
Chapter 1
Namaku Psyhico, aku adalah orang yang baik dan kepribadian ku di kenal baik di lingkungan maupun di sekolah.
"Mari saya bantu nek."
Psyhico membantu orang tua yang sedang menyebrang jalan. Nenek itu membawa barang-barang bekas.
"Terima kasih nak, kamu mau berangkat sekolah nak psyhico."
Psyhico menjawab dengan lembut kepada nenek itu.
"Iya nek, saya baru keluar dari rumah dan mau langsung ke sekolah."
Setelah Psyhico membatu nenek itu menyebrang jalan, dia langsung beranjak untuk melanjutkan perjalanannya ke sekolah.
Saat psyhico melanjutkan perjalanannya melewati gang yang biasa dia lewati, agar lebih cepat ke sekolah. Psyhico melihat seseorang yang sedang di buly.
"Hoho.... Psyhico si bangs*t pintar, kamu suka lewat gang ini yah."
Perkataan yang barusan di lontarkan adalah dari seorang preman, di sekolahnya.
"Oi, Psyhico kau tahu?. Dia tidak punya ibu loh."
Psyhico di hadang oleh preman sekolahnya. dan Preman itu sedang membuly teman sekelasnya.
"Ini Foto ibu si anak culun itu. Kau mau beli ga?. Si beg* ini katanya ga punya duit."
Psyhico di tawari oleh Preman sekolahnya untuk membeli Foto ibu si anak yang sedang di buly.
"Saya mau merobeknya kalo kau enggak membeli Foto ini."
Preman itu menawarkan sambil menyeringai.
"Jangan itu Foto ibuku satu-satunya."
Anak yang sedang di buly itu terus meronta agar Foto ibunya tidak di robek oleh Preman sekolah itu.
Preman itu masih bernegosiasi sama psyhico, kemudian psyhico berbicara kepada Preman itu.
"Itu sepertinya Foto sangat berharga baginya, bagaimana kalo di kembalikan saja."
Psyhico berbicara kepada Preman itu dengan cara baik-baik.
"Ga bisa dong sekarang foto ini sudah jadi milik ku, ga bisa asal di kembalikan."
Preman itu berseringai sambil ingin merobek foto itu.
"Kalo kau ga mau beli aku robek yah."
Preman itu terus memaksa psyhico untuk membeli foto itu.
Bahkan di saat sulit bersabar, dia tetap bertahan untuk selalu menyembunyikan indentitas asli nya.
"Berapa?."
Psyhico bersabar dan menahan emosinya agar identitas aslinya tidak terbongkar. Kemudian dia setuju untuk membeli Foto itu.
"100 Ribu?."
Preman itu berseringai sambil menyebutkan harga foto itu.
"Aku beli."
Lalu Psyhico mengeluarkan dompetnya dan membeli foto itu. Psyhico menahan kesabaran nya agar tidak membongkar identitas aslinya.
"Aku tidak mengambil uangmu ya?. Kamu membeli poto ini secara adil dan sah."
Setelah Psyhico membeli foto itu, para preman langsung beranjak pergi dari mereka berdua.
"Terimakasih Psyhico."
Anak yang di buly tadi berterimakasih kepada Psyhico. karena sudah membeli foto ibunya yang berharga.
"Ya, kebetulan aku lagi ada uang lebih di dalam dompetku, foto itu mungkin sangat berharga bagimu."
Psyhico tersenyum kepada anak itu. Sebenarnya Psyhico sangat marah, tetapi dia menahan sabarnya agar dia tidak kehilangan kendali terhadap dirinya. Yang dapat membongkar identitas aslinya.
"Sepertinya kamu memang orang yang sangat baik Psyhico."
"Serius?. Apa aku sungguh terlihat baik?."
Anak yang di buly tadi memuji Psyhico. Psyhico pun merasa senang karena dia di anggap orang yang baik.
"Tentu saja. Kamu di sekolah di juluki malaikat kebaikan."
"Malaikat artinya baik kan."
"Syukurlah aku masih bisa mengontrol diriku.
"Maksudnya?."
Anak yang bersamanya kebingungan dengan perkataan Psyhico.
Psyhico sangat senang bahwa dia di pandang sebagai malaikat, karena menurut dia malaikat itu memiliki arti orang yang baik.
Kemudian anak yang bersamanya bertanya lagi kepada Psyhico.
"Psyhico, kenapa kamu sangat berusaha hidup untuk menjadi orang baik."
"Apa ga berat?."
Kemudian Psyhico menjawab dengan senyuman di wajahnya, karena dia tidak ingin temannya mengetahui identitas aslinya.
"Mmm... Karena aku menyukai sesuatu tentang kebaikan."
