
Dua minggu kemudian.......
Seperti biasa, Zya menjalankan rutinitas paginya. Hari ini adalah hari dimana dia akan menemani boss dingin dan gila itu untuk meeting.
"Pagi kakak" sapa Eno menghampiri Zya di meja makan.
"Pagi boy" balas Zya.
"Kak Vahren mana?" tanya Eno saat tidak mendapati kakak laki laki nya di meja mekan.
"Kak Vahren sudah berangkat kerja boy, hari ini ada meeting penting katanya" jawab Zya.
Eno membalas dengan anggukan kepala tanda mengerti.
Setelah sarapan Zya dan Eno pergi ke tempat tujuan masing masing.
--------------------
AnggaraCorp
Saat sedang serius mengamati data dikomputer tiba tiba
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Zya.
"Pagi sayang" sapa El.
"Pagi juga" sapa balik Zya disertai senyum manis.
"Aku masuk dulu, mau kerja buat modal nikahin kamu" El cengengesan.
"Apaan sih" Zya malu malu.
Sekarang sudah pukul 10.00, sudah waktunya melakukan meeting. Meeting akan di lakukan di sebuah restoran.
Sesampainya di restoran tersebut El dan Zya langsung disambut oleh sekretaris dari klien mereka dan diantarkan menuju meja yang sudah di pesan.
Di bagian pojok sudah duduk seorang pria yang menjadi klien El menunggu kedatangan mereka.
"Selamat siang Mr.Reangga" sapa El berjabat tangan.
"Selamat siang Mr.Anggara" sapa reangga formal lalu melihat kearah Zya.
"Ini sekretatis saya Mr.Reangga namanya Zya" El memperkenalkan.
Zya bersalaman dengan lelaki paruh baya itu dan tersenyum formal.
Meeting mereka berjalan cukup lama sampai jam makan siang.
Setelah meeting selesai El dan Zya bergegas kembali kekantor, meninggalkan pak Reangga sendirian yang menatap kepergian Zya dengan pancaran tidak rela.
'Ini ayah sayang. Saking lamanya kita tidak bertemu bahkan kamu sampai tidak ingat wajah ayah. Ayah kangen kamu nak' ucap pak Reangga dalam hati.
Reangga segera pergi dari sana. Sesampainya di kediamannya ia menumpahkan segala rasa sakit yang dirasakannya.
Anak yang selalu dirindukannya bahkan tidak mengenali wajahnya sedikitpun. Saat ini kerapuhan menjalari seluruh jiwanya.
Dunia tidak akan tahu bagaimana sakitnya merindu tanpa bisa merengkuh. Semesta tak tau bagaimana pedihnya ingin melindungi tanpa bisa menggapai. Bahkan langit tak pernah merasakan beratnya berjuang tanpa ada tujuan.
Pria paruh baya itu masih setia meratapi dan menyesali keadaannya saat ini.
#########
Beberapa hari telah berlalu semenjak meeting yang dilakukan El, Zya, dan Mr.Reangga.
Hari ini hari libur. Vahren memilih mengisi hari liburnya dengan berolah raga di taman dekat kediaman Zya. Kalau Zya jangan ditanya, sudah pasti dia sibuk bersih bersih dan Eno kali ini lebih memilih membantu Zya.
Matahari sudah mulai meninggi. Pancaran sinar hangatnya mulai menaungi bumi. Vahren sudah merasa semakin lelah. Dengan keringat yang bercucuran ia mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan diri sejenak sebelum kembali ke apartement.
Tak lama setelahnya, sebuah tangan kekar menyentuh pundah Vahren. Dengan heran ia membalik tubuhnya untuk melihat pemilik tangan yang berada di pundaknya.
Vahren sangat kaget saat melihat siapa pemilik tangan itu. Pahlawan sekaligus orang yang telah menghancurkan hidup adiknya. Sungguh ini di luar dugaannya.
Ya..orang yang membuat Vahren kaget adalah Mr.Reangga. Klien El sekaligus ayah dari Vahren dan Zya.
"Vahren" panggil sang ayah memecah keheningan.
"Untuk apa anda datang lagi dalam kehidupan kami?" tanya Vahren tanpa sadar meneteskan air mata.
"Ayah minta maaf nak, ayah janji ayah akan menebus semua kesalahan ayah selama ini, ayah mohon maafkan ayah, jangan membenci ayah" ucap ayah memohon.
"Kenapa??, kenapa baru sekarang anda datang?, kenapa baru sekarang anda mencari kami?" tanya Vahren menuntut.
"Rasa sakit dalam hati saya bahkan tidak ada apa apanya dibanding sakit hati yang dialami adik saya" lanjut Vahren.
Vahren tidak berusaha kabur saat melihat ayahnya, dia ingin mendengar penjelasan beliau. Selain itu, ia juga tahu jika sebenarnya ayahnya masih peduli pada dia dan adiknya selama ini, ayahnya pergi karena paksaan ibunya, dia tahu itu.
"Ayah bisa menjelaskan semuanya nak, ayah tidak pernah melupakan kalian, ayah selalu mencari keberadaan kalian, maafkan ayah nak, beri kesempatan kepada ayah untuk memperbaiki dan menebus semuanya" pinta ayah.
"Anda tahu apa yang terjadi pada adik saya setelah kalian meninggalkan kami?, anda tahu betapa menderitanya kami saat itu?, sebelum saya memberi kesempatan kepada anda, dengarkan cerita saya terlebih dahulu" ucap Vahren.