In Another Story (Queen)

In Another Story (Queen)
ungu



"Wuidih, lo mau ke mana, Mpok? Cakep amat?" Pertanyaan tak penting dari Kai menyambut Queen yang dengan santainya turun dari tangga menuju ruang makan untuk sarapan.


"Nemenin Bunda ke rumah Om Dipta." Kana yang sibuk mengoleskan roti tawar untuk Joddy itu menyahut.


"Dih, ke rumah Radit aja lo dandan cakep gini, di sono gak ada cowok selain Om Dipta sama Opanya Radit. Lo mau godain Opanya Radit?"


"Apaan sih lo? Berisik!" sembur Queen lalu mengambil sekerat roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang.


"Eh, lo gak naksir Radit, kan?"


Queen tersedak saat mendengar pertanyaan konyol Kai , ditambah tatapan kedua orangtuanya yang ikut penasaran itu.


"Apaan sih lo? Ngaco!" Queen buru-buru meneguk minumannya menyembunyikan kegugupan.


"Habisnya, lo mo ke rumah Radit aja dandannya begini amat." Kai meneliti Kana dari atas sampai bawah.


"Biar gue analisis. Kalau naksir Om Dipta kayaknya gak mungkin kecuali lo mau botak karena dijambak Tante Rara. Naksir Opanya Radit sih sebenarnya gak papa kan doi duda. Tapi kayaknya gak mungkin lo suka kakek-kakek kecuali lo ngincer hartanya doang. Jadi yang paling mungkin kayaknya lo naksir Radit ya?!"


Queen gelagapan, astaga kenapa adiknya bisa menebak itu? Sialnya, tebakannya benar.


"Analisis lo gak berdasar, Cumi! Gue gak dandan, oke? Tampilan gue kan emang kayak gini? Gue emang terlahir cantik kayak, Bunda." Queen mengibaskan rambut panjangnya tempat di depan muka Kai membuat pria muda itu mengumpat pelan.


"Idih, cantikan Bunda ke mana-mana lah, tanya aja Daddy tuh!" seru Kai tak terima lalu menunjuk Joddy yang hanya tersenyum itu.


"Tanya kok sama Daddy ya jelas jawabannya, 'iya'. Daddy kan bucin sejati." Queen setengah tertawa saat mengatakannya. Sudah bukan rahasia lagi jika Daddy mereka sangat takluk pada istri. Queen mendengar kisah cinta kedua orangtuanya dari Om Kanda kakak kandung bunda mereka.


"Kids! berhenti berdebat, oke?" Joddy mengingatkan sebelum keduanya meledek kisah cinta masa mudanya dulu.


"Emang, ngapain Bun pagi-pagi ke rumah Om Dipta?" tanya Kai penasaran juga, karena ini hari Minggu. Biasanya di hari Minggu mereka akan menghabiskan waktu bersama di rumah.


"Bunda, ada janji sama Tante Rara mau bantu bikin hamper buat temen-temennya Om Dipta. Om Dipta kan baru naik jabatan, mau ngadain syukuran bagi-bagi hamper." Kana menyodorkan segelas susu untuk anak bungsunya yang langsung cemberut tak suka itu.


"Bun, Aku udah gede ngapain minum susu sih?"protes Kai sebal.


"Badan lo yang gede, kelakuan mah bayi!" sindir Queen lalu mencibir ke arah Kai.


"Kebalik, lo yang badannya gede tapi kelakuan bocah!" Kai melotot tak terima.


Queen bersiap membuka mulutnya tapi urung saat melihat delikan sang bunda.


"Habiskan sarapanmu terus kita berangkat!" Kana berkata dengan tegas.


"Bunda udah siapin buat makan siang aku sama Daddy kan?" Kai memastikan. Dia paling malas jika ibunya pergi dan dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya tanpa disediakan makanan. Jika harus makan masakan Joddy, makasih deh mending puasa saja! Percayalah, masakan daddy-nya sangat layak untuk tidak disentuh.


"Kamu sama Daddy, makannya di rumah Eyang Jihan. Hari ini Daddy mau ke rumah Eyang kamu temenin beliau ke rumah sakit general cek up, kamu ikut!"


