
Lena yang sedang sarapan menolehkan kepala saat bel rumahnya berbunyi. Sebenarnya bisa dibilang makan siang sih, karena waktu saja sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Gadis itu mengerutkan dahinya, tumben sekali ada yang bertamu ke rumahnya saat orangtuanya sudah pergi bekerja. Meskipun di hari libur seperti ini, mereka tetap ke kantor, entah sesibuk apa orangtuanya itu. Meneguk air minumnya Lena segera membukakan pintu, takut tamunya adalah orang yang penting.
Ekspresi Gadis itu semakin bingung saat ternyata Ezra lah yang datang ke rumahnya, apalagi pakaian pemuda itu yang sangat santai.
"Hehe morningg," sapa Ezra cengengesan saat pintu sudah terbuka menampakkan Lena dengan hoodie pink nya.
"Ngapain?" tanya Lena lalu melihat rumah diseberangnya yang ramai, sepertinya rumah itu sudah ada penghuni baru. "Ohh pantesan rame, ada yang pindahan ternyata."
"Hooh, mau bantuin gak?"
"Hah?" Lena mengerjapkan matanya menatap Ezra yang menaikkan alisnya. "Lo ... pindah kesitu?" tanyanya sambil menunjuk rumah di depannya.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Heem."
Sementara Lena sudah membelalakkan matanya kaget.
Jadi sekarang dia dan Ezra tetanggaan?
Berarti setiap hari akan bertemu??
"Heh ditanyain malah bengong," celetuk Ezra sambil mencolek lengan Lena yang terdiam menatapnya sambil melotot.
"Eh, oh iya-iya gue bantu," balas Lena lalu berdehem mencoba menetralkan ekspresinya.
"Ya udah ayo."
Lena mengangguk lalu mengikuti langkah Ezra setelah sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu. Gadis itu menggaruk kepalanya masih merasa bingung dan terkejut. Tiba-tiba saja rumah kosong di depan rumahnya ada yang mengisi, dan ternyata Ezra pula.
Entah akan bagaimana ke depannya nanti di saat dirinya kini sudah menaruh hati pada Ezra, malah pemuda itu akan menjadi tetangganya.
Antara senang dan gugup.
Mungkin mulai sekarang Lena tidak bisa sebebas dulu, keluar hanya memakai baju tidur dengan wajah kusut. Doi keburu ilfeel dong.
"Nih lo bawa yang gini-gini aja, yang berat-berat biar diangkat sama cowok," ucap Ezra sambil memberikan sebuah kotak pada Lena.
"Lah, itu kok lo juga bawa yang itu? Katanya cowok yang berat-berat," tanya Lena saat cowok itu juga membawa barang yang sama dengannya.
Ezra hanya menyengir mendengar pertanyaan dari Lena. "Ya maksud gue tuh cowok abang-abang yang udah disuruh nyokap," balasnya terkekeh.
Sedangkan Lena sudah mendengus geli. "Ya udah, ini ditaro dimana?"
"Simpen aja di dalem, di mana aja terserah lo yang penting udah masuk rumah," balas Ezra seraya melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Lena menganggukkan kepalanya paham lalu segera menyimpannya di dalam, dan melanjutkan membantu Ezra untuk menata barangnya.
***
Lena merentangkan kedua tangannya sambil sesekali memijat pundaknya. "Huhhh gak kerasa ya udah malem aja," ucapnya lalu duduk di samping Ezra.
"Mangkannya gue ngajak lo, kalo enggak belum kelar deh kayaknya," balas Ezra yang juga sedang memijat pundaknya.
Saat ini Lena dan Ezra sedang beristirahat di balkon rumah baru Ezra. Mereka baru saja menyelesaikan menata semua barang di rumah baru pemuda itu.
Lena menyelonjorkan kakinya lalu menolehkan kepalanya. "Kok lo bisa pindah kesini sih Zra?"
"Tau tuh nyokap, katanya bosen pengen nuansa baru, eh taunya pindah ke komplek rumah elo," balasnya sambil mengedikkan bahunya lalu terkekeh.
Lena yang mendengar jawaban dari Ezra menaikkan alisnya. "Cuma karena bosen terus pindah?"
Ezra menganggukkan kepalanya lalu ikut menyelonjorkan kakinya. "Nyokap emang gitu, ini udah yang ketiga kalinya malah kita pindah," balasnya santai.
Berbeda dengan Lena yang sudah melebarkan matanya syok lalu gadis itu bertepuk tangan heboh. "Hebat, bisa gitu ya," ucapnya sambil tertawa, merasa alasan keluarga Ezra pindah sangat lucu.
"Eh berarti nanti lo juga bakal pindah lagi dong kalo nyokap lo udah bosen?"
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Kayaknya gak bakal deh, soalnya dari dulu nyokap emang nyari komplek yang adem tenang kek gini."
