In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
Nasib!



Queen membuka tirai ruang tamu, mengintip dua orang yang sedang tertawa-tawa itu. Daddy dan Radit sejak sejam yang lalu sibuk bermain candy crush. Menurut pengamatan Queen, walaupun dekat tapi cowok manis itu jarang sekali datang ke rumahnya. Jika jemput sekolah pun dia memilih menunggu di depan rumah. Mereka sering bertemu bila ada acara keluarga saja. Tapi tumben sekali manusia kulkas 5 pintu itu pagi-pagi sudah ada di rumahnya.


"Woiii!"


Queen hampir saja terjungkal saat Kai berteriak tepat di telinganya.


"Kambing!" maki Queen dengan wajah garang membuat Kai sedikit kaget karena tak percaya kakaknya bisa berkata kasar.


"Bunda! Queen ngomong kas-"


Tangan Kai langsung ditarik Queen menjauh dari ruang tamu sebelum adiknya itu menyelesaikan teriakannya.


"Ngapain sih lo narik tangan gue?!" protes Kai tak terima karena tangannya terasa kebas. Rupanya walaupun terlihat lemah, kakaknya ini cukup kuat juga cengkeraman tangannya.


"Lo ngapain teriak-teriak gitu. Kalau Radit dengar kan malu!" seru Queen setengah berbisik.


"Idih, emang kenapa harus malu kalau Radit tahu? Lo pikir dengan dia lo intipin dia bakalan baper gitu? Enggaklah!" Kai menatap kakaknya sinis.


"Lagian emang kenapa lo harus malu sih, Queen?" Pertanyaan tiba-tiba Kai membuat Queen gelagapan.


"Lo gak naksir Radit, kan?" tebaknya lagi, kali ini dengan mata menatap Queen penuh selidik.


"Enggaklah!!" Queen mengalihkan pandangannya ke arah lain berusaha keras agar Kai tidak curiga padanya dan berhenti bertanya.


"Ya, semoga aja, ya Queen." Kai terlihat tidak percaya pada kakaknya itu.


"Apaan sih lo!Dari mana coba lo ada pikiran gue naksir Radit?" Queen meruntuk dalam hati, jelas-jelas itu memang yang terjadi.


"Ya, gelagat lo tiap ada Radit jadi aneh. Lo kayak nyoba narik perhatian dia. Ditambah sampai mo lulus gini lo belum pernah pacaran. Lo gak 'belok' kan?"


"Enggak, Kambing!" Queen mendorong pelan kepala Kai. " Gue normal, gue- punya pacar, kok! Cuma gue belum mau publish aja!" Lagi-lagi Queen meruntuk dirinya sendiri, pacar darimana? Jelas-jelas selama ini hatinya hanya untuk Radit.


Kai menatap Queen tak percaya."Bokis kan lo? Mana ada cowok yang mau sama cewek lemot kayak Lo?!" ledek Kai dengan senyum sarkasnya.


"Maksud lo apa ngomong begitu? Asal lo tahu, gue cukup populer di sekolah. Gue cewek paling cantik di angkatan gue." Queen mengibaskan rambut panjangnya tepat di depan muka Kai dengan sombong membuat pemuda itu mengumpat pelan.


"No picture hoax. Gue gak percaya lo punya pacar. Kalau punya lo pasti dong ada fotonya. Mana coba foto cowok lo?" Tangan Kai mengulur ke arah Queen.


"Gue kan udah bilang, gue belum bisa publish. Gue juga ngehormatin aturan Bunda yang nyuruh fokus sekolah dulu, makanya gue gak simpen foto cowok gue!"


"Alah, alasan! Bokis lo!" Kai mengibaskan tangannya tak percaya.


"Terserah!" seru Queen sambil lalu.


"Inget, Queen. Radit sepupu kita. Jangan sampe lo naksir."


Kata-kata Kai menghentikan langkah Queen mau tak mau perkataan Kai itu cukup menganggunya.


"Tunjukin kalau lo gak naksir sama Radit, bawa pacar lo ke sini," bisik Kai yang tahu-tahu sudah ada di samping Queen.


