
Keadaan kamar Lena saat ini sangatlah berantakan, baju berserakan dimana-mana.
Saat ini gadis itu sedang bersiap-siap untuk pergi dengan Ezra. Tadi saat pulang sekolah Lena malah ketiduran dan terbangun saat ada telepon dari Ezra, katanya cowok itu akan segera menjemputnya.
Alhasil sekarang Lena sedang terburu-buru.
Bunyi telepon membuat cewek itu harus menghentikan kegiatannya lalu segera mengambil HP-nya. Nama Ezra tertera dilayar HP-nya.
Mampus!
"Len, gue udah di depan rumah lo nih."
Lena melebarkan matanya, buru-buru ia berlari ke arah jendela dan mengintip ke arah halaman rumahnya. Benar, disana sudah ada Ezra yang sedang duduk di atas motornya.
"Iya bentar, 5 menit oke," balas Lena segera menutup teleponnya.
Dengan secepat kilat cewek itu langsung mengambil asal baju dan celananya. Memakai sepatu dengan terburu-buru, menyemprotkan parfum dan mengoleskan sedikit liptint pada bibirnya, mengambil tas dan HP-nya lalu segera berlari keluar dari rumahnya.
Ezra yang melihat Lena sudah keluar langsung turun dari motornya lalu menatap Lena dari ujung rambut hingga ujung kakinya tanpa berkedip.
Balutan jeans biru dengan dalaman crop ditutupi dengan outer putih itu sangat cocok di tubuh Lena yang mungil.
"Sorry, lama ya?"
"Hm?" balas Ezra mengerjapkan matanya.
"Cantik kok, eh," pemuda itu langsung menutup mulutnya dengan matanya yang sudah melotot saat sadar sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak keluar.
Sedangkan Lena sudah mengulum bibirnya sambil mengalihkan tatapannya melihat keadaan disekitarnya.
Ezra meringis sambil menggaruk pelipisnya, lalu membasahi bibirnya. "Yaudah yuk," ucapnya sambil menyodorkan helm pada Lena.
Gadis itu mengangguk lalu segera naik ke atas motor.
Sebelum menghidupkan mesin motornya, Ezra menolehkan kepalanya. "Mau bilang pegangan takutnya dikira modus, tapi kalo lo gak pegangan takutnya lo terbang kebawa angin, secara lo kan mini."
Lena menjedukkan helmnya pada helm Ezra saat mendengar ledekan cowok itu. "Kamprett, yaudah pegangan ke belakang kan bisa."
"Eh iya juga ya, ahh gagal modus deh," balas Ezra mendengus, lalu terkekeh.
Sedangkan Lena sudah tertawa. "Apasih Zra, udah ah ayo keburu tambah sore lohh."
"Eh," refleks Lena memeluk Ezra karena tiba-tiba cowok itu menarik gas motornya.
"Nah gitu kek daritadi, kuyy lah berangkaatt."
***
"Adek lo suka apa Zra?" Tanya Lena sambil melihat-lihat barang yang sekiranya akan disukai oleh adiknya Ezra.
Saat ini mereka sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di kotanya.
"Semuanya." Balas Ezra santai yang juga sedang melihat-lihat barang yang cocok untuk diberikan pada Kia, dan pastinya yang murah.
"Yaudah borong aja udah."
"Lah emang dia demen semuanya kok, tapi dia paling suka sama yang keliatannya lucu sih," ucap Ezra saat ingat di kamar Kia banyak pernak-pernik yang katanya lucu itu.
"Yaudah kasih gue aja, kan gue lucu," celetuk Lena asal.
"Jangan, nanti gue sama siapa dong," balasan dari Ezra membuat langkah Lena terhenti lalu menolehkan kepalanya melihat Ezra yang sedang sibuk memilih bando.
"Len sini deh," panggilnya sambil mengisyaratkan tangannya.
"Eh," ucap Lena saat Ezra memasangkan bando kelinci dikepalanya.
Pemuda itu juga merapikan rambut Lena yang berantakan, lalu mencubit pipinya sambil tersenyum gemas. "Anaknya siapa sih, gemes amat."
"Anaknya mamah papah lah," balas Lena salah tingkah lalu melangkah mundur menjauh dari Ezra sambil melepaskan bandonya dan memberikannya pada cowok itu.
Bukannya apa, Lena hanya takut Ezra akan mendengar detak jantungnya yang berdegup sangat kencang itu. Dan juga, mendadak ia merasa sangat gugup saat berdekatan dengan Ezra.
"Len menurut lo bagus gak? Apa gue beli ini aja ya?" tanya Ezra sambil menunjukkan sebuah bunny hat.
"Emm, bagus sih tapi apa gak yang ini aja?" balas Lena mengambil tas boneka yang tadi sempat dilihatnya dan menunjukkannya pada Ezra.
"Gini nih, bunny hat emang bagus kok lucu juga, tapi paling cuma dipake dirumah, kalo tas kan lebih berguna tuh bisa dibawa jalan juga." Tambah Lena menjelaskan, agar Ezra tidak tersinggung.
"Bener sih, yaudah gue ambil itu aja deh. Bentar ya," balas Ezra merasa setuju dengan pendapat cewek itu.
Lena hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali melihat-lihat selagi menunggu Ezra selesai membayar.
Tak lama Ezra pun kembali dengan menenteng dua paper bag di tangannya.
