
Lena memiringkan tubuhnya ke samping. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi ia tidak merasa mengantuk sama sekali. Padahal biasanya di jam segini dirinya sudah tertidur pulas dan menjelajahi alam mimpinya.
Kesal karena tidak kunjung tertidur, akhirnya Lena bangun dan beranjak lalu duduk di kursi meja belajarnya.
Saat melihat buku akuntansi Lena jadi selalu teringat dengan Ezra.
Karena cowok itu lah yang akan selalu mengajarinya cara paling mudah untuk mengerjakan semua tugas akuntansinya. Hingga sekarang ia sudah tidak terlalu kesulitan lagi seperti dulu. Kadang Lena sempat berpikir untuk menjadikan cowok itu sebagai guru privat nya.
Bicara soal Ezra, Lena jadi teringat kejadian tadi siang.
"Ezra!"
Baik Lena maupun Ezra sama-sama menoleh ke asal suara. Ternyata Ghea lah yang memanggil Ezra. Gadis itu berjalan menghampiri Ezra.
"Eh Ghe, kenapa?" Tanya Ezra ramah.
Sedangkan Lena sudah memalingkan wajahnya enggan melihat Ghea. Bagaimana pun juga cewek inilah yang membuat dirinya dan Dean putus, meskipun bukan sepenuhnya kesalahan Ghea.
"Gue denger OSIS lagi nyari ide buat nanti acara ultah sekolah ya?"
Ezra menganggukkan kepalanya. "Kenapa emang? Lo ada ide?"
Dengan semangat Ghea menganggukkan kepalanya. "Iya, gue mau tampil boleh kan?"
"Why not? Siapa aja boleh kok," balas Ezra sambil mengedikkan bahunya. "Mau tampil apa lo? Asal jangan nyanyi ya, bukannya gimana-gimana nih, kasian aja yang denger." Ledeknya terkekeh.
Ghea mendengus lalu mendorong lengan Ezra. "Anjirr, enggaklah gue mau dance nanti. Lo nonton yaa."
"Kalo senggang ya nonton,"
Melihat interaksi Ezra dan Ghea, mendadak Lena merasa panas. "Ekheeemm," dehemnya keras.
"Duh panas banget deh, tenggorokan gue juga kayaknya kering nih, perlu disiram yang adem-adem deh ekhem ekhemm," ucap Lena sambil mengibaskan tangannya seolah sedang kepanasan sesekali mengusap tenggorokannya.
Ghea yang merasa terganggu melirik Lena sinis yang dibalas dengan deheman semakin keras.
"Lo haus? Minum lah malah curhat." Celetuk Ezra membuat Lena langsung berhenti mengipasi lehernya. Sedangkan Ghea sudah tersenyum puas merasa senang.
"Lahh ini juga mau ke kantin kok, minggir." Balas Lena sewot lalu segera meninggalkan Ezra dan Ghea.
Entah kenapa ia merasa sangat kesal saat mendengar respon dari Ezra yang terkesan cuek.
Lena menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran tentang Ezra.
Tapi kalau dipikir-pikir saat dirinya sedang bersama cowok itu pasti selalu tertawa dan merasa sangat nyaman.
Anehnya saat berada di dekatnya kenapa Lena merasa ada sesuatu yang membuncah di hatinya ya??
Seperti ada yang menggelitiknya.
Apalagi jantungnya yang suka berdetak dengan sangat kencang saat berada di dekat cowok itu.
Apa Lena beneran suka ya sama Ezra?
"Bego! Apasih ngaco lo," ucapnya berbicara sendiri sambil memukul kepalanya merasa pikirannya saat ini sangatlah konyol.
Dia baru saja putus masa iya udah naksir sama cowok lain. Kalau gitu apa bedanya sama Dean?
Tapi kalau dipikir lagi gak salah juga sih, kan sekarang udah putus.
"Tau ah." Pusing perang dengan pikirannya, cewek itu kembali ke tempat tidurnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut. Tak lama Lena pun tertidur.
