Intelligence Is Just My Cover

Intelligence Is Just My Cover
Chapter 20



"Hei, kamu sudah tau belum, Minggu depan dari setiap perwakilan sekolah yang ada di seoul, bakal ngadain pertemuan Hostel."


Psyhico mendengar seseorang sedang berjalan masuk kedalam toilet, saat ini dia masih buang air kecil di dalam toilet umum yang ada di tempat karaoke yang sedang iya kunjungi dengan teman-teman nya.


"Iya aku sudah tahu, aku sangat ingin ketempat pertemuan tersebut, tetapi yang di di perbolehkan kepertemuan itu cuman perwakilan yang berpengaruh di setiap sekolah nya saja."


Psyhico mendengarkan obrolan yang sedang di obrolkan oleh dua orang yang baru masuk kedalam toilet.


Mereka berdua masih terus mengobrol di dalam toilet umum tersebut.


Kemudian Psyhico mulai keluar dari kamar kecil yang ada di toilet tersebut.


"S*al*n, aku kira cuman kita berdua yang ada di toilet."


Siswa yang sedang mengobrol dengan teman nya itu merasa kaget, atas kemunculan Psyhico dari kamar kecil.


Kemudian Psyhico mulai bejalan ke arah tempat cuci muka, dia terus bejalan dan perkataan siswa tersebut.


Dua siswa itu juga menghiraukan Psyhico, dan melanjutkan obrolan mereka.


Kemudian Psyhico mulai melepaskan kaca mata yang sedang dikenakannya.


Setelah Psyhico melepaskan kacamata nya, dia langsung mencuci buka di wastapel tersebut.


Dua orang yang sedang mengobrol dan m*r*ko tersebut memperhatikan Psyhico yang sedang mencuci muka.


Siswa itu saling lirik satu sama main dengan memperhatikan Psyhico.


Kemudian Psyhico mulai menyeka air yang masih berada di muka nya, sambil melihat ke depan cermin.


"Hei, kamu tahu siapa dia dan dari sekolah mana."


Salah satu siswa yang sedang berbisik kepada teman nya.


"Aku tidak tahu, tapi dari seragam nya, dia bersekolah di Internasional seoul High School."


"Hah! Sekolah kumpulan orang-orang dari keluarga konglomerat itu."


"Iya sudah terlihat dari seragam sekolahnya begitu."


Kemudian Psyhico mulai berbalik kearah siswa yang sedang mengobrol dan m*r*k* di toilet tersebut.


"C*k! Apa dia model, beda sekali saat dia mengenakan kacamata."


Siswa tersebut tampak kesal setelah melihat tampang Psyhico dan di mana Psyhico bersekolah.


Tampang Psyhico yang seperti model remaja, setelah dia melepaskan kacamata palsu nya.


Kulit putih mulus, bentuk muka yang mempesona, perawakan yang tinggi, ditambah dia Sekolah di sekolahan yang bergengsi di seoul.


Bagaikan lagi dan bumi, ketika bumi melihat ke arah langit, langit tersebut tampak jauh untuk di capai, tetapi beda dengan langit, saat langit melihat ke arah bumi, langit melihat bumi bagaikan semut yang kecil dan dapat di injak kapan saja.


Dua siswa tersebut tampak kesal atas kenyataan status antara dia dan Psyhico.


Saat Psyhico berbalik, Psyhico melihat dua siswa tersebut saling berbisik, tetapi dia menghiraukan gunamam mereka berdua dan terus berjalan melewati dua siswa tersebut, yang bertujuan untuk keluar dari toilet.


Psyhico lupa untuk memakai kembali kacamata nya itu, dia terus berjalan keluar dari toilet.


...***...


Disisi lain Erina masih mengobrol dengan pria yang memanggil nya itu.


Pria tersebut mulai berjalan mendekati Erina, dan Erina tampak tidak senang dengan kedatangan pria tersebut.


"Mau ngapain, jangan mendekat b*ngs*t."


Erina masih berkata kasar kepada pria yang sedang mendekat kepada nya itu.


"Semakin kamu berkata kasar kepada aku aku jadi semakin tertarik kepadamu Erina."


Pria tersebut terus berjalan ke arah Erina sampai Erina di pojokan ke diding oleh pria tersebut.


Kemudian pria tersebut mulai meraih muka Erina.


"Kamu ngapain br*ngs*k, lepaskan tangan kamu."


Erina masih berontak agar pria tersebut melepaskan lengan dari muka nya itu.


Pria tersebut mulai mencondongkan mulut Erina ke depan dengan tangan nya itu.


Pakkkk!!!


Erina menampar muka pria tersebut dengan tangan nya yang halus.


"Dasar j*l*ng gila."


