In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
Karma instant



Ken ternyata tidak main-main dengan perkataanya, semalam dia sengaja menginap di rumah bundanya untuk mengantar Queen ke sekolah. Mumpung libur alasannya, padahal Queen tahu Ken sengaja agar Radit tidak menjemputnya.


“Baik-baik ya sekolahnya,” pesan Ken saat Queen meraih handle pintu mobil.


“Iya, Kak.”


“Nanti yang jemput, Kai. Kakak udah nyuruh dia.”


Sedikit cemberut Queen hanya bisa mengangguk.


Ken melambaikan tangannya sebelum menutup kaca jendela mobil dan melajukan mobilnya


dengan kecepatan sedang.


Queen menarik napas lesu lalu berjalan masuk melewati gerbang sekolah.


“Queen!”


Langkah Queen yang baru saja masuk ke lobi sekolah terhenti ketika dilihatnya Yuda berlari


kecil ke arahnya.


“Welcome back Honey!” Yuda merentangkan tangannya bersiap memeluk Queen, tapi dengan


gesit gadis itu memundurkan tubuhnya hingga pelukan Yuda meleset. Enak saja main


peluk dan jadi tontonan satu sekolah.


“Udah sehatan? Kenapa kamu gak bilang masuk rumah sakit, Sayang?”


Sengaja biar gak dijenguk .


“Iya, maaf. Soalnya aku udah gak mikirin ngabarin temen-temen.” Tetap saja Queen tidak tega jika harus berkata sinis pada Yuda.


“Iya, gak papa yang penting kamu udah sehatan dan bisa sekolah lagi.” Yuda tersenyum lebar. Sebenarnya Yuda ini pemuda yang baik. Semenjak pacaran dengannya, Queen belum menemukan sikap Yuda yang kurang ajar terhadapnya. Rupanya dia tidak seperti gosip yang beredar selama ini tentangnya. Sejauh ini Yuda masih sabar menghadapi sikap apatisnya.


“Yuk, aku antar ke kelas.” Yuda mengulurkan tangannya dengan senyum lembut.


Queen menatap ragu ke arah uluran tangan itu tepat saat dua pasang anak manusia berjalan menghampiri mereka.


Queen lalu meraih uluran tangan Yuda.


“Ciee, pagi-pagi udah gandengan aja!” Vonny tersenyum mengoda Yuda dan Queen.


“Yalah, the next couple goals nih, ngalahin lo berdua!” sahut Yuda mengayun-ayunkan


gandengan tangan mereka.”Ya, kan Queen?” liriknya pada Queen yang hanya tersenyum tipis itu.


Queen tak berani menatap pemuda di samping Vonny yang sejak tadi menatapnya. Sesuai


dengan janjinya pada Ken dia akan berusaha membatasi diri dengan Radit.


“Gak bakalan bisalah lo ngalahin kami berdua, kami adalah couple goals yang sesugguhnya. Iya, kan Sayang?” Vonny mengelendot manja pada lengan Radit dan itu tak lepas dari lirikan Queen. Gadis itu mengepalkan tangannya yang bebas, menahan rasa tak sukanya melihat perlakuan Vonny pada Radit.


“Hiss.. Pede gila!” decih Yuda. ‘”Oh ya, Dit anak-anak pada nanyain tuh, apa lo mau absen lagi main basket karena cidera lo?” Yuda mengalihkan topik pembicaraan.


Queen menatap Radit yang sejak tadi menatapnya.


”Cidera?”


“Iya, Queen. Bersamaan sama kamu masuk rumah sakit. Si Bocah ini kakinya terkilir jatuh dari kamar mandi,”sahut Yuda.


Queen mengigit bibir bagian bawahnya. Terkilir jatuh dari kamar mandi? Bukannya Radit  terkilir karena gendong dia?


“Dan tim basket kita jadi gak menang deh!” Vonny menambahi membuat Queen merasa bersalah.


“Gak menang bukan karena aku cidera. Emang lagi gak hoki aja tim kita.” Radit yang sejak tadi hanya diam akhirnya bersuara. Matanya masih menatap ke arah Queen yang memilih menunduk. Rasa sakit menghunjam jantungnya secara perlahan. Sesulit


ini kah?


