
"Pagi, Bunda! Daddy!" Seorang gadis berseragam putih abu-abu berlari turun dari tangga dengan riang berlari menghampiri ruang makan lalu mencium pipi kedua orangtuanya.
"Pagi, Sayang," balas pria paruh baya yang asik dengan koran di tangannya, kegiatan rutin yang khas tiap pagi yang biasa dilakukan bapak-bapak.
"Sarapan, jangan jajan sembarangan!" Wanita berusia 40an yang masih tampak cantik itu menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur ceplok setengah matang di depan gadis dengan rambut panjang digerai tersebut.
"Aku gak pernah jajan sembarangan, Bunda!" Gadis dengan mata bulat dan hidung mancung itu terlihat tak suka dia terlihat kesal, bisa dilihat dari cara menyeret kursinya saat duduk.
"Bohong, Bun! Queen suka jajan cilok pinggir jalan tuh, tiap istirahat!" Seorang anak laki-laki yang juga baru datang dan memakai seragam seperti si Gadis menimpali.
"Pakai 'Kak' woy, gue lahir lebih dulu, otomatis lebih tua dari lo!"
"Alah, kita cuma beda 1 tahun! Malah kayaknya gue yang lebih pantas jadi kakak ketimbang adek!" Si Anak Laki-laki duduk dengan tenang di samping Queen, nama gadis cantik itu.
"Lo-"
"Stop manggil 'lo-gue' di meja makan anak-anak!" tegur si Ibu dengan wajah tegas, si Ayah hanya tersenyum melihat Sang Istri terlihat kesal karena ulah kedua anaknya, pemandangan yang indah setiap pagi.
"Kainan tuh, Bun! Selalu aja usil mancing emosi Queen!" Si Gadis cantik jelmaan Sang Ibu melirik tajam ke arah adiknya yang cuma cengengesan itu.
"Karena itu adalah kegiatan paling menyenangkan, bahkan waktu guru nyuruh gue nulis apa hobi gue di kolom biodata, gue tulis dengan jelas dan nyata 'NGUSILIN QUEEN'," balas Kainan anak bungsu Joddy, si Kepala rumah tangga yang masih nampak gagah di usia nyaris senjanya.
"Tuhkan, Bun!" rengek Queen membuat Kana makin kesal saja dibuatnya.
"Kai, jangan ganggu Kakak kamu." Akhirnya si Kepala Rumah Tangga menegur, sebenarnya Joddy tidak terganggu dengan pertengkaran-pertengkaran kecil anak-anaknya, dia malah menikmati saat-saat seperti ini tapi melihat wajah cantik Kana yang terlihat muram dia memilih mengakhiri pertengkaran dua bersaudara itu.
Bisa-bisa mood istrinya akan memburuk sepanjang hari dan itu akan berdampak juga pada dirinya, bisa membuat dirinya jadi tidak semangat bekerja di masa-masa dia pensiun ini.
"Selamat pagi semua." Si Anak Sulung akhirnya bergabung bersiap menambah keriuhan di meja makan.
"Kak Ken!" seru Queen tersenyum manis pada kakak kesayangannya itu.
Jika di mata Queen, Kai adalah jelmaan iblis berbeda dengan Ken. Bagi Queen, Ken adalah malaikat pelindungnya. Ken selalu memanjakan Queen, apapun yang Queen minta kakak laki-lakinya itu akan selalu berusaha menurutinya.
"Hai, Queen!" Ken duduk di samping ibuny a yang sibuk menyendok nasi dan lauk untuknya.
"Makasih, Bunda!" Senyum Ken memang selalu menenangkan siapa saja yang melihatnya. Ken benar-benar jelmaan ayahnya. Ramah, sopan, baik hati dan lembut.
"Malam ini masih nginep di sini kan?" tanya Kana, karena Ken sejak menyelesaikan S1 dokternya lebih memilih menempati rumah peninggalan almarhum ayah kandungnya, katanya sayang jika dibiarkan kosong.
"Internship Ken di mulai besok, Bun. Jadi, kayaknya bakalan jarang kemari." Seperti biasanya, dari dua bersaudara lainnya Ken adalah anak yang paling sopan pada orangtua, lemah lembut walaupun terkadang usil.
