
"Gue gak nyangka ternyata elo anaknya temen nyokap gue," ucap Lena sambil duduk di kursi taman.
Tadi dia meminta izin pada orangtuanya untuk meminta waktu berdua bersama Vano.
Ya, ternyata anak yang akan dikenalkan pada Lena adalah Vano, sahabatnya.
Vano juga ikut duduk di samping Lena, "sama."
"Tapi gue seneng sih ternyata elo orangnya," balas Lena menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Eh jangan salah paham dulu lo, maksud gue tuh gue seneng karena itu berarti kita bisa batalin perjodohan ini," ucapnya segera menjelaskan saat Vano menolehkan kepalanya.
"Hmm."
Lena mengangguk lalu mengubah duduknya menjadi menyamping. "Eh tapi Van, kok lo mau aja sih dijodohin? Ya meskipun mereka bilangnya mau ngenalin kita, tapi kan udah ketebak tuh pasti ujung-ujungnya mau jodohin kita," tanyanya dengan raut wajah serius.
"Siapa tau emang jodoh gue," balas Vano dengan wajah datarnya.
Lena langsung mendengus lalu kembali duduk menghadap ke depan.
"Tadinya tuh gue udah berencana buat kabur loh atau ngelakuin sesuatu yang bikin cowok itu ilfeel, nyampe dikeluarin dari KK juga gak masalah, asal gue bisa batalin perjodohan ini. Tapi ya cuma wacana sihh mana berani gue," ucapnya terkekeh saat Vano mendengus.
"Tapi sekarang gue lega sih karena ternyata orangnya itu elo, jadi gak perlu susah-susah buat ngulah biar bisa batalin perjodohan ini, 'kan?"
"Hmm," balas Vano sekenanya.
"Gue gak bisa bayangin deh gimana jadinya kalo gue beneran nikah sama orang yang bahkan gak gue suka, padahal gue udah punya impian bakal nikah sama cowok yang gue sayang, dan pastinya dia juga sayang sama gue." Lena melirik Vano yang masih duduk menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya. Tapi Lena tau pemuda itu sedang mendengarkan ceritanya.
"Lo bisa 'kan ngomong sama orangtua lo buat batalin perjodohan kita?"
Vano menoleh sambil menaikkan alisnya. "Kenapa gak lo aja?"
Lena menggelengkan kepalanya sambil menipiskan bibirnya. "Meskipun gue ngomong, orangtua gue gak bakalan batalin perjodohan ini, kecuali emang dari pihak cowoknya yang batalin," balasnya menjelaskan. Bagaimanapun juga Lena tau watak orangtuanya seperti apa.
Vano menganggukkan kepalanya paham. "Oke," ucapnya tak merasa keberatan.
"Beneran 'kan lo bisa batalin perjodohan ini?" tanya Lena memastikan sambil memicingkan matanya harap-harap cemas.
Sedangkan Vano sudah mendengus mendengar Lena yang terus berbicara dan bertanya padanya. "Iya," balasnya malas.
Lena langsung tersenyum lebar lalu menghembuskan nafasnya lega. "Ahhh ... lega banget gue, padahal tadi udah sempet beneran mau kabur anjirr."
"Lebay."
***
Ezra yang sedang berpatroli memicingkan matanya saat melihat seseorang yang sedang mengendap-endap, lalu mendengus geli dan menghampiri seseorang itu dengan langkahnya yang pelan.
Saat sudah sampai di belakangnya Ezra menarik tas Lena yang sedang mengintip dari balik dinding membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Eh Zra ... hehe lagi tugas ya? Sendirian aja nihh," tanya Lena basa-basi sambil menggaruk tengkuknya.
Sedangkan Ezra sudah mendengus. "Basa-basi lo terlalu basi."
Gadis itu mencebikkan bibirnya saat melihat Ezra yang sepertinya kesal. "Ya maap Zra, tadi tuh gue ketinggalan bis jadinya telat deh," ucapnya sambil mencuri-curi pandang melihat ekspresi Ezra.
Sebenarnya hari ini adalah jadwal Ezra dan Lena untuk bertugas keliling mencari siswa yang telat. Tapi karena Lena terlalu malas, akhirnya sengaja melewatkan bis pertama dan naik bis selanjutnya.
Ezra mengetuk dahi gadis itu. "Untung masih anak baru, jadi masih ada toleransi, kalo telat lagi lo tetep harus dihukum ya!" peringatnya.
"Siap Paketu," balas Lena tersenyum lebar sambil mengangkat tangannya memberikan sikap hormat.
Sedangkan Ezra hanya menggelengkan kepalanya, sepertinya merekrut Lena jadi anggota OSIS adalah keputusan yang salah. Setiap rapat pasti gak dateng, malah pergi ke perpustakaan.
Alesannya pasti gini. "'Kan yang jadi ketos sahabat gue yang paling baik, masa gak mau ngasih tau sahabatnya sih." Dia sampai sudah hapal betul saking seringnya Lena mengakatan itu.
