In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
Om Tato



"Iya, Bunda. Queen gak akan bikin Kak Ken repot." Queen menuruni tangga dengan ponsel menempel di telinganya, berbicara dengan Maha Ratu yang sejak kemarin menelponnya karena khawatir anak perempuan satu-satunya yang sedang menginap di rumah Sang Kakak itu akan merepotkan atau membuat ulah sehingga kakaknya terganggu.


"......"


"Kak Ken masih tidur, Bun. Nanti aja kalau mau bicara sama dia." Queen berjalan menuju dapur. Perutnya terasa lapar setelah semalaman menangis karena galau bertengkar dengan Radit.


"........"


"Ini Queen mau sarapan." Queen membuka pintu kulkas di dapur Ken lalu berdecak sebal saat tahu apa isinya.


"......"


"Iya, Bunda. Nanti Queen pulang jam makan siang. love you too." Queen mematikan teleponnya lalu menatap lesu ke arah isi kulkas Ken yang nyaris kosong. Hanya berisi beberapa telur dan soft drink.


Sepertinya kabur ke rumah Ken adalah tindakan yang salah. Semua gara-gara Radit yang membuat mood Queen buruk sehingga memutuskan untuk kabur ke rumah kakaknya dengan tujuan menenangkan diri. Sayangnya, di rumah kakaknya tidak ada makanan ditambah Ken pulang larut malam jadi dia belum sempat curhat.


"Katanya calon dokter tapi isi kulkasnya cuma minuman kaleng," gerutu Queen lalu menutup pintu kulkas dengan sedikit membanting. Alangkah terkejutnya saat dia melihat bayangan di balik pintu kulkas yang baru saja dia tutup.


"Siapa lo!!!!!" Queen beringsut mundur dengan tangan refleks meraih panci penggorengan lalu mengarahkan ke arah depan. Jantungnya nyaris meloncat saat melihat sesosok pria berdiri di depannya dengan penampilan acak-acakan.


"Woii,tenang gue bukan orang jahat!" Pria itu mengangkat kedua tangannya seperti pencuri yang menyerah. Wajahnya masih terlihat setengah mengantuk.


Queen menatap si Pria acak-acakan dari atas sampai bawah dengan pandangan meneliti. Pria itu bertelanjang dada ada tato entah gambar apa di lengan sebelah kirinya. Kalau bukan orang jahat apa namanya.


"Siapa lo? Lo maling ya? Kak Ken ada maling!" teriak Queen dengan tetap waspada.


"Woi, gue bukan maling!" seru si Pria yang kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.


"Ada apa Queen teriak-teriak?" Ken tergopoh-gopoh turun dari tangga dengan handuk tergantung di lehernya.


"Kak telepon 199, ada maling masuk rumah!" seru Queen.


"Maling?" Ken mengerutkan keningnya lalu matanya mengarah pada pria yang berdiri di depan Queen dengan wajah bantalnya.


Ken tertawa geli saat tahu siapa yang dimaksud Queen.


"Dia bukan maling atau penjahat, Dek." Ken menghampiri Queen lalu mengambil alih teflon di tangan Sang Adik untuk diamankan.


"Kak, liat aja tuh, tampilannya acak-acakan mana tatoan lagi." Queen terang-terangan menunjuk pria di depannya.


"Dia Gara, temenku. Yang dulu sering main ke rumah. Masa kamu lupa?"


Queen mengamati pria di depannya mencoba menggali ingatan tentang siapa sebenarnya sosok ini. Tapi Queen tidak ingat sama sekali.


"Gak inget!"


"Gak ingetlah, orang lo masih bocil tiap gue main!" Pria bernama Gara itu akhirnya bersuara lagi.


Queen hanya mengangkat bahu acuh. "Sorry ya, temennya Kak Ken. Habisnya salah sendiri tiba-tiba nongol, aku kira maling."


"Tampang gue bukan maling. Gue dokter anestesi woiii!" Gara merasa tak terima.


Queen tersenyum tak percaya. Masa iya dokter tatoan?


"Udah mandi sono lo, Gar. Jangan bikin adek gue takut." Ken melempar handuk yang ada di lehernya ke arah Gara yang dengan sigap menangkapnya.