Kana tersenyum, dia lupa jika anak sulungnya ini harus menempuh internshipnya setelah lulus pendidikan kedokteran. Beruntung, Ken mendapat RS yang masih satu kota dengan orangtuanya tak bisa dibayangkan jika Kana harus berpisah dengan Ken.
"Berarti kamu bakalan sering di RS?" tanya Joddy
"Iya, Dad. Tapi nanti kalau dapat libur pasti Ken kemari."
"Yah, kok gitu?" Queen merajuk, dia selalu senang jika Ken menginap di rumah karena jika ada Ken, Kai tidak akan menganggunya karena Ken akan selalu menegur jika Kai usil pada adiknya.
"Yah, gitulah, mang napa?!" Bukan Ken yang menjawab, tapi si Bungsu yang selalu iri dengan kedekatan Ken dan Queen itu.
Dibandingkan Kai, Ken memang lebih memanjakan Queen, itu karena Queen yang selalu menempel pada kakak sulungnya itu sedangkan Kai lebih asik dengan dunianya sendiri.
"Diam lo, Perasor!" seru Queen sewot membuat semua mata mengarah padanya.
"Woi, gue bukan perasor!" Kai tak terima.
"Apaan tuh perasor?" Ken mengernyit binggung. Dia heran dengan istilah-istilah yang dipakai kedua adiknya, kadang-kadang tidak bisa diterima otak cerdasnya.
"Perebut Asi Orang!!" jawab Queen sewot membuat seisi ruangan tertawa kecuali Kai tentu saja. Bukan tanpa alasan Queen membuat panggilan seperti itu.
Menurut cerita Oma-nya, Kai lahir sebelum Queen genap satu tahun dan itu membuat Queen harus berhenti meminum asi ibunya. Dan ini yang selalu Queen ungkit jika merasa kesal pada Sang Adik. Queen selalu menyalahkan Kai karena gara-gara adiknya itu dia menjadi anak yang kurang cerdas dalam masalah akademik dan itu karena Queen sudah tidak meminum asi ibunya lagi sebelum genap satu tahun.
"Jangan salahin gue dong! Salahin Daddy tuh!" seru Kai tak terima disebut merebut. Joddy yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya itupun terbatuk-batuk karena merasa disinggung.
Kana dan Ken hanya menahan senyum tapi terang-terangan melirik Joddy yang wajahnya merah menahan malu.
"Kenapa nyalahin Daddy? Kamu yang minum asi-nya, Bunda!" seru Queen.
Lagi-lagi Joddy terbatuk-batuk mendengar celetukan polos putri semata wayangnya itu.
Kali ini Ken benar-benar tidak bisa menahan tawa yang akhirnya menyembur keluar, sedangkan Kana melipat bibir berusaha keras untuk tidak tertawa. Mendengar kata-kata Queen, mengingatkan pada dirinya sewaktu muda. Polos.
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar, teruskan sarapan kalian. Nanti kalian terlambat ke sekolahnya!" seru Kana yang kasihan melihat suaminya menahan malu.
Queen dan Kai hanya saling pandang lalu mencibir satu sama lain.
"Ada yang mau bareng, Kakak?" Ken tersenyum menawarkan mengantar adik-adiknya sekolah.
"Radit? Tapi rumah Radit jauh lho dari sini." Kana mengingatkan. "Kasian sering jemput kamu."
"Orang Raditnya yang mau." Queen mengambil sepotong nugget lalu mengunyahnya perlahan.
"Mau lah, orang lo paksa mulu!" balas Kai.
"Nyamber aja lo kayak petasan cabe!" seru Queen pada adiknya.
"Woi-"
"Tet..tet..tet!"
Kata-kata Kai yang akan membalas Queen terpotong oleh suara klakson mobil yang terdengar dari luar rumah.
"Nah, tuh orangnya!" seru Queen girang lalu bergegas beranjak dari duduknya untuk berpamitan pada orangtuanya.
"Hati-hati, pulang sekolah langsung pulang ke rumah udah kelas 3 harus banyakin belajar!" pesan Kana begitu Queen selesai mencium tangannya.