"Halah, Kai di rumah ajalah, Bun."


"Ya, gak papa. Nanti sekalian bersih-bersih rumah." Joddy tersenyum penuh intimidasi membuat Kai berdecak kesal lalu memilih mengalah dan menuruti kedua orangtuanya.


**


Queen mengamati sekeliling ruang tamu kediaman Dipta yang terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda keberadaan Radit dan adik-adiknya. Radit punya dua adik kembar laki-laki usia SMP. Biasanya mereka suka ribut di rumah tapi tumben masih sepi, apa mereka semua sedang keluar main, ya?


"Anak-anak pada ke mana?" tanya Kana membantu Rara mengeluarkan kotak berisi bingkisan yang akan dijadikan hamper.


"Si Kembar lagi cari makanan sama Papanya. Kalau Radit masih tidur kayaknya. Biasalah, Mbak hari Minggu maunya cuma malas-malasan," sahut Rara.


"Sama dong, sama yang di samping." Kana melirik Queen dengan maksud menyindir.


"Bunda apaan dih, orang aku nggak malesan." Queen yang merasa tersindir itu menyangkal perkataan ibunya.


"Bunda, matiin pasaran aku aja,ih!" gerutu Queen tapi masih sempat di dengar oleh Kana dan Rara yang kemudian tertawa cekikikan.


"Kamu bangunin aja sana Queen, Raditnya. Biasanya kalau jam segini pintu kamarnya udah gak dikunci."


Mendengar apa yang dikatakan Rara, rasanya Queen ingin bersorak kegirangan tapi dia cukup waras untuk tidak melakukannya. Bisa gawat kalau bunda dan ibunya Radit tahu dia naksir berat pada anak tampan itu.


"Engga ah, Tante." Jual mahal dulu lah! Kan, malu kalau langsung bilang 'iya'.


"Lho, kenapa? Dulu aja kalian waktu kecil tidur bareng di kamar itu," tanya Rara keheranan.


Queen tersenyum tipis ' itukan dulu waktu masih belum tahu apa itu yang namanya jatuh cinta. Sekarang kalau disuruh tidur bareng, bisa baper.'


"Yah itu-"


"Udah sana! Bangunin Radit suruh bantuin Tante biar cepat kelar!" Rara mendorong Queen ke arah tangga menuju lantai dua, mau tak mau demi kesopanan dan demi ingin bertemu Radit, Queen akhirnya menuruti kemauan Rara. Dengan langkah perlahan menahan debaran jantungnya, Queen berjalan menuju kamar Radit.


Beberapa kali Queen mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari dalam, dengan ragu Queen membuka pintu kamar Radit yang memang sudah tidak terkunci lagi dan ternyata lengang tidak adaa Radit di dalam sana. Queen memberanikan masuk ke kamar Radit.


"Radit!" Queen membiarkan pintu kamar terbuka lalu masuk lebih dalam ke kamar Radit.


"Dit! Yuhuuu, aku masuk!" Masih tidak ada sahutan. Queen mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Kamar Radit sangat rapi berbeda sekali dengan kamar Kainan yang berantakan seperti kandang gajah.


Kamar Radit berkonsep monochrome tidak ada hiasan dinding. Tapi ada beberapa bingkai foto yang ada di meja belajarnya juga rak buku yang berjajar rapi buku-buku bacaan Radit.


"Astaga! Rapi bener! Coba lihat ada foto si Vonny gak?" gumam Queen lalu memperhatikan foto-foto yang menghiasi meja belajar Radit. Ada foto keluarganya lengkap dan ada foto mereka berdua saat kecil.


Queen mengambil bingkai foto itu lalu mengamatinya, tersenyum geli saat melihat fotonya dan Radit yang saling berangkulan sambil tersenyum memperlihatkan gigi mereka yang ompong.


"Cakep juga gue dari bocah," gumam Queen memuji dirinya sendiri lalu mengembalikan bingkai foto ke tempatnya semula. Pandangan Queen tiba-tiba saja tertuju pada sebuah binder berwarna ungu ,warna yang mencolok untuk seorang cowok maskulin seperti Radit. Penasaran dengan isinya Queen mengambil buku itu lalu membuka sampulnya hanya ada tulisan. 'My future?'


isinya apa?


