IHY Too ILY

IHY Too ILY
1. Putus



"Pantes ya belakangan ini lo kayak sibuk banget sampe chat gue pun gak pernah di bales, bahkan buat ketemu aja susah, taunya lagi sibuk selingkuh," ucap seorang gadis sembari terkekeh sinis saat melihat pemandangan di depannya.


Sedangkan kedua sejoli yang sedang asik bercengkrama itu terlonjak kaget lalu langsung berdiri dan menjauh dengan wajah paniknya. 


"Len—" 


Gadis bernama Lena itu melangkah maju menghampiri pemuda yang menyandang status sebagai kekasihnya itu, menatap matanya tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. 


"Kita putus!" ucapnya tegas.


"Mampus!" celetuk seseorang yang berada di samping Lena sambil tersenyum puas. 


Sedangkan pemuda yang bernama Dean itu menggelengkan kepalanya tak terima saat mendengar kalimat putus dari Lena lalu melangkahkan kakinya maju. "Len—"


"Udah ya, males banget gue punya hubungan sama cowok gatel kayak lo! Apa perlu gue garukin, hah?!" sarkas Lena sewot memotong ucapan Dean.


Sasa, seseorang yang di samping Lena itu memukul jidatnya heran sekaligus merasa malu dengan kalimat yang dilontarkan sahabatnya itu. 


Ini mereka lagi labrak orang loh, bisa-bisanya malah ngelawak. 


"Lena ih ... ngerusak suasana aja lo! Padahal tadi tuh ya feelnya udah dapet banget lohh," gerutunya sambil berdecak, melirik Lena sinis.


"Apa lo apa? Mau ngomong apa lagi hah?! Dasar cowok murahan! Untung ganteng," tantang Lena yang malah semakin sewot saat melihat pemuda itu yang akan kembali berbicara, dan tak menanggapi protesan Sasa padanya.


Tentu saja dengan kalimat terakhir yang hanya diucapkannya dalam hati. Ya kali harus sefrontal itu, malu dong.


"Len sumpah ya, wajah lo kocak banget asli," ledek Sasa sambil menunjuk wajah Lena, dengan sebelah tangannya yang menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah, bisa gawat nanti.


"Diem Sa!" balas Lena menolehkan kepalanya mendelik, lalu kembali menatap Dean mantan kekasihnya itu.


Sedangkan Sasa yang mendapatkan delikan dari Lena langsung menutup rapat-rapat mulutnya, takut terkena semprotan sahabatnya.


"Gue bersyukur sih ngegep lo kayak gini, karena itu berarti Tuhan udah nunjukin ke gue bahwa lo itu bukanlah cowok yang tepat buat gue, dan asal lo tau aja ya, gue gak nyesel atau sedih sedikit pun setelah putus dari lo," ucapnya santai dengan menekan beberapa kalimatnya.


"No, Len! Gue bisa jelasin semuanya sama lo!" balas Dean tak terima dengan keputusan Lena, dan saat melihat tatapan cewek itu yang sudah tidak setajam sebelumnya, sedikit senyuman terpatri di wajahnya.


"Gak perlu Yan, makasih buat waktu lo selama ini," ucap Lena menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis lalu beralih menatap Ghea, gadis yang sedari tadi berada di samping Dean. "Lanjutin aja kegiatan lo sama dia, sekarang kalian bebas," ucapnya.


Sementara itu Ghea yang mendengar ucapan Lena hanya berdecih sinis lalu memalingkan wajahnya, karena sebelumnya dia sempat melirik Sasa yang melotot padanya sambil menggerakkan ibu jarinya di depan leher. Oh dan jangan lupakan dengan ekspresi wajahnya yang meledek.


"Len, please, gue bisa jelasin semuanya sama lo! Gue gak mau kita putus Len," ucap pemuda itu yang masih berusaha membujuk Lena.


"Gak perlu, gue gak butuh penjelasan apapun dari lo Dean! Dan ini udah jadi keputusan gue, kita putus!" balas Lena tanpa ragu, setelahnya gadis itu berbalik tak ingin berlama-lama melihat wajah mantan kekasihnya itu.


Sebelum benar-benar pergi, Lena kembali menatap Dean sekilas yang sedang terdiam sambil menatap ke arahnya, lalu segera menarik tangan Sasa agar secepatnya bisa meninggalkan tempat menyebalkan itu. 


Selagi tangannya ditarik, Sasa menyempatkan untuk memberikan jari tengahnya pada Dean dan Ghea sambil memeletkan lidahnya meledek, lalu tersenyum puas saat melihat cewek itu yang mendelik padanya.


Sedangkan Dean tak menggubris sama sekali, cowok itu hanya diam sambil menatap punggung Lena nanar. 


***


Lena yang sedang duduk di tangga sambil menunggu Sasa di kamar mandi hanya menghela nafasnya saat tiba-tiba bayangan tadi muncul di pikirannya.  


Bohong kalau dirinya tidak merasa sakit hati atas kejadian tadi. 


