
"Len, lo gak pa-pa kan? Sorry ya gue baru bisa nanya sekarang, tadi timing nya belum pas soalnya," tanya Sasa sore itu. Sesuai yang dikatakan di chat tadi, saat ini Sasa dan Lova sedang berada di rumah Lena.
Gadis itu mendongakkan kepalanya. "Gak pa-pa, emang gue kenapa dah?" balasnya santai lalu kembali memainkan ponselnya.
Sasa langsung mendengus. "Halah, itu lo lagi sibuk hapus foto lo sama Dean, 'kan? Gak usah muna lo, nangis-nangis aja kali," kelakarnya. Sebenarnya dia jadi jengah sendiri saat sahabatnya itu yang selalu bersikap sok tegar.
Sasa tahu betul bagaimana perasaan Lena saat ini, hanya saja sahabatnya itu bukanlah tipe orang yang akan langsung menceritakan segala kesedihannya kepada orang lain, meskipun mereka sudah dekat sekalipun. Definisi harus di getok dulu baru diceritakan, itulah Lena.
"Cowok kayak gitu emang pantes di putusin," celetuk Lova menolehkan kepalanya.
"Tumben, dah kelar nonton?" tanya Lena saat melihat gadis itu yang menyimpan ponselnya.
"Lowbat," balas Lova singkat lalu bergeser untuk mendekat pada Lena dan Sasa.
"Heh! Awas ya, jangan molor dulu lo!" peringat Sasa menunjuk Lova. Tahu betul tabiat sahabatnya yang satu itu, kalau tidak nonton ya tidur.
"Ck, iya," balas Lova sekenanya.
Sasa memicingkan matanya menatap Lova memastikan ucapan gadis itu benar, lalu bangun dari posisi tidurnya dan memfokuskan dirinya pada Lena. Saat ini ada sahabatnya yang sedang membutuhkannya.
"Bener Len kata Lova tadi, keputusan lo buat mutusin tuh cowok emang udah yang paling bener, seriusan deh," ujarnya sambil mengangkat kedua jarinya merasa setuju dengan pendapat Lova.
"Ck, denger nih ya, lo tuh cantik, baik, pinter, famous juga, gak pantes tau gak buat nangisin cowok modelan kayak gitu," lanjut Sasa masih meyakinkan Lena bahwa keputusan sahabatnya itu tidaklah salah.
"Y—ya lagian yang nangis juga siapa sih...." gumam Lena memalingkan wajahnya. Sebenarnya sedari tadi dia memang sudah merasa sangat sesak dan ingin segera meluapkan kesedihannya, tapi sebisa mungkin dia harus menahan tangisnya.
Sasa menghela nafasnya lalu bergeser dan menangkup kedua pipi Lena, menatapnya dengan serius.
"Len, dengerin gue! Lo itu kalo emang udah gak kuat gak pa-pa nangis, gak pa-pa ngeluh, asal jangan lama-lama aja, wajar kok, gak dosa kok enggak, dan kalo emang lo gak mau cerita sama bokap nyokap lo it's ok, tapi satu yang harus lo inget! Lo masih punya kita Len, sahabat lo, kita bakalan selalu ada dan jadi pendengar yang baik buat lo. Selama ini gue selalu nungguin lo cerita tentang kehidupan lo tanpa harus gue yang mulai dulu, tapi nyatanya apa? Lo sama sekali gak ada cerita ke gue ataupun ke Lova, gue sedih loh Len, sebenarnya kita itu lo anggap sahabat apa enggak sih??"
Lena tersentak lalu menggelengkan kepalanya, setetes air mata pun mengalir di pipinya, dan sedetik kemudian dia memeluk Sasa erat sembari menumpahkan tangisannya.
Lova yang melihatnya tersenyum tipis lalu mengusap pundak Lena untuk menguatkannya. Dia tahu, sahabatnya tidak setegar itu.
"Lo harus selalu inget, gue dan Sasa gak akan kemana-mana," ucap Lova yang justru malah membuat tangisan Lena semakin pecah.
