
Vahren memang sudah memaafkan ayahnya tetapi dia butuh menunggu waktu yang tepat untuk mempertemukan ayahnya dengan adiknya.
Terbesit sedikit keraguan dalam diri Vahren untuk mempertemukan dua orang terkasihnya itu. Apakah Zya akan bahagia atau malah sedih itu yang menjadi pertimbangannya.
🌚 🌚 🌚
Jam masuk kantor masih sekitar 1 jam lagi, tetapi Zya sudah duduk manis di balik meja kerjanya dan berkutat dengan kertas kertas berharga perusahaan.
Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang berat untuk Zya. Sekarang tepat tanggal 12 November, dimana hari tersebut di Indonesia di peringati sebagai hari ayah. Setiap hari ini tiba maka Zya akan sangat merindukan ayahnya.
Di lobi perusahaan seorang pria tampan turun dari mobilnya dan berjalan dengan muka dingin dan datar seperti biasanya. Walaupun sang pria yang merupakan CEO perusahaan tersebut orang yang dingin dan terkesan angkuh namun para kaum hawa tak henti mengidolakannya karena ketampanan wajah yang dimiliki. Ya.. pria itu adalah El, kekasih Zya.
Tak beberapa lama El sampai di depan Zya yang terlihat sangat sibuk tapi dari mukanya terlihat lesu. Sampai beberapa menit berlalu dan Zya masih tidak menyadari kehadiran El.
Dengan tiba tiba El menarik tangan Zya lembut dan membawanya masuk ke ruangannya. Zya yang masih kaget belum begitu sadar dan menurut saja pada orang yang menariknya.
El mendudukkan dirinya di sofa ruang kerjanya lalu menarik Zya sampai tersuduk dipangkuannya lalu dipeluknya dari belakang. Perlahan Zya mulai sadar situasi.
"Kok aku dibawa kesini?, kan mau kerja" ucap Zya.
"Kamu kenapa sayang kok kelihatannya lesu gitu?, kamu sakit?" tanya El.
"Enggak kok aku nggak papa."
"Kamu lagi ada masalah ya?, cerita sama aku!" pinta El.
"Enggak"
"Jangan bohong sayang, aku tuh nggak tenang kalau lihat kamu kaya gini" ucap El.
"Maaf ya.. aku belum bisa cerita sama kamu" jawab Zya.
"Yaudah nggak papa, apa yang bisa aku lakuin biar kamu nggak sedih lagi?" tanya El.
"Em.... mau nggak nanti malem nemenin aku ke suatu tempat?"
"Siap sayang" balas El lalu mengecup puncak kepala Zya.
"Yaudah aku kerja dulu ya" pamit Zya dan di jawab El dengan anggukan disertai senyuman.
🌚 🌚 🌚
Malam pun tiba. Zya mengajak El ke tempat yang cukup indah. Tempat ini berada di atas tebing. Dari sini bisa terlihat lampu lampu kota yang membentuk suatu panorama indah. Di sebuah sisi terdapat bangunan semacam pendapa tapi tidak terlalu besar dan terdapat piano di tengah tengahnya.
"Aku baru tahu ada tempat seindah ini di sini?" ucap El.
Zya menarik El dan mengajaknya duduk di sebuah bangku.
"Ya...kakak ku yang membuatnya" jawab Zya tersenyum.
Kamu kok ngajak aku kesini yang?, kenapa?" tanya El.
"Kamu tahu.. hari ini adalah hari ayah. Aku sangat merindukan beliau. Di disini lah aku setiap hari ini tiba. Aku akan mempersembahkan sebuah lagu dan karena aku tak tau beliau ada di mana maka laguku ku persembahkan untuk kakak ku selama ini" cerita Zya dengan mata berkaca kaca mengingat semua kenangan manis yang dulu pernah ada.
El membawa Zya kedalam pelukannya dan menenangkannya. Sebelum pergi Zya sudah memberi tau kakaknya.
Vahren sebenarnya datang, dia mengajak sang ayah agar tau betapa besar rasa rindu adiknya kepada beliau. Namun, mereka hanya akan menyaksikan dari jauh.
Dentingan piano mulai terdengar dan suara merdu Zya mulai melantunkan lirik demi lirik.
*Teringat masa kecilku
Indahnya saat itu
Buatku melambung
Disisimu terngiang
Hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi
Serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi
Yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu
Jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan
Dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku
Terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah sampaikan
Sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji
Tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya
Ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Andaikan detik itu
Kan bergulir kembali
Kurindukan suasana
Basuh jiwaku
Membahagiakan aku
Yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu
Yang pernah terlewati*
Air mata mengalir di pipi Zya sembari terlantun lagu yang dia nyanyikan.