"Gue tunggu!" Kai berlalu begitu saja meninggalkan Queen yang berdiri menatapnya bingung.


"Pacar dari mana?" desah Queen putus asa.


**


Queen menahan napas saat Radit merapatkan lengannya untuk melindungi Queen saat seorang pejalan kaki hampir menabraknya. Parfum maskulin yang dipakai Radit menggelitik hidung membuatnya salah tingkah.


"Nih," Radit menyodorkan sekaleng minuman ringan.


"Thanks!" Queen menyambar kaleng minuman yang sudah dibuka dari tangan Radit lalu buru-buru meneguknya.


"Gak keberatan kan nemenin sebentar nyariin kado buat Vonny?" tanya Radit.


Queen menggeleng pelan walaupun dalam hati rasanya ingin sekali mencabik-cabik pemilik hati cowok di sampingnya ini. "Engga apa-apa." Senyum palsu tersungging di bibir Queen.


Awalnya, dia mengira Radit datang ke rumah benar-benar untuk bertemu daddy-nya tapi ternyata tujuannya meminta tolong pada Queen untuk menemaninya mencari kado buat Sang Pujaan Hati.


Yeah! Si Cewek Beruntung itu tiga hari lagi akan berulang tahun dan Radit binggung akan memberinya kado apa lalu meminta tolong Queen, si Cinta Sepihak ini untuk menemaninya membeli kado.


Punya hati gak sih, Radit ini?


"Kira-kira Vonny dikasih kado apa ya, Queen?" Radit menatap sekeliling mall yang ramai dengan pengunjung.


Jadi, Radit belum kepikiran sama sekali kado apa yang mau dia kasih ke Vonny? Haduh, kalau begini, bisa lama muter-muter di mall ini.


"Vonny sukanya apa?" tanya Queen.


"Apa ya? Alexandra Gunawan." Radit menyebutkan nama seorang selebgram lebih tepatnya seorang beauty content, yang sukanya bikin konten make up di YouTube.


Queen mencibir mendengar jawaban Radit. Tua amat idolanya. Seumuran emaknya lah. "Oh, ya udah sih kasih aja seperangkat skin care. Pasti dia seneng banget?" usul Queen asal.


"Oh, ya? Tapi aku gak tahu skin care apa yang dipakai Vonny."


Ya udah kasih asal aja. Kalau gak cocok paling mukanya jadi burik. Queen menutup mulutnya, astaga jahat sekali dia.


Tuhan, maafin Queen!


"Ya, udah kasih aja CD drakor."


"Kasih tas!'


"Dia udah punya banyak koleksi tas kayaknya."


"Kasih sepatu deh."


"Gue gak tahu ukuran sepatu dia."


Queen refleks menghentikan langkahnya, lalu menatap Radit tak percaya. " Kamu pacaran 3 tahun tapi gak tahu ukuran sepatu Vonny???"


Radit ikut berhenti lalu mengangguk tanpa dosa.


"Astaga? Keterlaluan banget. Jangan-jangan kamu juga gak tahu ukuran sepatu aku, Dit?!"


"37!" seru Radit tanpa berpikir panjang.


Queen tersentak kaget, Radit tahu nomor sepatunya? Sedangkan dia malah tidak tahu ukuran sepatu Vonny yang notabene adalah pacarnya? Apa jangan-jangan Radit...


"Itu karena kamu sepupu aku. Masa aku gak tahu."


Queen mencibir dalam hati. Yah, ternyata cuma karena sepupu saja.


"Ya, udah kasih ajalah aksesoris atau perhiasan. Berlian kalau perlu!" seru Queen asal karena dia sedikit kesal dengan kenyataan kalau Radit mengingat ukuran sepatunya hanya karena mereka sepupu.


"Benar, juga!" seru Radit membuat Queen makin kesal dibuatnya.


"Ayolah, kita cari toko aksesoris!" Radit menarik tangan Queen untuk mencari toko yang menjual aksesoris.


