JEWEL WORLD

JEWEL WORLD
Ch 5. Arpura City



Menggelincir langkahku melihat kerajaan yang megah ini, di siang hari yang berganti menjadi senja, bangunan bangunan megah yang menjulang tinggi, itulah yang teringat dibenakku tentang kerajaan ARPURA CITY.


"itu kerajaannya Lard, oh ya..apakah kau memiliki medali putih yang bersimbol burung merpati untuk masuk kedalam kerajaan ini?" Alfeil memperlihatkan medali miliknya.


"tentu saja Alfeil, dulunya aku adalah seorang pelayan dari kerajaan ini. jadi aku masih memiliki medali merpati putih yang sedang tersimpan di dalam cincin ruang milikku"


Setelah melewati para penjaga, aku dan Alfeil berjalan memasuki kerajaan. langkah kakiku Terhenti melihat kemewahan dan hiruk pikuk keramaian yang ada.


Tiba tiba tidak jauh dari tempatku terhenti. terdengar suara sopran seorang wanita, merintih tangis, bersujud meminta maaf.


"Ampuni kami tuan, kami akan membayar seluruh utang kami. lepaskan orang tuaku tuan." tangis wanita muda itu.


Lelaki yang tidak memiliki belas kasihan, mencekik seorang lelaki tua yang rentan dan tidak bertenaga.


"Ini sudah ketiga kalinya kami datang kesini, dan kalian sudah lama tidak membayar biaya Upeti untuk kerajaan ini. Masih banyak orang yang di luar sana memohon masuk kedalam kerajaan ini" teriakan lelaki itu menunjukan sifat angkuh dan sombong.


"Upeti?" Gumamku terkejut mendengar ucapan lelaki tersebut.


Ibu dari wanita muda tersebut berlari kearah para penjaga, memberi alasan yang dapat meringankan situasi yang terjadi. Namun, para penjaga enggan untuk menerima alasan dari wanita tua tersebut, Hingga salah satu penjaga yang muak mendengar ucapan wanita tua itu, mendaratkan tamparannya sambil berkata, "Aku tidak butuh alasan kalian..!".


***


Melihat ibu wanita muda yang terjatuh akibat tamparan keras dari penjaga, membuat ku dipenuhi dengan rasa simpati.


Aku bergegas menuju kearah kekerasan terjadi, mengangkat tubuh wanita tua yang sedang terjatuh. Tamparan keras dari seorang penjaga memberi luka pada ujung bagian bibir wanita tua tersebut, tetesan darah berjatuhan di mulut wanita tua itu.


Lelaki penjaga yang kesal melihat ku membantu wanita tua itu mendekat dan berkata "Hai kau bocah jangan menggangu urusan orang dewasa" menyuruhku pergi.


Aku yang sangat kesal melihat penyiksaan yang ada di depan mataku, mempertanyakan biaya utang mereka. Namun, lelaki penjaga meremehkan dan menertawai ku.


Spontan diriku yang sangat kesal mengeluarkan aura membunuh yang sangat mencekam, terlihat sesak nafas mereka yang terpujur ketakutan sambil mengeluarkan sebuah pedang, Lelaki lainnya yang sedang mencekik lelaki tua yang rentan melepaskan cengkeramannya dikarenakan auraku.


Lalu seorang lelaki berambut perak dengan melekat di telapak tangannya sebuah permata tourmalin berwarna kuning dengan dua bilah pisau di punggungnya, datang mendekatiku.


"Maafkan atas sikap kami anak muda, biaya Upeti mereka sebesar 27 keping emas. apakah kau bersedia untuk membayarnya?" Lelaki itu berkata dengan sangat ramah.


Aku yang sangat kesal melihat kejadian yang telah terjadi mengeluarkan seluruh uang yang lelaki itu minta, meskipun itu adalah uang yang terakhir ku miliki. "ini 27 keping emas yang kau inginkan". melemparkan kantung emas kearah mereka.


3 orang lelaki yang telah membuat kekacauan pergi meninggalkanku.


Wanita muda yang melihat semua yang telah berakhir, datang menghampiriku dan berkata."Terimakasih atas kebaikan anda tuan".


Lalu mereka mengundangku untuk datang mengunjungi rumah mereka, untuk menyantap sarapan malam sebagai ucapan terimakasih.


(Sesampainya dirumah mereka)


"Maafkan atas rumah kami yang sederhana ini anak muda" Ucap lelaki tua tersebut.


"Tidak masalah tuan, aku sudah terbiasa tinggal ditempat seperti ini".


" jika aku boleh tau, dari mana kamu berasal. aku tidak pernah melihatmu saat aku berkeliling berjualan"


"dulunya aku adalah pelayan dari kerajaan ini tuan, 4 tahun yang lalu kami diserang oleh segerombolan bandit hingga membuat keluargaku terbunuh, aku yang selamat tinggal di sebuah desa dengan seorang guru yang baik hati. sejak kapan ada upeti dikerajaan ini tuan" ungkapanku dengan serius.


"Pantasan saja aku tidak pernah melihatmu anak muda, upeti ini telah terjadi selama 3 tahun lamanya. Kami yang hanya berperingkat permata rendah tidak bisa melakukan hal banyak, dan dengan terpaksa mengikuti aturan kerajaan." Ucap lelaki tua itu dengan rawut wajah yang sedih.


sungguh malang sekali mereka, mereka yang memiliki peringkat permata yang rendah, tidak bisa hidup diluar kerajaan. meski ada beberapa desa diluar sana, namun hampir seluruh desa tidak bisa menerima penduduk lain, dikarenakan setiap desa memiliki masalah masing masing.


"Tu....tuan karena barusan aku telah memberi seluruh uang yang ku miliki, sekarang aku tidak bisa mencari penginapan tuan, bolehkah aku bermalam di tempat anda tuan" ucapku dengan sangat malu.


"haha.. anak muda, kamu memang anak yang sangat rendah hati. bagaimana aku menolak seorang malaikat tidur dirumahku. meski rumah ini kecil, aku masih mempunyai kamar kosong di belakang rumahku. aku akan menyuruh anakku untuk membersihkan kamar kosong itu" lelaki itu tersenyum melihat kejujuran ku.


Matahari mulai terbenam, rasa sunyi mulai menyusup ke hati sebagian orang, setelah melewati sarapan malam, aku dan Alfeil mengistirahatkan tubuh dikamar.