Lena menganggukkan kepalanya setuju. "Iya sih di sini emang adem enak, gak berisik juga," balasnya sambil memejamkan matanya membiarkan angin malam menerpa kulit wajahnya.
"Tapi kalo sendiri gak seru, kerasa banget sepinya."
Mendengar lontaran kalimat itu Ezra menolehkan kepalanya lalu menatap Lena yang membuka matanya. "Sekarang 'kan ada gue," ucapnya tersenyum.
"Eh lo belom kenalan sama keluarga gue, 'kan? Tadi lagi repot soalnya, sekarang aja yuk?" ajak Ezra berdiri lalu mengulurkan tangannya.
"Boleh," balas Lena menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan Ezra.
***
"Mah, Pah, kenalin Lena," ucap Ezra memperkenalkan Lena pada orangtuanya. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.
Lena membungkukkan badannya sedikit seraya tersenyum sopan. "Malem Om, Tante."
"Malem cantik," balas Diana, mamah Ezra tersenyum lembut.
Dani, papah Ezra menaik turunkan alisnya menggoda Ezra. "Siapa ni Zra, calon mantu ya?"
Sedangkan Ezra yang mendengar ledekan papahnya berdecak kesal. "Pah jangan gitu dong, nanti anaknya kabur lohh."
"Gak bisa lah 'kan pintunya udah papah kunci," balas Dani.
"Pinterr," ucap Ezra lalu setelahnya mereka tertawa.
Sedangkan Lena hanya tersenyum kikuk bingung harus bereaksi seperti apa.
"Kalian ini jangan gitu lah, tuh liat Lenanya jadi gak nyaman tau," tegur Diana lalu menepuk sofa disebelahnya.
"Sini Len, duduk kita ngobrol disini aja, biarin mereka mah emang suka gitu. Kadang ya mamah juga gak paham sama jokes mereka," ucapnya sambil melirik sinis Dani dan Ezra.
"Iya tan gak papa kok," balas Lena sambil mendudukkan dirinya di samping Diana.
"Loh loh kok tante sihh, berasa banget ada jaraknya tau, mamah aja udahh," tegur Diana sambil berdecak.
Lagi-lagi Lena tersenyum kikuk. Tak menyangka keluarga Ezra akan bereaksi seperti ini. Kalau bisa, Lena ingin segera pergi dari rumah ini.
Demi apapun, saat ini dirinya sudah sangat gugup bahkan telapak kaki dan tangannya pun sudah sangat dingin.
Dulu waktu akan ujian sekolah pun Lena tak segugup ini.
"Zra tenang aja kalii, Lena nya gak bakal di apa-apain kok," gurau Dani karena Ezra terus mengikuti Lena, bahkan pemuda itu pun duduk di samping Lena.
"Biasa Ezra mah suka lebay," tambah Diana saat melihat kelakuan putranya.
Ezra langsung mendengus lalu memutarkan bola matanya malas. Kadang Ezra tuh suka bingung, orangtuanya kenapa update banget ya. Udah gitu suka SKSD lagi.
"Pah, biasanya juga udah ngerem aja di kamar, kok ya tumben masih duduk-duduk manis disini," ucap Ezra melirik Dani sinis.
"Terserah papah dong, rumah Papah ini."
"Udah ah berisik banget, Mamah 'kan jadi gak bisa ngobrol sama Lena," dumel Diana memdelik lalu menghadap pada Lena.
"Lena, kamu yang tinggal di rumah depan itu ya?" Tanyanya sumringah.
"Iya Tan, eh Mah," balas Lena cepat meralat ucapannya saat Diana sudah siap akan protes.
Sementara itu Diana sudah tertawa melihat wajah dan tingkah Lena yang kentara sekali sedang gugup. "Jangan kaku gitu dong, udah lolos seleksi kok," ucapnya mencoba membuat Lena rileks.
Namun nyatanya Lena malah semakin dibuat gugup. Rasanya untuk menelan ludah pun susah saking gugupnya dia saat ini.
"Hehe iya mah," balas Lena canggung.
"Kia mana Mah?" tanya Ezra yang menanyakan keberadaan adiknya.
"Biasalah dikamar dia," balas Diana tanpa melihat Ezra, fokusnya saat ini hanya pada Lena.
"Eh sebentar ya," ucapnya saat ponselnya berdering.
Cukup lama keadaan hening, Diana yang sedang berbicara di telepon, Lena yang sedang mencoba untuk merilekskan diri, dan Dani dan Ezra yang sama-sama sibuk dengan ponselnya.
Hingga
Preeettt
Suara kentut yang menggelegar itu membuat semua orang menolehkan kepalanya dengan raut wajah berbeda.
Diana yang sedang berbicara langsung berhenti, Dani dan Ezra yang langsung menegakkan kepalanya, sedangkan Lena yang sudah membelalakkan matanya.