IHY Too ILY

IHY Too ILY
7. Bus



Sesuai perkataan Ezra kemarin, hari ini Lena akan berangkat berenang bersamanya.


Namun, sepertinya semesta tidak mendukung.


Dari awal, mereka memang akan pergi menggunakan motor milik Ezra sesuai dengan rencana. Tapi ternyata motor itu sudah di pakai adiknya tanpa sepengetahuannya.


Alhasil mereka memutuskan untuk pergi ke sekolah berharap bus yang biasanya akan mengantar murid SAGARA ke kolam renang masih ada.


Namun, lagi-lagi keadaan tidak mendukungnya. Bus itu ternyata sudah berangkat tepat saat mereka sampai di sekolah.


Jadilah sekarang hanya tinggal mereka berdua yang duduk di tangga dengan keadaan canggung.


Ezra berdehem mencoba untuk mencairkan suasana yang hening. "Sorry ya Len, gara-gara gue kita jadi ketinggalan deh," ucapnya kikuk sambil menggaruk tengkuknya merasa tak enak.


"Ya emang salah lo sih," balas Lena sambil menatap nanar gerbang sekolah.


Ezra langsung meringis. Dalam hati merutuk pada Kia adiknya yang sudah membawa motornya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Mana waktunya udah sengaja dimepetin lagi, jadi 'kan mau nebeng bus sekolah pun tertinggal.


"Ya udah lah ayo kita naik bis umum aja," ucap Lena sambil beranjak dari duduknya.


Ezra mendongak lalu menganggukkan kepalanya dan segera mengikuti Lena di belakangnya. Masih merasa tak enak karena gara-gara dirinya mereka jadi ketinggalan bus dan malah naik kendaraan umum.


Jarak dari sekolah ke halte memang cukup jauh, tapi tidak ada percakapan sama sekali di antara Ezra dan Lena. Keduanya hanya sama-sama fokus berjalan. Entah apa yang ada di pikiran mereka.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di halte. Sepertinya kali ini nasib baik menimpa mereka, karena dengan sangat kebetulan langsung ada bus yang datang.


"Eh Zra, tapi itu penuh lohh," ucap Lena sambil menarik ujung kemeja pemuda itu saat melihat bus yang datang sangat penuh dengan penumpang.


Ezra menolehkan kepalanya melihat Lena yang meringis. "Gak papa ayo daripada tambah telat." balasnya sambil menarik tangan Lena.


Saat sudah di dalam bus, Ezra mengeratkan genggamannya pada tangan Lena saat melihat padatnya penumpang. Berjalan di depan agar jalan cewek itu tidak terlalu berdesakan dengan penumpang lain.


Sedangkan di belakang Ezra, diam-diam Lena mengulum bibirnya saat melihat tangannya yang digenggam dengan sangat erat. Dimatanya saat ini cowok itu sangat gentle.


"Permisi om, maaf boleh geser sedikit gak om, ini ada si cantik mau lewat nih," ucap Ezra yang berhasil membuat Lena menundukkan kepalanya malu.


"Oh iya Dek," balas penumpang itu ramah sambil bergeser.


"Makasih ya Om."


Saat sudah melewati penumpang tadi, Lena langsung melepaskan genggaman tangannya lalu menggeplak Ezra kesal.


"Apa sih malu ihh...." Omelnya dengan suara tertahan agar orang lain tidak mendengarnya.


"Lah 'kan emang lo cantik, masa ganteng," balas Ezra santai.


Sedangkan Lena sudah mendengus mendengar jawaban Ezra, tapi memang ada benarnya juga sih.


Gadis itu mendongak lalu berjinjit bermaksud akan perpegangan pada pegangan bus yang sudah disediakan.


Namun, entah pegangannya yang terlalu tinggi atau memang tubuhnya yang pendek, masa iya meskipun sudah berjinjit pun tangannya masih tetap tidak bisa menggenggam pegangan tangan bus itu.


Lena berdecak kesal, padahal tinggal sedikit lagi, kalau saja ada keajaiban ia ingin tingginya langsung naik beberapa cm.


"Mangkannya tumbuh itu ke atas bukan ke sampingg."


"Eh," Lena melebarkan matanya kaget saat tangannya ditarik Ezra dan diletakkannya di pinggang cowok itu.


"Pegangan ke gue aja, kalo malu pegang hoodie gue, dijamin aman." Ucap Ezra tersenyum.


Dalam hati baru sadar ternyata Lena sangat pendek sampai dirinya harus menunduk.


Sedangkan Lena sudah bisa merasakan wajahnya yang memanas. Mendadak menjadi sangat gugup saat sadar posisi dirinya dan Ezra sangatlah dekat. Bahkan bau parfum cowok itu pun bisa tercium sangat jelas olehnya. Rasanya Lena sampai tidak bisa bernafas dengan lancar saking gugupnya.


"Nafas aja, masih jauh loh."


🌥️🌥️🌥️🌥️🌥️


"Ini si Lena mana sih kok gak dateng-dateng yaa," ucap Sasa sambil celingukan mencari sosok Lena, karena murid yang lain sudah masuk untuk memulai penilaian renang.


Sedangkan Lova yang sedang duduk hanya menggelengkan kepalanya malas, karena saat ini cewek itu sedang menahan rasa kantuknya.


"Kok kalian belum masuk?" Tanya Pak Ali guru olahraga yang kebetulan lewat akan masuk untuk memulai pelajaran renang.


"Eh bapak, iya pak ini juga mau masuk kok." Balas Sasa sambil cengengesan.


"Ayo, penilaian mau dimulai lohh."


