IHY Too ILY

IHY Too ILY
4. Awal mula



"Buat acara nanti, gimana kalo kita pake voting aja buat mutusin bikin acara apa-apanya aja yang sekiranya bakal anak-anak suka?" usul Ezra pagi itu. Saat ini dia sedang memimpin rapat OSIS untuk persiapan ulang tahun sekolahnya.


"Bisa tuh Zra, jadi kita bisa nyari tau dulu 'kan ya kira-kira anak-anak pada tertarik sama acara yang kayak gimana aja, jadi nanti pas hari H semuanya bisa pada enjoy dan gak boring," balas Hanif setuju.


"Nah iya bener-bener, Pak Wandi juga udah ngasih izin 'kan asal yang gak mengundang keributan aja," ujar Santi menanggapi.


Ezra menganggukkan kepalanya. "Yang lainnya gimana? Pada setuju gak nih?" tanyanya meminta persetujuan anggota yang lain.


"Gue sih oke aja."


"Setuju."


"Setuju Zra."


"Ngikut ae gue mahh."


"Oke, jadi fiks ya kalo gitu kita adain voting," ucap Ezra.


"Yoi."


"Ya udah ada yang mau ditanyain gak? Atau ada yang mau ngasih saran lain?" Ezra mengedarkan pandangannya menatap satu persatu anggotanya, barangkali ada yang masih tidak mengerti maka dia akan menjelaskannya kembali.


"Gak ada Zra," balas Digo.


"Oke, kalo gitu rapat hari ini udah kelar ya, minggu depan kita rapat lagi sekalian voting," ucap Ezra menutup sesi rapatnya.


"Siapp paketuu."


"Oke."


"Bel istirahat juga udah bunyi 'kan, pas banget nih bel perut gue juga udah bunyi," ujar Ezra terkekeh sembari menepuk pelan perutnya.


"Yee dasarr, ketos bahlul emang," celetuk Digo mendengus.


Sudah biasa mereka berkomunikasi seperti itu, karena dari awal Ezra sendiri yang meminta agar mereka tidak perlu sungkan hanya karena posisinya yang menjabat sebagai ketua OSIS.


"Eh iya Zra, si Taqi 'kan udah keluar nih, apa gak perlu rekrut anggota lagi? Bukannya apa ya, kita semua 'kan udah punya peran masing-masing, dan posisi Taqi juga cukup penting, jadi kalo di biarin gitu aja kayaknya kita bakal keteteran deh," ucap Beno sebelum Ezra berjalan keluar.


"Eh, iya ya bener juga," balas Ezra.


"Jadi gimana?"


"Emm ya udah lah nanti biar gue aja yang rekrut anggotanya," balas Ezra lalu menatap Beno sambil tersenyum konyol. "Tenang Ben, khusus buat lo gue nyari yang cewek deh biar lo punya cem-ceman."


"Anjritt."


"Busettt Zra."


"Huuu ... bisa ae paketu, awas diembat...."


"Gak bakalan."


***


"Gila, keluar sekolah aja deh gue...." ujar Lena yang sudah merasa kepalanya sangat panas dan seperti akan meledak, lalu gadis itu menggeser semua buku dan alat tulisnya dan menelungkupkan kepalanya di atas lipatan tangannya.


"Arghhh ... kamera mana kamera, nyerah dah gue ... ampuunn."


"Ck, kasian banget mana masih muda lagi, kalo boleh tau gejala awalnya apa ya mbak?" celetuk Ezra menggelengkan kepalanya prihatin saat kebetulan melihat Lena yang sedang mencak-mencak sendiri sembari mengacak rambutnya. Persis seperti orang stres.


Lena menolehkan kepalanya malas saat mendengar suara yang sangat familiar lalu kembali menelungkupkan kepalanya.


"Heh, lo kenapa dah?? Suram amat," ucap Ezra sambil menarik ujung rambut Lena usil.


"Diem Zra, gue lagi mode bahaya," balas gadis itu dengan suara yang teredam.


"Halahh, palingan lo lagi stres gegara tugas lo yang gak kelar-kelar itu 'kan," ucap Ezra yang melihat banyak buku berserakan, lalu tertawa meledek saat melihat wajah Lena yang sangat kusut.


Gadis itu mengangkat kepalanya lalu menghela nafasnya jengah. "Iya deh iyaa ... yang pinter akuntansi mah beda, tugas aja langsung kelar tanpa harus ngitung bolak-balik dulu," cibirnya.


Pemuda itu terkekeh lalu mengambil salah satu buku yang berserakan di meja dan menarik kursi untuk duduk di samping Lena.


"Mangkannya belajar itu dipahami bukan cuma di hapalin," ucapnya setelah melihat banyak sekali bekas tulisan yang di hapus, dan meringis saat sadar buku itu yang sudah sangat kucel.


Sedangkan Lena hanya menatap pemuda itu tak minat. Kepalanya saat ini benar-benar terasa sangat panas.


"Mana yang belum paham?" tanya Ezra sambil melirik Lena yang ternyata sedang menatap ke arahnya.


Gadis itu berdehem lalu meniup poninya. "G—gue paham kok, cuma lagi males aja," dustanya.