"Iya, Bunda Sayang!" Queen mengedipkan matanya lalu berlari sebelum melambaikan tangannya pada Ken yang menghela napas itu.
"Gue nggak lo pamitin Queen?"teriak Kai yang kebetulan berbeda sekolah dengannya.
"Males!!!" teriak Queen dari teras rumahnya lalu melompat kegirangan saat melihat mobil warna hitam metalik di depan rumahnya.
"Hai, Radit!!!" sapa Queen begitu membuka pintu mobil dan duduk di samping kursi kemudi.
"Hai, Queen," balas seorang pria berseragam sama dengannya.
"Kelamaan nunggu, ya? Sorry!" ucap Queen sibuk memakai sabuk pengaman.
Cowok itu Raditya. usianya lebih muda satu tahun dari Queen. Wajahnya sangat tampan. Hidung mancung, alis tebal, rahang tegas dan punya lesung pipi pada salah satu bagian pipinya, jika tersenyum maka kadar ketampanannya naik menjadi 1000%.
"Engga kok," Suaranya lembut bagai gesekan biola Arcangelo Corelli, salah satu seorang pemain biola terkenal di dunia yang Queen kenal lewat buku paket seni musiknya.
Queen tersenyum kikuk dia sedikit kesulitan dengan sabuk pengamannya.
"Sorry, susah ya?" Radit mencondongkan tubuhnya ke arah Queen berniat membantu gadis bermata bulat itu memakai sabuk pengamannya. Jantung Queen berdebar kencang saat tubuh Radit sangat dekat dengannya, aroma parfum maskulinnya bahkan menggelitik indra penciuman Queen.
Sedetik tubuh Queen membeku, wajah Radit sangat dekat dengannya bahkan bergerak sedikit saja bisa dipastikan hidung mereka bersentuhan. Dari jarak sedekat ini Queen bisa tahu kalau ternyata kulit wajah Radit benar-benar bersih, bulu matanya juga lentik.
Astaga, bisa meleleh dia jika Radit terus-terusan di posisi ini.
Queen berharap waktu berhenti saat ini juga, biarkan dia menikmati kedekatan dengan Radit sebentar saja.
Semoga saja Radit tidak mendengar detak jantungnya yang dengan tidak sopannya berdebar sepuluh kali lipat lebih kencang dari biasanya.
"Beres!" seru Radit.
Queen sedikit kecewa saat Radit sudah kembali ke posisinya semula. Radit satu-satunya pria yang bisa membuatnya berdebar. Walaupun dia satu tahun lebih muda dari Queen tapi tetap saja membuat Queen tak karuan dibuatnya.
"Oiya, keberatan tidak kita jemput Vonny dulu?"
Sayangnya, Radit sudah punya pacar. Seorang siswi populer di sekolahnya. Vonny Febriani namanya, cantik, jago nyanyi pokoknya paket lengkap. Selain good looking juga good attitude.
"Gak boleh! Ngapain jemput dia?!" Pengennya Queen tereak gitu aja tapi yang keluar dari mulutnya."Iya, tentu aja."
"Soalnya Vonny bilang, sopirnya sedang mudik jadi gak bisa nganter."
Sayangnya lagi, Radit sebucin itu pada Vonny. Queen tersenyum tipis, apes-apes bakalan jadi obat nyamuk nih gue!
Radit tersenyum lalu kembali fokus dengan kemudinya.
"Oiya, gimana kabar Om Joddy sama Tante Kana?" tanya Radit.
"Baik aja, Daddy masih tetap bucin sejati dan Mama masih tetap superior," sahut Queen.
Radit terkekeh geli mendengar jawaban Queen itu.
"Mama sama Papa titip salam buat mereka, besok di acara keluarga katanya mau nantang Om Joddy main candy crush." Radit tertawa di akhir kalimatnya membuat Queen tersenyum kecut.
Yang lebih di sayangkan lagi mereka adalah saudara sepupu dari pihak ayah masing-masing.
"Kenapa sih kita harus jadi saudara sepupu?" gumam Queen melirik Radit yang masih fokus ke arah depan.
Apa ini yang namanya Cinta yang salah?
******