
Queen mengusap peluh yang membanjiri keningnya sambil dalam hati dia menghitung sudah berapa kali dia keluar masuk toilet karena sakit perut akibat ramen level 10-nya.
15 kali, yah Queen tidak salah hitung. Ah, pasti Tuhan sedang menghukumnya karena terlalu pongah menantang dengan memakan ramen pedas. Akibatnya, perut terasa melilit selain itu badannya juga lemas karena terlalu sering bolak-balik ke kamar mandi.
“Queen,Sayang, kamu lagi ngapain? Pulang sekolah kok gak makan? Gak keluar kamar pula? Kamu sakit?” Suara bundanya diiringi ketukan pintu membuat Queen panik. Jangan sampai bundanya tahu kalau dia sedang menderita sakit perut gara-gara makan makanan pedas. Bisa ngamuk-ngamuk bundanya itu dan berakhir dengan pemotongan uang jajannya.
“Queen gak apa-apa, masih kenyang Bun!” balas Queen asal, yang penting bunda tidak penasaran kenapa dia tidak keluar-keluar kamar sejak pulang sekolah.
“Tapi kok gak keluar kamar sih? Tuh, ada Radit di bawah, dia bawa empek-empek kesukaan kamu tuh bikinan Tante Rara. Turun yuk!”
Queen memegang perutnya yang mulai melilit lagi. Gawat, di bawah ada Radit pula, jangan sampai Radit cerita kalau tadi dia makan makanan pedas. Apa lebih baik Queen keluar dari kamar dan pura-pura baik-baik saja agar bundanya tidak curiga?
“Queen, turun yuk!” seru bunda Kana lagi. Queen menarik napas lalu sambil menahan mulas dia berdiri dan membuka pintu. Bunda Kana terlonjak kaget saat pintunya terbuka.
“Queen, kamu sakit? Kok wajahmu pucat?” tanya bunda Kana panik. Queen menggeleng pelan.
“Queen bangun tidur Bun, kecapekan tadi les di sekolah.” Maafin, Queen Bunda, udah bohong!
“Oh, ya udah yuk. Turun dulu, ada Radit sama Kai lagi makan empek-empek.” Bunda Kana tersenyum lalu mengusap kepala Queen lembut.
Queen mengangguk lalu mengikuti langkah bundanya sambil menahan mulas dan badan
lemasnya.
Sesampainya di ruang makan dilihatnya Radit dan Kai sedang bersenda gurau sambil asik memakan makanan. Di sebelah Kai ada piring berisi empek-empek yang masih utuh, Queen tebak itu bagiannya.
“Wuih, si Mpok keluar kandang juga, udah selesai ngeram telornya?” ledek Kai begitu Queen duduk di sebelah pemuda itu. Queen tak membalas ledekan Sang Adik. Dia memilih diam dan duduk dengan tenang.
“Nih, Dit lihat Mpok gue, kayak mayat hidup doi kalau gak dandan. Makanya sampai sekarang dia jomlo akut.” Kai tertawa dengan senangnya karena mengira Sang Kakak tidak akan pernah membalas ledekannya karena ada orang lain di antara mereka.
Queen hanya melirik sekilas, rasa mulas dan lemas badannya yang membuatnya mengabaikan segala bentuk bullyan Kai. Tangan kanan Queen sibuk mengaduk kuah empek-empek yang hitam pekat dengan aroma cabai yang jika dalam keadaan normal akan mengugah selera makannya, tapi saat ini aroma cabai ini membuatnya ingin muntah.
“Queen dimakan dong, Sayang. Jangan diaduk-aduk begitu. Itu Bunda kasih tambahan cabai, untuk hari ini bunda tolerir kamu makan pedas.” Bunda Kana datang dengan nampan yang di atasnya ada 3 gelas jus jeruk Pontianak. Queen meringis dalam hati, wajahnya makin pucat. Apa jadinya jika dia makan pedas dan asam bebarengan saat
ini, di mana perutnya sudah melilit tak karuan.
Di sebrang meja, Radit menatap Queen dengan tatapan curiga dan penuh tanya.
Apa gadis di depannya ini sedang sakit? Kenapa wajahnya terlihat sangat pucat?
Queen dengan tangan sedikit gemetar menyuapkan kuah empek-empek ke dalam mulutnya. Tangan
kiri Queen mencengkram kuat pahanya sendiri menahan rasa mulas yang semakin menyiksanya.
