
Queen tidak tahu sejak kapan tepatnya dia punya perasaan aneh pada Raditya Radipta anak lelaki semata wayang Om Dipta dan Tante Rara. Dipta adalah saudara sepupu Daddynya, yang berarti mereka masih punya hubungan saudara.
Dari kecil Raditya dan Queen memang dekat selaim karena umur mereka yang sebaya juga karena kedekatan orangtua keduanya .
Mereka selalu menghabiskan waktu bersama tiap akhir pekan. Dari SD sampai SMA mereka selalu satu sekolah. Raditya yang umurnya satu tahun lebih muda itu memang tergolong anak yang cerdas. Dia masuk SD bahkan di usia 5 tahun dan menjadi satu angkatan dengan Queen.
Jika Ken malaikat pelindungnya, maka Raditya adalah super heronya. Di sekolah tak ada yang berani menganggu Queen karena ada Raditya yang menjaganya. Bahkan teman laki-laki Queen harus berpikir dua kali jika harus mendekati gadis cantik itu. Itulah sebabnya sampai sekarang dia jomlo alias belum pernah merasakan yang namanya pacaran.
"Woi, ngeliatin apaan!"
Demi Alex, Queen ingin sekali mengumpat pada gadis cantik di sampingnya yang sudah membuyarkan lamunan indahnya tentang Radit.
Queen menghela napas lalu menatap ke arah bawah lebih tepatnya di lapangan basket tempat para siswa sedang berolahraga dan kebetulan siang ini kelas Radit.
"Lo ngeliatin apaan sih, Queen?" Dara sahabat baik Queen menatap ke arah pandangan sahabatnya itu.
"Ada anak kelas IPA yang lo taksir?" tanya Dara penasaran.
Ada, Raditya Radipta, sepupu gue sendiri! "Engga ada yang cakep!" Queen memperhatikan Radit yang asik mendribble bola.
"Masa? Selain sepupu lo banyak yang cakep kok kelas IPA. Tuh, si Yuda!" tunjuk Dara pada cowok yang sedang duduk di bawah pohon sambil meneguk minumannya.
Queen mengikuti arah telunjuk Dara. "Biasa aja!"
"Woila!! Yuda tuh termasuk populer lho, Queen. Lo tahu Kak Dewi gak? Angkatan tahun lalu yang udah lulus? Dia salah satu mantannya."
"Terus?"
"Berarti emang cakep tuh Yuda, mantannya aja cakep-cakep."
"Biasa aja!" sahut Queen cuek.
Dara berdecak kesal lalu menatap Queen kesal."Gue tau lo cakep Queen. Tapi kayaknya lo harus turunin standar lo tentang cowok deh! Biar para cowok gak insecure deketin lo. Masa, dari SMP sampai mau lulus SMA lo belum pernah pacaran sih?!"
"Gue gak boleh pacaran sama nyokap." Queen beralibi. "Cowok yang boleh dekat sama gue itu selain abang sama adek gue ya cuma Radit." Yang ini bukan cuma sekedar alibi. Bundanya memang sedikit posesif dibanding Daddy-nya. Mereka tidak melarang pacaran hanya saja bundanya selalu mewanti-wanti untuk fokus pada sekolahnya saja, bahkan Radit mendapat tugas khusus untuk selalu mengawasi Queen di sekolah dan melaporkan pada Kana apabila Sang Putri berbuat onar.
"Sayang banget ya, cowok yang lo kenal cuma Radit, padahal banyak banget cowok ganteng di dunia ini,"sindir Dara.
Queen tersenyum malas. Di mata Queen cowok paling cakep itu cuma Raditya Radipta, sepupu termanisnya. Dari jauh saja si Radit itu tetap kelihatan keren apalagi dari dekat.
Tingginya proposional, wajahnya diciptakan nyaris sempurna. Hidung mancung, rahang tegas, alis tebal pipi berlesung. "Hahh, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan," desah Queen tanpa sadar membuat Dara menoleh kepada sahabatnya itu.
"Apa tadi? Lo muji Yuda??"
"Ihh, bukan!!"
Dara tersenyum jahil. "Kayaknya lo emang naksir Yuda nih? Gue comblangin mau gak? Gue panggil ya dari sini?" Dara tersenyum antusias.
"Eh, gak mau! Apaan sih!" seru Queen panik melihat Dara yang tersenyum jahil itu.
"Yuda, Yuda! Dapat salam dari Queensha anak IPS 2!!!"
Terlambat, Queen tidak sempat mencegah saat Dara berteriak dari lantai atas ke arah lapangan basket. Sontak cowok yang dimaksud Dara mendongakkan kepala ke arah atas lalu tersenyum dan melambaikan tangannya..
