In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
pacar!



"Selamat pagi, Pacar!"


Queen memundurkan tubuhnya ke belakang saking kagetnya saat melihat Yuda sudah ada di depannya tersenyum manis dengan sekotak cokelat di tangannya.


"Sorry, kaget ya?" Yuda tersenyum manis lalu mengambil tangan kanan Queen dan meletakkan coklat.


Queen menatap malas ke arah coklat yang katanya diimpor dari Belgia itu.


"Buat kamu, biar hari ini moodnya baik."


Queen tersenyum tipis lalu mengangguk, untuk sekedar menghargai Yuda.


"Nanti pulang sekolah aku antar pulang, ya?"


Yuda memposisikan dirinya di samping Queen, mengabaikan murid-murid lain yang menggoda mereka.


Queen mengenggam erat coklat pemberian Yuda untuk menyembunyikan rasa gugup. Bukan gugup karena suka tapi lebih kebingungan bagaimana dia harus menjawab ajakan Yuda.


Selama ini dia belum pernah diantar pulang oleh cowok, tentu saja selain Radit, dua saudara laki-lakinya dan tentu saja daddy-nya. Ini kali pertama Queen pacaran. Dia binggung harus bagaimana dan seperti apa. Pesan dan telepon Yuda saja malas-malasan dia balas.


"Hei, kok diam aja?"


Queen tersentak kaget saat Yuda tiba-tiba saja menyentuh pundaknya, refleks Queen menjauh dari Yuda.


"Aku dijemput adikku." Tentu saja Queen berbohong. Kai mana pernah mau mengantar jemput Queen kalau tidak ada imbalan, karena menurutnya tidak ada makan siang yang gratis. Buang air kecil saja bayar.


Selama ini Queen selalu diantar daddy-nya atau kalau tidak Radit, dan pulang naik ojek online. Tapi sudah seminggu ini sejak dia resmi jadian sama Yuda, dia belum bertemu Radit lagi. Lebih tepatnya sih, dia menghindari pemuda itu.


"Sekalian aja nanti aku kenalan sama adik kamu." Yuda terdengar antusias tapi tidak begitu dengan Queen dia malah makin panik.


"Oh, iya hari ini giliran daddy aku yang jemput." Kali ini Queen tidak berbohong, karena nanti dia akan minta daddy-nya untuk menjemput. Queen yakin itu tidak akan menjadi masalah, toh daddy-nya punya jabatan tidak main-main di kantornya, keluar sebentar untuk ke sekolah pasti tidak masalah.


Queen melirik ke arah Yuda berharap pemuda itu takut atau mengurungkan niatnya untuk mengantar Queen.


"Oh, ya? Wah, boleh juga. Nanti aku minta izin aja nganterin kamu pulang seterusnya. Sekalian memperkenalkan diri kalau aku udah jadi pacar kamu." Yuda Menaik turunkan alisnya.


Queen menganga tak percaya. Queen pikir Yuda akan gentar tapi sepertinya pemuda itu memang buaya berbakat dia tak takut pada apapun.


"Oh,emm-" Queen binggung akan menjawab apa tidak mungkin dia mengenalkan Yuda sebagai pacarnya di depan daddy-nya yang sedikit posesif terhadapnya itu.


"Queen!"


Queen bernapas lega saat namanya dipanggil dia menoleh ke belakang dan melihat Radit berjalan cepat ke arahnya. Jantung Queen berdebar kencang, seminggu menghindari Radit, ada perasaan senang saat dia melihat pemuda itu lagi.


"Hei, Bro!" balas Yuda memukul pundak Radit pelan layaknya sahabat.


"Boleh gue ngomong sama Queen sebentar?" pinta Radit.


"Ya, udah. Gih! Ngomong aja sekarang!" Yuda mengedikan pundaknya.


"Berdua saja." Radit menatap Queen. "Urusan keluarga," imbuhnya saat Yuda seperti tidak terima.


"Oh, oke!" Yuda mengangguk lalu tersenyum pada Queen sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.


"Masih ada waktu 15 menit." Radit melirik ke arah jam tangannya.


"Ikut aku sebentar!" kata Radit lebih berupa perintah, lalu berjalan lebih dulu menuju belakang sekolah.


Dengan penasaran Queen mengikuti Radit tanpa banyak bicara.


"Ada apa?" tanya Queen datar.


"Kamu ngehindar dari aku?" tanya Radit memperhatikan wajah Queen.


Queen membuang tatapannya ke samping dia tidak berani menatap mata Radit.


"Enggak."


"Muka kamu gak pernah bisa bohong." Radit tersenyum tipis karena Radit sudah mengenal Queen sejak kecil dia selalu tahu jika Queen sedang tidak jujur.


"Oke, aku minta maaf atas tingkahku. Aku tidak akan melarang kamu pacaran sama Yuda."


Queen menatap kaget ke arah Radit. Terus terang saja dia lebih suka Radit tidak menyetujui hubungannya dengan Yuda. Queen lebih suka Radit menentangnya. Queen suka Radit bersifat posesif terhadapnya, karena itu berarti Radit menginginkannya. Tapi rasanya itu tidak mungkin . Lihat saja dia tidak melarangnya.


