IHY Too ILY

IHY Too ILY
5. OSIS



"Lena!"


Lena membalikkan badannya, memutar bola matanya malas saat ternyata seorang pemuda yang sangat ingin dia hindari lah yang telah memanggil namanya.


"Apa?" balasnya malas saat Dean sudah ada di hadapannya.


"Len gue mau minta maaf sama lo, apa gak bisa kita mulai dari awal lagi?"


Lena mengerjap lalu menaikkan alisnya dan terkekeh tak habis pikir. "Apa?? Mulai dari awal lagi?? Terus lo ulangi lagi kesalahan lo lagi gitu? Terus-terusan begoin gue??" kelakarnya sinis.


Dean menipiskan bibirnya, jujur baru kali ini dia mendengar nada sinis dari gadis itu, dan yang lebih menyakitkannya lagi karena nada itu ditujukan untuknya.


"Len gue tau gue salah."


"Yaudah bagus."


"Tapi gue nyesel Len, gue khilaf, gue sadar lo satu-satunya cewek yang berharga bagi gue."


"Halah bulshit."


Lena membuang wajahnya enggan melihat wajah pemuda dihadapannya itu. Rasanya dia sudah sangat muak melihat ataupun mendengar suara itu.


"Len, bagi lo gue juga berharga, 'kan? Selama ini gue selalu ada buat lo, selalu berusaha bahagiain lo, dan lo juga udah bergantung sama gue, 'kan? Jadi lo pasti gak bakal bisa hidup tanpa gue 'kan Len? Gue tau kok aslinya lo masih sayang 'kan sama gue??" ucap Dean dengan gamblangnya, masih belum menyerah untuk bisa membuat Lena luluh dan memaafkannya.


Lena langsung menolehkan kepalanya, keningnya mengerut tak suka saat mendengar deretan kalimat yang keluar dari mulut pemuda itu. "Iya, lo emang cowok berharga bagi gue," ucapnya yang sudah membuat Dean tersenyum senang.


"Tapi itu dulu! Sebelum lo khianati gue dan bohongi gue! Lo sadar gak sih apa yang lo lakuin ke gue? Lo pernah mikir gak sekecewa apa gue sama lo??!" Bentak Lena meninggikan suaranya. Persetan orang lain akan mendengarnya atau tidak, yang terpenting sekarang dia bisa meluapkan semua unek-uneknya. Benar kata Sasa kemarin, sekali-kali hidup itu harus bar-bar.


"Gue tau kok dan gue paham banget kalo gue cuma cewek yang hidupnya monoton, ngebosenin, apa-apa selalu sendiri dan keluarga gue pun gak seharmonis yang lain, bahkan buat jadi orang yang asik pun gue gak bisa," ucap Lena.


"Len—"


Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Tapi gue selalu berusaha biar orang lain bakal selalu nyaman sama gue dengan cara gue sendiri, sampe akhirnya gue ketemu dan deket sama lo 'kan. Tapi apa?? Dengan begonya semakin hari gue malah semakin percaya sama lo karena gue yakin lo gak akan khianati gue, sampe gue dibodohin pun gue gak tau karena emang gue udah sepercaya itu sama lo Dean!" cerca Lena menunjuk Dean dengan suaranya yang bergetar. Sebisa mungkin menahan tangisannya.


"Len-Len please lo gak usah ngomong kayak gitu, gue tau gue bego udah ngerusak kepercayaan lo, dan gue minta maaf Len," balas Dean yang masih tetep kekeh berusaha untuk meminta maaf.


Pemuda itu mengambil tangan Lena tapi segera gadis itu tepis karena merasa sangat tak sudi.


Lena menatap mata Dean yang dimana dulu selalu terlihat rasa cinta dan kekaguman untuk pemuda itu, tapi sekarang di mata indahnya itu hanya terlihat rasa benci dan kekecewaan. "Sekarang gue sadar, kesalahan terbesar gue adalah udah ngasih kepercayaan sama lo, dan bagi gue sekali udah ngerusak kepercayaan gue, sampai kapanpun gue gak akan pernah percaya lagi," balas Lena.


"Mungkin iya, gue bisa aja maafin lo, tapi untuk mulai lagi dari awal..." gadis itu menggelengkan kepalanya. "Gue gak bisa Yan sorry, mending sekarang kita hidup biasa aja kenal hanya sebatas teman antar jurusan."


Pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Gak Len, please maafin gue, gue janji gue gak akan ulangi kesalahan gue lagi," ucapnya masih kekeh.


Lena memundurkan langkahnya. "Sorry Yan, gue gak bisa, thank's for the memory you gave me," setelahnya gadis itu berbalik dan meninggalkan Dean yang terus memanggil namanya.


***


Lena mengusap air matanya lalu menghembuskan nafasnya berharap agar rasa sesak di dadanya bisa menghilang. Merogoh saku seragamnya dan mengambil ponselnya saat terdengar bunyi panggilan masuk.


"Halo."


"Halo Lena, hari ini mamah sama papah gak pulang ya, kita mau langsung berangkat ke Surabaya, ada yang harus kita urusin di sana, mamah juga belum tau mau sampe kapan."


"Hmm," balas Lena sekenanya.


Sebenarnya dia sudah menduga saat mamahnya ada menelepon. Memang mau ngapain lagi selain memberi tahu bahwa mereka tidak akan pulang.


"Tenang aja uang buat jajan udah mamah transfer tadi—IYAAA BENTAR PAH— yaudah ya Len mamah tutup, jangan lupa makan," setelahnya telepon pun terputus.


