
"Len, kita tampil yuk?" ajak Sasa dengan matanya yang berbinar.
Lena yang sedang memainkan ponselnya mendongak. "Mau tampil apa sih Sa, punya bakat aja enggak," balasnya malas.
"Dance tiktok aja,"
"15 detik?" tanya Lena seraya menaikkan alisnya.
Dengan entengnya Sasa menganggukkan kepalanya. "Heem, mau gak? 'Kan gampang tuhh."
Mendengarnya Lena menganga lalu mendengus. "Sekalian aja gak usah Sa, udah mah tampil cuma 15 detik yang gerak cuma tangan doang, udah gitu belom juga orang nonton udah kelar duluan tampilnya."
"Ahh lo mah gituu, ayo dongg tambahin deh jadi 1 menit," ucap Sasa masih mencoba membujuk, menggandeng tangan Lena seraya menyenderkan kepalanya di pundak cewek itu.
"Satu menit tapi gerakannya itu doang mahh sama aja Sa, mending gak usah lah," balas Lena lalu kembali memainkan ponselnya.
Sasa sudah mengerucutkan bibirnya, lalu mendongakkan kepalanya mengintip apa yang sedang dilakukan Lena, karena sedari tadi cewek itu sibuk memainkan ponselnya.
"Kirain sibuk chatingan, ternyata main game tohh,"
"Ya lagian chatingan sama siapa sihh," balas Lena.
"Ketos lah," Sasa terkekeh saat melihat Lena yang mendelik padanya, lalu cewek itu berbalik berniat mengajak Lova.
"Lovaa—"
"Ogah ya," balas Lova tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel. Gadis itu tadi sempat mendengar obrolan Sasa dan Lena saat jaringan wifi nya terputus.
Sasa yang sudah mendengar penolakan dari Lova mendengus keras. "Punya temen pada gak asik ah," ucapnya seraya menelungkupkan kepalanya di lipatan tangannya.
Sedangkan Lena dan Lova hanya melirik Sasa sebentar, sudah biasa Sasa merajuk seperti itu. Paling 5 menit juga udah biasa lagi.
"GUYSS KITA DAFTAR IKUT TAMPIL YUUKK," seru Zio heboh saat memasuki kelas.
Sasa yang mendengar teriakan Zio langsung mendongakkan kepalanya lalu berdiri dengan semangat. "NAHH IYAA SETUJU GUE, YUK YUKK!" ucapnya sambil melangkah menghampiri Zio.
"Oke guys siapa aja yang mau ikutan??" tanya Zio yang sudah siap mencatat daftar nama yang akan ikut berpartisipasi untuk ajang tunjuk bakat.
Saat ini pemuda itu sudah duduk dibangku guru dengan anak-anak yang sudah berkerumun, seketika kelas menjadi heboh.
"Bentarr, ini kita mau tampil apa anjirr," tanya Bella yang diangguki anak-anak.
Zio yang mendapatkan banyak pertanyaan mengangkat tangannya. "Tenang guyss, santai-santai, tampil apa aja udah yang penting rame, masa kelas kita cuma diem doang," balasnya sudah seperti pejabat yang sedang berpidato.
Sasa menganggukkan kepalanya setuju, dengan semangat mengangkat tangannya ke atas. "Nahh iya tuh bener, gas lah kita tampil."
Bella mengetukkan jarinya di dagu sedang berpikir, "oke lah gue ikut," putusnya.
"Siip," balas Zio lalu segera mencatatnya.
"Yuk siapa lagi yang mau ikutaan??" seru Sasa sudah seperti sedang mempromosikan barang dengan Zio yang sibuk mencatat.
"Lo ikutan gak?" tanya Sasa pada Tio yang lewat, "Ikut lah masa enggak, Zi Zi Tio catet Zi."
"Heh heh, gue belom jawab anjirr maen catet-catet aja lo," protes Tio tak terima.
"Halahh udah terlanjur ditulis gak bisa dihapus, permanen soalnya," balas Sasa tidak menerima penolakan lalu kembali sibuk mengajak semua orang.
Setelah selesai mencatat Zio melihat daftar nama yang ditulisnya seraya mengerucutkan bibirnya ke samping, lalu mendelik kecil saat sudah membacanya. "Lahh yang ikutan sekelas?"
Lena yang mendengar ucapan Zio melebarkan matanya. "Eh anjirr, gue gak ada bilang mau ikutan ya," protesnya lalu beranjak dari duduknya.
Sedangkan Sasa sudah buru-buru menghadang Lena yang akan menghampiri Zio. "Udah Len, gak bisa dihapus udah permanen. Noh Lova aja santuy tuhh."
Lena menolehkan kepalanya pada Lova yang anteng nonton lalu mendengus. "Awas aja kalo tampil yang aneh-aneh," ucapnya mewanti-wanti sambil menatap Sasa dan Zio bergantian.
"Iya enggak ah," balas Sasa lalu mendorong pundak Lena agar kembali duduk. "Dah duduk aja yang anteng."
"Untung temen gue."
