
.Kalau aku bilang rasa khawatirku ini bukan sebagai sepupu bagaimana?
Pertanyaan Radit saat di rumah sakit kemarin masih berputar-putar di kepalanya, padahal sudah lewat 3 hari tapi masih saja menganggunya. Queen takut salah mengartikannya. Dia berharapnya sih Radit juga punya perasaan yang sama terhadapnya tapi sepertinya tidak mungkin. Hah, hampir saja waktu itu Radit akan menjawab apa maksud dari pertanyaannya tapi keburu si Kai Kampret muncul.
Sial!
“Dek,” panggilan lembut nan syahdu itu membuyarkan lamunan Queen. Dilihatnya Ken berdiri, masih lengkap dengan jas putih kebesaran tersampir. .
“Bunda mana?” Ken mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Bunda lagi bayar administrasi cek up aku, Kak,” jawab Queen tersenyum.
Ken manggut-manggut lalu duduk di samping adik kesayangannya itu, beberapa perawat wanita yang melintas melirik mereka sambil berbisik-bisik. Queen mendecih namun mengabaikan mereka.
“Kakak gak tugas?”
Kentersenyum.”30 menit lagi mau visit pasien sama anak junior.”
“Oh.”
“Queen boleh gak kakak ngobrol serius sama kamu?”
“Ngobrol apa, Kak? Serius banget kayaknya.” Queen mengubah posisinya menghadap Ken.
“Radit.”
Deg..
Hanya
mendengar namanya disebut saja jantung Queen sudah gak karuan. Tapi kenapa tiba-tiba
kakaknya ingin membicarakan tentang pemuda itu?
“Ke~kenapa
sama dia?”
Ken tersenyum.”Bukan kenapa dia, tapi kamu?”
Kening Queen mengerut bingung.”Aku kenapa Kak?”
“Mungkin memang tidak mudah, Dek. Tapi bisa tidak mulai sekarang kamu membatasi diri dengan dia?”
Queen terdiam sejenak.
“Kakak rasa perasaan kamu ke dia makin dalam, dan Kakak khawatir akan hal itu.”
Queen menunduk, tangannya mengepal kuat.
“Dek, ini demi kebaikan kamu, kebaikan kalian dan kebaikan kelurga kita.”
Queen menatap Ken. Bukannya kemarin saja dia membiarkan berduaan dengan Radit? Tapi sekarang
kenapa malah Ken menyuruhnya menjauhi Radit?
“Kamuharus mencoba, Dek. Mencoba memberi jarak antara kamu dan Radit tanpa membuatnya merasa dijauhi.”
“Tapi Kak, aku~”
“Bisa, Dek. Pasti bisa.” Ken menyela kata-kata Queen tak memberi kesempatan pada gadis
itu untuk membantah.
“Kamu tahukan daddy dan Om Dipta saudara? Jadi, otomatis kalian berdua juga saudara. Sebelum
Radit sadar akan perasaan kamu ke dia, mulai sekarang jauhi dia ya? Demi kebaikan keluarga kita.”
Queen mengigit bawah bibirnya matanya berkaca-kaca. Bisakah dia membunuh perasaannya pada Radit? Seseorang yang selama ini menjadi alasan dirinya tidak berpacaran?
“Kamu juga mikirin gak reaksi Radit jika tahu perasaan kamu selama ini?”
Queen tak menjawab, dia tahu sekali kemungkinan terburuk jika Radit mengetahui perasaannya.
Bisa jadi Radit akan menjauhinya
“Jadi paham kan maksud, Kakak?” tanya Ken.
Queen mengangguk.
Queen terdiam sejenak, ragu.
“Kamu pikirkan baik-baik kata-kata Kakak, ya? Dan lakukan. Demi kebaikan kamu dan Radit juga.” Tangan Ken mengelus pucuk kepala Queen lembut. Lalu mengusap pipi Queen yang basah akibat menangis. Queen sendiri malah tidak sadar ternyata pipinya basah oleh air mata.