"Salam gue simpan! Gak gue balikin!!" teriak Yuda yang langsung mendapat sorakan dari teman-temannya. Queen menutup wajah, malu, apalagi dia lihat Radit menatap ke arahnya dengan tatapan aneh.
Duh, pasti Bakalan diaduin nih!
"Ish, lo ini bikin malu aja, Ra!"seru Queen kesal lalu menyeretnya menjauh dari tempatnya semula meninggalkan sorak-sorai teman-teman Radit.
*
"Queen!"
Langkah kecil Queen terhenti saat melihat seorang siswa pria berlari kecil menghampirinya. Sedetik Queen tercenung melihat cowok itu, lalu segera berlari menjauh saat sadar siapa sosok yang tengah menghampirinya.
"Yah, si Yuda pakai acara nyamper lagi!" gerutu Queen berlari menghindar tapi anehnya Yuda dengan mudah bisa menyusul Queen lalu menghadangnya.
"Hai, Queen! Buru-buru amat?" Cowok berambut ikal itu tersenyum.
"Iya, mau pulang." Queen tersenyum kikuk teringat dengan kejadian tadi siang.
"Gue anter yuk? Kita kayaknya se arah deh!"
Queen mengumpat dalam hati, semua gara-gara Dara. Pasti sekarang Yuda mengira dirinya benar-benar ada rasa pada Cowok ini.
"Oh, enggak usah. Gue mau mampir ke.. toko buku, iya toko buku." Berbohong bukanlah keahlian Queen. Bundanya selalu mengajarinya untuk berbuat dan berkata jujur sekalipun akan membuat diri hancur. Tapi sepertinya, hari ini si Gadis manis keturunan Joddy Pradana ini sudah belajar untuk berbohong.
"Ya udah, kebetulan hari ini gue juga mau nyari buku persiapan UN nanti, kita bisa sama-sama
mampir ke toko buku."
Queen menjadi panik. Pergi dengan pria lain selain keluarga dan Radit belum pernah Queen lakukan sebelumnya. Apalagi bunda sama daddy-nya tidak tahu.
"Duh, gimana ya? Takut ngerepotin. Soalnya kalau aku di toko buku bisa sampai berjam-jam." Queen berdoa dalam hati semoga saja Yuda percaya dan berhenti mengajaknya pulang bersama.
"Gak papa, aku juga hobi baca kalau di toko buku, malah tokonya mo tutup baru pulang."
"Ayo, Queen! Sambil ngobrol, biar kita makin dekat," bujuk Yuda lagi membuat Queen bingung harus menolak dengan cara apalagi.
" Queen, kok masih di sini?" Sebuah suara menyelamatkan Queen dari rasa bingungnya. Queen tersenyum lega begitu melihat Radit menghampirinya bersama Vonny yang mengelendot manja di lengan Radit. Membuat Queen panas dingin melihat kemesraan keduanya.
"Iya." Queen tersenyum terpaksa matanya melirik Vonny yang tersenyum manis, dan sialnya cewek populer itu terlihat lebih cantik berkali lipat saat tersenyum.
"Bro, gue sama Queen mau ke toko buku dulu nih." Yuda mengedipkan sebelah matanya pada Queen.
"Kamu udah izin Tante?" Radit menoleh ke arah Kana yang gelagapan itu lalu menggeleng pelan.
"Pulang!" Radit berkata dengan senyum tapi ada nada perintah di dalamnya. Bukannya keberatan tapi Queen malah merasa senang.
"Lha, gue sama Queen mau jalan dulu, Dit." Yuda memprotes Radit.
"Tapi dia belum izin orangtuanya."
"Alah, paling cuma bentaran!" Yuda menaik turunkan alisnya.
"Sorry, dia harus pulang."
"Ayolah, gue tahu lo sepupunya Queen. Bantuin dia izin ortunya atau bilang dia lagi ada tugas tambahan gitu."
Radit tersenyum lalu menggeleng pelan, membuat Yuda kesal.
"Beib, udahlah! Biarin aja mereka jalan berdua siapa tahu jodoh." Vonny yang sejak tadi diam akhirnya bersuara juga Yuda mengacungkan jempolnya ke arah Vonny sedangkan Queen menatap Vonny kesal, ikut campur aja!
"Gak bisa gitu, aku udah diamanahin orangtuanya buat jagain dia."
Queen nyaris bersorak saat mendengar kata-kata Radit itu. Ini baru laki! Konsekuen dan amanah.
"Iya, sorry ya Yuda, lain kali aja kita pulang bareng. Soalnya gue belum izin orang tua." Akhirnya terbebas juga dari ajakan bad boy ini. Yuda terlihat kecewa tapi akhirnya menyetujui juga.
