JEWEL WORLD

JEWEL WORLD
Ch 10. Lelaki Misterius



Seorang lelaki berambut biru, berpakaian seperti para penjaga, melekat di punggung telapak tangannya sebuah permata Aquamarine beratribut air datang mendekat.


"Siapa kau" teriakanku sambil bersiap siap mengeluarkan pedang.


"Hai nak, kau tidak mengenalku?" jawab lelaki misterius tersebut.


(...)


"pa..... paman?" Ucapku dengan ragu.


Menurut ingatan anak ini, lelaki itu adalah pamanku yang sudah lama tidak menemui ku, terakhir aku menemuinya saat aku berusia 9 tahun. dan setelah itu dia pergi ke sudut Utara ARPURA CITY untuk menjaga perbatasan disana.


Lelaki itu berlari ke arahku seperti burung layang layang yang masuk kehutan, memeluk tubuhku, memohon minta maaf.


"Lard, maafkan pamanmu ini, 4 tahun yang lalu aku mendapatkan kabar dari rekanku. bahwa adikku dan istrinya diserang oleh segerombolan bandit.


rekanku mengatakan jika keluarga FroxkeariQ terbunuh seluruhnya disaat perjalanan. aku bergegas pergi ketempat kejadian, aku dan rekan rekan lainnya melihat begitu banyak mayat yang berjatuhan. disaat bersamaan aku dan rekan rekan memberi pemakaman yang layak untuk mereka yang meninggal.


aku tidak melihat mayatmu dan adikmu, jadi aku terus mencarimu hingga akhirnya melihatmu disaat acara penyambutan" cerita lelaki tua itu


"Iya paman, aku berhasil diselamatkan oleh lelaki tua yang sekarang menjadi guruku. Aku tinggal bersama guruku di desa Prosino, dia menjagaku dengan sangat baik" Ucapku.


"Syukurlah kalau begitu, sekarang bawakan aku ketempat adikmu. aku ingin melihatnya" Ucap pamanku sambil menarik tanganku.


"emm..." Ucapku dengan ragu.


"Ada apa lard, apa adikmu tidak selamat?" Jawab pamanku yang heran melihatku.


"Bukan begitu paman, sebenarnya disaat pertempuran 4 tahun yang lalu para bandit telah membawanya. Besok sebelum matahari terbit, aku bersama dua orang temanku berencana menyelamatkan adikku." Ucapku dengan nada sedih.


"Apaa!!,, mereka membawa adikmu?" teriakan pamanku dengan sangat kesal sambil menggenggam tangannya.


"Oke besok aku akan mengumpulkan pasukan untuk menyelamat anak dari adikku tersayang. Lard,, mulai hari ini kau harus hidup denganku." Tegas pamanku berjanji Seperti seorang kesatria.


"Terimakasih paman, aku sangat terbantu. tapi paman, bolehkah aku ketempat temanku, aku telah berjanji dengan mereka untuk makan malam bersama keluarganya, sekalian aku ingin mengucapkan salam perpisahan untuk mereka" Ucapku bermohon.


"Paman perkenalkan mereka adalah teman temanku" Ucapku menunjuk kearah mereka berdua.


"Hai paman Brewok" Ucap Vada dalam keadaan tidak sadarkan diri(Mabuk).


"Kaaaau" Alfeil memukul kepala Vada dengan sangat keras.


"Maafkan temanku tuan, perkenalkan namaku Alfeil Pratibhe, aku temannya lard" ucap Alfeil membukukan badannya.


"Haha.. tidak usah formal seperti itu, terimakasih telah menjaga keponakanku." Tegas pamanku.


Malam mulai menghampiri, keheningan mulai merasuk keseluruh hati dan pikiran, aku bersama paman dan temanku bergegas menuju ketempat Fyta.


"Jadi tuan adalah paman dari tuan muda kami?" jawab ayah Fyta.


"Jangan memanggilku seperti itu tuan, aku hanyalah seorang lelaki remaja yang sedang melewati masa pubernya" Ucapku dengan sangat malu.


"Sepertinya keponakanku berkelakuan baik kepada kalian. aku mengucapkan terimakasih telah menjaga keponakanku" Tegas pamanku sambil merundukan badannya.


"Justru kami yang berterimakasih tuan, dia telah menjadi malaikat di keluarga kecil ini, Jasanya tidak terlupakan" Jawab ayah Fyta.


Aku menarik tangan Fyta dan membawanya ke halaman, seketika terlihat wajah yang memerah, bibir yang mengecut, dan jari yang saling menjepit, "Ada apa tuan membawaku ketempat ini?" Ucap gadis yang tersipu malu.


"Ada 2 hal yang ingin aku katakan" sambil memegang kedua bahu gadis tersebut hingga membuatnya terkejut.


"Pertama, kamu harus menjadi kuat, ini adalah permata mana, kegunaannya sama dengan elixir. ini sangat cocok untukmu pengguna permata Ruby beratribut api. berjanjilah kepadaku kalau kamu harus bertambah kuat untuk melindungi ayah dan ibumu.


Fyta jangan sampai orang lain mengetahui permata mana ini, berjanjilah.


Kedua, jangan pernah memanggilku dengan kata TUAN, mulai dari sekarang kamu harus membiasakan memanggil namaku." Tegasku sedikit menggoda.


Seketika wanita cantik tersebut menangis dan memelukku dengan sangat erat, lengkungan tubuh wanita itu melekat di tubuhku. Perasaan yang tersampaikan melalui pelukan membuatku membalas pelukannya. Hingga rembulan turun dimalam bisu membawa cahaya ranum dan hangat, menitipkan bias mentari yang telah berdebu.