Sasa menarik Lova untuk bergabung walau awalnya gadis itu sempat menolak, tapi yang namanya Sasa dia tidak akan mendengar ataupun menerima penolakan. Alhasil mereka saling berpelukan tanpa ada yang berbicara untuk waktu yang cukup lama.
"Uu ... sayangg...." ucap Sasa sambil mengusap rambut Lena setelah mereka melepaskan pelukannya.
"Udah-udahh cup-cup, jangan nangis mulu dongg, nanti gue beliin permen deh, oke! Dah diem."
Lova yang mendengar celetukan Sasa langsung menjitak kepalanya. Dikira lagi ngehibur anak SD apa, yang kalo nangis disogok beli permen aja langsung diem. Dasar Sasa.
"Gue bingung Sa ... gue takut ... takut kalo selama ini tanpa sadar gue udah terlanjur terlalu bergantung sama dia nanti ke depannya gue harus gimana...." ucap Lena sembari mengusap wajahnya kalut.
"Ssstt ah, lo gak boleh ngomong gitu, sebelum dia hadir di kehidupan lo buktinya lo juga bisa, 'kan? Nah gue juga yakin banget nanti lo juga bakal terbiasa lagi, bahkan mungkin bakal lebih bebas dan happy," balas Sasa meyakinkan.
Meskipun Sasa dan Lova bisa dibilang masih baru mengenal Lena, tapi mereka sudah cukup dekat dan tahu betul seberapa kesepiannya gadis itu.
Bahkan mereka pun sering merasakan kasihan kepada sahabatnya itu. Sedari kecil sudah harus dipaksa untuk bisa hidup mandiri, melakukan apapun sendiri meskipun kedua orangtuanya masih ada dan lengkap, bahkan tak jarang gadis itu selalu dituntut untuk mengikuti setiap kemauan orangtuanya.
Kedua orangtua Lena memang tidak menyewa ART, meskipun mereka sangat sibuk. Karena mereka pikir putrinya bisa mengurus dan menghandle semuanya, apalagi di lihat dari kepribadian Lena yang tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Namun, Sasa dan Lova tahu, Lena tetaplah hanya seorang anak biasa yang butuh kasih sayang dari orang tuanya bukan hanya dengan sekedar diberi materi saja.
Karena itulah, kehadiran sosok Dean dalam hidup Lena seolah ada cahaya yang datang dalam kegelapan dan memberikan sedikit perubahan pada kehidupannya. Sehingga tanpa sadar membuat dia sering bergantung kepada pemuda itu. Jadi wajar saja jika saat ini Lena merasa sangat kehilangan.
"Lo tenang aja, pokoknya setiap lo butuh temen kita selalu siap kok buat nemenin lo, everything anytime anywhere, okey! Butuh temen ngoceh? Siap, butuh temen makan? Gass, pokoknya apapun anything for you babe," ucap Sasa seraya mengusap air mata Lena.
"Udah, sekarang lo gak usah nangis lagi, tunjukkin sama tuh cowok kalo mutusin dia itu emang udah keputusan lo yang paling bener, dan pernah percaya dan bergantung sama dia adalah kesalahan terbesar lo," tambah Lova menasihati.
Lena yang mendapatkan dukungan dari sahabatnya mencebikkan bibirnya terharu. "Aaa kaliaan ... sayang banyak-banyak pokoknya, sini-sini," ujarnya sambil merentangkan kedua tangannya.
Sasa dan Lova malah saling melirik lalu meringis. Sebenarnya mereka merasa sedikit enggan karena sebelumnya gadis itu menyusut ingusnya dengan tangannya langsung.
Namun, demi sahabatnya, Sasa dan Lova tetap berhambur dalam pelukan Lena lalu tertawa karena melihat wajah gadis itu yang basah dan berantakan sangatlah konyol di mata mereka.
"Makasih ya kalian udah selalu ada buat gue, makasih juga karena udah sabarr banget sama gue, pokoknya makasih makasih makasihh bangett, kalian emang sahabat terbaik guee," ucap Lena terharu.
"Halahh apasihh lo lebay ah, hahaha."
"Jijik."
"Biariin."
"Emm Len ... sebenernya ... lo suka, 'kan sama Ezra??"