***
Saat ini Vano sedang berjalan sendirian di koridor kelas. Biasanya dia selalu bertiga, tapi Ezra sedang ada urusan OSIS sedangkan Zio entah kali ini anak itu kelayapan kemana.
Saat melewati persimpangan koridor, samar-samar Vano dapat mendengar suara isakan tangisan dari balik dinding halaman belakang sekolahnya.
Awalnya cowok itu hanya akan menghiraukannya, tapi entah kenapa langkah kakinya malah membawanya ke arah sumber suara itu.
Saat sampai di halaman belakang, Vano mengangkat alisnya. Ternyata benar ada seseorang yang sedang menangis.
Dan Vano tau betul dia siapa. Baru saja ia akan menghampirinya, tapi suara dering HP-nya membuat cewek itu berbalik dan terkejut saat melihatnya.
Dalam hati Vano mengumpat. Sebenarnya ia juga merasa sedikit terkejut. Tapi harus tetap menjaga ekspresinya.
"Otw," ucapnya pada Zio orang yang meneleponnya.
Setelahnya Vano berbalik meninggalkan cewek itu yang terus menatap punggungnya.
***
"Lo kemana aja dah lama bener," suara Zio yang pertama kali Vano dengar saat sampai di kantin.
Menghiraukan pertanyaannya, cowok itu menarik salah satu kursi lalu duduk dan segera menyantap makanan yang sebelumnya sudah dipesankan.
"Elahhh ngomong gratis juga," dumel Zio sinis seraya mencomot gorengan.
"Si Lova enek bener ye, kerjaan nya kalo gak tidur nonton ya makan, mana kalo makan banyak lagi pantesan tembem," celetuknya saat melihat Lova yang memesan dua porsi soto.
"Iri bilang," balas Lova santai tidak merasa tersinggung sedikit pun.
"Busett Zi, kalo ngomong frontal banget deh," ucap Lena sambil menggelengkan kepalanya.
"Biasa dia mahh, tapi sendirinya tukang ambekan. Gak terima orang ngomong frontal, padahal emang faktanya gitu." Celetuk Sasa judes sambil melirik Zio, lalu kembali sibuk mengupas kulit kuacinya.
"Lah yang ambekan lo kalii," balas Zio tak terima lalu dengan santainya mencomot kuaci yang sudah dikupas Sasa.
Cewek itu mendelik galak lalu menggeplak tangan Zio yang akan mengambil kuacinya lagi.
"Ihh Zio! Lo ngapain ngambil yang itu sih, susah-susah gue kumpulin malah seenak jidat lo ambil, tau ah." Sungutnya memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya ngambek.
Sedangkan Zio malah memicingkan matanya sambil menunjuk Sasa yang mencebikkan bibirnya. "Tuhh kan-kaan, ngambek kaan." Ucapnya tertawa meledek sambil menekan-nekan lengan Sasa.
"Hadehhh mulai deh mulai, kalian kenapa gak balikan aja sih padahal cocok lohh," celetuk Lena sambil menaik turunkan alisnya meledek Sasa dan Zio.
"Ogah," balas Sasa sengit lalu mengetuk kepalanya ke meja secara bergantian. "Amit-amit iuww."
"Halah-halah balikan beneran lo traktir gue sebulan sepuasnya yaa," ucap Lena menantang.
"Oke, lagian gue gak bakal balikan juga." Balasnya sambil mengibaskan rambutnya.
"Heh micin! Gue udah kayak kuman aja tau gak, gitu-gitu gue juga pernah ngasih kenangan ya sama lo," sahut Zio sambil menarik rambut Sasa yang terus dikibas-kibaskan.
Sasa dan Zio memang pernah pacaran waktu SMP dulu, tapi hanya bertahan 3 hari.
Jadinya sekarang mereka seperti tom and jerry yang setiap bertemu pasti selalu berantem. Tapi anehnya mereka selalu berada di tempat yang sama. Seolah memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh.
"Hai guyss,"
"Bye ladiees mmuachh," sambung Zio menyahut seruan Ezra sambil memberikan kiss fly.
