
Queen mengerutkan keningnya keheranan saat melihat teman-teman seangkatannya berlarian menuju kantin, saking penasarannya bahkan dia sampai menghadang siswa kelas lain hanya untuk bertanya, 'ada apa?'.
"Makan gratis! Buruan mumpung masih ada!" jawab si Siswa lalu berlari terburu-buru.
Queen mendecih, jadi karena kantin sedang ngadain makan gratis? Ya, ampun, Queen kira ada kebakaran atau semacamnya.
Tapi tumben amat Bu kantin bikin acara makan gratis? Apa dia lagi syukuran dapat omset tinggi?
"Queen!!! Ya, ampun. Gue cari-cari lo!" Dara tiba-tiba saja sudah ada di depan Queen dengan napas ngos-ngosan setelah berlari.
"Gue dari perpus. Emang ada apaan?" tanya Queen heran.
"Ayo, ke kantin, lagi ada makan gratis. Si Vonny ulang tahun dia bikin acara makan gratis di kantin sampai jam istirahat habis. Ayo, buruan!"
Queen melongo, jadi makan gratis itu dari si Vonny? Jadi, ulang tahun Vonny sekarang?
"Gass, yuk! Keburu kehabisan!" Tanpa menunggu persetujuan Queen, Dara sudah menarik tangannya berlari ke kantin.
Sesampai di kantin suasananya sudah sangat gaduh. Ibu kantin dan para pegawainya terlihat kewalahan saat melayani anak-anak yang terlihat tidak sabaran mengantri.
Queen mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin, mencari keberadaan Radit karena jika ada Vonny sudah dipastikan ada Radit bersamanya, mereka kan sepaket. Paket hemat. Lain ceritanya kalau Radit berpasangan dengannya pasti bukan paket hemat melainkan VVVIP.
"Dara!Queen!" Sebuah teriakan mengalihkan perhatian Queen dan Dara.
Yuda melambaikan tangannya ke arah mereka dengan senyum semringah sambil menunjuk dua bangku kosong di sampingnya. Seperti sudah disiapkan saja.
Queen melihat Radit juga ada di sana bersama dengan Vonny yang tersenyum manja sambil melihat ke dalam sebuah paper bag yang Queen tebak adalah kado yang hari Minggu kemarin dia pilihkan.
"Yuk, Queen, gabung sama mereka!"
Queen tersentak kaget saat tangannya ditarik kembali oleh Dara begitu saja, menghampiri meja Yuda dan kawan-kawannya.
"Gabung boleh kan ya?" tanya Dara setelah mereka sampai di meja Yuda.
"Boleh banget dong!" seru Yuda tersenyum ke arah Queen yang diam-diam sibuk melirik ke arah Radit yang juga sedang melihatnya.
"Oalah, jadi ini yang bikin lo nyisain dua bangku kosong?" goda Vonny mengerling ke arah Yuda yang tersenyum salah tingkah itu.
"Oh, iya? Wah, kita beruntung banget ya, Queen?" Dara sengaja mendorong Queen duduk di samping Yuda.
Queen tak bisa apa-apa selain menurut. Dia mengabaikan tatapan penuh tanya dari Radit.
"Kalian udah gue pesenin bakso spesial. Mau, kan?" tanya Yuda.
"Mau lah, gratis ini!" seru Dara duduk di samping Queen dengan posisi mengapit Queen, sengaja agar gadis itu tidak kabur dari Yuda, bisa gagal dia makan gratis.
Cowok itu memang sengaja mengatur tempat duduk untuk Queen karena akan ada hal besar yang akan dia lakukan untuk gadis cantik bermata almond itu.
"Btw, selamat ulang tahun ya Vonny, semoga lo langgeng sama Radit sampai nikah," seru Dara memberi ucapan pada Vonny.
Queen mendengus dalam hati, dia tidak mengamini doa Dara itu. Enak saja, langgeng sampai nikah.