Queen bersiap membuka halaman berikutnya tapi sebuah tangan merebut buku itu dengan kasar.


"Kok, kamu main ambil punya orang sih?!"


Queen tersentak kaget saat tiba-tiba Radit sudah berdiri di depannya dengan wajah marah.


Queen terdiam."Maaf, aku-"


"Kenapa kamu ada di kamar ini?" tanya Radit dengan nada marah.


"A-aku cuma disuruh Tante Rara buat bangunin kamu," Queen menjawab dengan hati-hati.


"Tapi bukan berarti kamu bisa ambil dan buka barang pribadi orang!"


Queen tercenung, dia masih tak percaya Radit bisa semarah itu, karena dia hampir membuka buku itu.


"Maaf, Radit. Aku tidak bermaksud lancang." Queen menunduk tak berani menatap Radit. Memang isinya apa sampai Radit semarah itu padanya? Ah, jangan-jangan foto Vonny sedang-


Ish, gak mungkin, gak mungkin! Radit gak secabul itu!


Melihat wajah polos Queen, emosi Radit perlahan menurun. Tidak seharusnya dia bersikap marah seperti barusan. Apalagi Radit yakin di bawah ada orangtua Queen.


"Sorry. Aku cuma gak biasa ada orang luar yang masuk ke dalam kamar." Radit menurunkan nada bicaranya.


Queen perlahan mengangkat wajahnya lalu menatap wajah Radit. Orang luar? Jadi, dia cuma dianggap orang luar sama Radit? Padahal dari kecil mereka sudah dekat.


Sakit epribadiiiihhh!


"Kamu bilang sama Mama aku bentar lagi turun."


Cara mengusir yang halus dan Queen tidak suka itu. Tapi dia tidak mau membuat Radit semakin kesal padanya. Jadi, Queen hanya mengangguk lalu bergegas keluar dari kamar Radit.


*


"Alhamdulillah, selesai!!" teriak Rara meletakkan tas Gamper terakhirnya lalu merenggangkan badan.


"Akhirnya bisa makan dengan tenang!" imbuh wanita berusia 35an itu lalu mengambil setoples keripik singkong sambil meluruskan kakinya.


Queen yang melihat calon - ibu- mertua-halu itu hanya tersenyum. Setahunya ibu Radit adalah orang yang ekspresif lebih bisa menunjukkan ekspresi. Berbeda seperti bundanya yang memang terlihat lebih kalem.


"Makasih ya Mbak. Duh, kayaknya makasih aja gak cukup!" Rara menatap Kana yang sedang menikmati tehnya itu.


"Halah, kayak sama siapa aja!" sahut Kana. "Aku yang udah makasih banget ditraktir makan seenak ini." Kana menunjuk bekas piring yang ada di atas meja. Serta ada sisa makanan yang tadi diorder Dipta.


"Gak apa-apa Tante."


"Padahal harusnya kamu jalan-jalan ya sama pacar kamu," goda Rara membuat Queen hampir tergelak dibuatnya.


Ini semua gara-gara anak Tante aku jadi jomblo sejati. Gara-gara dia yang sudah bikin hatiku tidak bisa membuka hati buat cowok lain!


"Asal kamu tahu, Ra. Queen ini belum pernah pacaran. Dia ini jomblo!" Kana menambahi lalu tertawa renyah.


Queen tersenyum tipis lalu melirik ibunya kesal. Makasih Bun, udah diperjelas!


"Masa sih,Ra? Kamu cantik banget lho masa gak punya cowok?"


"Aku yang suruh dia buat fokus belajar, Ra. Aku gak larang dia pacaran tapi tetap saja sekolah harus nomor satu!" sahut Kana lagi.


Queen mendecih dalam hati. Emak-emak banget dah, emak gue!


"Ah, nurut banget ya. Beda sama si Radit. Dia itu kayaknya udah punya pacar. Iya, kan Queen?" tanya Rara tiba-tiba.


Queen binggung harus menjawab apa. Sepertinya, ibunya Radit ini belum tahu kalau Radit udah punya pacar dari kelas 1 SMA. Kayaknya Radit gak pernah cerita juga. "Gak tahu, Tante."