Bagaimana pun juga selama ini Dean lah yang selalu ada untuk mengisi hari-harinya di saat dirinya sedang merasa kesepian. 


Bukan berarti sahabatnya tidak ada untuk Lena, hanya saja Dean lah yang sedari dulu sudah ada untuk menemani kesehariannya.


Namun meski begitu, Lena tidak merasa menyesal dengan keputusannya. Dia rasa memang inilah keputusan yang paling tepat bagi mereka. Hanya saja dirinya butuh waktu untuk bisa benar-benar melupakannya. Karena waktu dua tahun sudah memberikannya cukup banyak kenangan manis untuknya, dan bagi Lena itu bukanlah waktu yang singkat.


Menghela nafasnya kembali, gadis itu menopang dagunya sambil memejamkan matanya, mencoba mendinginkan kepalanya yang terasa panas.


Sekarang dirinya hanya berharap bisa secepat mungkin untuk melupakan Dean, dan menjalani kehidupan seperti biasanya sebelum adanya kehadiran pemuda itu di hidupnya. 


Karena terlalu larut dalam pikirannya, Lena sampai tidak sadar ada seseorang yang menghampirinya, lalu terlonjak kaget saat tiba-tiba sebuah botol dingin menyentuh pipinya. 


"Anj."


"Heh!" tegur cowok itu sambil mengetuk dahi Lena dan ikut duduk di sampingnya. 


“Hehe ... maaf refleks tadi,” balasnya cengengesan. 


Sedangkan cowok itu hanya mendengus lalu merogoh saku celananya dan menyodorkan sebuah koin pada Lena.


"Lah, apaan nih?" tanyanya mengerutkan dahinya sambil mengambil koin itu.


"Koin buat lo lah, ya emang sih dikit, tapi lumayan lah buat nambahin," balas cowok itu santai.


Mendengarnya Lena malah semakin mengerutkan dahinya tak paham. "Apa si Zra? Gak jelas banget sumpah," dengusnya.


Ezra, cowok yang memberikan koin pada Lena itu malah memberikan botolnya pada Lena, tapi tepat saat cewek itu akan mengambilnya dengan cepat dia tarik kembali yang membuat tangan Lena hanya menggantung dengan wajahnya yang sudah berubah masam. 


"Nyebelin banget sumpahh," ucap Lena melirik Ezra sinis.


Sedangkan cowok itu hanya terkekeh lalu menunjuk Lena sambil menaikkan alisnya. "Lo lagi pusing mikirin buat bayar utang, 'kan? Nah karena itu, ini gue kasih gopek buat bantu bayar utang lo," balasnya kalem menjawab pertanyaan Lena tadi.


Sementara cewek itu sudah memasang wajah cengonya lalu menghela nafasna kasar.


"Anjritt," umpatnya kaget.


Sementara Lena sudah terbahak puas saat melihat wajah Ezra yang sudah memerah, antara batuk dan malu karena banyak siswa yang melihatnya.


***


"Wahh gila sih ini, gak tau diri banget sumpah," seru Sasa menggebrak mejanya.


"Guys-guys kalian wajib liat ini sih, gila aja ni cewek gak punya rasa malu samsek anjirr," hebohnya sambil menepuk-nepuk pundak Lena di sampingnya.


Sedangkan Lena yang sudah terbiasa dengan kehebohan Sasa menolehkan kepalanya malas. "Apasih apa?" balasnya.


Sebenarnya Lena sedang tidak bersemangat karena masih kepikiran soal kejadian tadi, dan sialnya setiap kali dia mengingatnya pasti malah membuatnya badmood.


"Iniloh ...." balas Sasa sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Lena. "Maksudnya apa coba bikin snap kayak gini, mau nunjukin kalo dia menang dari lo gitu setelah kejadian tadi? Dih makan noh cowok, gak bermutu juga," lanjutnya sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya menyalurkan rasa kesalnya.


Lena hanya mengedikkan bahunya acuh, "ya udah lah biarin, urusin amat," balasnya tak minat.


"Apasih kejadian tadi apa? Kok gue gak tau sih? Mana coba gue pengen liat," sahut Zio yang langsung merebut ponsel Sasa lalu melihat apa yang membuat cewek itu sangat heboh.


"Gini doang?" tanyanya mengerutkan dahinya bingung. Masalahnya baginya itu bukan lah sesuatu yang harus dihebohkan, karena di sana hanya terlihat Ghea yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Di mana letak yang salahnya coba?


“Lo mana paham sih,” kelakar Sasa sewot sambil merebut kembali ponselnya.


"Ya gimana gue mau paham, gue aja gak tau apa-apa anjirr," balas Zio ikut sewot. 


"Ck, bego banget sih," sentak Sasa sinis lalu mendudukkan dirinya kembali dengan matanya yang masih fokus pada layar ponselnya.


“Zi Zi sini Zi, mending lo balik deh, si Sasa lagi PMS mangkannya sensi,” celetuk Ezra mengisyaratkan dengan tangannya agar Zio segera kembali ke bangkunya. 