“Queen, kamu sakit?” Suara berat Radit membuat Queen mencoba mengalihkan rasa sakitnya, ditatapnya Radit yang menatapnya khawatir. Namun, perlahan pandangan Queen mulai berkabut.
“Bun..”lirih Queen sebelum pandangannya mengelap dan akhirnya jatuh pingsan, membuat bundanya berteriak panik.
**
Queen mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali agar pandangannya semakin jelas. Tatapannya beredar di sekeliling ruangan. Semua serba putih termasuk tirai dan sprei yang dia tiduri saat ini.
“Welcome home, Mpok!” suara cempreng yang sudah Queen hafal luar kepala itu mengalihkan
perhatian Queen. Dilihatnya Sang Adik tertawa meledek ada kedua orangtuanya
yang menatapnya cemas ada juga Radit dan Ken yang lebih terlihat tenang melihatnya.
“Bunda, Queen di mana?”tanya Queen dengan suara lirih karena masih lemas.
“Kamu di rumah sakit, Anak Bandel!” Bunda Kana mendekati Queen setengah mengomel.
Queen memejamkan matanya sejenak mencoba mengumpulkan segala ingatannya. Terakhir kali yang dia lakukan adalah bolak-balik ke kamar mandi kemudian dia makan empek-empek dan..dia sudah lupa apalagi yang terjadi. Tapi yang pasti Queen yakin saat ini bundanya sudah tahu kalau dia sakit karena pedas.
“Sudah ingat?” Daddy Joddy tersenyum geli melihat putri kesayangannya seperti orang ling lung.
“Kamu ini, kenapa gak bilang sih kalau sakit perut diare sampai dehidrasi, pula! Astaga Queen! Kamu bikin bunda jantungan saja!” omel bunda Kana yang dihadiahi tepukan lembut di pundak oleh Sang Suami yang terlihat lebih tenang.
“Lagian sudah tahu gak boleh makan banyak makanan pedas malah makan. Radit bilang kamu makan mie level 10! Dasar anak ini bener-bener bikin emaknya panik!”Bunda Mengabaikan delikan mata Sang Suami.
“Benar Bun, omelin aja tuh anak!” Dari semua orang yang ada di ruangan ini, Queen rasa Kai adalah satu-satunya orang yang paling bahagia melihatnya diceramahi bunda Kana, lihat saja anak itu sejak tadi cengengesan. Awas saja, kalau dirinya sudah sehat, akan Queen balas anak itu!
“Sudah, Bunda. Yang penting Queen udah dapat penanganan yang tepat.” Ken merangkul Sang Bunda menenangkan saat dilihatnya wanita cantik itu sudah akan mengomel lagi. Walaupun sebenarnya itu adalah bentuk rasa sayang wanita itu pada Sang Putri semata wayangnya.
“Iya, Ihh Bunda. Anaknya lagi sakit malah diomelin,” rajuk Queen merasa mendapat perlindungan dari Sang Kakak.
“Sakit dibikin sendiri yang panik semua orang. Tuh, Radit kakinya sampai terkilir gara-gara panik gedong kamu ke mobil.” Bunda Kana menunjuk Radit yang setengah kaget karena namanya merasa disebut. Queen menatap Radit dan saat pandangan mereka bertemu jantung Queen rasanya benar-benar mau copot. Membayangkan Radit yang
menggendongnya saja sudah membuat wajahnya merah.
“Bun, bisa gak sih. Perasor ini dibumihanguskan dari muka bumi saja!” seru Queen kesal, mendadak rasa lemasnya hilang gara-gara emosi mendapat bullyan dari sang adik.
“Dad, kayaknya Queen udah sembuh. Nih udah bisa ngomel,” celetuk Kai lagi. Joddy menahan tawa melihat perdebatan kecil keduanya anaknya ini.
“Kai jangan ganggu kakakmu dulu, oke?” Daddy Joddy mencoba menengahi. Walauoun sebenarnya perdebatan kedua anaknya ini selalu dia nikmati, tapi melihat wajah istrinya yang kelelahan dia memilih menengahi pertengkaran kecil itu.
“Iya, kamu Kai. Jangan bikin Queen emosi dulu ya. Kasian masih lemes dia.”Ken tersenyum lembut lalu mendekati ranjang Queen demi untuk membelai kepala Sang Adik. Ken dan daddynya memang malaikat tak bersayapnya Queen. Dia selalu saja membela Queen. Queen tersenyum penuh kemenangan ke arah Kai yang mencibir iri karena Queen dibela dua pria berpengaruh dikeluarga cemara mereka.
