
Pintu lif terbuka, mereka keluar satu persatu berjalan menuju Portal. Terlihat di wajah mereka sedikit tegang, kecuali Jihan.
Rans langsung berbaur dengan teamnya, sibuk kembali dengan mesin Portal yang mana dia sendiri yang akan mengaktifkan mesin tersebut.
Kali ini para team yang akan berangkat, mereka tidak di pasangi oleh alat apa pun, sebab mesin Portal sudah sempurna.
Rans mulai memberikan aba-aba pada teamnya untuk pengaktifan mesin, mesin menyala perlahan-lahan tanpa hambatan. Energi pun sudah memadai, terlihat di Portal cahaya yang menyilaukan, berputar-putar sangat lambat dan memperlihatkan seperti di luar angkasa.
Mereka yang berada di sana, terpelongo melihat keajaiban itu, rasanya ingin juga pergi ikut serta uji coba mesin tersebut.
Keadaan hening seketika, senyum takjub terlihat diwajah setiap yang hadir. Sang Raja pun berdiri, kemudian memberikan tepuk tangan, tersenyum, dan manggut-manggut menatap Rans.
Seketika keadaan yang hening, kini menjadi meriah, karena semua yang hadir ikut tepuk tangan, sebagai tanda ucapan selamat pada Rans dan Cely.
Team yang akan berangkat pun berangsur-angsur hilang ketegangannya, bahkan kini mereka merasa lebih rileks.
"Perhatian semua nya..! team akan segera berangkat dan Bapak Profesor Rans agar mengaktifkan mesin terakhir sebagai bentuk penghormatan kami..!" tiba-tiba suara Seyla melalui pengeras suara memecahkan ke meriahkan.
Terlihat Rans memejamkan matanya,
"Bismillahirrahmanirrahim..!"
Rans perlahan menarik tuas pengaktifan terakhir, cahaya Portal tiba-tiba berubah menjadi fleksibel, seperti air, menyejukkan, dan kelihatan tidak berbahaya.
"Woouuuww...!"
"Maa Syaa Allah...!"
"Luar biasa...! Profesor Rans memang luar biasa...!" terdengar sedikit suara riuh dari para pengunjung, mereka pun berdiri dari tempat duduk nya.
Rans tersenyum menatap para team yang akan berangkat, memberikan bahasa isyarat dengan memanggut, mengartikan mereka siap untuk berangkat.
Jihan tanpa ragu langsung melangkah terlebih dahulu dengan sedikit tergesa-gesa. Namun, cahaya itu tiba-tiba bergerak-gerak, seperti ada sesuatu yang akan muncul.
'Bles..!'
Tiba-tiba berlompatan beberapa makhluk keluar dari Portal tersebut, langsung menyerang team Rans.
"Makhluk apa itu..?" Rans panik, ia pun mengambil senjata nya dan menyerang. Tinggi makhluk itu, kira-kira 4 meter, punggungnya agak menunduk, memiliki tangan 4 berkuku tajam, kepala besar berbentuk seperti tengkorak, giginya seperti taring semua, memiliki kaki yang hampir sama dengan tangan plus kukunya tajam juga, dan suara dari makhluk itu melengking mengerikan.
"Aktifkan pertahanan...!" perintah Rans pada team.
Dengan cekatan team Rans mengaktifkan pertahanan, semua pintu di tutup otomatis dan hanya ada 1 pintu besar yang di buka lebar, yaitu yang mengarah ke ruang bawah tanah.
"Serangggg....!" Derry berteriak memerintah,
Tembakan pun terdengar sangat memekakkan di ruangan itu, namun sedikit sekali peluru senjata mereka yang bisa melumpuhkan makhluk asing itu.
Hanya Jihan yang tidak menembakkan 1 peluru pun, ia berdiri tenang dan tersenyum sinis, saat itu makhluk yang paling besar berdiri tepat di depan nya.
"Jihaaaannn....!" Cely berteriak panik, ingin rasanya dia berlari menyelamatkan Jihan, tapi dia sendiri sedang menghadapi makhluk lain nya juga.
Makhluk itu menembak kan semacam duri landak dari dalam mulutnya ke diri Jihan, Jihan dengan mudah sekali menghindari dan menagkis, makhluk itu terlihat marah dan mengeluarkan suara dahsyat, Jihan perlahan mencabut pedang yang ia selempang kan dipunggungnya.
Jihan kemudian melompat cepat bertumpu kan kaki makhluk itu, 1 hal yang ia incar, yaitu leher bagihan belakang, itu adalah kelemahan makhluk itu. Jihan mengetahui kelemahan makhluk itu karena sewaktu dia pertama kali melewati Portal Telefortasi, ia di serang segerombolan makhluk itu dan terluka parah, tapi sempat membunuh beberapa makhluk aneh tersebut. Saat Jihan ingin menebas bagihan leher tersebut, rupanya gerakan Jihan terbaca oleh makhluk tersebut, Jihan di pukul sekuat nya hingga terhempas lumayan jauh.