Setelah lama Psyhico berjalan, Psyhico telah sampai di sekolahnya. Dia langsung menuju ruang kelasnya karena dia harus piket kelas terlebih dahulu.
"Hallo teman-teman."
Teman-teman nya menyambut dia dengan hangat.
"Yo, Psyhico."
"Pagi Psyhico."
"Selamat pagi Psyhico."
"Oh, selamat pagi juga Selena."
Psyhico tersenyum sangat cerah ketika Selena mengucapkan selamat pagi kepadanya.
"Psyhico, hari ini jadwal piket kita. Jadi ayo kita buang sampah bareng.
Selena mengajak Psyhico untuk membuang sampah bareng. Karena hari ini jadwal piket nya Psyhico dan Selena.
"Oh iya, Sekarang hari piket ku ya. Kalo gitu ayo Selena.
Kemudian Selena dan Psyhico berangkat untuk membuang sampah, dia berbincang-bincang dengan Selena sambil menuju tempat sampah.
"Psyhico, katanya kamu tadi pagi membantu Beltta.
"Kamu sudah dengar ya?.
"Iya, semua teman-teman di kelas sangat berisik memuji kamu.
"Syukurlah.
Psyhico sangat senang kalo Selena tahu bahwa dia melakukan hal baik pagi ini.
Kemudian Psyhico mulai berbicara dalam hatinya.
"Thank Beltta."
Psyhico sangat berterimakasih kepada Beltta kerena sudah cerita kepada teman-teman nya dan membuat Selena tahu.
"Psyhico, kamu sangat baik banget deh."
Psyhico sangat senang mendengar pujian langsung dari Selena.
Setelah membuang sampah. mereka bermaksud untuk langsung untuk masuk kelas, tetapi mereka terhenti di perjalanan.
"Lihat nih ba*gst."
"Kau malak untuk beli Skin yah."
"Oh?. Bukanya itu Selena."
"Hah?.
Psyhico berhenti di perjalanan mau ke kelas. karena preman-preman yang memalak dia di pagi hari sedang nongkrong di halaman sekolah dan memanggil Selena.
"Selana?.
"Oh, hai Roy."
Stella menjawab dengan sedikit tegang di wajahnya.
Psyhico masih menahan kesabarannya dan mulai berbicara di dalam hatinya.
"Roy.... Anak bangs*t Preman itu lagi."
"Apa ini?. Ekspresi Selena sangat tegang. Apa Selena di ganggu oleh mereka tadi pagi?."
Psyhico berpikir bahwa Selena di ganggu oleh mereka tadi pagi, dia sudah di ujung kesabarannya.
"Selena kesini?. Dan kau Psyhico pergi sana."
Kemudian Selena berbicara kepada Psyhico.
"Duluan aja Psyhico."
"Oke kamu hati-hati ya."
Psyhico sangat marah dan kesabaran nya udah di ujung tanduk. tetapi Selena menyuruh Psyhico duluan ke kelas.
Kemudian Psyhico berbicara di dalam hati nya.
"Roy dan geng nya anak-anak bangsat. Selena tidak akan apa-apa kan?."
Psyhico sebenarnya sudah sangat marah. Tetapi kalo dia kehilangan kendali terhadap dirinya. akan timbul masalah seperti waktu itu.
"Bagaimana pun ini di sekolah! Aku akan panggil bawahan nya ayah kalo terjadi sesuatu."
Kemudian setelah Psyhico pergi. Selena menghampiri Roy karena dipanggil oleh nya.
"Kenapa panggil?."
"Oy, kita duluan yah."
Teman-teman nya Roy pergi karena, mereka sangat peka terhadap Roy.
Selena melihat ke segala arah, untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku ketika di sekolah!
"Kamu malu sama aku?. Apa pencitraan mu Lebih penting dari pada aku?.
Selena sangat tegang karena Roy memanggil dia, saat di sekolah.
"Engga, Bukan itu maksudku.
"Iya-iya, padahal cuman ada kita di sini.
Roy memeluk Selena dengan erat. Karena menurut mereka cuman ada mereka berdua di sana.
Tetapi Psyhico sangat kaget setelah melihat mereka berpelukan. tadi nya Psyhico mengkhawatirkan Selena setelah melihat kenyataan dia langsung pergi meninggalkan mereka.
Next Chapter 2
...NOTE...
...Warning Novel ini berisi konten kekerasan, pelukan, ciuman. jadi bagi pembaca yang masih di bawah umur jangan baca dulu novel ini yah. terimakasih selamat membaca....
...Kalo kalian suka bisa komen di kolom komentar saya usahakan biar up nya cepat....
Hormat saya
Psyhico