"Ezra dataangg," seru Ezra lalu meletakkan semua snack yang dibawanya di meja sampai Zio berdecak karena mangkoknya harus diangkat karena banyaknya cemilan cowok itu.
"Busett Zra, lo abis ngeborong dimana dah?" Tanya Zio sambil diam-diam mengambil coklat dan mengantonginya.
"Heh dugong! Gue liat ya," ucap Ezra memicingkan matanya lalu menjitak kepala Zio yang cengengesan.
"Dari loker lagi ya?" Tanya Lena.
"Heem," balas Ezra lalu duduk setelah mengambil snack yang terjatuh.
"Lo kok dapet jajanan mulu sih Zra?" Celetuk Sasa heran karena cowok itu selalu mendapatkan banyak cemilan tanpa harus membeli.
"Wahhh jangan-jangan lo nyalahin kekuasaan lo ya?" Tuduhnya sambil memicingkan matanya.
"Elahh ya kagak lah yakali, ini halal ya," balas Ezra berdecak sambil menepis telunjuk cewek itu yang menunjuknya.
"Oke," balas Sasa lalu mengambil beberapa ciki dan cemilan lainnya. "Nih buat nanti di kelas, hihi." Ucapnya sambil membagikannya pada Lena dan Lova.
"Untung udah persiapan." Balas Lena sambil tersenyum penuh arti.
"Anjritt, HAHAHA," Zio tertawa keras sambil bertepuk tangan saat melihat Lena yang mengeluarkan kantong keresek dari saku rok nya. Mana kereseknya belang-belang lagi.
"Cantik-cantik kok ngantongin keresek blaster, pasti bekas belanja sayuran tuh," ledek Ezra yang juga tertawa.
Lena mendengus melihat Ezra dan Zio yang tertawa puas meledeknya.
Bukan sekali dua kali loker cowok itu selalu dipenuhi berbagai macam cemilan, tapi hampir setiap hari.
Entah sepopuler apa ketos SMK SAGARA itu sampai adik kelas dan kakak kelas rela membelikan berbagai cemilan untuknya setiap hari. Dari permen sebiji sampai snack ukuran besar pun lengkap ada di loker Ezra.
Karena itu lah hari ini Lena sudah menyiapkan kantong keresek, jaga-jaga kalau dapet banyak.
"Ketawa mah ketawa aja kali," celetuk Zio saat tak sengaja melirik Vano yang ujung bibirnya berkedut.
"Sok tau." Balas Vano cuek.
"Awas aja nanti ikutan makan," ancam Lena yang masih sibuk memasukkan keripik dan cemilan lainnya ke dalam keresek belangnya.
"Ini nih ciri-ciri orang gak tau diri, minta kagak yang punya gak dikasih," sindir Ezra mendengus.
"Hehe canda Zra," balas Lena sambil cengengesan.
"Dah ambil-ambil," ucap Ezra mendorong semua cemilannya.
"Oh iya guys, besok jadwal nya renang kan ya? Lo mau berangkat sama siapa Len?" Tanya Sasa saat mengingat jadwal besok.
"Biasalah," balas Lena acuh tak acuh.
Cewek itu mengangguk paham lalu menolehkan kepalanya pada Lova. "Lo bareng gue kan Lov?" Tanyanya yang diangguki Lova.
"Lo kenapa gak pernah bareng kita sih Len? Gitu kan dikiranya kita gak setia sama lo anjirr," dumel Sasa menggeplak tangan Lena, hingga cewek itu yang akan menyuapkan sotonya tidak jadi.
"Goblok, gimana Lena mau bareng bego, lo nya aja naik motor." Sahut Zio sambil melemparkan kulit kuaci pada Sasa karena merasa gemas dengan pertanyaan cewek itu yang tidak masuk akal.
"Eh iya juga ya," balas Sasa tersenyum bodoh. "Ya maap kan gak kepikiraan."
"Lena sama gue," celetuk Ezra santai sambil memakan cikinya.
Berbeda dengan Lena yang langsung tersedak sambil melebarkan matanya kaget.
Sedangkan Sasa diam-diam sudah tersenyum gemas saat melihat reaksi Lena.