"Nih buat lo," ucapnya sambil menyodorkan salah satu paper bagnya pada Lena.
"Buat gue?" yanyanya mengerutkan dahinya. Dilihatnya isi paper bag itu, ternyata Ezra membelikannya bando kelinci tadi.
Lena tersenyum. "Makasih lohh, jadi enak hehe," ucapnya malu-malu.
"Dih," balas Ezra terkekeh geli. Lalu mengusap perutnya. "Cari makan yuk?"
***
"Len liat sini deh,"
Lena berbalik ke arah Ezra lalu segera menghindar ketika ia sadar Ezra akan memotretnya.
"Bilang dulu kek kan gue bisa pose dulu," dumel Lena lalu mendengus.
"Ngeblur aja cakep," ucap Ezra yang sedang melihat hasil jepretannya.
Sedangkan Lena sudah tersenyum mendengar penuturan Ezra, tapi langsung berubah datar saat mendengar lanjutan kalimatnya.
"Susah sih ya kalo dasarnya emang punya bakat jadi fotografer, dari angel mana aja tetep cakep," ucapnya yang masih terus memandangi layar ponselnya.
"Mana sih coba gue liat," balas Lena sambil merebut ponsel Ezra dan melihat fotonya.
"Ini sihh emang orangnya aja yang cantik, mau ngeblur aja tetep cantik," ucap Lena pede sambil memberikan ponselnya pada Ezra.
"Dah dah tuh makan," balas Ezra mengubah topik saat seorang waiters mengantarkan pesanan mereka.
Cukup lama hanya ada keheningan di antara mereka, keduanya sama-sama fokus dengan hidangan di depannya.
"Len, lo laper banget ya?" celetuk Ezra saat melihat Lena yang makan dengan sangat lahap, kedua pipi cewek itu sudah mengembung penuh.
Lena mengangkat tangannya agar Ezra tidak dulu mengajaknya berbicara, karena saat ini ia hanya ingin fokus untuk makan terlebih dahulu.
Sedangkan Ezra sudah mendengus geli, Lena itu seperti berkepribadian ganda. Kadang seperti anak kecil, kadang juga bersikap sangat dewasa.
"Pelan-pelan aja, gue gak bakal minta kok," ucap Ezra sambil mengusap sudut bibir Lena yang belepotan.
Bagai tersengat listrik, Lena langsung berhenti mengunyah, mendongakkan kepalanya menatap Ezra yang kini sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Len kok kita kek lagi first date ya?"
***
Sudah sedari tadi Lena terus menekan tombol remote TV-nya secara asal, mencari channel yang menurutnya seru.
Suara denting dari ponselnya membuat fokus gadis itu teralihkan. Menolehkan kepalanya, Lena mengambil ponselnya. Ternyata Ezra lah yang mengirimnya pesan.
Ezra : Len lo sibuk gak?
Lena : Enggak nihhh, kenapa?
Ezra : Emm itu...
Lena : Apasihh?
read
Lama tidak ada jawaban, Lena menyimpan kembali ponselnya tapi langsung melebarkan matanya syok dan hampir menjatuhkan ponselnya saat melihat nama Ezra terpampang dilayarnya.
Ezra meneleponnya, video call pula.
Gadis itu langsung merapikan rambutnya sebentar dan menarik nafasnya sebelum mengangkat teleponnya.
Setelah panggilan tersambung, Lena mengerutkan dahinya saat hanya melihat langit-langit kamar dan suara yang grasak-grusuk.
"Bego! Lo ngapain malah vc sih anjirr,"
Lena dapat mendengar suara Ezra, sepertinya pemuda itu sedang berdebat.
"Apasih Bang siniin ah—gak-gak—"
Lena mengerutkan dahinya pusing saat layar ponselnya malah bergerak tak beraturan. Lalu mendelik kecil saat melihat seorang gadis yang terpampang di layarnya.
"Haii Kak Lenaa, kenalin aku Kia hehe," ucap Kia sambil melambaikan tangannya.
"Oh kamu ya yang namanya Kia, happy birthday Kiaa," balas Lena ikut melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar. Diam-diam menghembuskan nafasnya lega.
"Iya makasih lohh, Oh iya kata Bang Ezra hadiah buat aku yang milih Kakak ya?"
Gadis itu menganggukkan kepalanya semangat. "Iyaa, kenapa? Kia gak suka ya?"
"Eh enggak kok Kak, aku suka banget malahan," balas Kia sumringah.
"Oh syukur deh kalo kamu suka," ucap Lena sambil mengubah posisinya dan memeluk bantal sofa.
"Iyaa, oh iya Kak Lena, kata bang Ezra kakak anaknya gemesin katanya—woii dah-dah sana ah,"
Lena kembali mengerutkan dahinya saat layar ponselnya bergerak tak beraturan, dan kini kembali terpampang wajah Ezra.
"Eh Len sorry ya, Kia anaknya emang suka rese—KAK LENAA KATA BANG EZRA SARANGHAEE—HEH NGACO,"
Lena mendengus geli melihat interaksi Ezra dan Kia. Sepertinya Kia tipe anak yang suka mengajak orang lain berbicara terlebih dahulu. Sama seperti kakaknya. Dan anaknya juga seru.
"Len udah dulu ya—DADAH KAKAK IPARR—diem bocah," setelahnya panggilan pun terputus.