Ezra mengacak poni Lena yang masih tersenyum. "Lo udah sarapan belom?"
"Belom nihh," balasnya menggelengkan kepalanya sambil mengusap perutnya.
"Yaudah yuk ikut gue," ucap Ezra seraya menarik tangan Lena.
"Kok kesini? Emang boleh ya, 'kan udah masuk," tanya Lena saat ternyata Ezra membawanya ke kantin.
Pemuda itu menarik kursi lalu duduk setelah sebelumnya menarikkan kursi untuk Lena. "Boleh lah orang laper masa gak boleh, emang mereka mau tanggung jawab kalo gue pingsan."
"Sengaja nunggu lo biar gak dikira jomblo,"
"Jomblo mah jomblo aja kali gak usah gengsi, gue juga jomblo," tepat setelah mengakhiri kalimatnya, Lena segera menoleh seraya melebarkan matanya.
Ternyata Ezra sedang menatapnya seraya tersenyum menaikkan alisnya. "Ngode nih?"
"A-apa sih, kan emang gue jomblo," balas Lena yang tidak bisa menyembunyikan gugupnya.
"Waduhh gimana dong mau pensiun gak? Mumpung kita sama-sama jomblo lohh," ucap Ezra yang malah semakin gencar menggoda Lena. Baginya cewek itu sangat lucu saat sedang gugup seperti itu.
Tiba-tiba saja Lena berjongkok, "Ekhemm ehh itu semut ada berapa yaa, 1 2 3..." ucapnya sambil menghitung semut yang lewat.
Sedangkan Ezra di belakangnya sudah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah absurd Lena.
"Hai Zra!"
Ezra menghentikan tawanya lalu menolehkan kepalanya, sedangkan Lena masih sibuk menghitung semutnya.
"Eh, Ris sini gabung," ucap Ezra pada cewek yang bernama Rissa itu dengan ramah.
Rissa menganggukkan kepalanya lalu duduk di samping Ezra. "Oh iya, makasih lohh kemarin udah nganter gue."
"Yoi, santai ajalah, lain kali kalo butuh temen telepon gue aja lumayan kan dapet makanan gratis," balas Ezra cengengesan.
Mendengarnya Rissa tertawa sambil menggeplak lengan Ezra. "Bisa aja lo."
"Kan emang gitu, kemaren gimana nyokap lo suka?"
"Suka kok, nyokap malah keliatan seneng banget, ternyata selera lo bagus juga."
Lena yang melihat interaksi Ezra dan Rissa sudah memasang wajah siap menghujat. Ezra lupa kali ya tadi dia dateng bareng siapa, ini lagi si Rissa masa Lena segede gaban gini gak keliatan, mana caper banget lagi.
Eh tapi tunggu, tadi cewek itu bilang makasih? Nganter? Maksudnya kemarin mereka abis jalan gitu?
"Dasar cowok, tadi aja baru gombalin gue, ternyata kemarin abis jalan sama cewek lain," dumel Lena sambil menekan-nekan semut yang dihitungnya.
"Udah gitu mendadak amnesia lagi,"
"Untung gue anti gombalan receh, mana segala pake nganter-nganter lagi."
Sibuk mendumel hingga Lena tak sadar posisinya saat ini sudah berada tepat di samping Ezra.
"Heh! Lo ngapain ngikutin semut bocahh, sini duduk," ucap Ezra sambil menarik tangan Lena lalu memberikan sepiring nasi goreng. "Nih dimakan, lo laper, 'kan?"
"Sok tau," balas Lena jutek.
"Itu buktinya di makan, mana lahap banget lagi," ucap Ezra menunjuk nasinya yang sudah habis separuh.
"Mubazir."
"Lo Lena ya?" Tanya Rissa tersenyum.
Lena melirik Rissa sebentar lalu kembali melanjutkan makannya. "Udah tau pake nanya," ketusnya.
Entah mengapa dia merasa kesal dan moodnya hancur saat melihat Rissa. Apalagi saat cewek itu tersenyum padanya, rasanya senyum itu seperti meledeknya.
Ezra yang mendengar nada bicara Lena yang berbeda mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Lena ketus pada orang yang mengajaknya berbicara, apalagi ini pertama kalinya mereka bertemu. "Lo kenapa dah?"
"Udah ya gue mau ke kelas, makasih sarapannya nanti gue ganti."
Ezra yang melihat Lena beranjak dari duduknya buru-buru menahan tangan gadis itu. "Bareng." Ucapnya.
Lena tertegun, tidak menyangka Ezra akan memilih ikut bersamanya ke kelas. Dia pikir pemuda itu akan melanjutkan obrolannya dengan Rissa.
"Ris gue sama Lena duluan ya, sorry," ucap Ezra setelah membayar makanannya lalu menarik tangan Lena.
Sedangkan Rissa hanya terperangah saat pemuda itu malah meninggalkannya.
Saat di koridor, Ezra menghentikan langkahnya lalu berbalik dan menatap Lena yang menunduk. "Kalo kesel bilang, gue orangnya kadang suka gak peka."
"Hmm?"