“Dan maaf mulai besok Kakak dan Kai yang akan antar jemput kamu ke sekolah. Aku juga sudah bilang sama Radit untuk tidak perlu repot-repot mengantar jemput kamu lagi.”
Queen terhenyak tak percaya akan secepat ini, bahkan ketika Radit belum tahu perasaannya.
“Wah, wah. Ini kalau orang yang gak tahu kalian saudara kandung bisa pada salah paham
ngira kalian pasangan.”
Ken dan Queen sama-sama tersentak kaget saat seorang pria berdiri di depan mereka.
Pria berkemeja hijau tosca yang lengannya sudah dia lipat sampai siku dan jas putih yang disampirkan di pundak.
Kalau Queen tidak salah pria itu adalah teman Ken, yang tempo hari Queen kira maling. Gara kalau tidak salah namanya.
“Nih, hasil lab adik lo. Ken. Kebetulan bagian lab nitip.” Gara yang menyodorkan sebuah amplop pada Queen.
“Oh, oke. Thanks, Bro.” Ken tersenyum lalu menerima amplop itu dan membukanya
membaca sekilas lalu tersenyum pada Queen.”Kamu udah sehat.”
Queen hanya diam tak menanggapi kata-kata kakaknya. Pikirannya masih galau akibat
permintaan kakaknya tadi.
“Tapi kayaknya hatinya sekarang yang sakit,” celetuk Gara membuat Queen melirik sewot
ke arahnya.
Hampir saja Queen mengumpatinya tapi urung saat melihat bunda Kana berjalan ke arah
mereka.
“Lho ada, Nak Gara juga,” sapa bunda Kana ramah.
Gara yang menyadari adanya bunda Kana itu gelagapan. Dia tidak menyangka akan bertemu idolanya di sini.
“Eh, siang Tante! Apa kabar?” sapanya ramah dengan wajah semringah lalu meraih tangan bunda Kana setelah memastikan tangannya bersih dengan cara mengusap-usapkan kedua telapak tangannya di sisi celana kain yang dia pakai.
“Baik. Udah lama gak mampir ke rumah Ken.”
“Iya, Tante jadwal lagi padat.”
Benar yang dibilang Ken sepertinya Gara ini fans garis keras bundanya. Lihat saja matanya berbinar saat menatap wanita cantik itu. Wah, kalau saja daddynya tahu bisa buta itu matanya dicolok pakai garpu.
“Bun, pulang yuk.” Queen beranjak dari duduknya sebelum memeluk Ken untuk berpamitan.
“Lho, Tante, gak makan siang dulu sama Ken mumpung ketemu,” Gara mencoba peruntungan, kali-kali bisa makan dengan bidadari.
“Gak, banyak buaya darat di sini.” Tentu saja itu Queen yang menyahut. Gara mendecih
dan Ken menahan tawanya melihat tingkah adiknya.
“Tante tadi kebetulan di rumah udah masak banyak. Lagian Queen harus banyak istirahat.”
“Noh, denger noh!” seru Queen galak.
Gara terlihat kecewa, dia benar-benar kagum dengan ibu sahabatnya ini. Cantik, lembut dan baik hati pula. Ckk…Sayang dia lahirnya terlambat.
“Ayo ah, Bunda!” rengek Queen.
“Iya, ayo.” Bunda mencubit hidung gadis fotokopiannya itu.”Mari, Gara. Tante pulang dulu,” pamitnya kemudian tersenyum manis pada Gara.
Ken terkekeh saat Gara terbengong-bengong.
“Mingkem, Bro! Gue anter nyokap dulu ke depan.” Ken menyusul kedua wanita kesayangannya
itu meninggalkan Gara yang berdiri termangu.
“Gila, manis bener senyum nyokap, lo Bro,” gumam Gara lirih.
***