"Jangan bohong, Queen. Kalian kan satu sekolah. Lagipula Tante pernah mergokin dia ngeliatin foto cewek dia taruh di binder, tapi Tante gak tahu ceweknya siapa gak jelas, dari jauh soalnya." Tante Rara setengah berbisik.


Fix! Berarti benar yang di binder itu fotonya Vonny.


"Oh, begitu," kata Queen lirih.


"Mama, ngomongin Radit lagi, ya?" Radit tiba-tiba muncul lalu duduk di samping Rara.


"Enggak, pede banget!" elak Rara lalu mengedip pada Queen dan Kana isyarat agar mereka setuju dengan kata-katanya.


"Eh, mau ke mana kamu? Rapi begini?" Rara baru sadar kalau anak laki-lakinya berpakaian rapi.


ini


"Jalan sama cewek ya?" Rara menaikturunkan alisnya menggoda anak sulungnya itu.


"Iye!" jawab Radit tegas . Queen mengepalkan tangannya kuat-kuat, pasti mau jalan sama Vonny!


"Widiiih, siapa,Dit?"tanya Rara antusias.


Radit tersenyum lalu menatap Queen. "Tuh, ceweknya lagi bengong kayak sapi ompong!" tunjuknya ke arah Queen. Gadis lugu itu sampai tersentak kaget dibuatnya termasuk duo mama yang menatap bingung ke arah Radit.


"Lho, benar kan Queen cewek, kan?" ralat Radit yang langsung mendapat tepukkan keras di pundaknya.


"Kamu tuh! Mama kira pacar kamu Queen!" seru Rara cemas, membuat Radit tergelak.


"Makanya jangan suudzon mulu!" Radit tertawa lalu menatap Kana sopan. "Hari ini boleh kan Tante, saya ajak Queen jalan-jalan sebentar buat nemenin saya?"


Queen terdiam, ini kenapa kayak seorang pacar lagi minta izin buat ngajak jalan ya?


"Pakai izin segala. Udah sana bawa! Nanti pulangnya diantar ya?"


Ah, tolong jangan buat aku berhalusinasi! teriak Queen dalam hati.


"Nih!" Radit menyerahkan helm pada Queen saat mereka ada di halaman rumah.


Queen mematung menatap helm full face di tangan Radit.


"Kita, pakai motor. Week end gini biasanya jalanan macet. Gak papa kan?" Radit seperti menangkap keraguan Queen.


"Kamu kan biasa naik motor bahkan motor kayak gini aja kamu bisa, kenapa jadi diem? Atau kita naik mobil aja?" tawar Radit.


"Oh, gak usah! Kita naik motor saja!" Queen dengan cepat mengambil helm itu, dia memang terbiasa naik motor bahkan Queen baru saja mendapatkan SIM C-nya. dia hanya kaget saja karena motor Radit jenis motor sport yang joke belakangnya sempit dan agak naik, itu jelas akan mengikis jarak antara Queen dan Radit.


Duh, jadi deg-degan!


"Ya, udah. Naik!"


Queen mengangguk lalu memakai helmnya. Sepanjang perjalanan Queen dan Radit tak banyak bicara bahkan Queen sedikit menjauh karena takut jantungnya akan bereaksi berlebihan jika tubuhnya menempel di punggung Radit. Takut Radit tahu. Itu jelas akan sangat memalukan.


Radit membelokkan motornya di sebuah restoran yang ramai dengan pengunjung terlihat dari tempat parkirnya yang nyaris penuh. Rupanya Radit mengajak Queen makan di sebuah restoran cepat saji.


"Wah, ini seriusan aku ditraktir?" Queen menatap takjub ke arah triple burger di depannya. Juga frappe mango kesukaannya.


"Iya, sebagai permintaan maaf."


Queen mengernyit tapi tangannya terulur mengambil burger kesukaannya.


"Maaf untuk apa?" Queen mengunyah pelan burgernya matanya menatap Radit bingung.


"Tadi aku bentak-bentak kamu."


Queen tercenung sejenak lalu mengangguk. "Oh, itu."