Radit itu punya gue woy!
"Thanks ya, Dara," balas Vonny dengan wajah semringah. Lalu menatap Queen yang sejak tadi hanya diam, menunggu ucapan dari gadis itu.
Sadar jika Queen hanya diam saja, Dara menyikut Queen pelan menyadarkan gadis itu untuk memberi ucapan pada yang sedang- berulang- tahun.
"Oh, selamat ulangtahun Von. Sukses." Hanya ucapan standar. Queen tidak akan pernah mendoakan hal baik untuk hubungan Vonny dan Radit. Yah, sejahat itu memang dirinya.
"Makasih ya, yuk dimakan. Tuh, baksonya dateng!" Vonny menunjuk pegawai kantin yang membawa nampan ke arah mereka.
"Lo dapat kado apa dari Radit, Von?" tanya Yuda menatap Radit dengan tatapan mengejek. Pasti si Manusia Salju ini gak ngasih kado.
"Seperangkat skin care dong. Mana yang dipakai idola gue pula, tahu sendirilah harganya selangit. Makasih ya, Sayang!" Vonny merangkul lengan Radit yang kemudian dengan mesra mengusap kepala Vonny, tindakan kecil Radit itu langsung mendapat sorakan dari Yuda dan Dara.
Queen terdiam menatap Radit tak suka dengan sikap mesranya pada Vonny. Tapi kemudian dia tertawa dalam hati.
Queen bodoh! Lo cuma sepupu, ogeb!
Tapi tunggu, bukannya kado yang dia dan Radit pilih untuk Vonny adalah gelang. Kenapa malah jadi skin care? Lalu ke mana gelangnya? Apa jangan-jangan Radit punya cewek selain Vonny? Dan gelang itu buat cewek itu?
"Udah, makan dulu makanan kalian!" Radit terlihat mulai jengah dengan ledekan Yuda yang semakin menjadi-jadi.
"Kalau kurang nambah aja!" imbuh Vonny.
"Wah, pasti itu sih!" sahut Dara antusias berbeda dengan Queen yang hanya menatap ke arah mangkuk berisi bakso yang asapnya masih mengepul itu dengan tatapan tanpa selera. Tapi demi rasa tak enak pada Radit akhirnya Queen memakan makanannya juga.
"Queen, mau pakai sambal enggak?" tawar Yuda menyodorkan mangkuk sambal.
Queen mengangguk. "Boleh." Tangan Queen siap mengambil mangkuk sambel itu, tapi Yuda menjauhkannya.
"Biar aku yang tuang, kamu mau berapa sendok?" tanya Yuda lembut, dihadiahi cuitan oleh yang lain.
"Cieee, Yuda." Dara menggoda Queen.
"Cie, manggilnya udah aku-kamu." Dan Vonny semakin membuat Queen salah tingkah.
Berbeda dengan Radit yang sejak tadi hanya diam menatap enggan ke arah Queen. Queen jadi menebak-nebak dalam hati, apa keputusannya ikut duduk di sini itu menganggu Radit? Ah,. sepertinya tidak. Semua teman-temannya tahu kalau mereka berdua saudara sepupu. Dan rasanya tidak ada alasan untuk Radit terganggu dengan keberadaannya. Sepertinya hanya perasaan Queen yang berlebihan saja.
"Kenapa kalian gak jadian aja?" usul Dara tiba-tiba membuat makanan yang Queen telan tersangkut di tenggorokannya.
"Ah, benar! Kenapa gak lo tembak aja Queen, Yud?" Vonny mengedip-ngedipkan matanya ke arah pemuda tampan berambut ikal itu.
"Iya, tembak aja di sini biar seluruh sekolah jadi saksi!" usul Dara penuh semangat, kalau saja Dara bukan sahabat Queen sudah pasti mangkuk di depannya ini akan dia lempar ke wajah Dara.
