
Di penggunungan yang berjajar diantara dua sungai, orang orang yang tinggal hidup dalam kemakmuran dengan bercocok tanam. desa ini disebut dengan desa prosino.
"Oi Bocah... bangun.... kau sangat pemalas sekali, keluar dan berlatihlah sekarang" tegas guruku sambil memukul kepalaku dengan sangat keras.
Pukulan yang diberikan guruku memberikan rasa sakit yang sangat luar biasa hingga aku berteriak "aaaaa.. sakit sekali guru, baik aku bangun"
aku bergegas keluar dari kamarku dan berlatih dengan guru.
"hari ini adalah pelatihan pertamamu, karena aku adalah seorang ahli pedang, maka aku hanya akan melatih mu menggunakan pedang." ucap guruku sambil melemparkan pedang ke arahku.
Aku menyambut pedang yang di lempar guru ke arahku. tiba tiba guruku berkonsentrasi dan berkata, "baiklah gerakan ini di sebut. Twisted Slash." sambil mencontohkan gerakannya.
Twisted Slash adalah sebuah gerakan dengan memegang pedang secara terbalik menghadap kebelakang, dengan kuda kuda yang unik membuat sebuah manuver tebasan melingkar.
(pohon yang berada didepan guruku terbelah menjadi beberapa bagian)
"selanjutnya, dipunggung telapak tanganmu melekat sebuah permata DIAMON beratribut petir, setiap manusia yang dilahirkan mereka akan di takdirkan dengan sebuah permata sihir yang memiliki kecenderungan atribut tertentu.
Mana adalah kapasitas magic, mana digunakan sebagai satuan yang dibutuhkan untuk mengeluarkan skill.
dan setiap permata sihir, memiliki tingkatan permata yang sulit untuk di capai.tingkatan ini terbagi,
LINE GEM tahap 1 - tahap 4
BEAM GEM tahap 1 - tahap 4
BLACK GEM tahap 1 - tahap 4
FLOWER GEM tahap 1- tahap 4
STAR GEM tahap 1 - tahap 4.
tingkatan ini bisa di capai dengan melakukan kultivasi, dan memakan beberapa ELIXIR yang sangat langka." penjelasan guru ku sambil memberi sebuah buku polemikes technes.
buku polemike technes adalah sebuah buku bela diri dan beberapa pengetahuan yang mampu membuat seseorang menjadi ahli permata berperingkat STAR GEM.
sudut pandang orang tua Adelard FroxkeariQ:
seorang perempuan dengan rambut berwarna hitam setara dengan dadanya, berdiri di sebuah jendela sedang menunggu kedatangan seseorang.
beredar garis hitam dimatanya,
cahaya mata yang redup merintih tangis atas kesalahannya, namun waktu tetap begulir dalam takdirnya. siapa yang tau keputusan yang tergesa gesa membuat dia kehilangan sebuah permata hatinya.
9 bulan yang tak tergantikan, dalam satu detak, berbagi kehidupan.
sedih membuat resah, senyum membuat tenang. anak yang di usir tak kunjung datang pulang.
"A..ayah anak kita telah pergi selama 4 tahun, kemana dia pergi ayah. aku sangat merindukannya, aku tidak menyangka kita mengusirnya di waktu itu.
apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita perbuat ayah. apakah dia masih hidup?.
aku tak akan pernah rela bila dia mati, aku tidak menyangka, selama dia dirumah kita selalu mengira dia adalah anak yang menyusahkan. ternyata didalam kamar, dibawah kasur, uang yang begitu banyak dia simpan selama ini.
selama ini dia bekerja secara diam diam, membanting tulang dihidupnya. kehidupan kita telah berubah 180 derajat dengan uang yang ditinggalkannya.
apa yang kita lakukan, kita adalah orang tua yang kejam ayah, apa gunanya sekarang harta ini, tidak ada artinya dimataku. sekarang aku hanya merindukannya." ucap seorang ibu dengan air mata bercucuran.
"aku sudah mencarinya kemana mana, usaha yang ku miliki bahkan hampir masuki seluruh polosok negri ini. aku telah menugaskan ratusan bahkan ribuan relawan untuk mencarinya, ibu.
tetapi tetap saja, kita tidak bisa menemukannya. bahkan selama dia berada disisi kita, aku tidak pernah memeluknya selain sewaktu dia kecil.
kita telah melakukan hal yang kejam, jika aku diperbolehkan memilih, maka aku akan lebih memilih kehilangan seluruh harta dan jabatan ini, dibanding harus kehilangan seorang anak yang sangat kurindukan. tangisan seorang ayah.
Terdengar Suara dercikan pintu yang sangat lambat, sontak adikku yang mendengar dan melihat orang tua ku menangis mendekat sambil berkata. "Kenapa kalian menangis Ayah, Ibu. bukannya Abang sedang kerja di luar kota. seperti yang kalian katakan padaku"
Melihat adikku masuk, ayah dan ibuku terkejut dengan segera menghapuskan air matanya dan berkata "iya anakku, Abangmu pasti akan pulang. dia hanya pergi sebentar" Berharap ucapan tersebut dapat dikabulkan.