
"Hai, Queen!"
Queen sampai harus memundurkan tubuhnya saat melihat Yuda sudah menghadangnya di pintu masuk kelas.
"Bikin kaget!"
Yuda tersenyum lalu menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
"Tumben baru dateng?" tanyanya mengabaikan kekesalan Queen.
"Iya." Queen melirik kanan-kiri, sepertinya banyak siswa yang sedang membicarakannya .
Jelas terlihat karena mereka berbisik-bisik sambil menatap ke arah Queen dan Yuda. Ah, tentu saja gosip akan segera menyebar. Yuda cukup populer di kalangan siswi perempuan. Dia terkenal bad boy jadi wajar saja perempuan yang dekat dengannya akan terkena imbas dari ke-bad boy-annya dan Queen tidak nyaman.
"Lo mau ketemu siapa? Kevin?Feri?Galih?" Queen menyebutkan sederetan nama teman sekelasnya.
"Lha ngapain gue nyari mereka?Nyari lo, lah!" Yuda tersenyum dengan dua tangan berada di masing-masing saku celananya.
"Gue?" Queen menunjuk dirinya sendiri, melihat wajah polos Queen membuat Yuda gemas saja. Sebelumnya Yuda tidak pernah menaruh perhatian berlebih pada Queen. Dia tahu Queen gadis tercantik di kelasnya tapi untuk mendekati Queen dia tidak melakukannya, dia masih menghormati Radit sahabatnya sekaligus saudara sepupu Queen. Tapi sejak Queen mengirim salam tempo hari keberanian Yuda muncul. Siapa tahu gadis ini memang menyukainya. Selama ini tidak ada kaum hawa satupun yang menolak pesona dirinya tentu saja termasuk Queen.
"Ada apa?" tanya Queen membuyarkan lamunan Yuda.
"Enggak, pengen lihat lo aja," jawab Yuda dengan senyum khasnya, senyum buaya yang biasa dia pakai untuk mengambil perhatian cewek-cewek. Sayangnya, cewek yang satu ini sepertinya tidak peka, lihat saja sikapnya yang biasa saja malah terkesan datar.
"Lo kira gue pajangan," gerutu Queen lalu masuk ke dalam kelas mengabaikan Yuda begitu saja. Ingin sekali Yuda mengumpat. Tapi gadis ini terlalu manis untuk diberi kalimat umpatan.
Yuda berlari mengejar Queen lalu berdiri di samping bangkunya mengabaikan tatapan teman sekelas Queen.
"Buat lo!" Tangan Yuda terulur lalu meletakkan sebatang coklat di meja Queen.
"Ini--"
tetttt....tet....tet.....
Suara bel sekolah yang nyaring memotong kata-kata Queen.
"Gue cabut dulu! Sampai jumpa nanti, Queen!" seru Yuda lalu mengedipkan matanya sebelum bergegas keluar dari kelas Queen. Queen mendecih lalu meletakkan tasnya dan duduk untuk mempersiapkan diri mengikuti pelajaran.
"Wuidih, coklat dari Yuda?" Dara yang baru saja berpapasan dengan Yuda di depan pintu kelas itu langsung bisa menebak.
"Iya, gara-gara lo sih!" Queen menatap Dara sebal.
"Kok gue?"
"Gara-gara lo tempo hari bilang gue ngasih salam sama dia!"
Dara tertawa lalu mengambil coklat di atas meja setelah Queen mengangguk saat dia memintanya. " Ya ,Yuda emang naksir lo kali dari dulu. Cuma dia gak enak sama Radit, kali!"
"Gue ditaksir Yuda? Yang benar saja! Yuda tipenya bukan kayak gue! Gue mah apa atuh!" balas Queen lalu menyambar coklat yang ada di tangan Dara.
Dara tersenyum tipis. Dasar gadis lugu. Dia pikir dia buruk rupa? Barangkali Queen lupa kalau dia dapat predikat cewek cantik seangkatan. Bisa-bisanya dia bilang bukan tipe Yuda si Playboy yang kambing dibedakin saja pasti dilirik.
"Eh, hp lo geter tuh! Buru angkat sebelum Pak Joni dateng!" Dara melirik ponsel Queen yang masih ditaruh di meja. Dengan malas Queen mengambil ponselnya lalu membaca pesan yang baru saja masuk.
Radit: Queen plng sekul kita mkn di cafe biasa. ketemuan di sna aja. nnt q pmtn tante!
Queen tersenyum membaca pesan yang rupanya dari Radit itu.
Tanpa berpikir dua kali Queen membalasnya, karena tidak ada alasan untuk menolak ajakan Radit. Lagipula kalau perginya sama Radit orangtuanya tidak akan marah sekalipun tidak pamit.
Queen: ok!
