In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
Enggak!



Kai menyenggol lengan Ken yang sejak tadi menatap Queen yang sibuk dengan cemilan sambil asik berselancar di dunia maya dengan ponselnya


"Emang iya, Dek. Kamu pacaran sama Gara?" Ini adalah pertanyaan ke lima kalinya yang dilontarkan Ken setelah dengan semangatnya Kai mengadu tentang kejadian di mini market tadi sore.


"Astaga, Kak Ken. Enggaklah! Kali aku suka sama om-om, bertato pula! Hih, horor!" Queen bergidik ngeri membayangkan Gara ada di depan mukanya.


"Gitu-gitu, masa depan cerah. Mpok! Hati-hati ntar jatuh cinta!" timpal Kai menyomot snack kentang di tangan Queen yang langsung ditepuk keras gadis itu.


"Hati-hati itu di jalan bukan di cinta!" balas Queen asal.


Ken menatap Queen penuh selidik. "Tapi kenapa tadi Kai bilang, Gara meluk kamu sambil bilang kamu pacar dia?"


Queen memutar bola mata jengah. "Itu tadi, si Gara~"


"Pakai 'kak', Dek. Dia lebih tua dari kita!" Ken memperingatkan.


Queen berdecak," Iya, pokoknya teman Kakak itu cuma pura-pura biar gak digoda sama tante-tante mantan pasien dia, makanya dibilangnya Queen pacar dia," jelas Queen sedikit kesal karena adik dan kakaknya masih saja menginterogasi.


"Oh, jadi emang gak ada apa-apa?"ulang Ken lagi.


"Astaga, kak Ken! Masih aja gak percaya! Lagian Queen kan udah punya pacar di sekolah." Tuh, kan! Queen jadi terpaksa mengaku Yuda adalah pacarnya.


"Wah, lo beneran punya pacar, Mpok? Kok, tiap gue jemput gak lihat lo barengan doi?" sambar Kai antusias.


Queen berdeham sedikit. "Ya, lo aja kali yang gak merhatiin." Queen mengedik acuh.


"Oh, syukurlah. Gue kira lo ngarep sama Radit!" seru Kai santai tapi cukup membuat Queen dan Ken saling berpandangan.


"Maksud kamu?" tanya Ken.


"Gini Kak. Gue tuh dari dulu curiga kalau Queen ini naksir sama Radit soalnya ni bocah kelihatan salting tiap ada doi. Tapi untunglah kalau dia punya pacar jadi itu mematahkan kecurigaan gue." Kai mengangkat bahu santai.


Queen dan Ken lagi-lagi saling berpandangan. Itu semua tidak salah. Kecurigaan Kai benar.


"Yah, walaupun sebenarnya boleh secara agama tapi kan tidak etis kalau dipandang di masyarakat sosial. hal begitu masih tabu!" Kai berkata sok tahu tapi cukup membuat Queen tertarik.


"Emang begitu?" tanya Queen antusias.


"Makanya sering baca cari informasi jangan cuma baca novel online aja lo!" seru Kai jumawa.


Queen terdiam sejenak, kalau benar berarti dia punya kesempatan untuk bersama Radit. Itupun kalau Radit membalas perasaannya.


"Dek, kamu gak akan melakukan seperti apa yang kamu pikirkan, kan?" tanya Ken tiba-tiba, membuat Queen menoleh ke arah Kai yang ternyata sudah tidak ada bersama mereka, pantesan Ken berani bertanya seperti itu.


"Enggak," sahut Queen lirih.


" Kalaupun seandainya Radit punya perasaan yang sama tapi orangtua kita dan orangtua Radit belum tentu membolehkan. Radit anak tunggal Om Dipta kita masih kerabat dekat dengan Om Dipta. Banyak resikonya ke depan. Jadi, walaupun halal alangkah baiknya mencari yang 'jauh'. Queen paham, kan maksud, Kakak?" Ken merangkul bahu Queen menenangkan adek kecilnya itu.


Queen hanya mengangguk walaupun lubuk hatinya tidak mau menerima.


***


Sudah seminggu ini Queen membatasi diri berinteraksi ldengan Radit. Bukan berarti lost


begitu saja, tapi Queen hanya membatasi dirinya untuk tidak berinteraksi terlalu sering dengan Radit. Rasanya tidak mudah, apalagi jika Radit bermesraan


dengan vonny di depan matanya, hiihhhh… rasanya ingin sekali dia menjambak rambut vonny menjauh dari sisi Radit.


