IHY Too ILY

IHY Too ILY
10. Dijodohin



Lova berjalan sambil memakan coklat pasta nya, dia berniat akan ke perpustakaan untuk menonton acara idolanya, karena di kelas terlalu berisik dan Lova lupa tidak membawa earphone nya.


Saat di depan pintu perpustakaan, Lova mengerutkan dahinya saat mendengar suara benda pecah, buru-buru ia segera membuka pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat kaca jendela perpustakaannya yang pecah dan ada sesosok pemuda dihadapan pecahan kaca itu sambil menggenggam sebuah bola tenis.


Sedangkan pemuda itu menoleh kaget saat ada orang yang membuka pintu, dengan cepat dia segera berlari keluar dari perpustakaan.


"Hei! Kamu ya yang pecahin kaca itu?!" seru Bu Hani guru BK yang tiba-tiba masuk, sepertinya dia juga mendengar suara benda pecah itu dan langsung memasuki perpustakaan.


Lova menolehkan kepalanya dan terlonjak kaget saat tiba-tiba Bu Hani menarik tangannya.


Mau membela diri pun percuma, pasti Bu Hani tidak akan percaya. Tapi dalam hati, Lova berjanji akan balas dendam pada cowok itu. Enak saja dia yang ngulah masa dirinya yang harus dihukum.


"Eh Bu-Bu itu temen saya mau dibawa kemana Bu?" cegah Sasa yang kebetulan bertemu dengan Bu Hani dan Lova.


"Oh ini temen kalian? Tadi dia habis mecahin kaca perpustakaan tuh," balas Bu Hani ketus.


Sasa dan Lena melebarkan matanya. Lalu menatap Lova yang pasrah-pasrah saja tangannya ditarik Bu Hani.


"Aduh Bu, mecahin kaca gimana caranya coba, Ibu liat temen saya mecahin kaca? Pake apa emang?" tanya Sasa berani.


Bu Hani mengalihkan tatapannya. "Ya saya emang gak liat, tapi udah pasti temen kalian ini lah, orang di sana cuma ada dia."


Lena yang tak terima dengan jawaban Bu Hani mengerutkan dahinya. "Loh kalo gitu Ibu nuduh temen saya tanpa bukti? Adanya Lova di tempat kejadian belum tentu dia yang salah lohh."


"Ya buktinya dia ada di sana pas kaca pecah, berarti dia yang mecahin dong," kekeh Bu Hani.


Bu Hani itu memang terkenal dengan guru BK yang suka menghukum murid walaupun tidak bersalah. Hal sekecil pun akan dibesar-besarkan olehnya. Karena itu lah Sasa dan Lena berani melawan, mereka yakin Lova tidak bersalah.


"Loh—"


"Maaf Bu, tadi kacanya pecah karena ada yang iseng lempar batu dari luar."


Bu Hani, Lena Sasa dan Lova berbalik saat ada yang berbicara di belakangnya.


"Loh Ezra, jadi ada yang lempar batu?" tanya Bu Hani seraya melepaskan tangan Lova.


"Iya, ini barusan saya abis ngejar pelakunya, tapi keburu kabur," balas Ezra dengan deru nafas yang tak beraturan.


Lova menaikkan alisnya, ternyata Ezra pintar berbohong juga.


"Dasar anak kurang didik! Ya sudah Ibu pergi dulu, dan kamu! Lain kali bilang dong jangan cuma diam saja." Lova hanya menatap datar Bu Hani saat guru itu berbicara padanya.


Setelah Bu Hani pergi Ezra langsung menormalkan deru nafasnya. Lena dan Sasa juga sudah menghembuskan nafas lega karena ada yang membantu mereka dan Lova tidak jadi dihukum.


"Thank's," ucap Lova singkat.


"Tapi beneran bukan lo, 'kan?" tanya Ezra was-was, takut-takut dia sudah salah membela orang, 'kan? Meskipun Lova sahabatnya kalau salah ya tetap harus dihukum.


"Bukan lah," balas Lova tak santai. Gadis itu sepertinya masih merasa kesal kepada pemuda tadi.


"Eh tapi Zra beneran ada yang lempar batu?" Tanya Sasa penasaran.


"Gak tau," balas Ezra sambil menggedikkan bahunya, lalu cengengesan tak jelas.


"Anjrit jadi lo ngarang??"


Ezra meringis sambil menggaruk pelipisnya. "Ya gitu lahh."


"Terus kalo bukan Lova yang mecahin, siapa dong?" tanya Lena yang sedari tadi diam.


"Adalah cowok gila," balas Lova seraya melangkahkan kakinya tak jadi ke perpustakaan. Mood nya sudah sangat hancur karena pemuda itu, mending tidur.


Sasa menatap Lena yang juga menatapnya lalu sama-sama menggedikkan bahunya.