*
Queen merapikan penampilannya dia menambahkan bedak di wajah dan liptint warna peach di bibirnya yang mungil, rambut dia biarkan tergerai.
"Perfect!" Queen tersenyum sambil melihat bayangan wajahnya di cermin kecil yang selalu dia bawa. Setelah yakin penampilannya rapi Queen menyimpan cerminnya kembali ke dalam tas.
Queen sudah setengah jam berada di cafe beberapa kali dia menatap ke arah pintu masuk, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Radit. Mungkin dia ada jam tambahan karena memang sudah kelas 3 makanya dia menyuruh Queen datang duluan ke cafe atau bisa jadi dia sedang mengantar Vonny pulang, ah, tak masalah yang penting dia bisa berduaan dengan Radit.
"Queen?"
Queen buru-buru menoleh ke asal suara dengan senyum merekah menyangka yang memanggilnya adalah Radit.
"Lho lo di sini juga?!"
Senyum Queen memudar seketika saat melihat yang memanggilnya bukan Radit melainkan Yuda.
Hah? Yuda? Kok bisa?
"Iya, gue lagi nun--"
"Gue gabung sama lo ya? Gue sendirian." Yuda menyela Queen lalu tanpa diminta duduk di bangku kosong dekat Queen.
"Tapi gue lagi nun--"
"Gue lapar banget, lo udah pesen?" tanya Yuda seolah sengaja menyela kata-kata Queen yang dengan polosnya menggeleng pelan itu.
"Oke, pesen yuk!" Yuda tersenyum. "Gak nyangka deh kita ketemu di sini!" Yuda mengambil buku menu lalu membuka-bukanya tanpa memberi kesempatan Queen untuk bicara.
Queen menatap Yuda kesal, kok bisa Yuda muncul tiba-tiba begini? Manapula si Radit belum datang-datang!
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, Radit masuk ke dalam cafe menghampiri mejanya dengan langkah lebar.
"Lho, kalian berdua di sini?"
Hampir saja Queen bernapas lega saat melihat Radit, sayangnya dia malah datang dengan Vonny yang menyapanya dengan riang.
"Eh, kalian. Makan di sini juga?"sambut Yuda dengan senyum semringah.
"Iya. Beib, kita duduk di sini aja ya, bareng mereka." Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan karena detik berikutnya Vonny sudah menarik tangan Radit yang masih diam mematung itu untuk duduk di bangku bergabung dengan Queen dan Yuda.
"Kamu kenapa malah di sini Queen?" tanya Radit langsung pada Queen.
"Tadi kamu kan yang-"
"Ih, apaan sih, Beib! Ya, biarlah Queen di sini," tegur Vonny memotong kata-kata Queen.
"Iya biarin ajalah, Dit. Sepupu lo ini juga butuh bergaul lihat dunia luar," sambung Yuda.
Radit menatap Queen tajam, dia tidak suka Queen berada di cafe ini apalagi jika orangtuanya tidak tahu.
"Lho, kan tadi kamu bilang mau--"
"Astaga,Radit. Kamu kenapa sih kayak kakak yang overprotektif gini. Aku yakin orangtua Queen gak akan marah. Toh, Queen cuma makan aja!" Lagi-lagi Vonny menyela Queen. Membuat Queen sedikit bingung, kenapa Vonny terkesan tak memberi waktu Queen bicara?
Keberadaan Yuda yang tiba-tiba muncul juga sepertinya terasa janggal. Apa jangan-jangan ini semuanya direncanakan?
"Iya, anggap aja kita lagi double date?" Yuda menambahi membuat Queen bersungut-sungut.
"Ya, udah mending kita makan aja!" Vonny bertepuk tangan lalu mulai mencatat pesanan di kertas memo yang disediakan.
Queen hanya diam menatap Radit yang terlihat kesal padanya. Apa Radit merasa terganggu ya karena Queen menganggu kencannya?
"Ngomong-ngomong, kalian cocok lho berdua." Vonny menunjuk Queen dan Yuda." Kayaknya kita harus sering-sering double date deh, Beib biar mereka juga lebih saling mengenal." Vonny menatap Radit yang hanya diam dengan pandangan lurus ke arah Yuda itu.
"Ide bagus tuh! Kita kayaknya harus sering-sering jalan berempat!" Yuda menyambut antusias usul Vonny yang menurutnya sangat brilian itu.
Queen hanya tersenyum dibuat-buat dia tak berani menatap Radit karena cowok itu terlihat sangat kesal, anehnya, kenapa Radit kesal? Apa karena ada Yuda? Tapikan mereka tidak sengaja bertemu.
"Queen, warna rambut kamu merah, ya?" tanya Yuda tiba-tiba.
Queen menatap Yuda bingung lalu memegang rambut panjangnya. "Hah, hitam, kok!"