Queen menyandarkan tubuhnya di dinding perpustakaan yang sepi. Paling pojok dekat


jendela spot paling nyaman untuk melamun meratapi nasib yang menyedihkan. Queen


memperhatikan siswa pria yang sedang bermain basket di lapangan melalui jendela


perpustakaan yang ada di lantai dua gedung sekolah yang tak jauh dari lapangan. Sayangnya,


tidak ada Radit, mungkin dia masih cidera karena dirinya tempo hari.


“Dit…aku tahu ini salah tapi aku kangen,” gumam Queen lirih lalu menyandarkan kepalanya


di jendela. Masih terngiang-ngiang percakapannya dengan Ken kemarin.


“Radit, aku kangen.” Queen mengigit bawah bibirnya agar suara tangisnya tidak terdengar pengunjung perpus yang lain.


“Kalau kangen, mendekat, jangan menjauh,” bisik sebuah suara tepat di telinga Queen.


Queen tersentak kaget mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Matanya membulat saat melihat pemilik suara itu, seraut wajah yang sejak tadi


membayangi pikirannya ada begitu dekat dengannya. Menatapnya lekat. Dengan senyum


manis yang menghias wajah tampannya.


“Ra~radit?” gugup Queen tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Jangan-jangan Radit


tadi mendengar gumamannya.


Gawat!


“Queen…kenapa nangis?” Radit menyentuh pipi Queen mengusap air mata yang lolos di sana. Tubuh


Queen membeku mendapat sentuhan itu. Sorot lekat Radit mengunci tatapannya. Sedetik tatapan mereka terkunci.


“Kamu di sini?” Queen yang pertama kali memutus kontak mata mereka dengan menjauhkan


tangan Radit dari wajahnya.


“Hmm.. iya, aku tadi lihat kamu ke sini.”


Queen hanya mengangguk-angguk menyembunyikan detak jantungnya yang berdebar kencang.


Seperti yang kakaknya bilang jangan sampai Radit tahu jika dia mempunyai perasaan yang


lebih pada pemuda itu dia harus bisa membunuh perasaanya pada Radit.


“A~aku balik ke kelas dulu.”Queen beringsut dari duduknya lalu bersiap pergi tapi langkahnya terhenti saat tangan Radit menahan pergelangan tangannya.


“Kenapa menjauhiku, Queen?” Radit berdiri menjulang di depan Queen.


“Aku tidak menjauh Radit.” Queen dengan pelan melepas tangan Radit .


“Kamu melakukannya, Queen. Kamu membatasi diri denganku. Apa ada yang salah? Apa


karena ucapanku di rumah sakit tempo hari?”


Queen membeku di tempatnya berdiri.


“Enggak ada yang salah Dit. Aku…aku cuma…” Queen tak melanjutkan kata-katanya saat tiba-tiba Yuda menghampiri mereka. Dia hampir lupa kalau tadi sempat bertemu dengan Yuda di kantin. di


“Queen, udah nyari bukunya?” Yuda tersenyum manis.


“Udah, kok ini mau balik ke kelas.” Queen berusaha bersikap sewajar mungkin.


“Ya udah, yuk aku anter,” Yuda mengandeng tangan Queen. “Bro, gue anter sepupu lo dulu ya." Yuda mengedipkan mata pada Radit lalu menarik tangan Queen mengajaknya keluar dari ruangan itu meninggalkan Radit yang masih berdiri gamang menatap kepergian mereka.


**


“Hah? Rara hamil lagi, Dad?” pekik bunda Kana membuat Queen yang sedang asik menyuapkan es krim itu menoleh ke arah bundanya.


“Iya. Sayang. Tadi si Dipta dengan sombongnya pamer kalau dia masih bisa bikin adik buat Radit. Dih, sombong kali dia.” Daddy Joddy mencibir di balik koran yang dia baca. Ada rasa iri terselip di nada suaranya.


“Tapi bukannya usia tante Rara udah 30an lebih, Bun?” Queen tertarik juga, kalau Radit punya adik berarti jarak usia dia dan adiknya sangat jauh, 17an tahun, gila udah kayak hari kemerdekaan aja.


“Emang kenapa? Kalau belum monopouse, 50 tahun juga masih bisa.” Bunda Kana menjawab santai sambil asik mengupas buah apel untuk suami tersayangnya.


“Emang iya? Kalau gitu kita juga masih bisa dong, Sayang, ngasih adik buat mereka,” celetuk daddy Joddy menunjuk Queen dan Kai yang sejak tadi sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.