“Jangan merasa di atas angin lo. Lagian hari gini masih sakit diare gak elit banget!” cemooh Kai, Ken yang sejak tadi sebenarnya ingin tertawa melihat dua adiknya bertengkar itu langsung mendekati Kai lalu merangkul bahu Kai. Dia tahu sebenarnya Kai juga sayang pada Queen dia juga sadar Kai iri melihat kedekatannya dengan Queen.
“Gimana kalau sekarang kita temenin daddy sama bunda makan di café rumah sakit. Biar Radit yang temenin Queen dulu, ” usul Ken yang kebetulan sedang mengambil intershipnya di rumah sakit Queen dirawat saat ini.
Queen tersenyum, ide yang bagus. Kakaknya ini tahu saja kalau Queen ingin berdua saja dengan
Radit.
“Tapi kasian Radit, biar dia pulang saja udah malam soalnya, gak enak sama tante Rara.” Queen menatap bundanya kesal.
"“Gak papa Tante, tadi Radit udah kabarin Mama sama papa. Tante sama Om makan malam saja dulu, tadi Radit kan sudah makan. Nanti Radit pulang kalau kalian sudah selesai makan malam.”
Nah, gitu dong Dit! Queen diam-diam tersenyum senang mendengar kata-kata Radit.
“Ya, udah yuk, Bun. Kai udah lapar banget nih gara-gara nungguin orang pingsan karena DIARE.” Kai memang sengaja menekankan kata terakhirnya membuat Queen mendelik sebal ke arahnya.
“Ya udah, kita makan dulu,” putus Daddy Joddy lalu menatap ke arah Radit.
”Jagain Queen sebentar ya, Radit.”
Radit mengangguk patuh.
“Nanti panggil dokter buat suntik rabies aja Dit kalau dia rewel!” seru Kai lalu tangannya ditarik Ken keluar dari kamar sebelum membuat suasana gaduh lagi.
“Thanks ya Dit, udah nolongin,” ucap Queen begitu Radit menghamprinya dengan kaki sedikit tertatih lalu duduk di samping ranjangnya.
“Jadi, masih mau bilang gak akan mati karena kepedasan?”sindir Radit sarkas membuat Queen mencebik.
“Iya, sorry.”
Radit menghela napas.”Jangan bandel makanya, kalau dikasih tahu itu nurut.” Radit sedikit mengomel.
“Ya, habisnya Vonny ngeselin.”
“Jangan bawa-bawa dia.” Radit terlihat keberatan nama kekasihnya disebut.
Queen apalagi, dia lebih-lebih tak suka Radit malah membela Vonny.
“Kamu yang harusnya bisa me-warning kesehatan kamu sendiri. Tuh, tahu pernah masuk rumah sakit karena makanan pedas masih saja nekat pesan ramen level 10.”
“Dit, udah dong. Cukup Bunda aja yang ngomel kamu jangan.” Queen setengah merajuk, telinganya tadi sudah panas akibat omelan bundanya. Dia sudah tidak sanggup lagi jika harus mendengar ceramah Radit.
“Iya, iya udah dong!” Queen cemberut membuat Radit tersenyum tipis melihat sepupunya itu cemberut.
“Oh ya, gimana kaki kamu. Katanya terkilir?”
“Gak papa, sampai rumah dikompres juga sembuh.” Radit mengedikkan bahu seolah-olah kaki terkilir baginya bukanlah hal yang penting, padahal dia besok akan ada pertandingan basket dengan sekolah lain.
“Emang beneran yang dibilang, Kai?”celetuk Queen.
Radit mengernyit bingung,” Yang mana?”
“Kalau beratku kayak karung beras,” jawab Queen dengan raut wajah yang menggemaskan membuat Radit mau tak mau tertawa.
“Sedikit." Radit membuat tanda dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Queen mendelik lalu memukul pelan pundak Radit yang hanya terkekeh, melihat wajah kesal Queen.
“Bisa kan kamu gak bikin khawatir orang?” Suara Radit kali ini terdengar memohon.
“Makasih, udah khawatir. Kamu emang sepupu yang paling baik.” Queen tak mau terlalu berharap karena memang selama ini mereka hanya sepupu.
Radit terdiam sejenak seakan-akan ada ragu yang mengganggunya. “Kalau aku bilang rasa
khawatirku ini bukan sebagai sepupu bagaimana?”
Queen menatap Radit bingung.
Maksudnya?