"Ckkk, adek lo aja yang alay!" gerutu pria itu sambil lalu meninggalkan dua bersaudara yang hanya saling pandang.


**


"Kamu punya pacar?" tanya Ken menatap Queen yang asik dengan makanan di mulutnya. Gadis dengan pipi mengembung karena makanan itu mengangguk.


Akhirnya, dia ada kesempatan juga untuk curhat pada kakaknya.


"Terus kenapa kamu malah galau?" Ken menyodorkan segelas air putih ketika Queen terlihat kesulitan menelan makanan.


"Aku gak suka sama itu cowok!" Queen cemberut.


"Kak Ken, tahu kan siapa yang aku suka?" imbuh Queen karena Ken adalah satu-satunya orang yang tahu jika dia menyukai Radit sejak dulu.


"Dan kamu juga tahu kan, itu tidak boleh?" balas Ken tersenyum.


Queen terdiam sejenak. Dia sadar diri jika dia dan Radit tidak mungkin bersama. Tapi dia juga tidak bisa menahan perasaan ini.


"Lagian gak suka tapi mau aja jadi pacarnya." Gara yang sedang sibuk dengan ponselnya itu tahu-tahu menyahut tanpa diminta.


Queen menatap sinis ke arah Gara. "Maaf, ya Om. Bukan urusan Om." .


Gara melotot ke arah Queen tak terima dirinya dipanggil 'om'. " Usia gue sama abang lo cuma beda dua tahun! Lo bisa panggil gue 'bang', 'kak'."


Queen lagi-lagi menatap sinis ke arah Gara. " Dua tahun lebih tua kan? Kalau sama aku berarti beda-" Queen menghitung dengan jarinya. "Tujuh tahun, itu rentang yang cukup jauh, jadi emang udah pantes dipanggil 'om', Om Tato!"


Gara mendelik tak terima sedangkan Ken yang sejak tadi menahan tawa memberi isyarat pada sahabatnya itu untuk tidak terlalu menanggapi adiknya.


Queen menatap kakaknya kembali, dengan muka cemberut. " Aku kebawa emosi, Kak!" seru Queen kembali kesal saat ingat kecupan Vonny di sudut bibir Radit.


"Aku emosi karena Radit mesra-mesraan di depan mata aku," bisik Queen dengan nada merajuk .


"Selain itu juga ini semua gara-gara Kai Kampret!" imbuhnya dengan nada berapi-api, membuat Gara menatap ke arahnya dengan pandangan tak percaya karena emosi Queen yang fluktuatif itu.


"Kok, Kai dibawa-bawa?" Ken hampir saja menyemburkan tawanya. Dia sungguh heran, kenapa kedua adiknya tak pernah akur. Queen terlihat masih tak terima karena punya adik Kai. Sampai-sampai terkadang menyangkut pautkan masalahnya pada Kai yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.


Queen melirik Gara yang terlihat acuh sibuk dengan note dan ponselnya, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Ken. "Karena Kai curiga aku naksir Radit, Bang. Makanya dia nantangin aku buat bawa pacar. " Queen memundurkan tubuhnya setelah yakin Gara tidak akan mendengar obrolannya dengan Ken.


"Makanya, terpaksa deh aku terima si Yuda. Padahal aku gak ada perasaan apa-apa! Sebel! Sebel!" Queen menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Ya, sudah jalani aja dulu siapa tahu cocok. Tapi ingat ya ,Dek. Gak boleh macem-macem. Gak boleh pegangan tangan, ciuman dan kontak fisik lainnya. Ngerti, kan maksudku?" kata Ken menatap Queen serius.


"Iya ngerti, nanti bisa hamil," balas Queen disertai semburan tawa Gara.


"Astaga, lo umur 18 tahun apa 4 tahun? Masih aja percaya pegangan tangan bisa hamil,"seru Gara tertawa.


"Ih, aku gak ogeb -ogeb banget, Om. Kalau hamil itu bisa terjadi jika ada penetras*." Queen berseru sok tahu membuat Gara melongo kemudian tertawa dan Ken menatap Queen heran.