**


"Apalagi?"Queen sedikit kerepotan saat harus mengambil beberapa makanan ringan di rak mini market dengan ponsel berada di antara telinga dan pundaknya.


"What? Lo itu turunan Hulk atau apa sih Kai. kita cuma nginep semalam di rumah Kak Ken. Banyak bener titipan lo!" omel Queen pada seseorang yang menelponnya.


"...."


"Iya, iya. Ini udah semua!" Queen melirik ke arah keranjang belanjaannya, memastikan apakah semua titipan logistik adiknya itu sudah diambil semua.


Queen dan Kai berencana menginap di rumah kakak mereka. Ken yang sudah berjanji pada kedua adiknya akan mentraktir mereka belanja asal kedua adiknya itu mau menginap di rumahnya. Tentu saja kesempatan itu tidak Queen dan Kai sia-siakan.


Jadilah, sepulang sekolah mereka langsung meluncur ke rumah Ken setelah meminta izin pad kedua orangtuanya yang tentu saja disambut gembira Sang Daddy.


"Awas ya Dad! Kami gak mau punya adik lagi!" Itu ultimatum Queen dan Kai sebelum mereka berdua berboncengan di atas motor sebelum berangkat. Bunda dan daddynya hanya tersenyum geli.


"Iya, sabar ini lagi mau ke kasir kalau gak percaya lo nyusul ajalah ke sini!" seru Queen lalu mematikan ponselnya begitu saja.


Dia mendesah kesal saat melihat antrian panjang di depan kasir Betamart. Minimarket dekat rumah kakaknya. Bisa dijamin si Kai akan mengomel karena terlalu lama menunggu di parkiran. Biarkan sajalah, ditinggal pun Queen masih bisa berangkat sendiri.


Sedang asik memperhatikan , tatapan Queen tak sengaja menangkap sosok yang terlihat familiar walaupun hanya terlihat punggungnya saja. Queen seperti tidak asing dengan sosok yang sedang asik menggoda seorang wanita yang sedang ikut mengantri di depan sosok itu. Queen mendengus, sudah Queen duga pria bertato itu memang playboy cap kodok di mana-mana tebar pesona.


Cih!


Queen tiba-tiba punya ide cemerlang. Dia memilih keluar dari antrian dan mendekati meja kasir di sampingnya mengantri untuk mendekati sosok yang sedang merayu seorang perempuan cantik dan seksi yang juga sama-sama sedang mengantri.


"Lho, Sayang! Kamu belanja di sini juga?" Queen berseru sok akrab lalu tiba-tiba dia memeluk lengan sosok itu mengabaikan tatapan orang-orang yang sedang mengantri.


Sosok itu terlihat kaget bahkan dia berusaha melepaskan tangan Queen yang sedang mengelendot manja di lengan bisepnya.


"Ih, aku telepon kamu lho kok gak diangkat sih?!" Sumpah, ini pertama kalinya Queen bersikap genit seperti ini. Bukan apa-apa dia mau mengerjai teman kakaknya ini saja.


"Kamu siapanya Gara?" Wanita berpakaian seksi itu menatap Gara penuh tanya.


"Dia ad~"


"Aku pacarnya Kak Gara!" sela Queen sebelum Gara menjawab lebih dulu. Wanita cantik itu nampak kaget dia menatap Gara marah.


"Apa?! Tapi barusan kamu bilang jomlo?" seru wanita itu membuat Gara kebingungan. Dia berusaha melepas tangan Queen tapi gagal. Ingin rasanya berteriak tapi malu dengan tatapan mata para pengunjung mini market.


"Jadi kamu gak ngakuin aku sebagai pacar kamu, Kak? Astaga jahat banget kamu sama aku! Padahal semalam kita~" Queen tak melanjutkan kalimatnya dia bahkan pura-pura menangis demi meyakinkan para penikmat drama dadakan itu.


Para pengunjung mulai gaduh mereka bahkan menyoraki Gara yang berdiri kebingungan itu.