Makhluk itu sepertinya tidak puas, ia berlari mendatangi Jihan terhempas tadi, belum sempat Jihan memasang kuda-kuda, ia kali ini di tendang jauh lagi hingga menabrak dinding menyebabkan beberapa bagihan anggota tubuh Jihan terluka parah, tapi tidak sampai 5 detik tubuh Jihan pulih kembali, Jihan tersenyum mengerikan, kepalanya menunduk sejenak, kemudian perlahan wajahnya ia angkat dan menatap makhluk itu penuh amarah.
Saat Jihan ingin menyerang makhluk itu, ia tiba-tiba di serang segerombolan makhluk lainnya yang berukuran lebih kecil.
"Ciyaaett...! hiaattt...!" Jihan menebas gerombolan makhluk itu di bagihan leher dengan susah payah, 1, 2, 3, makhluk itu mulai bertumbangan di tebas Jihan. Makhluk yang paling besar tadi sepertinya terus memperhatikan Jihan, seolah-olah ia ingin berduel dengan Jihan 1 lawan 1.
Derry dan Cely sama-sama memperhatikan makhluk yang paling besar itu, mereka seperinya sepakat ingin menyerang makhluk itu dari arah belakang,
"Cely..! kita serang barengan dari arah belakang, aku perhatikan Jihan tadi menyerang juga dari arah belakang dan sasarannya leher!" Ucap Derry memberi tahu Cely tentang kelemahan makhluk itu,
"Ayo kita serang sekarang..!" Cely mengangguk dan langsung melompat.
"Hiiyaatt...!"
Suara Derry dan Cely saat melompat bersamaan hendak menebas leher belakang makhluk itu.
Tapi....
Makhluk itu dengan sigap membalikkan badannya dan langsung memukul Derry dan Cely bersamaan hingga terhempas.
"Aakhh...!"
Teriak Derry dan Cely
Rafi melihat itu, ia hendak menolong tapi makhluk yang menyerangnya seperti tidak kunjung habis.
Aletris dan Rans sibuk mengaktifkan senjata yang sangat berbahaya, yaitu gelombang Plasma. Selain itu Aletris menyiapkan semacam cairan yang dapat melumpuhkan syaraf bahkan dapat merusak jaringan pembuluh darah.
"Pah..! beri aku senjata..!" Aletris berteriak pada Rans,
Rans melemparkan senjata yang di rancang secara khusus, Aletris menangkap senjata yang di lemparkan Rans, Aletris langsung memasukkan amunisi yang berbentuk cairan tersebut.
Aletris kemudian mengaktifkan senjata itu,
"Dor..! dor..! dor..!"
Suara tembakan Aletris tiada hentinya, 1, 2, 3, makhluk mengerikan itu tumbang tak berdaya, langsung mati. Aletris melemparkan 1 senjatanya pada Rafi, dengan antusias Rafi ikut menembaki makhluk-makhluk itu.
"Heeaaatttthhh....!" suara amarah Rafi menggebu-gebu, tubuhnya berlumuran darah dari cipratan makhluk-makhluk itu.
Dalam hitungan menit, semua makhluk itu mati, kecuali yang paling besar yang sedang bertarung dengan Jihan.
Melihat tinggal 1 makhluk lagi yang tersisa, mata Aletris dan Rafi berbinar-binar ingin segera mengakhiri makhluk jelek itu.
"Teeembaaaakkk...!" Aletris berteriak penuh semangat menembaki bersama dengan putranya.
Namun... Baru sebentar saja mereka menembak, amunisi cair nya sudah abis.
"Siaal..!" umpat Rafi kesal,
Aletris dan Rafi menekan-nekan pelatuk senjata mereka, saat itu tiba-tiba...
Ada lemari besi di lemparkan ke Aletris, Aletris tidak memperhatikan, karena masih sibuk memeriksa senjatanya.
"Tidaaakkk...!" Rafi berlari secepat mungkin ke arah Aletris, Rafi berusaha melindunginya Aletris.
'Buukk..!'
Suara tubuh Rafi dan Aletris terjatuh di balik tangga keluar lab,
"Akhww..!" Rafi dan Aletris merintih kesakitan, tapi beruntung mereka selamat dan hanya terluka sedikit.
Makhluk itu mengira sasarannya sudah tewas, lalu ia membalikkan tubuhnya ke arah Jihan, dan saat itu Jihan sudah melompat dengan pedang siap menebas lehernya.