“Gak!” sahut Queen dan Kai kompak membuat kedua orangtua mereka saling berpandangan dan menahan tawanya.


“Gak, gak! Punya adik satu aja udah berpotensi bikin stroke di usia muda!” sindir Queen melirik Kai yang sejak tadi sibuk bermain game di hpnya.


“Bener! Masa Kai punya adik jaraknya jauh banget!” Kali ini Kai setuju dengan kakaknya.


“Alah, bilang aja lo khawatir tahta lo sebagai anak bungsu tergeser!” sinis Queen. Kai mendelik sebal ke arah kakaknya tapi membenarkan dalam hati. Selama ini dia cukup diuntungkan dengan posisinya sebagai anak bungsu. Paling tidak tanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tidak terlalu banyak dan boleh absen dalam acara keluarga tertentu.


“Queen, ganti baju sana!” perintah bunda Kana membuat Queen mengerutkan kening.


“Mau ke mana?”


“Antar bunda ke rumah tante Rara, bunda mau ngucapin selamat buat kehamilannya.”


Queen terdiam sejenak. Ke rumah Radit rasanya Queen tak akan bisa. Dia kan sedang dalam masa mencoba membunuh perasaannya. Kalau sering ketemu mana bisa perasaan itu mati?


“Queen, banyak PR Bun. Kai ajalah diakan nganggur.” Queen berusaha mencari alasan. Merasa


disebut namanya Sang Tuan Muda menatap kakaknya terang-terangan.


Queen sedikit salah tingkah.”Gue lagi banyak PR.”


“Ohhhh,”Kai mangut-mangut tak percaya.


“Tapi gue udah ada janji dong, nemenin Daddy servis mobil, ya kan, Dad?” Kai menatap Daddy


Joddy yang langsung mengacungkan jempolnya.


“Ayo, Queen. Cepat, ganti baju temenin Bunda!”


“Tapi~”


“Cepat sana! Keburu malam pulangnya nanti. Bunda juga mau siap-siap.  Ah!” Bunda Kana bergegas dari duduknya meninggalkan suami dan anaknya yang melongo bingung.


“Siapa yang hamil. Siapa yang seneng!” decih Kai tak habis pikir dengan reaksi ibunya yang menurut Kai terlalu berlebihan


“Apa sebaiknya Daddy bikinkan kalian adik lagi, ya?” tanya Daddy Joddy kepada kedua anaknya yang langsung dihadiahi pelototan.


“Gak!!!” sahut Queen dan Kai kompak


*


Queen memilih asik dengan ponselnya membalas chat dari Yuda yang sama sekali tidak


bosan melayangkan gombalan receh. Diabaikannya kedua orang ibu yang sedang asik becanda itu.


“Jadi, Dipta seneng Ra, mau punya anak lagi.?”


“Seneng banget lah Mbak. Udah mulai posesif sekarang. Ini aja dia mau pergi futsal karna tahu mbak Kana mau ke sini. Mana tega dia aku sendirian.”


Bunda Kana manggut-manggut.


“Radit kenapa belum pulang Ra. Kemana memang?”tanya bunda Kana. Jari Queen yang sejak


tadi asik menscroll layar hape berhenti sejenak demi mendengar nama Radit disebut. Benar sejak tadi Queen tidak melihat sosok Radit. Kemana memang anak itu, ya?


“Oh, tadi nemenin ayahnya futsal. Katanya papanya Queen udah jarang mau diajak futsal.” .


“Maklumlah Ra. Udah encok daddynya si Queen, mah! Lha wong sekarang nyetir rumah ke


kantor aja udah ngeluh mulu. Maklum deh calon pensiunan,” kikik Bunda Kana lalu


tertawa bersama tante Rara. Queen hanya geleng-geleng kepala. Dia yakin pasti


daddynya sekarang sedang bersin-bersin karena dighibahin.


“Aduh, aku lupa, Mbak. Kemarin aku habis beli kue almond di toko kue langganan aku. Enak


banget deh!" pekik tante Rara.


“Queen, tante tolong dong ambilin kue di kabinet dapur  dari kiri nomor tiga,”pintanya pada Queen


yang langsung bergegas pergi itu. Queen sudah dianggap anak sendiri di keluarga Radit jadi dia tahu seluk beluk rumah Radit.


“Kabinet nomor tiga dari kiri.” Queen  mengamati setiap sudut ruang dapur matanya mencari-cari.