"Maaf ya, Queen. Aku hanya kaget aja. Soalnya selama ini Mama satu-satunya wanita yang masuk ke kamar aku."


Queen menelan makanan dengan susah payah lalu tersenyum. "Aku yang salah Dit, udah lancang buka barang pribadi kamu. Maaf ya, habis aku penasaran masa kamu punya binder warna ungu, warna centil." Queen tersenyum geli membuat Radit terkekeh lalu tiba-tiba saja tangannya terulur mengusap sudut bibir Queen yang terkena saos.


Tubuh Queen membeku seketika, mungkin bagi Radit hal kecil yang dilakukannya barusan adalah hal biasa. Tapi bagi Queen perlakuan Radit ini membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Menurut Queen, ini adalah perlakuan seorang kekasih kepada pasangannya.


"Lanjut makan, malah bengong!" Radit menyentil hidung Queen menarik Queen kembali ke realita jika mereka hanyalah sebatas saudara sepupu.


Queen tersenyum salah tingkah lalu memakan burgernya lagi sambil mengintip Radit yang sibuk dengan kentang gorengnya.


"Ngomong-ngomong, isi binder itu apaaan sih?" tanya Queen hati-hati.


Radit menatap Queen sejenak. "Bukan apa-apa." Radit mengangkat bahu acuh.


"Fotonya, Von-ny?" tebak Queen ragu.


Radit tak menjawab dia hanya tersenyum tipis, dan itu sudah menunjukkan jawaban dari pertanyaan Queen barusan. Jelaslah itu fotonya Vonny. Mereka pacaran sudah cukup lama. Tapi kalau hanya foto Vonny kenapa Radit harus semarah itu? Atau jangan-jangan memang benar foto Vonny yang tidak pantas? Astaga, rasanya tidak mungkin Radit bisa sejauh itu!


"Habis ini kita- " Perkataan Radit terputus saat ponsel di saku Hoodie- nya berbunyi nyaring. Bergegas dia mengambil ponselnya lalu terdiam sejenak saat melihat nama si penelepon.


"Oh, iya. lagi sama Queen. Hah? Oh, iya udah ke sini aja!" panggilan selesai dan Radit menatap Queen.


"Vonny, dia mau nyusul." Radit tersenyum pada Queen. "Gak papa, kan?" imbuhnya.


Ya, jelas kenapa-kenapa lah! "Iya, gak papa, kok!" Padahal dalam hati Queen ingin sekali menolak keras tapi dia sadar diri hanyalah seorang figuran dalam drama percintaan Radit dan Vonny.


Benar saja 15 menit kemudian gadis berambut cokelat sebahu dengan dress floral itu duduk di samping Radit dengan manjanya mengelendot bak seekor monyet. Queen menyesal pernah memuji Vonny adalah seorang yang good looking dan good attitude . Rasanya bermesraan di depan umum bukanlah sikap yang ber-attitude. Tapi Queen bisa apa, selain ngelus dada?


"Kalian tumben nongki bareng?" tanya Vonny lalu menyesap frappuccino. "Kalau orang yang gak kenal pasti ngira kalian sepasang kekasih, lho."


Queen tersenyum dalam hati. Ya, malah seneng gue!


"Queen sama mamanya lagi ke rumah." Radit cepat-cepat mematahkan dugaan Vonny. "Bantu-bantu mama daripada Queen bosen aku ajak ke sini."


Dan Queen tidak suka itu.


"Oh, enak banget ya kamu Queen, bisa datang kapan saja ke rumah Radit. Aku lho, pacaran tiga tahun belum pernah diajak ke rumah!" protes Vonny sebal.


Boleh gak sih Queen tertawa?


"Ya, kamu mau jadi sepupu aku?" goda Radit membuat Vonny mendelik.


"Ihh, gak mau lah! Maunya jadi pacar kamu. Jadi istri juga sekalian." Vonny terkikik geli dan Radit tersenyum lalu mengacak rambut Vonny gemas dan mereka tertawa bahagia. Mengabaikan sepasang mata yang nyaris berair melihat kemesraan keduanya.


********


Queen, jangan suka masuk kamarku sembarangan!



***Hay guys! Makasih ya udah baca dan komentar. I love you?***