"Hiiyaaatt...! cress..! cress..! cress..! terdengar suara tebasan pedang Jihan mengenai muka, leher, dan punggung makhluk itu.
Namun, luka-luka itu pulih kembali..
"Aaarrrggghhh...!"
Makhluk jelek itu meraung-raung penuh amarah, tapi Jihan tidak memberi kesempatan, Jihan langsung melompat lagi tepat di atas punggungnya, Jihan tancapkan pedang itu dileher makhluk tersebut.
Suara auman makhluk itu penuh amarah dan menahan rasa sakit semakin menggema. Sesaat kemudian tubuhnya mulai ambruk,
"Jihaann..! lompatt...!!" teriak Rans,
Jihan melompat sebelum jatuh tertimpa,
"Semuanya cepat masuk ke ruang bawah tanah darurat..!" semua yang ada di ruangan lab itu saling bahu-membahu membantu yang terluka memasuki lif.
Beberapa detik kemudian, ada banyak lagi makhluk jelek mengerikan berkeluaran dari Portal Telefortasi, bahkan makhluknya lebih besar lagi dari yang Jihan lawan.
Tinggal lah Jihan dan Rans yang belum masuk ke ruang bawah tanah darurat, Rans mengatur waktu mundur untuk pengaktifan senjata gelombang Plasma.
Para pengunjung yang menyaksikan dari tadi di balik kaca yang super tebal mereka pada histeris tidak menentu, bahkan mungkin ada yang pingsan. Tapi masih beruntung, Rans dan teamnya dengan sigap sejak awal sudah mengaktifkan sistem pertahanan ganda, sehingga siapa pun yang berada di ruang lab tidak bisa keluar, karena pertahanan lapisan dinding sedang di aktifkan dan itu membuat para pengunjung aman dari tindak bahaya apa pun dari dalam lab.
Jihan berlari mendatangi Rans, membantu Rans seadanya.
"Jihan...! pergi lah..! waktu kita tidak banyak..!" Rans sembari mendouble sistem pertahanan, kaca-kaca mulai di tutup otomatis, para pengunjung panik, karena mereka tidak bisa lagi melihat ke ruangan lab.
"Tidak..! Profesor lah yang harus pergi, cepattt...! sebelum terlambat..! biar aku ulur waktunya, agar mereka teralihkan untuk merusak lif," Jihan menoleh menatap makhluk itu penuh amarah, ia tahu ini lah saat nya berkorban, netranya pun mulai berkaca-kaca.
Setelah Rans berfikir sejenak,
"Baik lah Jihan..! jaga dirimu baik-baik..!" ucap Rans lirih, buliran bening menetes membasahi pipinya, kemudian dia lari menuju lif.
Sesampai di bawah, pintu lif pun terbuka, Rans bersandar di lif, pandangannya kosong.
"Jihan mana Om..?" Cely terlihat panik, kedua tangan Cely menutup mulutnya sendiri, menahan tangisan, tapi.. Netra Cely tidak bisa di bohongi.
Rans tidak menjawab dan berjalan gontai keluar dari lif.
"Jihaaaaannnnn......!" teriak Cely sekuat-kuatnya, Cely terjatuh lemas.
Aletris dan beberapa orang berusaha menenangkan Cely.
Di ruang lab..
Jihan mulai bertarung lagi dengan makhluk-makhluk buas dan mengerikan itu lagi, ia melompat di atas punggung makhluk yang telah mati tadi, mencabut kembali pedangnya. Kali ini Jihan hanya mempertahankan diri saja, agar tidak membuang-buang waktu dan tenaga.
Tak berapa lama, suara sirine berbunyi sekuat-kuatnya, memberi tanda beberapa detik lagi gelombang Plasma aktif.
Jihan berlari ke arah lemari kosong yang tergeletak, ia loncat dan langsung menarik pintu lemari tersebut, Jihan berusaha menahan pintu itu dari dalam.
'Hiiiiiiiiittttttttt......! Wuusssssss.....!'
Terdengar di ruang lab itu suara gelombang Plasma aktif dan menghancurkan apa pun yang standar ke tahanannya di bawah kekuatan gelombang Plasma tersebut.
Lemari tempat sembunyi Jihan terombang-ambing entah kemana saja hingga hancur, Jihan terlempar keluar dan dia sempat menyaksikan makhluk-makhluk itu hancur berkeping-keping, tak luput giliran dirinya juga.
"Aaakhh..!" Suara Jihan menjerit, hanya beberapa detik saja, Jihan teringat akan Abi, Ummi, Inka, 2 sahabatnya Flora dan Anggi, tubuh Jihan hancur lebur dalam hitungan per sekian detik.