“Oh, itu dia!” seru Queen mendekati lemari kabinet membukanya lalu mencari-cari barang yang diminta tante Rara.


“Astaga, tinggi amat!” desah Queen mencoba mengambil toples yang berisi kue kering.


Queen terlihat kesusahan karena tangannya tidak bisa meraih toples yang ada di rak paling atas.


“Aduh, susah!” Queen berjinjit masih berusaha namun, nihil.


Tiba-tiba sebuah tangan meraihnya dengan mudah tubuh Queen membeku saat dia tahu siapa


pemilik tangan tersebut, dia hafal sekali dengan aroma after shave yang walaupun sudah bercampur dengan keringat masih mengelitik indera penciumannya.


“nih,” bisik pemilik tangan itu mendorong toples di sisi samping Queen yang memilih menunduk tanpa berani membalik badannya. Ihh, kenapa sih Radit harus sudah pulang? Bisa gagal pertahanannya.


“Gak ada ucapan makasih nih?”


Queen memberanikan diri membalikkan badannya, matanya bersitatap dengan Radit yang


tersenyum dengan sorot mata yang lembut.


“Ma~makasih.” Queen menjawab dengan gugup. Queen bersiap pergi tapi Radit menghadangnya.


“Menghindar lagi?”


“Enggak, tante Rara nunggu kuenya.” Queen berusaha santai tapi tiba-tiba saja Radit menghuyungkan tubuhnya lalu menjatuhkan kedua tangannya di kedua sisi Queen, mengurung gadis


itu agar tidak kabur.


Diperlakukan seperti itu membuat Queen gugup. Dia bahkan sampai harus menatap ke arah pintu


masuk dapur berharap tidak ada orang lain yang tiba-tiba masuk ke dapur, tante Rara misalnya.


Queen menelan ludah, tiba-tiba saja tengorokannya terasa kering. Radit sadar gak sih


dengan apa yang dilakukannya saat ini? Posisi mereka saat ini bisa saja membuat


oranglain yang melihatnya menjadi salah paham.


“Selamat.” Dari sekian kata kenapa yang keluar malah ini sih Queen?


Alis Radit terangkat satu.“Untuk?”


“Kehamilanmama kamu.” Queen berusaha mati-matian untuk tidak gugup


“Thanks, aku senang mau punya adik. Tapi bukan itu poin pentingnya saat ini,” sahut Radit.


Queen menatap mata Radit.


“Apa kamu masih tidak mau mengaku?”


“Apa?”


“Kamu menghindariku, bahkan Ken menyuruhku untuk tidak menjemputmu, apa itu permintaanmu?”


Kamu salah Radit, itu inisiatif kak Ken sendiri karena dia tahu perasaanku ke kamu mulai mendalam.


“Aku tidak menghindar.”


“Tapi menjauh, ya kan?”


Queen terdiam. “Apa karena ucapanku di rumah sakit, yang aku bilang khwatir bukan karena sepupu?”


Queen mengeleng.”Aku harus segera kembali ke ruang tamu Dit.” Queen tidak bisa


berlama-lama dalam posisi seperti ini bersama Radit.


“Jawab dulu Queen, kenapa kamu menghindariku. Kamu bilang kita sepupuku kan? kita saudara kan?” desak Radit tak sabar.


“Aku~”


“Queensha! Kok lama?” suara tante Rara memanggil nama menyentakkan keduanya, gadis itu


bernapas lega, dia mendorong tubuh Radit lalu bergegas ke ruang tamu, mengabaikan Radit yang menatapnya serba salah. Sesampai di ruang tamu


dilihatnya personil bertambah ada daddy Joddy dan Kai yang rupanya menyusul. Queen mendecih, katanya servis mobil?


Alibi lo ah! Pasti malas kalau pergi sama bunda dan mampir ke sana kemari.


“Kok lama sih?” tanya bunda Kana.


“Iya, Bun soalnya raknya tinggi.’’ Queen menyerahkan toples kue ke arah tante Rara.


“Maklumlah, Bun. Si Mpok kan kayak pantun,”celetuk Kai dengan wajah tengilnya.


“Cakep?”sahut daddy Joddy.


“Pendek!” seru Kai lalu tertawa terbahak-bahak diikuti yang lain, dengan kesal Queen menerjang


Kai lalu menarik rambut sampai saudaranya itu berteriak kesakitan membuat suasana


menjadi gaduh.


Radit hanya menghela napas sambil mengeleng-gelengkan kepala. “Kamu kayak matahari."


****