
Queen berdecak kesal lalu membanting pensilnya di meja mengabaikan tatapan seisi ruangan perpustakaan yang menatapnya terganggu.
Dia masih menahan kekesalan karena semalam Kai mengajaknya bermain game online membuat Queen keasikan dan akhirnya lupa mengerjakan PR bahasa Indonesia. Akibatnya, dia mendapat hukuman mengarang dengan 2000 kata.
Dua ribu kata?! 200 kata saja Queen harus bersusah payah apalagi 2000? Astaga!
"Ckkk, semua gara-gara Kai! Aku jadi kena hukuman!" gerutu Queen lalu dengan putus asa menelungkupkan kepalanya ke atas meja.
.
"Tok..tok.. tok!"
Queen mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang mengetuk meja. Seraut wajah tampan tengah tersenyum padanya dengan dua tangan yang memegang buku tebal.
"Hai, Queen!" sapa Pemilik wajah itu lalu duduk di kursi kosong yang berada di depan Queen.
"Hai, Yud," balas Queen seadanya.
"Sendirian aja? Dara mana?" tanya Yuda menoleh ke kiri dan kanan.
"Oh, dia lagi jajan di kantin."
Yuda manggut-manggut lalu memperhatikan Queen dan buku-buku yang sedikit berantakan di depannya.
"Lo ngapain?"
Nyangkul! Ya, nyari buku,lah! " Ini lagi nyari referensi." Queen memaksakan senyumnya.
"Buat?"
Queen menatap Yuda, sepertinya cowok ini tidak berniat mengganggunya. Malah kelihatannya dia sedang belajar juga dilihat dari buku tebal yang dia pinjam.
"Ini dapat hukuman Bu Fety disuruh bikin karangan 2000 kata." Queen menjawab dengan wajah kesal.
Yuda terpaku sejenak. Wajah Queen terlihat menggemaskan saat dia cemberut. Bibirnya yang mungil dan merah ceri terlihat makin imut saat mengerucut begitu.
"Lo dihukum? Kok, bisa?"
Queen menatap ragu ketika ingin menjawab. "Semua gara-gara adik gue! Dia ngajakin gue mabar semalam jadinya gue lupa kalau punya PR!"
Yuda menahan senyum dia berusaha mati-matian untuk tidak mencubit pipi merah Queen yang terlihat mengembung lucu itu.
"Lo punya adik?" Yuda terlihat tertarik.
Queen mengangguk. " Punya, dia satu tahun lebih muda dari gue."
"Berati dia juga udah SMA?"
"Iya kelas 11 di SMA sebelah."
"Kok gak sekolah di sini juga?"
"Ih, jangan sampai. Dia tuh rese. Gara-gara dia pula gue jadi gak pintar?"
"Kok gara-gara dia?" Yuda benar-benar gemas melihat Queen.
"Iya, gara-gara dia lahir sebelum gue genap 2 tahun. Jadinya, kan gue berhenti minum asi." Queen bicara dengan nada merengek. Yuda bahkan nyaris mencubit pipi Queen saking gemasnya.
"Emang ngaruh?"
"Ngaruhlah!"
"Gak ah, kamu juga pintar. Buktinya naik sampai kelas 12." Yuda berniat menghibur. Gadis cantik itu terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum manis sekali.
"Benar juga, ya?" Queen manggut-manggut menyetujui kata-kata Yuda. Harus diakui walaupun dia belum pernah masuk 10 besar tapi nilainya juga tidak buruk.
"Mana tugas lo?" tanya Yuda.
"Nih. Baru dapat 50 kata." Queen menunjukkan buku tulisnya.
"Sini gue bantuin bikin karangan." Yuda mengambil buku tulis Queen.
"Eh, jangan!" Queen mengambil balik buku tulis yang ada di tangan Yuda.
"Jangan salah paham dulu bukannya gue gak mau. Tapi lo kan tahu gimana garangnya Bu Fety." Dipikiran Queen terbayang sudah wajah guru bahasa Indonesianya yang terkenal galak bahkan dijuluki 'Jaguar' saking galaknya.
"Enggak bakal ketahuan. Gue tulis di kertas lain dan lo tulis ulang. Gue yakin Bu Fety gak bakalan ngitung. Yakali dia ngitung perkata, bisa keriting matanya."