"Heh?" ulang Ezra karena gadis itu yang malah terdiam seperti orang linglung.


Dengan ragu Lena menjawab. "Em ... dari awal sih, hehe...." ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.


Pemuda itu mengerjap dengan wajah cengonya. "Waw, impresif."


"Seriusan dari awal??"


"Heem."


"Busett lo selama ini ngapain aja maemunahh."


"Di ajarin gakk??" tanya Lena yang sudah merasa kesal dengan respon pemuda itu.


"Padahal lo gak pernah bolos loh, catetan lo juga lengkap tuh," celoteh Ezra sambil melihat buku catatan gadis itu yang penuh.


"Mau di ajarin gakk?" ulang Lena sambil tersenyum paksa.


Ezra menghela nafasnya. "Iya ... sini, dengerin nih ya pahamin, jangan asal manggut-manggut aja lo," ucapnya mewanti-wanti.


Lena sudah memutarkan bola matanya malas lalu menganggukkan kepalanya. "Iya...." balasnya ogah-ogahan.


Setelahnya, Ezra menjelaskan pada Lena bagian yang belum di pahami oleh gadis itu. Sesekali dia akan meminta Ezra untuk mengulangnya kembali karena dia memang agak kurang dalam pelajaran akuntansi. Dengan sabar pemuda itu mengulang kembali dengan cara yang sekiranya mudah di pahami Lena.


"Paham?"


"Lahh ternyata sesimpel itu," cengo Lena.


"Menurut lo?" balas Ezra menaikkan alisnya.


Lena langsung cengengesan. "Hehe, eh tapi Zra lo hebat loh, padahal ya di kelas juga gue perhatiin lo gak pernah merhatiin guru tuh, kok malah lo yang paling pinter ya," ujarnya sambil memicingkan matanya.


"Cie ... yang diem-diem merhatiin gue...." balas Ezra yang malah meledek sambil mendorong gadis itu.


"Serius elahh...." balas Lena menggeplak lengan Ezra dengan buku di tangannya.


"Ya lo muji gue apa ngehina sih??"


"Dua-duanya sih ... hahaha."


"Kamprett," dumel Ezra mendengus.


"Hehe...."


"Eh tapi Len, gue heran deh sama lo, milih jurusan akuntansi tapi lo nya kok kayak benci banget sama pelajaran akuntansi??" tanya Ezra yang merasa penasaran.


Dapat Ezra lihat garis wajah Lena yang menurun setelah dia menyelesaikan kalimatnya.


Gadis itu mengerjap lalu mengubah posisinya menghadap ke depan sebelum menjawab pertanyaannya. "Di suruh bokap-nyokap gue."


"Terus kalo emang lo gak suka, kenapa gak nolak aja?" tanyanya lagi. Sebenarnya sudah dari lama dia ingin bertanya pada Lena, tapi baru kali ini dirinya mendapatkan kesempatan yang tepat.


Ezra sebenarnya sudah sedikit tahu tentang kehidupan Lena seperti apa, hanya saja dia tidak pernah menyinggungnya dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Ezra hanya ingin mendengar langsung dari mulut sahabatnya sendiri.


Gadis itu menghembuskan nafasnya, kedua pundaknya kini sudah tidak setegap sebelumnya. Lena benci pada dirinya sendiri yang setiap kali membahas orangtuanya pasti akan membuatnya menjadi cengeng dan lemah.


Karena dari dulu Lena memang sebisa mungkin selalu berusaha untuk menutupinya, karena dia tidak ingin semua orang tahu kehidupannya yang sebenarnya. Biarlah mereka hanya tahu dan kenal dengan Lena yang ceria, tegar, dan memiliki keluarga yang sempurna karena memiliki orangtua yang sukses.


"Kalo lo gak mau jawab juga gak pa-pa kok, iseng aja gue." Ezra yang merasa tak enak segera mengalihkan topik. Sepertinya Lena memang sangat sensitif mengenai topik ini.


"Rasanya kayak gue gak tau diri banget gak sih Zra kalo nolak permintaan bokap-nyokap gue, kayak anak durhaka. Padahal mereka udah kerja keras buat biayain sekolah gue, gue yang minta apa-apa juga di turutin, masa mereka minta ini ke gue gak gue lakuin?" terang Lena menolehkan kepalanya menatap mata Ezra.


"Ya, 'kan?"


Ezra terhenyak, sedikit terenyuh saat melihat tatapan mata itu. Kentara sekali bahwa ada kekosongan di mata sahabatnya saat mengatakan deretan kalimatnya.


Pemuda itu tersenyum hangat lalu mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Lena. "Iya lo gak salah kok, dan yang lo lakuin sekarang udah bener, lo pasti bisa."


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Merasa tidak keberatan dengan tangan Ezra yang mengusap rambutnya. Justru dia merasa nyaman.


Cukup lama mereka hanya diam saling menatap sambil tersenyum.


"Zra, ternyata lo bisa sweet juga ya?"


Celetukan Lena membuat Ezra langsung berdiri dan keluar dari perpustakaan meninggalkan Lena yang tertawa karena menurutnya wajah pemuda itu sangatlah lucu.