"Zi, si Vano lo masukin?"
Pemuda itu menganggukkan kepalanya santai. "Hooh, 'kan sekelas, ehh?"
Zio menolehkan kepalanya pada Sasa yang juga sedang menatapnya, lalu mereka tertawa terbahak seolah sedang berbicara lewat telepati.
Entah bagaimana reaksi Vano nanti karena sekarang anak itu sedang tidak berada di kelas bersama Ezra.
"Dasar, yang kek ginian aja kalian akur banget," ledek Lena yang sedari tadi melihat Sasa dan Zio.
"Len, ikut gue."
***
"Kenapa?" tanya Lena pada Vano saat sudah sampai di taman belakang sekolah.
"Gue udah bilang nyokap."
Lena yang mengerti arah pembicaraan mereka langsung tersenyum senang. "Syukur deh kalo lo udah bilang, mereka setuju, 'kan?"
Vano menganggukkan kepalanya lalu menyenderkan tubuhnya. "Asal lo tunjukkin pacar lo sama nyokap," balasnya santai.
Sedangkan Lena sudah mengerutkan dahinya bingung. "Bentar-bentar ini maksudnya gimana sih?"
Vano menghela nafasnya, sudah ia duga cewek itu tidak akan paham. Sebenarnya Vano sangat malas untuk menjelaskan, tapi mengingat Lena yang sedikit lemot membuatnya terpaksa harus berbicara panjang lebar.
"Gue bilang ke nyokap buat batalin perjodohan ini karena lo udah punya pacar, dan nyokap cuma bakal percaya kalo lo bawa pacar lo ketemu nyokap gue." Ucap Vano cepat dan berbelit, untung Lena bisa menangkapnya dan mengerti.
"Loh kalo alesannya gitu berarti yang punya masalah gue dong?" tanya Lena seraya menunjuk dirinya.
"Orangtua gue pasti tetep bakal lanjutin perjodohan ini Van, kecuali kalo memang dari pihak laki-laki nya yang nolak, baru orangtua gue bakal batalin. Karena gak mungkin 'kan buat mohon-mohon ke keluarga lo?"
"Tenang aja, gue udah jelasin ke nyokap. Dan nyokap ngerti, dia bakal bilang ke nyokap bokap lo alesan batalin perjodohan ini karena gue yang udah punya calon," balas Vano menjelaskan.
Lena yang paham menganggukkan kepalanya. "Ohh gitu paham-paham, tapi kok ribet banget ya," ucapnya sambil menggaruk kepalanya.
"Jadi gue harus nyari cowok buat jadi pacar gue nih buat dikenalin sama nyokap lo biar perjodohan ini batal kan, dan orangtua lo bakal bilang ke nyokap bokap gue alasan batalin perjodohan ini karena ternyata lo nya udah punya calon?"
Vano menganggukkan kepalanya, lalu menghembuskan nafasnya lega karena akhirnya Lena paham. Jadi Vano tak perlu berbicara panjang lagi. Jujur, Vano merasa capek kalau harus berbicara panjang-panjang.
Hening. Baik Lena maupun Vano sama-sama larut dalam pikirannya.
"Terus gue harus bawa siapa anjirr, lo kan tau gue baru aja putus. Gak ada alesan lain apa?" tanya Lena sambil mengusap wajahnya kasar. Wajahnya saat ini sudah mengerut.
"Karena lo hamil?" celetuk Vano nyeleneh.
Mendengarnya Lena sudah mendelik galak. "Ya nggak gitu juga kali Van, ah lo mahh baru aja gue seneng karena perjodohan nya batal, eh malah dibikin pusing lagi. Dikira nyari pacar gampang apa," dumelnya sambil mengacak rambutnya merasa bingung.
"'Kan ada Ezra," balas Vano gamblang.
Lena melebarkan matanya lagi, entah sudah berapa kali hari ini Vano membuatnya harus memelototkan matanya.
"L—lo?" rasanya lidah Lena terlalu kelu untuk menjawab Vano. Dia kira tidak ada yang mengetahuinya kecuali Sasa yang memang sudah tau dari awal.
Melihat reaksi Lena, Vano berdecak. "Bego," ucapnya seperti biasa akan mengeluarkan kata-kata pedas.
Lena itu tidak sadar apa gimana sih. Tiap hari cewek itu selalu bersama Ezra, dan mau dilihat sekilas pun orang akan tau kalau ada sesuatu di antara mereka.
Sedangkan Lena yang mendapatkan makian dari Vano mengelus dadanya sabar. Untung ia sudah terbiasa dengan kata pedas Vano, jadi dirinya tidak merasa tersinggung. "Ya masa Ezra sihh," gumamnya yang didengar Vano.
"Terserah, yang penting gue udah ngomong." Ucap Vano lalu beranjak dari duduknya.
"Ah anjirr, untung aja sahabat gue lo," gerutu Lena sambil mengangkat tangannya saat Vano sudah pergi.
Gadis itu menggigit kuku jarinya dengan raut wajahnya yang bingung. "Nyari pacar dimana sih?"