
VAHREN POV
Satu jam yang lalu pesawat yang aku tumpangi mendarat di kota tempat adikku tinggal. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku menimang adikku tapi sekarang dia sudah dewasa.
Tak lama kemudian aku sampai di apartement adikku. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, pintu di buka dan nampaklah seorang remaja tampan dan sepertinya anak yang baik.
"Maaf...anda mencari siapa?" tanyanya.
Seketika muncul ide jail di kepalaku.
"Aku mencari Zya adikku. Siapa kau, kenapa bisa ada di apartement adikku?" tanyaku tegas dengan tatapan tajam.
"Maaf..." jawabnya ketakutan.
Saat aku sedang menjahili adik baruku, Zya adik kesayanganku datang dan melerai kami. Acara dilanjutkan dengan sarapan bersama.
Hari ini Zya bekerja. Keperluan untuk pendaftaran sekolah Eno belum selesai jadi Eno menemaniku di rumah.
Eno benar benar anak yang baik. Apapun yang dia lakukan aku seperti bisa merasakan ketulusannya. Aku juga sudah meminta orang mencari informasi tentangnya dan benar dia orang yang baik.
Aku dan Eno sedang menonton tv.
"Dek..." panggilku.
"Ya kak?" jawabnya.
"Kalau kakak lagi nggak bisa jenguk dan nemenin kalian di sini, kamu jagain kak Zya ya... mungkin setelah ini kakak akan sangat sibuk" ucapku.
"Siap kak" jawabnya tersenyum tulus.
"Kak Zya itu memang terlihat kuat tapi sebenarnya dia itu sangat rapuh. Kakak harap semoga kamu bisa menjadi penguat untuk kak Zya" lanjutku.
"Iya kak aku bakalan jagain kak Zya kok" jawabnya.
"Good boy" timpalku.
VAHREN POV END
--------------------------------
AnggaraCorp
Sekarang jam makan siang dan pak boss malah memanggil Zya untuk keruangannya.
"Huh...boss menyebalkan" rutuk Zya dalam hati.
tok tok tok
Zya mengetuk pintu ruangan CEO.
"Masuk" jawab orang di dalam ruangan.
Tanpa menunggu lama Zya segera memasuki ruangan.
"Ada apa pak" tanya Zya ketus.
"Kemarilah" perintah El.
Zya mendekat seperti perintah El. Saat sampai di dekat El tangan Zya di tarik yang menyebabkan Zya terduduk di pangkuan El. Zya mematung karena terkejut sedangkan El malah memeluk Zya dan menyandarkan kepalanya di bahu Zya.
"Apa yang kau lakukan" teriak Zya.
"Hei.. tenanglah jangan berteriak sayang aku tidak akan macam macam" ucap El.
Zya kembali mematung.
"Menikahlah denganku" ucap El bagai petir di sang bolong dan membuyarkan lamunan Zya.
"Apa kau sudah gila" teriak Zya, bodoamat jika dia dianggap tidak sopan.
"Aku serius" jawab El menekankan ucapannya.
"Atas dasar apa kau ingin aku menikah denganmu?" tanya Zya.
"Kau pikir aku perempuan macam apa" lanjut Zya menahan kesal.
"Karena aku mencintaimu" balas El tegas.
"Ha.....mana mungkin?" tanya Zya.
"Ya memang itu kenyataannya" jawab El mantap.
"Crazy...." balas Zya melangkah keluar meninggalkan ruangan El.
'Huh....dia tidak mempercayaiku. Harus dengan cara apa aku meyakinkanmu sayang.... bahkan aku sudah menunggumu selama 3 tahun' batin Zya.
El memilih pulang kerumah karena perdebatannya dengan Zya membuatnya malas melakukan apapun.
--------------------------
RUMAH ORTU EL
Sesampainya di rumah El langsung masuk ke kamar dengan muka di tekuk.
Mama yang melihat anak tunggalnya pulang dengan keadaan buruk segera menuju dapur untuk membuatkan minuman.
"El...boleh mama masuk?" tanya mama El di depan pintu kamar El.
"Yes mom" jawab El.
Mama El masuk membawakan teh hangat untuk El.
"Minum dulu El" menyodorkan segelas teh pada El.
"Terima kasi mam" ucap El.
"Yes boy...apa yang membuat wajahmu jelek?" tanya mama El.
El menimang nimang apakah dia harus menceritakannya pada mama atau tidak, tapi akhirnya El memilih bercerita pada mama nya.
"Mam dia menolakku" ujar El.
"Hah....siapa maksudmu El?" tanya mama bingung.
"Aku menyukainya dari 3 tahun lalu mam, tapi aku tidak berani mengatakannya. Dan tadi aku mengajaknya menikah tapi dia menolakku" ucap El.
"Bagaimana bisa, memang selama ini bagaimana hubungan kamu dan gadis itu?" tanya mama penasaran.
"Selama ini... ya... biasa saja seperti bos dan sekretaris" jawab El polos.
"Dan kau tiba tiba mengajaknya menikah?" tanya mama tak habis pikir.
"Iya.." jawab El cepat.
"Dasar laki laki gila" ucap mama kesal dan langsung meninggalkan El.
'Apa aku salah, mengapa semua orang mengataiku gila?' batin El masih tidak mengerti.