"Iya pak," balas Sasa lalu kembali celingukan setelah guru itu pergi.


"Nahh itu tuh anaknya, akhirnya nongol juga tuh anak." Ucapnya saat melihat Lena yang sedang berlari ke arahnya.


"Udah mulai?" Tanya Lena saat sampai di hadapan Sasa dengan nafasnya yang ngos-ngosan.


"Udah, yuk masuk." Balas Sasa menganggukkan kepalanya lalu menggandeng tangan Lena dan menarik tangan Lova yang terlonjak kaget, hampir saja cewek itu akan tertidur.


🌥️🌥️🌥️🌥️🌥️


Lena keluar dari ruang ganti sambil mengusap rambutnya yang basah. Cewek itu baru saja selesai mengganti pakaiannya, sedangkan Sasa dan Lova masih di dalam.


Bosan karena lama menunggu, akhirnya Lena berinisiatif untuk membeli minuman dan beberapa makanan karena ia merasa lapar.


Sambil berjalan, cewek itu sambil sesekali bersenandung. Tapi tiba-tiba kakinya tersandung dan refleks ia menarik tangan seseorang didepannya.


Mungkin karena orang itu juga tidak siap, akhirnya mereka sama-sama jatuh terduduk.


"Eh sorry-sorry gak sengaja sumpah, sakit gak? Mana yang sakit? Sini gue bantu." Ucap Lena segera bangun dari duduknya lalu mengulurkan tangannya dengan raut wajah yang panik.


Vania, cewek yang tidak sengaja ditarik Lena itu tidak menerima uluran tangannya. Cewek itu hanya menatap Lena sekilas lalu segera beranjak tanpa berkata apapun.



Lena mengedipkan matanya berkali-kali lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedikit terkejut dengan respon Vania barusan.


"Lena!"


Lena berbalik, ternyata Sasa dan Lova yang menyusulnya.


"Lo kenapa? Kok basah gitu?" Tanya Sasa sambil menunjuk celana bagian belakang Lena yang basah.


"Kesandung tadi."


"Tapi lo gak papa kan?" Tanyanya memastikan.


Cewek itu menganggukkan kepalanya. "Gak papa kok tenang aja," balas Lena sambil mengacungkan jempolnya.


Sedangkan Sasa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu setelahnya mereka pun pergi ke kantin dan memilih tempat setelah sebelumnya memesan makanan.


"Eh gue mau nanya deh," tanya Lena memulai pembicaraan.


"Apaan?" Tanya Sasa sambil berkaca pada cermin kecilnya yang selalu dibawa kemanapun cewek itu pergi.


"Kalian kenal gak sama Vania??"


"Vania?" Beo Sasa menurunkan cerminnya, lalu mencoba mengingat apakah ia mengenalnya atau tidak.


"Vania si cewek jutek itu?" Tebak Lova sambil menaikkan alisnya.


"Nahh iya," balas Lena menjentikkan jarinya. "Eh tunggu, tumben lo update??" tanyanya pada Lova sambil mengerutkan dahinya.


Sedangkan cewek itu mendengus mendengar pertanyaan Lena. "Pernah denger aja." Balas Lova seadanya.


"Ohh, ya bagus sihh. Lo itu jangan terlalu cuek sama keadaan disekitar lo." Ucap Lena memberikan nasihat yang hanya dibalas dengan anggukan.


Lova itu memang tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan keadaan di sekitarnya. Tapi bukan berarti Lova tidak peka. Udah gitu hobinya tidur lagi, masih untung ada orang yang mengenalnya.


"Emang kenapa kok lo tumben nanyain Vania segala?" Tanya Sasa setelah ingat cewek yang ditanyakan Lena.


"Gak papa sih, tadi gue sempet ketemu soalnya, pas tadi jatoh itu lohh, kayaknya rumor tentang dia bener ya, mana first impressions sama gue jelek banget lagi." Balas Lena meringis saat ingat tatapan Vania tadi saat ia tak sengaja membuat cewek itu terjatuh.


"Mungkin, gak pernah ketemu soalnya." Balas Sasa menanggapi.


Tak lama makanan mereka pun datang dan ketiganya sama-sama fokus melahap makanannya. Sehabis berenang memang perut suka keroncongan.


"Wihh bagi dong Sa," ucap Zio yang  datang bersama Ezra dan Vano.


Cowok itu langsung menyeret kursi dari tempat lain lalu bergabung dengan Lena Sasa dan Lova.


"Gak ada-gak ada, beli sana! Duit lo kan banyak." Sinis Sasa sambil menutupi makanannya.


Zio mendengus lalu memutarkan bola matanya malas. "Elahhh pelit amat lo." Sinisnya.


"Bodo," balas Sasa memeletkan lidahnya.


"Gue beli nih, awas kalo minta." Ucap Zio  menarik ujung rambut Sasa lalu segera kabur sebelum cewek itu mengamuk.


"Zi! Sekalian nitip yaa," seru Ezra sebelum Zio semakin jauh.


"Yoi,"


Setelah mendapat balasan dari Zio, Ezra menolehkan kepalanya lalu menyenggol tangan Lena yang kebetulan posisi mereka bersampingan. "Heh tumben diem mulu."


"Kan lagi makan." Balas Lena santai.


Sangat berbeda dengan keadaan jantungnya saat ini yang sudah berdegup sangat kencang.


Dalam hati cewek itu membatin. Ezra sialan, padahal tempat masih banyak yang kosong kenapa harus milih duduk di sampingnya sih.


Melihat Lena yang makan dengan lahap, Ezra mendengus geli. "Yaudah lanjutin," ucapnya sambil menepuk pelan kepala Lena.