Tapi sepertinya harapan Queen sia-sia, karena tiba-tiba saja Yuda bangun lalu memukul mangkuk baksonya, meminta perhatian pada seisi kantin.
"Mohon perhatian!" teriaknya lantang membuat seisi kantin memberikan atensinya pada Yuda. Queen menelan ludah panik. Merapal doa agar apa yang dia takutkan tidak terjadi.
"Hari ini adalah hari spesial, teman kita, Vonny yang sedang berulang tahun. Dan hari ini juga akan jadi hari spesial juga buat gue, kalian tahu kenapa?" Yuda menghentikan kalimatnya, lalu menatap Queen penuh arti.
"Karena hari ini gue bakalan ngungkapin perasaan gue pada seseorang yang selama ini cuma bisa gue kagumi." Yuda tersenyum mengabaikan sorakan seisi kantin.
"Awalnya gue gak berani karena dia saudara sahabat gue. Tapi rasanya gue gak bisa nahan diri untuk gak ngungkapin perasaan gue ke dia."
please jangan gue, please jangan gue! Queen sekuat tenaga merapal mantra penolak bala agar orang yang dimaksud Yuda bukan dirinya.
"Queen,"
Queen rasanya ingin lari dari tempatnya saat mendengar Yuda menyebut namanya. Tiba-tiba saja pemuda itu menggeser tempat duduknya lalu berlutut di depan Queen dengan setangkai mawar merah yang entah sejak kapan ada di tangannya. Persis seperti adegan di drama picisan yang membuat Kai mutah tiap menontonnya.
Queen menelan ludah panik saat Yuda menatap matanya lurus. Apalagi seisi kantin kemudian menyorakinya, menggoda dengan kata-kata yang terdengar bersahutan di telinganya
"Gue-- maksudnya aku tahu, orang-orang mengenalku sebagai play boy. Tapi percayalah, aku tidak seperti yang orang-orang pikir jika pun iya, maka bantu aku untuk berubah. Karena aku yakin kamu adalah cewek yang pasti mampu membuatku menjadi lebih baik."
Terdengar teriakan-teriakan dan tepuk tangan yang membuat Queen makin binggung dibuatnya.
Sungguh, kata-kata Yuda lebih terdengar bualan di telinganya. Queen memang terkadang polos, tapi dia tidak bodoh. Dia tahu seperti apa Yuda dan bagaimana sepak terjangnya di dunia percintaan.
"Kamu mau gak jadi pacar aku?"
Akhirnya, tiba juga di intinya. Queen terdiam, bingung harus jawab apa. Diliriknya Radit yang menatap Queen tajam dengan kepala menggeleng pelan isyarat agar Queen menolak Yuda.
"Terima..terima..terima!" Sorakan seisi kantin membahana.
Mendadak kata-kata Kai terngiang di telinganya. Jika dia menerima Yuda, maka dia bisa menutupi sekaligus membuktikan kalau dia tidak mempunyai perasaan apapun pada Radit sehingga Kai tidak akan mencurigainya lagi.
Tapi Queen sama sekali tidak ada perasaan apapun pada Yuda. Rasanya terlalu jahat untuk memanfaatkan Yuda.
Queen menatap Radit yang juga tengah menatapnya. Tiba-tiba saja pandangan Radit teralih saat dengan kurang ajarnya Vonny mengecup sudut bibir Radit seperti sengaja agar Radit mengalihkan perhatiannya. Melihat itu hati Queen terasa dicubit. Radit miliknya, Vonny tidak berhak menyentuhnya seperti itu.
"Terima...terima..terima!"
Teriakan seisi kantin. Kata-kata Kai yang terus terngiang-ngiang dan kecupan singkat Vonny pada Radit itu membuat pikiran Queen jadi terpecah belah.
"Queen," lirih Yuda mengembalikan Queen ke dunia nyata. Queen menatap Yuda lalu mengangguk dengan senyum yang dia buat semanis mungkin dan terlihat meyakinkan.
