Ice Boss

Ice Boss
3



Hari senin adalah hari berat untuk kebanyakan orang. Namun tidak dengan Zya, dia sudah bangun subuh tadi. Sekarang dia tidak tinggal sendiri lagi, di apartemen yang lumayan besar ini dia ditemani Rave yang kemarin resmi diangkatnya menjadi adek. Namanya Rave Arleno, orang lain memanggilnya Rave tapi Zya lebih suka memanggilnya Eno.


Sekarang pukul 6 pagi. Zya sudah selesai memasak. Eno berjalan menghampiri Zya di ruang makan.


"Pagi kakak" sapa Eno lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Zya.


"Pagi adek" jawab Zya.


"Kamu baru bisa sekolah besok, nggak apa apakan kalau hari ini diapartemen sendiri?" tanya Zya.


"Heem ngak apa apa" jawab Eno sambil mengangguk lucu.


Setelah pembicaraan tadi, mereka menyantap sarapan dalam hening. hanya ada suara dentingan sendok yang mengiringi sarapan mereka.


"Kakak berangkat dulu ya.. baik baik kamu di rumah" pamit Zya.


"Siap kak" jawab Eno.


"Ini uang jajan buat kamu, nanti siang makan di luar aja ya.. kakak pulang sore dan di rumah bahan makanan habis" jelas Zya mengulurkan uang 500 ribu pada Eno.


"Ini kebanyakan kak" jawab eno tidak enak.


"Nggak kok, siapa tau nanti ada kebutuhan mendadak jadi pegang aja" ucap Zya


"Terima kasih kak"


Eno tidak menyangka jika hidupnya akan berubah sedrastis ini setelah bertemu orang sebaik Zya. Dia pikir sudah tidak ada lagi orang yang peduli kepadanya. Bahkan Zya menganggapnya seperti keluarga kandung.


### AnggaraCorp ###


Seorang pria tampan penuh kharisma keluar dari mobil dan berjalan memasuki lobi. Tatapan dingin tak pernah hilang dari wajah tampannya.


"Pagi pak" sapa para karyawan yang dilaluinya. Tidak ada jawaban, hanya anggukan dengan muka dingin untuk menjawab sapaan sapaan itu.


Dia adalah Elios, CEO perusahaan tersebut. Dengan langkah panjang ia menuju lift khusus dan naik ke lantai 30 tempat ruangannya berada.


Ting


Lift terbuka, El melangkah menuju pintu ruangannya. Di lihatnya sekretarisnya sudah terlihat sibuk. El berhenti beberapa saat memperhatikan gadis itu. Gadis yang menumbuhkan getaran aneh di dadanya.


Ya.. dia menyadari bahwa perasaannya itu disebut CINTA. Dia mengakui itu. Namun, dia belum memiliki cara untuk mengungkapkannya.


"Pagi pak" sapa Zya membuyarkan lamunan El.


"Eh...emm pagi" jawabnya gelagapan lalu berlalu menuju ruangannya.


Jam makan siang tiba. Zya merapikan mejanya dan mengambil tas. Saat akan melangkah pergi, dia mendapat panggilan untuk masuk ke ruangan El.


"Bapak memanggil saya?" tanya Zya setelah tiba di hadapan El.


Zya terperanah melihat banyak sekali makanan memenuhi meja itu.


"Tapi pak.."


"Tidak ada penolakan" potong El.


Ya... seperti itulah saat Zya dan El bersama. Mereka seperti bertukar sifat. El yang biasanya dingin menjadi cerewet dan perhatian. Sedangkan Zya yang biasanya ramah menjadi cuek.


El dan Zya duduk di sofa dekat meja.


"Suapi aku" El menyodorkan makanan dan sendok kepada Zya.


"Ha....." Zya melongo melihat tingkah El.


"Suapi aku Zy...." ulang El.


"Baiklah" jawab Zya pasrah.


Zya menyuapi El hingga makanannya habis. Setelahnya, dia makan dengan diperhatikan El.


Setelah makanannya habis Zya membereskan bekas makan mereka.


"Terima kasih pak, saya akan kembali bekerja" ucap Zya bangkit dari duduknya.


Saat akan melangkah El menarik tangannya sehingga dia jatuh di pangkuan El. El memeluknya dari belakang dan meletakkan mukanya di ceruk leher Zya.


"Biarkan seperti ini sebentar, aku lelah" ucap El lirih.


Zya hanya diam, masih sedikit kaget.


15 menit berlalu


"Kembalilah, terima kasih" ucap El melepaskan pelukannya dan menggandeng Zya menuju pintu.


Di depan pintu El berhenti dan menghadap Zya.


"Selamat bekerja" ucapnya.


CUP


El mencium kening Zya lalu membiarkan Zya kembali bekerja.


Zya terbengong karena kaget dan tidak habis pikir dengan apa yang dilalukan bossnya, dan gara gara kejadian tadi jantungnya terus berdetak kencang.


"Ho...apa ini, apa aku sakit jantung ya.. aku perlu dokter" ucapnya lirih pada diri sendiri.