Yuda tersenyum lalu menopang dagunya dengan mata lurus menatap Queen."Ternyata benar ya, cinta itu buta," balas Yuda diiringi sorakan Vonny.
"Cieee.. Yuda!"
Queen hanya diam dan tak menanggapi gombalan receh Yuda itu.
*
Queen melirik Radit takut-takut. Sepanjang perjalanan pulang cowok titisan Arjuna itu hanya diam bahkan sejak di kafe tadi Radit tak banyak bicara hanya sesekali menimpali obrolan sambil sesekali melotot setiap Yuda melancarkan gombalan recehnya pada Queen.
Queen jadi bingung, apa alasan Radit marah padanya. Apa karena dia menganggu acara kencannya dengan Vonny? Atau karena dia cemburu?
Hah? Cemburu?
Tidak mungkin! Cemburu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin akan Radit rasakan padanya. Radit bersikap diam pasti karena tidak enak pada bundanya saja Karna mereka pulang terlambat. Tapi bukannya tadi Radit di pesan bilang akan memintakan izin?
"Kenapa kamu pergi ke cafe sama Yuda?"
Akhirnya setelah sekian menit diam, pangeran es di samping Queen ini bersuara.
Queen meenoleh ke arah Radit yang asik menyetir itu.
"Kami gak sengaja bertemu, Yuda juga kebetulan makan di sana."
Radit tersenyum sinis." Kebetulan dari mana? Jelas itu sengaja bertemu."
"Ya, habisnya kamu kelamaan datengnya."
"Kenapa kamu jadi nyalahin aku?" tanya Radit menatap Queen binggung.
"Lha terus salah siapa?"
"Kamu belum minta izin Tante Kana, kan?" tebak Radit lagi.
"Lho, bukannya kamu yang mau izinin ke Bunda?" tanya Queen balik.
"Aku?"
"Iya, tadi di WA kamu bilangnya mau izin ke Bunda."
"WA apa? Aku seharian gak WA kamu!"
Queen menoleh cepat ke arah Radit. "Jangan becanda, Dit! Tadi pagi kamu kirim pesan ke aku ngajak ketemuan di kafe, tapi aku disuruh datang duluan!"
Radit mengernyitkan keningnya bingung. "Kamu yang becanda aku-"
Queen memberi tanda agar Radit diam. "Bentar! Aku tunjukin!" Queen mengambil ponsel di dalam tasnya lalu segera mengeluarkan.
"Nih, kalau kamu gak percaya, kamu kirim pesan aku tadi di kelas." Queen mengulurkan ponselnya membuat Radit terpaksa menghentikan mobilnya di bahu jalan yang sepi dan aman.
"Sini!" Radit menyambar ponsel Queen setelah yakin mobilnya aman, keningnya berkerut heran saat dia membaca pesan yang ada di dalam ponsel Queen. Benar, itu memang pesan yang dikirim melalui nomornya. Tapi Radit sama sekali tidak merasa mengirimkannya.
"Wait!" Radit mengembalikan ponsel Queen lalu mengambil ponselnya sendiri.
"Di sini tidak ada pesan ke nomor kamu. Berarti--" Radit terdiam, dia teringat sesuatu. Tadi Vonny sempat meminjam ponsel, jangan-jangan Vonny yang mengirim pesan itu. Tapi untuk apa? Ah, tentu saja untuk mencomblangi Yuda. Astaga, anak itu!
"Vonny yang kirim. Bukan aku." Radit menyandarkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Queen melihat reaksinya.
"Vonny? Dia ngirim terus dihapus?"
Radit mengangguk.
"Jangan-jangan dia sengaja lagi buat nyomblangin aku sama Yuda?"
"Cerdas!" Radit mengangguk.
Queen terdiam, ah pantas saja semua terasa aneh. Radit yang mengajaknya makan lalu menyuruhnya datang duluan dan Yuda yang tiba-tiba datang dan seperti sudah direncanakan.
"Kamu mau?" tanya Radit tiba-tiba. Queen menatap Radit bingung.
"Mau apa?"
"Dicomblangin sama Yuda."
"Emang kenapa?"
"Ya, aku gak yakin Tante Kana ngijinin apalagi Yuda itu sedikit playboy." Radit menyalakan mesin mobilnya lalu mulai menyetir.
"Ya, Bunda gak akan tahu kalau gak dikasih tahu." Queen melirik Radit menunggu reaksinya. Siapa tahu Radit akan melarangnya atau marah karena cemburu.
"Ya terserah aku sih!"
Queen mendecih rupanya semua hanya ekspetasinya, realitanya Radit masa bodoh aja. Jadi, sudah jelas tadi di kafe wajahnya kesal karena ada Yuda yang akrab dengan Vonny.
Queen..Queen lo berharap apa?
*****