Pria tersebut mulai berteriak kepada Erina.


Kemudian pria tersebut mulai mengangkat tangannya yang bermaksud untuk menampar Erina kembali.


Erina yang melihat tangan pria tersebut terangkat, Erina cuman bisa diam dan memejamkan matanya.


Kemudian pria tersebut mulai mengulurkan tangan nya ke arah muka Erina.


clek!!!


Tangan pria tersebut mulai terhenti, dia melihat tangan seseorang yang menghentikan tamparan nya kepada Erina.


"Apa maksud kamu b*ngs*t."


Erina yang mendengar teriakan pria tersebut.


Kemudian Erina mulai membuka mata nya dan memastikan apa yang sedang terjadi.


Erina melihat tangan yang akan menampar nya itu tertahan oleh tangan yang lain dari samping kiri nya.


"Psyhico."


"Kamu kenal dengan pria tersebut?" pria tersebut bertanya kepada Erina


Erina melihat seseorang yang menahan tangan pria tersebut, dan dia juga memanggil nama Psyhico.


"Kamu sedang ngapain di sini?"


Tanya Erina yang tampak senang dengan ke hadiran Psyhico.


Psyhico mendengar pertanyaan Erina, kemudian dia mulai lepaskan genggaman nya dari tangan pria yang akan menampar Erina.


"Hahh!! Dimana kamu berada selalu membuat orang marah ya."


Psyhico menghela napas atas pertanyaan Erina, dan dia juga menyebut Erina selalu membuat masalah yang membuat orang lain marah.


"Br*ngs*k, kamu mengganggu saja."


Blam!!.....


Pria tersebut mengulurkan tangan nya dan memukul wajah Psyhico.


"Hahh! Jadi ini rasanya terpukul, dari sekian lama."


Psyhico cuman menghela napas, dan bertanya bagaimana dia merasakan pukulan di wajah nya dari sekian lama.


Suhu badan nya agak memanas dan pandangan nya tampak kabur tapi nyaman dalam hati nya.


"Psyhico! kamu gapapa?.


Erina tampak kaget setelah dia melihat Psyhico di pukul oleh pria yang berada di depan nya itu.


"Erina siapa dia?, kayanya dia satu sekolahan dengan kita."


Psyhico menghiraukan pertanyaan Erina yang sedang mengkhawatirkan keadaan nya, tapi Psyhico bertanya tentang identitas pria yang memukul nya barusan.


"Hah?, apa kamu mabuk, malah bertanya tentang pria gila itu."


Erina bertanya kepada Psyhico apa Psyhico sedang mabuk.


Pria itu berteriak kembali kepada Psyhico dan Erina.


Pria tersebut mulai mengulurkan kembali tangan nya ke arah Psyhico.


"Hahh! sungguh merepotkan."


Psyhico cuman menghela napas kembali, ketika kepalan tangan pria tersebut hampir mengenai muka Psyhico, Psyhico menepisnya dan berlanjut dengan mendaratkan pukul nya tepat di muka pria tersebut.


ugh!!....


Pria tersebut mengarang saat terkena pukulan dari Psyhico.


Erina tampak kaget dengan kepribadian Psyhico yang baru dia ketahui ini.


Erina melihat Psyhico tampak mempesona tampa kacamatanya, dia juga tahu kalo Psyhico yang saat ini berbeda dengan Psyhico si murid teladan.


"Wow, tangan aku terasa sakit saat memukul wajah mu itu."


Psyhico berkomentar tentang tangannya yang sakit setelah memukul pria tersebut.


"B*ngs*t, Aku lengah."


Pria tersebut marah atas komentar yang di berikan Psyhico barusan.


Kemudian pria tersebut mulai menyeka mulut nya yang terkena pukul dari Psyhico barusan.


Kemudian pria tersebut mulai berjalan kembali, yang bermaksud untuk membalas pukulan dari Psyhico barusan.


Lee-Minhoo tampak siap mendaratkan kembali pukulan nya kepada Psyhico.


Erina yang melihat nya, mulai berteriak kepada Lee-minhoo untuk menghentikan perkelahian antara dia dan Psyhico.


"Sudah berhenti Minhoo."


Tetapi dia terlambat untuk menghentikan pukulan yang akan di tujukan kepada Psyhico.


Psyhico sudah siap untuk menepis pukulan Lee-Minhoo kembali.


ugh!!...


Psyhico mengarang setelah dia terkena pukul oleh tangan Lee-minhoo yang lain.


Psyhico berhasil menahan pukulan Lee-Minhoo yang di arahkan ke arah muka Psyhico, tetapi Psyhico lengah dan tidak memperhatikan uppercut yang di layangkan oleh tangan kiri Lee-Minhoo.