"Aku mau." Queen menjawab lirih namun masih terdengar jelas di telinga Yuda, pemuda itu refleks mengangkat kedua tangannya ke udara sebagai ungkapan rasa bahagia diiringi suara sorakan teman-temannya.
Teriakan celebrasi Yuda tertelan dengan suara tepuk tangan seisi kantin. Queen meremas tangannya kuat-kuat mengabaikan tatapan tak suka dari Radit.
Dua kata yang pasti akan Queen sesali di kemudian hari.
*
Queen berjalan dengan terseok-seok di belakang Radit yang tengah menarik tangannya menuju belakang sekolah setelah bel istirahat berakhir.
"Radit, sakit!" keluh Queen membuat Radit menghentikan langkahnya lalu melepas tangan Queen dan meninggalkan tanda kemerahan di sana.
"Kamu kenapa sih? Kasar banget!" keluh Queen sembari meniup-niup bekas merah di pergelangan tangannya.
"Kamu yang kenapa?! Aku udah bilang, kan kalau Yuda itu play boy tapi kenapa kamu malah terima dia!"
Queen menatap Radit, jika saja dia bukan saudaranya pasti Queen sudah mengira kalau Radit cemburu padanya. Sayangnya, Queen yakin itu hanyalah bentuk kepedulian Radit karena Queen adalah sepupunya.
"Siapa tahu dia benar mau berubah."
Radit mendengus kesal lalu menatap Queen tajam. "Dia pasti mengatakan hal yang sama setiap dia mengungkapkan isi hatinya pada setiap gadis."
"Kok kamu berprasangka buruk gitu sih, Dit? Dia kan sahabat kamu." Dan sekarang udah resmi jadi pacar gue.
"Justru karena dia sahabatku, aku lebih tahu dia dibanding kamu!"
Queen terdiam sejenak lalu menatap Radit yang terlihat sangat kesal itu. "Kalau orang yang gak tahu kita sepupu pasti mengira kamu cemburu karena aku pacaran sama Yuda."
Queen mengalihkan pandangannya. "Kamu kelihatan marah banget kayak orang cemburu soalnya," imbuh Queen lirih.
"Aku ngingetin kamu karena kita saudara, Queen. Gak lebih. Aku cuma gak enak sama tante Kana yang selalu minta aku buat jagain kamu." Suara Radit terdengar melunak tapi sangat tajam menusuk jantung. Kalau melihat Vonny mengecup Radit, hati Queen terasa dicubit, kali ini mendengar pernyataan Radit barusan, hati Queen terasa dihujam sembilu.
"Jadi, selama ini perhatian kamu hanya bentuk rasa tidak enak kamu sama bunda aku?" tanya Queen.
Radit terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Iya, dan aku merasa kecolongan karena kamu malah pacaran sama Yuda."
Queen mencengkram ujung rok seragamnya dengan kuat, tetap saja kata-kata Radit menyakiti hatinya. "Ya, udah, mulai sekarang, kamu gak perlu jagain aku lagi. Aku udah punya pacar. Berhenti melindungiku dan berperan seolah-olah police moral ."
Radit tercenung mendengar apa yang Queen katakan.
"Queen-"
"Mulai sekarang berhenti mencampuri urusan pribadi aku. Toh, selama ini aku juga gak pernah mencampuri kehidupan pribadi kamu. Dengan begitu aku yakin sekali kamu tidak akan terbebani dengan permintaan bundaku."
"Queen, kita sau-"
"Aku tahu kita saudara, maka dari itu jadilah saudara yang baik yang tidak mencampuri kehidupan pribadiku lagi," sela Queen tajam membuat Radit tak mampu berkata-kata untuk sekedar membalas semua yang Queen katakan.
Queen menatap sekali lagi ke arah Radit sebelum akhirnya meninggalkan pemuda yang masih menatap punggungnya sampai menghilang dari pandangan.
*****