Queen menatap Yuda tak percaya. "Seriusan?" Jika Yuda membantunya maka dipastikan hukumannya akan segera selesai, meskipun sebenarnya tugas ini dikumpulkan besok pagi.
Yuda mengangguk."Se-"
"Becanda!"
Sebuah suara menyela kata-kata Yuda. Radit sudah berdiri di samping meja mereka dengan wajah datar.
"Lo jangan ngajarin dia bohong, Yud! Biarin aja dia bertanggungjawab atas kesalahannya sendiri." Radist berkata dengan nada dingin, membuat Queen menatapnya kesal.
"Dan Queen, selesaikan tugasmu sendiri. Jangan biasakan berbuat curang." Radit menatap Queen tajam.
"Ih, siapa yang curang? Yuda sendiri kok yang mau bantuin aku. Lagian-"
"Daripada kamu berdebat sama aku, mending kamu ke kelas ngerjain sendiri. Aku yakin kamu bisa tanpa harus mencari referensi di buku lain. Kamu bisa ceritakan kehidupan kamu sehari-hari." Radit berkata pada Queen dengan wajah datar membuat Queen menatapnya binggung.
Kenapa Radit terlihat kesal? Emang apa kesalahannya? Atau karena Yuda berniat membantunya? Emang salah?
"Emang kenapa kalau aku ngerjain di sini?" tanya Queen keheranan.
"Udah sana! Balik ke kelas!" usir Radit dengan tatapan tajamnya, Queen memdecih tapi anehnya dia beranjak juga dari duduknya lalu pergi setelah berbasa-basi pada Yuda.
"Lo jangan keras-keras lah sama Queen. Kasihan dia, hukumannya terlalu berat." Yuda buka suara setelah Queen keluar dari perpustakaan.
" Mengarang 2000 kata bukan hal yang berat. Jangan membesar-besarkan." Radit menarik kursi yang tadi diduduki Queen lalu membuka buku yang tadi dia ambil.
"Lo bersikap posesif begini bukan karena Queen mulai welcome sama gue, kan?"
"Gue cuma ngelaksanain amanah orangtuanya. Buat jaga dia."
"Jaga dari apa? Dari gue? Duh, berasa gue ini penjahat!" Yuda memegang dadanya dramatis dengan wajah pura-pura terluka.
Radit tersenyum sarkas lalu menatap Yuda tajam. "Coba hitung, sudah berapa cewek SMA Nasional yang lo bikin patah hati?" tantang Radit membuat Yuda mendecih kesal. Tidak bisa dipungkiri, Yuda memang mempunyai banyak mantan pacar. Tidak di sekolahnya maupun di luar sekolah. Tapi mau gimana lagi, tidak akan ada satu cewek pun yang bisa menolak pesonanya.
"Jahat amat lo! Gue ini sahabat lo!"
"Hmm, dan Queen sepupu gue," balas Radit. "Gue gak mau sepupu gue bernasib sama dengan mantan-mantan lo lainnya,"imbuh Radit.
Yuda lagi-lagi mendecih lalu dia menatap Radit serius. "Lo ngomong begini bukan karena lo ada rasa sama sepupu lo sendiri,kan?"
Radit sedikit kaget karena tak menyangka akan mendapat pertanyaan sesensitif itu, dia terdiam sejenak menatap Yuda yang masih menunggu jawabannya.
"Queen sepupu gue, Kambing!"seru Radit lalu melempar pulpen yang ada di saku kemejanya ke arah Yuda yang tertawa itu.
"Ya, siapa tahu aja,kan?"
"Enggak. Dia sepupu gue. Gue cuma ngelaksanain amanah kedua orangtua Queen buat selalu jaga dia,"elak Radit tegas dan Yuda percaya itu lagipula Queen bukan tipe Radit. Tipe Radit itu ya cewek seperti Vonny. Cantik, cerdas dan anggun. Kalau Queen memang cantik, tapi dia cenderung imut dan sedikit lugu.
"Ah, benar juga! Mana mungkin lo incest lagipula lo kan bucin banget sama Vonny."
Radit hanya mengangguk lalu kembali asik menekuri buku yang sejak tadi terbuka menunggu untuk dibaca.
"Kalau gitu bisa dong gue deketin Queen?" Yuda berbisik lirih dan Radit menanggapinya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Asal lo siap aja sewaktu-waktu kaki lo patah," balas Radit tenang tapi dengan nada mengancam membuat Yuda mencibir kesal ke arahnya.
****