"Btw untung aja ada lo Zra, kalo bukan lo yang ngomong, Bu Hani mana mau lepasin Lova," ucap Lena yang diangguki Sasa.


"Eh iya jadi lupa 'kan," balas Ezra menepuk dahinya. "Len kali ini lo jangan kabur lagi ya! OSIS abis ini rapat nihh," ucapnya mewanti-wanti sambil berkacak pinggang menunjuk wajah Lena.


"Iyaaa," balas Lena malas.


"Ahh jadi iri gue, lo enak banget dah dispen mulu, gue ikutt dongg, jujur di kelas suntuk banget sumpah," ucap Sasa merosotkan bahunya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Jijik anjir, dah sana tuh si Zio udah manggil elo tuh," balas Lena seraya mendorong pundak Sasa agar melihat Zio yang melambaikan tangannya dari depan kelas.


Melihatnya Lena menggelengkan kepalanya, menurutnya Sasa dan Zio itu masih saling suka, gengsi merekanya aja yang terlalu tinggi.


"Mereka kenapa gak balikan aja ya, padahal cocok loh."


"Kayak kita ya Len," celetuk Ezra.


***


"Loh, kalian kapan pulang?" ucap Lena kaget saat memasuki rumahnya.


Gina menoleh. "Eh Len udah pulang?" tanyanya sambil tersenyum.


Lena menganggukkan kepalanya. Masih terasa asing karena setelah sekian lamanya kali ini saat pulang dari sekolah ada yang menyambut kedatangannya.


Namun, tak dapat dipungkiri hatinya merasa hangat dan sangat senang, karena inilah impiannya, dan akhirnya setelah beberapa hari Lena bisa melihat wajah orangtuanya kembali.


Gadis itu mendudukkan dirinya di sofa, di sana juga ada Bram, papahnya.


"Gimana sekolah, lancar?" tanya Bram menatap Lena sembari menyimpan ponselnya.


"Lancar kok Pah," jawab Lena tersenyum dengan suaranya yang tercekat.


Matanya sudah terasa panas siap meluncurkan air matanya. Jujur, pertanyaan sekecil itu yang Lena harapkan selama ini.


"Lena, nanti kamu pakai baju yang udah Mamah siapin ya, Mamah simpen di atas meja belajar kamu tuh," ucap Gina sambil mengusap rambut Lena.


"Buat apa?"


"Itulohh nanti ada temen Mamah mau makan malam kesini, sekalian Mamah mau ngenalin kamu sama anaknya temen Mamah itu," balas Gina semangat.


Perlahan garis wajah Lena menurun. "Temen Mamah? Temen bisnis?"


"Iya, kolega Mamah sama Papah."


Lena menaikkan alisnya, lalu memalingkan wajahnya tak habis pikir. Jadi mereka bersikap manis padanya karena ada maksud tertentu?


Tanpa mengatakan apapun lagi, Lena langsung berdiri dan berlari menaiki tangga, masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintunya dengan kencang.


Melemparkan tasnya asal, lalu Lena langsung tengkurap di atas tempat tidurnya menumpahkan tangisnya yang sudah ia tahan sejak tadi.


Dia bukan anak kecil yang tak paham maksud kedua orangtuanya. Tadinya Lena pikir orangtuanya bersikap manis karena mereka sadar bahwa masih ada anak yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian mereka.


Namun nyatanya, mereka hanya memikirkan bisnisnya dengan menjadikan dirinya alat agar kerjasama mereka tetap berlanjut. Dengan embel-embel akan mengenalkan dirinya pada anak teman mamahnya yang pasti berujung dengan perjodohan.


Lelah menangis, akhirnya Lena terlelap dengan seragam lengkap yang masih melekat pada tubuhnya.


***


Perlahan Lena membuka matanya, samar-samar ia dapat mendengar suara dari bawah. Tadinya Lena akan kembali memejamkan matanya, tapi langsung terbuka lebar saat ia melihat jam di dindingnya menunjukkan pukul 7 malam.


Selama itukah dirinya tertidur?


Suara pintu yang di ketuk dari luar membuat Lena menolehkan kepalanya. Ternyata itu mamahnya.


"Lena! Ayo turun, tamunya udah dateng ituu," ucap Gina menyembulkan kepalanya.


"Iyaa mah bentaarr, duluan aja," balas Lena ogah-ogahan.


"Ya udah cepetan ya, gak enak kalo mereka nunggu lama."


"Iyaaa."


"Jangan lupa tampil yang cantik ya," ucap Gina sebelum keluar dan menutup pintu.


Dengan langkahnya yang gontai, gadis itu memasuki kamar mandi lalu mengganti pakaiannya yang sebelumnya sudah disiapkan Gina.


Tanpa memoles wajahnya Lena langsung turun menghampiri kedua orangtua dan tamunya itu, dan ketika sudah tiba di bawah, gadis itu langsung membelalakkan matanya kaget.


"Loh, elo???!"