"Oh, baguslah," gumam Queen lirih berusaha tidak terlihat kecewa.


"Tapi tetap saja aku akan mengawasimu, jadi kamu tidak bisa seenaknya." Radit melipat tangan di depan dada.


Queen terkejut senang, dia bersorak dalam hati. Tak apa jika Radit tidak melarangnya asalkan Radit masih peduli padanya.


"Bukankah aku bilang tidak perlu mencampuri urusanku?" Jual mahal sedikitlah.


"Ya, memang. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan berhenti mencampuri urusanmu. Awalnya, memang karena Tante Kana. Tapi lama-lama itu menjadi suatu keharusan bagiku, sebelum kamu benar-benar bertemu dengan pria yang tepat suatu hari nanti aku yang akan menjagamu."


Queeen tertegun sesaat menatap pemuda yang berdiri di depannya. Tidak bisa dipungkiri ada semacam perasaan hangat yang melingkupi hatinya saat mendengar semua yang dikatakan pemuda bermata teduh itu.


Tidak apa-apa jika dia hanya dianggap sepupu, toh memang kenyataannya mereka sepupuan. Tidak apa-apa jika Radit tidak membalas perasaannya, yang penting Radit selalu ada untuk menjaganya dan itu lebih dari cukup untuknya.


"Kenapa kamu begitu? Urus saja si Vonny." Ah, Queen kenapa kamu masih saja gengsi?


"Vonny memang pacarku. Tapi bukan prioritas utama. Lagipula dia bisa menjaga dirinya sendiri."Radit terlihat acuh saat membicarakan Vonny dan menganggap Vonny bukan prioritas utamanya itu membuat Queen senang.


Tapi tunggu... tadi Radit bilang Vonny bisa menjaga dirinya sendiri itu berarti Radit masih menganggap kalau Queen tidak bisa menjaga dirinya sendiri?


"Aku tahu, kamu bisa menjaga diri kamu sendiri." Walaupun sebenarnya Radit tidaak yakin, karena bisa dibilang Queen sedikit ceroboh dan selalu mengambil keputusan tanpa dia pikir dulu. " Tapi salahkan mama kamu, dia yang menyuruhku menjagamu dan menjadikan itu sebagai tanggung jawabku." Radit melipat tangannya di depan dada menunjukkan jika argumennya tidak bisa dibantah.


"Terserah kalau itu mau kamu. Toh, aku udah meringatin kamu buat gak ikut campur." Queen pura-pura acuh, padahal dalam hati dia sangat senang karena Radit masih peduli padanya.


"Deal, kalau begitu!" Radit mengulurkan tangannya ke arah Queen yang menatap bingung uluran tangan Radit itu.


"Jangan menghindariku lagi, oke?" Radit tersenyum manis, dan sumpah demi apapun. Senyum Radit itu mampu membuat jantung Queen serasa ingin melompat dari tempatnya. Queen tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri memastikan jantungnya masih berada di tempatnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Queen?" Radit mengembalikan Queen ke dunia nyatanya.


Queen meraih uluran tangan Radit dengan gemetar . "O-oke." Queen terdengar sangat gugup bahkan Queen yakin Radit pasti menyadari jika dia gugup.


"Baguslah! Sekarang ayo kita belajar. Ingat ya, jangan pacaran terus." Radit yang pertama melepas genggaman tangannya lalu mengacak rambut Queen sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Queen lebih dulu.


"Astaga, jantungku," lirih Queen bersandar pada dinding di belakangnya memegangi dadanya merasakan degupan jantungnya yang masih berdegup kencang.


*


"Ini dia pesenan kamu!" seru Yuda menyodorkan mangkuk ke arah Queen.


Queen tersenyum, matanya melirik ke arah sosok yang sedang sibuk bercanda dengan pacarnya itu. Queen tadinya senang waktu Yuda bilang dia mengajak Radit makan bersama sepulang sekolah. Tapi siapa sangka Radit membawa serta Vonny bersamanya. Ah, Queen saja yang ogeb! Dia harusnya ingat mereka berdua kan paket lengkap.


"Wah, level 10 ya ini?" seru Queen cepat mengalihkan pandangannya dari sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara itu.


Radit menoleh ke arah Queen saat mendengar kata 'level 10'.


Radit tahu Queen penggila pedas dan dia juga tahu Queen pernah masuk rumah sakit karena asam lambungnya naik gegara makan makanan pedas terlalu banyak. Sekarang dia malah memesan ramen level 10? Gadis ini benar-benar menguji kesabarannya.


"Kamu suka pedas ternyata." Yuda tersenyum menopang dagu memperhatikan wajah pacar barunya itu.


Queen mengangguk antusias. Mumpung bundanya tidak tahu, dia bisa pesan dan makan apapun dan sepedas apapun makanannya.


"Iya, aku suka semua makanan yang rasanya pedas. Seblak,geprek, sambal, pokoknya semua yang pedas-pedas. Tapi sayang, setahun sekali baru bisa makan makanan pedas kayak gini." Queen mulai mengaduk-aduk kuah ramennya.