Tadi siang Ezra memang sempat mendengar pembicaraan Lena dan Sasa saat cewek itu sudah keluar dari kamar mandi, dan kebetulan dirinya masih di sana jadi dia bisa tahu kalau Sasa sedang PMS.


"Ohh lagi mode senggol bacok toh, pantesan galaknya another level," balas Zio melirik Sasa, sekalian sambil mengintip apa yang sedang dilakukan cewek itu pada ponselnya.


"Apa lo?!" tanya Sasa mendelik. 


"Ampun nyai micin ...." ucap Zio menangkupkan kedua tangannya sambil berbungkuk.


Sebelum berbalik dia sempatkan mengetuk kepala Sasa hingga cewek itu menggerutu kesal dan hampir melempar tempat pensilnya kalau saja tak ditahan Lena.


"Woii Van, lo diem mulu dah, kebelet berak ya?" tanya Zio usil sambil mencolek dagu Vano genit yang langsung ditepis oleh sang empu.


“Kek gak tau aja lo Zi, biasalah si Vano 'kan punya riwayat penyakit sariawan akut, bisanya cuma ham hem doangg,” sahut Ezra sambil tersenyum bodoh.


Sedangkan Zio sudah membekap mulutnya seolah dia sedang kaget, lalu menunjuk Vano dengan ekspresi wajahnya yang aneh. "Yaa ... ganteng-ganteng kok sariawanan, minum cap 5 kaki," ledeknya, lalu tertawa terbahak bersama Ezra. 


Bagi mereka sehari saja tidak mengganggu Vano rasanya hidup mereka terasa tak lengkap dan hampa. Sedangkan Vano yang memang sudah terbiasa dengan kelakuan para sahabatnya hanya menghela nafasnya jengah. Tidak merasa tersinggung sedikitpun.


"Ni anak kayaknya emang ngajak perang deh, tau gitu gue cakar aja tadi muka songongnya itu, hih kesel banget gue," celoteh Sasa merapatkan giginya kesal dengan tangannya yang sudah mengepal kuat.


Lena yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya saat cewek itu sedari tadi sibuk mengotak-atik ponselnya dengan mulutnya yang terus mengoceh. 


“Udah heh, noh Bu Mami udah dateng,” tegurnya seraya mengangkat dagunya pada seorang guru yang sedang berjalan, lalu mendengus saat Sasa hanya meliriknya sekilas dan malah kembali berkutat dengan ponselnya.


Membalikkan tubuhnya, Lena menggeplak tangan seseorang yang masih setia tertidur. "Woii! Molor mulu dah, itulohh Bu Mami dateng ...." ucapnya gereget sendiri yang mencoba membangunkan sahabatnya.


"Lova!"


Lena yang gemas karena Lova terlihat tak terusik sama sekali akhirnya menarik ujung rambutnya.


Dan ya, berhasil. 


Cewek itu akhirnya mau membuka matanya dan mengangkat kepalanya dengan rambutnya yang berantakan. 


“Apasihh, padahal baru 5 menit loh gue tidur,” ucap Lova malas sambil mengucek matanya yang masih terasa sangat perih.


"5 menit pala lo botak," hardik Lena menggelengkan kepalanya heran. 


Lova itu memang cewek ajaib, kalau tidak ada yang membangunkannya anak itu bisa tidur seharian.


Bahkan dulu saat awal kelas 10, Lova pernah hampir akan menginap di sekolah karena tidak ada yang mengetahui bahwa cewek itu tertidur di pojok belakang kelas, dan orang-orang mengira dia sudah pulang terlebih dahulu, dan menelepon pun percuma karena ponsel cewek itu habis baterai.


Setelah memastikan Lova bangun, Lena kembali menghadap ke depan berbarengan dengan Bu Mami yang juga sudah memasuki kelas dan pelajaran pun dimulai. 


Jadi Lena itu punya 5 sahabat. 


Sasa si cewek cerewet dan paling heboh di antara mereka, namanya sih Yasha tapi kata Zio namanya kebagusan, alhasil mereka semua memanggilnya Sasa, bahkan tidak ada yang mengetahui nama aslinya kecuali orang terdekat dan teman sekelasnya.


Lova si mageran tingkat akut, hobinya tidur dan sekalinya bangun marathon nonton reality dan variety show idolanya. 


Ezra, Sang ketos SMK SAGARA, orangnya humble, humoris, friendly, kadang juga usil, dan karena sifatnya itulah cowok itu mempunyai fans hampir setengahnya dari murid SMK SAGARA.


Zio si tengil, usil, dan heboh, ya sebelas duabelas lah sama Sasa cuman ini versi cowoknya.


Dan terakhir ada Vano si paling males banyak ngomong, anaknya cuek, judes, sekalinya ngomong bikin sakit hati. Pedesnya itu loh, tapi sangat peka dengan keadaan di sekitarnya.


Mereka bertemu saat masa MPLS karena satu kelompok dan kebetulan satu jurusan hingga kini satu kelas, kecuali Sasa dan Zio yang memang sudah kenal sedari kecil karena mereka bertetangga.