
Semilir angin menyapu wajah gadis manis yang masih menjelajah alam mimpi. Perlahan mata yang masih sangat berat itu terbuka akibat hawa dingin yang mengusik tidurnya.
Gadis itu berjalan dengan mata tertutup menuju jendela kamarnya lalu menutupnya. Ternyata tadi malam dia lupa menutup jendela kamarnya.
Gadis itu bernama Vezya Raveno Agasa. Biasa di panggil Zya. Seorang sekretaris CEO di perusahaan property nomor satu seAsia. Dia juga mempunyai usaha berupa distro dan restoran yang cabangnya sudah tersebar di kota kota besar di seluruh Indonesia, namun tidak banyak yang tau jika dia pemiliknya karena semua usahanya itu dipegang oleh orang kepercayaannya.
Here's to the ones that we got
Cheers to the wish you were here, but you're not
'Cause the drinks bring back all the memories
Of everything we've been through
Baru berbalik badan, lagu favoritnya mengalun menandakan ada panggilan masuk. Segera dia mengambil hp yang diletakkannya diatas nakas lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Selamat pagi pak" sapanya. Yang menelepon adalah pak boss.
"Iya pagi, kamu datang ke apartemen saya secepatnya"
"Tapi..."
"Saya tidak menerima penolakan" potong pak boss sebelum Zya menyelesaikan ucapannya.
Dengan kesal Zya masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual paginya.
Bossnya itu memang suka seenak jidatnya sendiri. Kali ini Zya harus merelakan hari liburnya lagi gara gara boss gila itu.
Setelah selesai mandi, Zya segera bersiap siap dan langsung melaju menuju apartemen bossnya.
Sesampainya di gedung apartemen elit tempat tinggal bossnya, Zya bergegas menuju lift dan naik ke lantai 20 tempat dimana apartemen bossnya berada.
Sesampainya di depan pintu, Zya mengetuk pintu berwarna hitam itu dan tak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan wajah pria yang ia akui sangat tampan tapi menyebalkan.
"Ayo masuk" ajak El mempersilahkan Zya masuk.
"Aku lapar" lanjutnya setelah duduk di sofa ruang tamu.
"Lalu?" tanya Zya singkat, heran dengan manusia yang satu ini.
"Masakin makanan buat aku" perintah El
"Saya bukan ART" jawab Zya ketus.
"Sudah berapa kali aku bilang, kalau kita sedang berdua jangan berbicara formal" balas El yang tidak di tanggapi Zya.
"Ayo lah Zya... aku ingin makan masakanmu, itu sebabnya aku menyuruhmu ke sini" lanjut El
Mengapa El jadi manja seperti ini, batin Zya.
"Baiklah" Zya sedang malas berdebat jadi dia mengiyakan saja permintaan El.
Setelah masakan yang Zya buat jadi, El langsung memakannya dengan sangat lahap dan tanpa tersisa sedikitpun.
"Masakanmu enak Zy, mulai besok aku perintahkan kamu untuk membawakanku sarapan buatanmu. Tidak ada penolakan."
Jika El sudah mengeluarkan kata yang terakhir itu maka Zya hanya bisa pasrah.
"Terima kasih" ucap El setelah makanannya habis dan hanya di balas deheman oleh Zya.
Setelah El menyelesaikan ritual makannya, Zya segera membersihan bekas makan dan memasak tadi. Dia ingin cepat selesai dan cepat cepat pulang.
Setelah semuanya selesai Zya pamit pulang dengan perasaan jengkel. Sebenarnya El menahannya tapi karena sifat keras kepala Zya, akhirnya El mengijinkannya.