Psyhico tidak mengetahui kalau Lee-Minhoo mempelajari tinju makanya Psyhico lengah.


Kemudian Psyhico mulai melepaskan tangan kanan Lee-Minhoo dan mengambil posisi nya kembali dan menyeka darah yang keluar dari mulut nya.


Erina yang melihat Psyhico mulai berdarah mulai berjalan ke hadapan Psyhico yang bertujuan untuk melerai perkelahian ini.


"Sudah cukup Minhoo, dan cepat kamu pergi dari sini."


Erina berdiri di depan Psyhico dan berteriak kepada Lee-Minhoo untuk berhenti dan menyuruh dia untuk pergi.


Psyhico masih berdiri sambil menyeka darah di mulut nya itu.


"Baik, apa yang tidak buat kamu Erina."


Lee-minhoo membalas perkataan Erina, dan dia juga mulai berhenti untuk mengepalkan tangan nya kembali.


"Kalo begitu aku ijin pamit dulu Erina yang aku sayangi."


Setelah Lee-Minhoo berhenti, dia ijin pamit kepada Erina yang menyuruh dia untuk pergi.


"Dasar orang g*l*."


Kemudian Lee-Minhoo mulai berbalik dan meninggalkan Erina dan Psyhico, raut wajah Lee-Minhoo masih tapak kesal dan marah kepada Psyhico.


"Oh iya aku lupa, sampai jumpa di sekolah, kamu juga satu sekolahan denganku kan."


Lee-minhoo berbalik kembali dan menyampaikan salam ke pada Psyhico, sampai jumpa lagi di sekolah.


Erina tahu apa maksud salam Lee-minhoo itu, tetapi dia tidak memperdulikan nya sekarang.


Kemudian Erina mulai berbalik ka arah Psyhico.


"Kamu tidak apa-apa Psyhico?"


Erina bertanya kepada Psyhico yang tampak masih berdarah di sudut mulut nya itu.


"Kamu lihat kan bagaimana penampilan ku sekarang."


Erina cuman dian atas jawaban Psyhico barusan.


Kemudian Psyhico melihat ke arah Erina yang terdiam sekarang.


Erina mulai mengangkat wajah nya.


"Aku minta maaf."


Psyhico kaget setelah melihat wajah Erina yang sedang meminta maaf kepada nya itu.


Psyhico tampak canggung setelah melihat raut wajah Erina itu.


"Iya sudah tidak apa-apa."


Erina diam kembali, walaupun Psyhico sudah menjawab permintaan maaf nya itu.


Suasana lebih tampak canggung, karena Erina tidak berkomentar apapun.


Kemudian Psyhico mulai membuka mulut nya kembali, yang bermaksud untuk memecahkan kesunyian ini.


"Hei, sudah aku telah memaafkan kamu, memangnya kamu mau kemana dan siapa pria yang barusan itu?"


Psyhico bertanya kepada Erina tentang mau kemana dia dan siapa pria yang barusan berkelahi dengan dia, agar rasa canggung ini hilang.


Erina masih tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Psyhico barusan.


"Hahh, sungguh merepotkan."


Psyhico tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.


Pluk!!....


"Sudah aku gapapa, ayo kembali keruangan kita."


Yang menyebabkan Psyhico canggung adalah, saat Erina meminta maaf kepadanya dengan air mata nya yang keluar.


Psyhico baru melihat sifat Erina yang baru ini, tidak seperti Erina yang ada di sekolah, dia dicap oleh para guru, karena kenakalan nya yang selalu membuat onar dan melawan setiap guru.


Kemudian Psyhico menyentuh kepala Erina yang sedang tertunduk itu, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan kepada Erina, tetapi dia cuman bisa menyentuh kepala Erina karena itu adalah hal yang sering dia lakukan kepada adik perempuan nya sewaktu dia kecil, hal itu sering dia lakukan kepada adik perempuannya kalo adik nya itu sedang sedih.


Kemudian Psyhico mengajak Erina untuk kembali kepada teman-teman nya.


Kemudian Erina mulai mangkat kepalanya dan menyeka air matanya yang keluar itu.


Erina juga tampak canggung karena Psyhico yang menyentuh kepalanya itu.


"Ayo kita kembali dulu."


Psyhico mengajak kembali Erina untuk kembali keruangan karaoke, kemudian Psyhico mulai berjalan.


Erina tidak merespon apapun tetapi dia mengikuti Psyhico dari belakang.


Next Chapter 21.


...Note...


...mungkin tidak ada note ya buat chapter kali ini, karena saya juga gatau mau menyampaikan apa lagi tetapi saya ingin mengucapkan terimakasih buat para pembaca yang masih membaca cerita saya ini....


Hormat saya.


Psyhico.