Lena menghela nafasnya panjang, lalu mengecek m-banking nya. Lagi-lagi saat orangtuanya akan pergi, mereka selalu berpikir dengan dirinya ditransfer uang banyak pun semuanya sudah beres dan dia tidak akan mengeluh.


Tapi nyatanya bukan itu yang diharapkan Lena.


Kalau boleh memilih, Lena lebih memilih hidup sederhana asal orangtuanya selalu ada dan memberikan kasih sayang yang selayaknya bukan hanya uang uang dan uang. Buat apa hidup dengan bergelimang harta kalau hidupnya saja tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya.


Jujur, Lena sudah sangat lelah dan muak dengan semuanya.


Ternyata Ezra yang datang menghampiri Lena dengan selembar kertas di tangannya.


"Huh, akhirnya ketemu juga, gila, lain kali gue perlu bikin janji dulu kali ya buat ketemu sama lo," ucap Ezra sambil berjongkok dengan nafasnya yang tak beraturan.


"Kenapa sih? Tumbenan amat lo nyari gue?" tanya Lena mengernyitkan dahinya heran.


Pemuda itu menyodorkan kertasnya tak lupa dengan bolpen nya. "Nih diisi."


Meskipun bingung Lena tetap mengambil kertasnya lalu membacanya terlebih dahulu sebelum mengisinya. Takut-takut kalau Ezra mau nipu dia 'kan, rencana jahat siapa yang tau.


"Hah join OSIS?? Gue??" Tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Hooh, lumayan 'kan biar di sekolah lo ada kegiatan, gak cuma ngegalau doang," balas Ezra nyeleneh.


"Anjir, songong amat nih ketos," ucap Lena mendengus lalu sedetik kemudian memicingkan matanya. "Bentar-bentar, jadi apa dulu nih gue??"


Ezra berdecak lalu meraup wajah Lena. "Muka lo gak usah gitu juga kaliii," ledeknya.


"Ck, posisi gue jadi apa?? Gue gak mau ya kalo jadi seksi kebersihan, bersihin rumah aja males," celetuknya asal.


"Seksi keamanan."


"Keuntungannya bagi gue apa?"


"Yaelahh Len perlu gue jelasin juga???"


Dengan watadosnya gadis itu malah menganggukkan kepalanya.


Ezra langsung mendengus kasar lalu mengusap dadanya sabar. Berpikir sejenak untuk busa memberikan penjelasan yang bagus, setelahnya pemuda itu menjentikkan jarinya. "Ginilohh ... kalo lo join OSIS 'kan enak tuh jadi sering dispen, apalagi sekarang OSIS lagi sibuk-sibuknya 'kan ngurusin buat ultah sekolah nanti. Nah terus-terus Pak Wandi juga sering traktir kita lohh, malah nih ya kadang diajak liburan kalo udah berhasil nanganin acara gede kek gini," jelasnya, lalu menolehkan kepalanya untuk melihat reaksi Lena sebelum dia melanjutkan aksi marketingnya.


Dan ya, sepertinya gadis itu sudah mulai tertarik.


"Dan yang paling penting nih ya, pas lo sering dispen lo juga bakal jarang dapet tugas, terutama AKUNTANSI," lanjutnya dengan menekankan kalimat terakhirnya. Diliriknya Lena yang masih diam bergeming.


Hening.


"Oke setuju! Gue isi sekarang."


See?? Benar dugaan Ezra, Lena pasti akan tertarik jika menyangkut kabur dari kelas terutama untuk menghindari pelajaran akuntansi.


Dengan bersemangat, gadis itu segera mengisi formulir tersebut lalu memberikannya kepada Ezra setelah dia selesai mengisi beberapa pertanyaan.


Sedangkan Ezra mendengus geli. "Dasar bocah," ucapnya seraya mengacak poni Lena yang sedang tersenyum lebar.


Dalam hati Ezra bersyukur setidaknya sekarang Lena tidak menangis lagi.


Ya, sebenarnya Ezra tadi melihat Lena yang sedang menangis tapi tidak langsung dia hampiri karena Ezra pikir gadis itu butuh waktu sendiri.


"Jadi sekarang gue resmi OSIS nih, udah pasti keterima kan ya gak perlu seleksi lagi, hihi," ucap Lena cekikikan.


"Yoi, secara ketos langsung lohh yang rekrut lo, kurang terhormat gimana lagi coba," balas Ezra memegang kerah seragamnya lalu menyugar rambutnya.


Sedangkan Lena yang melihat pemuda itu terlalu pede mendengus kasar. "Dih gaya lo," cibirnya mengacak-acak rambut Ezra.


"Eh Len liat deh itu si Laras kayaknya tiap hari sibuk mulu dah," ucap Ezra saat netranya tak sengaja melihat Laras si ketua kelas TKJ 2 yang sedang membawa tumpukan buku.


Lena langsung mengikuti arah pandangan Ezra lalu menganggukkan kepalanya setuju. "Heem, Laras emang sibuk banget apalagi anaknya juga ambis kan?"


"Tapi emang kelas lain pada sibuk Len, noh liat anak TB sama BB juga pada sibuk kan, yang santai cuma akuntansi doang," balas Ezra mendengus.


"Kalo di pikir-pikir emang iya sih Zra, kok aneh ya masa cuma akuntansi doang yang jarang guru masuk, kayak anak tiri woi."


Baru saja pemuda itu akan membalas Lena tapi urung karena ada yang memanggilnya.


"Ezra!"