"Boleh nebeng? Si Kai katanya latihan futsal di sekolahnya." Queen menatap penuh harap pada Radit mengabaikan tatapan tak suka Vonny padanya.
"Tapi kita berdua ada keperluan sebentar, Queen. Ntar kelamaan lho, dicariin bunda kamu," sahut Vonny, jelas sekali dia tak suka dengan permintaan Queen.
"Ikut aja, aku anterin sampai rumah," seru Radit
"Tapi Beib-"
"Biarkan Queen ikut pulang. Lagipula keperluan penting kita kan cuma makan," potong Radit tersenyum pada sang kekasih yang akhirnya leleh juga saat melihat senyum Radit itu.
Melihat itu Queen benar-benar tidak suka. Harusnya yang ada di posisi Vonny sekarang adalah dirinya dan bukan cewek yang sayangnya terlihat good di attitude dan looking-nya itu. Tapi tunggu, emang Queen bisa di posisi Vonny sekarang? Mengingat hubungan keluarga antara keduanya, rasanya tidak mungkin. Apes, apes bertahun-tahun suka sama orang yang sampai kapanpun tidak mungkin bisa dia miliki.
"Ya, udah deh. Besok aja gue anter pulang lo. Oke, Queen?" Yuda membentuk tanda tembak dengan jempol dan telunjuknya ke arah Queen yang hanya tersenyum tipis itu.
*
"Beib, cobain steak aku deh. Ini tuh steak paling enak di cafe ini."
Queen mendengus dengan tatapan kesal ke arah Vonny yang sejak tadi terlihat mesra dengan Radit yang terkesan lebih pasif dibandingkan pacarnya itu. Ini sudah suapan Ketiga Vonny untuk cowok itu dan Queen harus mati-matian menyembunyikan rasa tidak sukanya pada Vonny lebih tepatnya tidak suka dengan kemesraan mereka berdua.
"Queen, emang serius lo naksir Yuda?" Pertanyaan Vonny yang tiba-tiba itu membuat Queen menghentikan kunyahannya lalu menatap Vonny dan Radit yang menunggu jawabannya.
"Enggak, itu gara-gara si Dara iseng ngirim salam gak jelas."
"Padahal kalaupun serius naksir gue setuju aja sih, kalian cocok kok, ya kan Sayang?" Vonny meminta persetujuan Radit yang tersenyum tipis itu.
"Kamu setuju kan kalau sepupu kamu pacaran sama Yuda? Diakan sahabat kamu juga, jadi nanti kita bisa sering double date, ya, kan?" imbuh Vonny.
Dih, dia siapa berani ngatur-ngatur perasaan orang? Ayo, dong Radit bilang 'enggak'!
"Hem, ya." Radit menjawab dengan senyum terukir manis di bibirnya. Padahal Queen berharap Radit memberi jawaban menolak tapi nyatanya...
Astaga, Queensha! Lo berharap Radit akan menolak terus minta lo jadi pasangannya? Jangan ngimpi! Sampai kapanpun lo tetap akan jadi saudaranya Radit.
"Jadi gimana Queen? Mau kan pendekatan sama Yuda? Nanti aku comblangin deh." Vonny masih mencoba membujuk Queen.
"Hem, enggak boleh pacaran sama Bunda." Bodo amat dia dikatakan anak mami kenyataannya Queen memang sedang tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan siapapun, kecuali sama Radit.
"Yah, kamu pikir-pikir dulu aja, Queen." Vonny tidak menyerah mencoba mempengaruhi Queen tapi gadis itu hanya tersenyum malas.
"Sudah, jangan ngomongin Queen terus. Makannya dihabisin dulu," tegur Radit tangannya terulur mengusap sudut bibir Vonny yang sebenarnya tidak ada makanan yang menempel di sana. Gadis dengan contac lens warna hijau itu tersipu malu dengan pipi merah yang bersemu.
Queen menghela napas lalu meminum ice coffe-nya. menatap Radit dan Vonny yang benar-benar terlihat pasangan sempurna, couple goals. Melihat perlakuan romantis Radit pada Vonny membuat Queen makin kesal saja tanpa sadar tangan Queen mengepal di bawah meja.
Adakah yang lebih menyiksa ketika melihat orang yang kamu cintai sedang bermesraan di depan matamu?
*****
***Haiiii salam kenal aku Queensha anak dari Bunda Kana dan Daddy Joddy. Jangan lupa selalu baca story tentang aku ya! Awalnya, emang belum kerasa feel-nya tapi selanjutnya semoga kalian sukaaaaa! I love you all!***