"Dasar buaya darat!" maki wanita cantik itu lalu dengan kesal keluar dari antrian dan memilih pergi sesudah meletakkan keranjang belanjaannya di depan kasir begitu saja. Gara melongo lalu menatap Queen marah setelah dengan kasar melepas tangan gadis yang tertawa cekikikan itu lalu menarik Queen menjauh dari antrian agar tidak terjadi kesalahpahaman.


"Heh, Kunyuk apa-apaan sih lo,Hah! Bikin malu!" seru Gara menatap kesal Queen yang mengusap kedua matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.


"Makanya jadi cowok jangan celamitan, gak bisa liat cewek cakep!"


"Bukan urusan lo ya, bocah!"


"Gue cuma mau menyelamatkan wanita di dunia ini dari sifat playboy lo!"


"Jangan sok tahu lo! Lo gak tahu apa-apa soal gue. jangan lancang lo ya?!" Gara terlihat marah sekali dia tidak peduli yang ada dihadapannya sekarang adalah adik sahabatnya.


Queen siap membuka mulut membalas kata-kata Gara tapi urung begitu dia melihat seorang ibu-ibu mendekati Gara.


"Lho, dokter Gara ya?" sapanya ramah cenderung genit. Gara langsung memasang wajah bersahabat berbeda dengan beberapa detik lalu saat pria itu membentaknya.


"Oh, eh... dengan ibu siapa ya?" Gara sedikit bingung.


"Saya Indira. Yang dokter genggam tangannya waktu saya operasi caesar." Indira mengedipkan sebelah matanya lalu meraih telapak tangan Gara bermaksud menyalaminya.


"Duh, Mas dokter. Terimakasih ya Mas. Gara-gara Mas dokter saya melahirkan dengan aman dan nyaman. Duh, jadi pengen hamil lagi deh!"


Gara menggaruk dahinya bingung, Sebagai dokter anestesi dia selalu mencoba menenangkan pasien yang panik dan tegang saat operasi berlangsung, biasanya dia melakukan itu saat operasi caesar. Bukan maksud apa-apa, hanya untuk mencegah terjadinya komplikasi. Itupun dia lakukan atas persetujuan pasien dan keluarganya.


"Dokter, gimana ya cara berterimakasih? Gimana kalau kita makan malam bersama. mumpung suami saya masih di luar kota." wanita bernama Indira itu tersenyum menggoda membuat Gara kebingungan harus bagaimana.


"Lagian dokter masih jomlo, kan?" Indira masih tidak menyerah.


Queen yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara pasien dan dokter itu menahan tawa mati-matian bahkan dia sampai harus menutup mulutnya dengan punggung tangannya.


"Tapi maaf bu saya~"


"Ayolah dokter!" bujuk Indira membuat Gara panik dan Queen tak kuasa menahan tawanya.


Tapi tiba-tiba tawa Queen terhenti saat sebuah tangan kekar merangkul pinggangnya dan menarik mendekat ke arah pemilik tangan itu.


"Maaf, ibu. Hari ini saya sudah ada janji dengan pacar saya." Gara berkata dengan santainya. Queen melotot ke arah Gara yang cuek itu.


"Lho ini pacarnya, dokter Gara?" tanya Indira menunjuk terang-terangan ke arah Queen.


"Bukan, Bu. Saya~"


"Iya, Bu. Kami sudah lama pacaran!" sela Gara merekatkan pelukannya karena Queen yang mencoba melepaskan diri.


Enak saja mau kabur! batin Gara.


"Yah, saya kira adiknya. Soalnya wajahnya mirip sih!" seru Indira.


Queen menggeleng cepat. amit-amit dibilang mirip sama om tato ini!


"Namanya juga jodoh, Bu. Iya, kan Sayang?" Gara menoleh ke arah Queen dengan wajah tengilnya.


"Yah, udah punya pacar!" Indira terlihat kecewa. lalu bergegas pergi setelah berpamitan dengan wajah penuh kekecewaan.


"Jadi, Sayang. Malam ini ke rumahmu atau rumahku?" bisik Gara menaikturunkan alisnya sengaja menggoda Queen. Membalas perbuatan gadis itu beberapa menit lalu.


"Queen? Bang Gara? Kalian~~" Kai yang sudah ada di depan mereka terlihat kaget.


Ah, sial!


Karma begitu instan


****