"Queen tahu dari mana?" tanya Ken, kedua orangtuanya sudah mengedukasi mereka sejak baliq tentang reproduksi wanita dan laki-laki tapi belum sejauh itu.


Queen menatap kakaknya salah tingkah. "Dari internet," cengir Queen, tawa Gara makin kencang mendengar itu.


Ken menghela napas dengan kepala menggeleng pelan.


"Dia udah 18 tahun, kan Ken? Emang udah sewajarnya dia tahu." Gara beranjak dari duduknya lalu menghampiri meja mereka dan duduk di samping Ken.


"Aku kan emang udah dewasa." Queen tersenyum bangga.


"Tapi belum cukup dewasa untuk tahu kalau menyukai sepupu itu tidak boleh," balas Gara telak membuat Queen melotot ke arah Ken tajam dengan tatapan bertanya, 'kenapa dia bisa tahu?'


Ken hanya tersenyum.


"Gue sama Abang lo ini udah kayak saudara. Gue tahu semua rahasia dia begitu pula sebaliknya." Gara seperti menjawab arti tatapan Queen pada kakaknya.


"Oh ya?" Queen menaikkan satu alis tak percaya begitu saja dengan apa yang Gara katakan.


"Gue tahu semua tentang Ken dari hal yang paling kecil sekalipun. Ulangtahun bunda kalian aja gue tahu." Gara tiba-tiba tersenyum aneh. Membuat Queen menatapnya heran.


"Dia ngefans sama bunda kita, Dek." Ken menjelaskan.


Queen kaget, lalu tiba-tiba saja mengarahkan sendok garpu ke arah Gara yang langsung memundurkan tubuhnya.


"Jangan pernah ngefans sama bunda aku ya!"


"Lha cuma nge-fans. nyokap kalian itu selain cantiknya kelewatan juga baiknya gak ada obat!"


"Kalau daddy aku dengar, habis kamu Om dihajar daddy!" seru Queen gemas karena dia tahu pasti daddy-nya cinta mati pada bundanya bahkan kata Om Kanda, Sang Daddy harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa mendapatkan bundanya.


"Lha kok lo nge-gas?! Kakak lo biasa aja!" Gara mencondongkan tubuhnya ke arah Queen. "Lo cemburu ya?"imbuhnya dengan alis dinaik-turunkan.


Queen tertawa hambar. " Idih pede banget! Darimana bisa cemburu? Ketemu aja baru sekarang! Lagipula Om bukan tipe aku." Queen menyuapkan makanan kemulutnya lalu menatap Gara meremehkan.


" Aku gak suka cowok tatoan. Seperti kata pepatah i dont wanna scratch my lamborghini. Cowok tatoan itu kayak ngelukain badan dia sendiri. Aku sih ogah hubungan sama cowok tatoan. Badan dia sendiri aja dilukain apalagi aku?"imbuh Queen panjang lebar. Ken yang mendengar kata-kata adiknya itu hanya bisa tertawa, berbeda dengan Gara yang seperti tak terima mendapat seterotipe seperti itu.


"Tatto is not crime. Kalau perbandingan cowok tatoan yang baik itu 10:1000, gue ada di sepuluh orang itu."


"Halah, aku gak yakin tuh!"


"Awas, hati-hati entar jatuh cinta lo sama gue."


"Idih, amit-amit!" Queen bergidik ngeri sedangkan Ken menepuk pundak Gara untuk lagi-lagi mengabaikan kata-kata adiknya.


"Udah, sana lo berangkat ke rumah sakit. Ada pasien mau operasi kan lo?"


"Lha, si Om Tato beneran dokter?" celetuk Queen tak menyangka.


"Menurut lo? Lo mau gue bius sebagai bukti gue dokter asli?" tantang Gara membuat Queen mendelik lalu mendorong tubuhnya ke belakang bersikap waspada.


Gara tertawa melihat reaksi adik sahabatnya itu lalu dia bergegas bangun dari duduknya.


"Gue cabut deh, thanks buat tumpangannya!" seru Gara menepuk pundak Ken sebelum akhirnya mengambil tas ranselnya dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada Queen.


"Idih, gak sopan!"


"Dek."


****