Queen menatap Radit tak percaya saat mereka masuk ke dalam sebuah toko aksesoris. Radit beneran mau beliin Vonny perhiasan?


Kenapa dia tak terima ya rasanya? Harusnya dia yang dibeliin bukan cewek yang bahkan ukuran sepatunya saja Radit tidak tahu itu!


Hello, lo siapa Queen? Sadar diri!


"Cariin Queen, yang menurut kamu bagus dan cocok dipakai Vonny," pinta Radit lalu menunjuk ke kaca etalase yang di dalamnya terdapat banyak sekali perhiasan.


Queen menatap kesal ke arah Radit, orang ini punya hati gak sih? lalu dengan asal menunjuk sebuah cincin dengan model yang biasa saja dan lebih menyerupai batu akik.


"Mbak, saya lihat cincin itu!" pinta Radit menunjuk cincin yang dimaksud Queen.


Queen mendengus lalu mengalihkan pandangannya ke arah perhiasan yang lain, pandangan mata Queen tertuju pada sebuah gelang berliontin bunga sakura. Gelang yang terlihat sederhana namun nampak elegan dan eye catching.


"Bagus banget, coba ada cowok yang ngasih itu ke aku," gumam Queen lirih. Dia tidak akan menyarankan itu dibeli Radit untuk Vonny. Terlalu bagus untuk cewek itu.


"Mbak, coba gelang yang itu!" Tiba-tiba Radit menunjuk sebuah gelang berliontin bunga sakura yang sejak tadi Queen perhatikan.


Queen menoleh ke arah Radit apa pria ini akan membeli untuknya ya? Bisa jadi tadi Radit dengar gumamannya. Terus punya inisiatif buat membelikan gelang itu padanya.


Wah, ternyata dia peka juga. Tanpa sadar Queen tersenyum tipis.


"Kelihatannya cocok dipakai Vonny," gumam Radit membuat senyum Queen menghilang seketika. Kenapa malah untuk Vonny?


Hei, itu aku yang lihat lebih dulu!


"Menurut kamu gimana Queen?Bagus gak?" Radit tanpa berdosa menunjukkan gelang yang terbuat dari perak itu ke arah Queen.


Queen mengangguk pelan.


"Cocok ya kayaknya buat Vonny?"


Lagi-lagi Queen mengangguk."Iya, cocok ban--get." Mau tak mau Queen memamerkan senyum palsunya pada Radit. Astaga, seperti ini kah yang namanya sakit tapi tak berdarah.


"Oke, Mbak, saya ambil yang ini ya!" Radit menyodorkan gelang itu pada pramuniaga untuk dibuat nota. Queen mendesah pasrah begitu gelang incarannya hilang dari pandangan.


"Apa lagi ya, Queen?" tanya Radit begitu mereka keluar dari toko.


"Lha emang itu gak cukup?" Queen menatap ke arah paper bag mini di tangan Radit yang di dalamnya terdapat gelang incarannya.


"Engga, masa kadonya cuma ini aja. Apa kasih bunga juga ya. Bunga yang lagi kekinian, yang dibuat dari lipatan uang kertas?" seru Radit bersemangat.


Queen mencibir dalam hati. Bunga yang dari duit? Kebagusan! Kasih aja deh bunga bangkai.


"Iya, keren itu!" Queen mengutuk dirinya sendiri. Kalau ada grup 'muka dua' maka Queen adalah ketua grupnya, karena saat ini apa yang dia ucapkan, jauh berbeda dengan isi hatinya.


"Ya, udah deh. Ntar aku nyoba pesen." Radit tersenyum lalu menyodorkan paper bag itu pada Queen yang menatapnya kaget.


Jadi, benar gelang ini Radit beli untuknya? Mendadak rasa percaya diri Queen kembali muncul.


"Nitip bentar. Aku mau ke toilet!"


Seketika rasa percaya dirinya menguap berganti rasa kesal. Harusnya Queen tidak perlu menunjukkan percaya dirinya yang berlebihan karena pada kenyataannya Radit akan menganggapnya sebagai sepupu, tidak akan pernah lebih dari itu.


Nasib!


****