"Kalau gitu makan aja sepuasnya, Queen. Mumpung bundamu gak di sini," timpal Vonny sambil mengedipkan sebelah matanya.


Queen tersenyum lalu mengangguk dan mulai mengangkat sendoknya. Tapi belum sempat dia melahap makanannya, sebuah tangan menarik mangkuk dan menjauhkannya dari Queen membuat gadis itu menatap kesal ke arah pemilik tangan yang sudah menganggunya itu.


"Kamu mau berakhir di rumah sakit seperti dulu?" Radit menatap Queen tajam membuat gadis bermata almond itu menelan ludah takut-takut. Pasalnya, jika Radit sudah menatapnya setajam itu menandakan pemuda itu benar-benar tidak suka dengan apa yang dilakukannya.


"Lebay banget sih, lo Dit! Makan sekali doang gak akan bikin Queen sakit! Biarin aja sih timbang makan doang!" Yuda membela Queen.


"Iya, Sayang. Biarin aja sesekali ini kok, habis makan ramen minum aja susu dijamin gak sakit!" Vonny menyetujui perkataan Yuda. Membuat Queen tersenyum senang karena merasa Yuda dan Vonny ada di pihaknya.


"Tidak! Kalian tahu apa, soal Queen. Dia tidak kuat dengan rasa pedas lagi. Asam lambungnya bisa naik!" Radit tetap bersikeras dengan pendiriannya.


"Iye, gue tahu lo sepupu Queen. Tapi gak usah lebay gitulah! Udah kayak emaknya aja lo! Queen pacar gue sekarang!" seru Yuda sedikit kesal dengan perlakuan Radit pada Queen yang dinilainya terlalu berlebihan.


"Dan Queen sepupu gue. Secara ikatan gue lebih berhak atas dia!" Radit lalu mendorong ramen miliknya untuk ditukar dengan mangkuk Queen. Queen hanya bisa melongo dengan mulut setengah terbuka, tak percaya mendengar apa yang Radit katakan.


Queen tidak salah dengar, kan? Barusan Radit bilang dia lebih berhak atas dirinya? Astaga, boleh gak sih Queen berharap lebih dari itu?


"Udah,udah gak usah ribut perkara makan!" Vonny terlihat jengah, dia tak suka jika Radit terlalu bersikap posesif pada Queen yang memang masih saudara dengannya itu.


"Lo harusnya tanya-tanya dulu, apalagi lo orang baru. Paling gak lo nanya gue tentang apa yang boleh dan gak boleh untuk Queen. Gue cuma gak mau bundanya Queen khawatir kalau terjadi apa-apa sama Queen." Radit berkata dengan santai tapi penuh penekanan.


Yuda berdecak kesal tapi tak membabil, karena apa yang Radit katakan benar adanya. Dia tidak ingin berdebat lebih lama apalagi di depan pacar barunya.


"Makan!"


Radit memberi isyarat agar Queen cepat makan.


"Iya,"lirih Queen lalu mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Ramen yang Radit pesan tidak terasa pedasnya. Ini sih level 1! Radit kan memang tidak suka pedas, perutnya terlalu lemah untuk makana makanan pedas. Eh...tunggu! Kalau Radit tidak suka pedas itu berarti...


"Sayang, kamu kan gak kuat pedas!" Terlambat, Queen sudah melihat wajah Radit yang kemerahan karena menahan pedas dan Vonny yang sudah kalang kabut melihat kekasih hatinya tersiksa karena kepedasan.


"Gak papa, sayang kalau gak dimakan udah dipesan." Radit terlihat mengabaikan Vonny yang kebingungan, membuat Queen menjadi serba salah.


"Payah lo, Dit!" ejek Yuda lalu tertawa.


 Ingin rasanya Queen menyiram Yuda dengan kuah ramennya tapi dia masih waras untuk melakukan itu bisa-bisanya dia tertawa meledek seperti itu,


"Pesan lagi kan bisa, nanti kamu sakit perut lho!" Suara Vonny terdengar panik terlihat dari gesture tangannya yang bergerak tak beraturan antara ingin mengelap keringat di kening Radit atau mengambilkannya minuman.


"Kalau terjadi apa-apa sama Radit, semua salah lo ya, Queen!" sentak Vonny penuh emosi.


 Queen mengeram kesal lalu mengambil mangkuk yang baru beberapa suap Radit makan, lalu dengan


kesal memakannya. Ketiga orang di meja itu ikut menatap ke arah Queen kaget.


 “Queen~”


“Gue gak akan mati cuma karena kepedesan!”sindir  Queen memotong kata-kata Radit. Matanya melirik


ke arah Vonny sebal sayangnya yang dilirik acuh saja.


Radit dengan wajah merah karena menahan marah dan rahang mengeras hanya menatap tajam ke


arah Queen yang asik makan.


“Aku pesenin susu nanti buat menetralisir rasa pedas,” bisik Yuda yang diabaikan Queen.