnya Jihan didunia Jingga sudah menjalani kehidupannya berminggu-minggu. Padahal, didunia nyata baru beberapa menit.


Selama dalam perjalanan, Flora dan Anggi lebih banyak diam, mereka dalam fikiran masing-masing. 30 menit kemudian mereka telah sampai di kompleks perumahan Jihan, saat memasuki gerbang rumah Jihan, Flora berkali-kali menghela nafas kasar. Mobil yang mereka kemudikan berlahan memasuki garasi.


Jantung kedua sahabat Jihan itu, tidak karuan lagi berdetaknya.


Saat mereka keluar dari mobil


"Assalamu'alaikum...!" Flora melangkah masuk rumah,


"Assalamu'alaikum...!" Flora mengulangi lagi salamnya, karena tidak ada satu suara pun yang membalas salam Flora.


Tidak lama keluar Inka dari kamarnya, ia masih mengenakan mukena. Inka menghampiri Flora dan Anggi.


"Wa'alaikumussalam...! oo kak Flora dan Anggi...! kak Jihan mana kak?" Inka celingukan kearah pintu keluar, netranya memindai keluar.


"Hemm... Inka..! Abi dan Ummi mu mana? kami mau membicarakan sesuatu.


"Ada didapur kak, mereka lagi masak bersama bantuin bik Endah, biasalah kak mereka sok pengantin baru, hehehe!" Inka sedikit terkekeh menjelaskannya.


Flora dan Anggi cuma tersenyum sedikit, sejujurnya mereka sebenarnya tidak bisa menunjukkan expresi bahagia, fikiran mereka sedang kalut.


"Iya kak...!" Inka bergegas ke dapur dengan sedikit terburu-buru.


Sesampai di dapur


"Abi Ummi...! teman kak Jihan mau bicara sesuatu yang penting


"Siapa?" tanya Lolita


"Flora dan Anggi mi, uda buruan mi...! gak enak ditungguin, biar aku buatin minum dulu." Inka sibuk mengambil es batu dikulkas dan sirup.


"Bik..! tolong teruskan ya ini pekerjaan saya!" Lolita tersenyum sambil menyerahkan adonan kue ringan.


"Iya buk!" sahut bik Endah


Asraf dan Lolita pergi berjalan ke ruang tamu


Tklak tklak tklak tklak


Terdengar suara langkah sandal Asraf dan Lolita, suara itu membuat jantung Flora dan Anggi semakin tidak karuan.


"Flo...! aku takut...!" Anggi sudah gemetaran, netranya sudah berkaca-kaca, tak butuh waktu lama buliran bening mulai menetes membasahi pipinya. Flora menenangkan Anggi, merangkul Anggi penuh rasa menyakitkan.


"Flora...! Anggi kenapa nangis?" tiba-tiba suara Lolita mengejutkan Flora dan Anggi


"Iya kenapa Anggi? dimana Jihan?" Asraf menimpali dua pertanyaan sekaligus.


Flora terdiam, sedangkan Anggi masih terguguh sesenggukan.


"Flora...! ada apa sebenarnya ini?" Lolita melangkah pindah duduk dekat Flora dan mengelus-elus rambut Flora dan Anggi, senyumnya merekah.


"Pak Buk....! Jihan...! Jihan...! Jihan hilang...! terhisap cahaya Jingga!" langsung to the point Flora mengatakan apa yang terjadi.


"Maksudnya apa Flora?" terlihat Asraf mulai panik dan curiga, begitu juga dengan Lolita.


"Saya akan menceritakan dari awal hingga akhir pak buk." Flora menguatkan hatinya untuk berbicara.