
Beberapa hari telah berlalu...
Pagi pagi sekali di rumah El sudah terjadi keributan karena datangnya si pengacau kecil. Anak dari sepupu El akan mengacau di rumahnya selama satu minggu ke depan karena orang tuanya dinas ke luar kota.
"Ayahhhh...... bangunnnnnnnn" teriak anak kecil bernama kevin di telinga El.
(Kevin memang dari dulu memanggil El dengan sebutan ayah).
"Iya... ini ayah bangun, sekarang Kevin turun dulu ya tunggu ayah di meja makan ayah mau siap siap dulu" jawab El menahan kesal.
"Siapp ayah jelek" jawab Kevin lalu berlari keluar. El hanya bisa mendengus kesal.
#####
"Pagi ma, pagi pa, pagi boy" sapa El saat sampai di meja makan.
"Pagi" jawab mereka bersamaan.
"Ayah aku ikut ayah kerja ya?" mohon Kevin.
"Kenapa nggak di rumah aja?" tanya El.
"Oma akan pergi arisan ayah, aku tidak mau ikut itu membosankan" jawab Kevin cemberut.
'Bahkan anak kecil pun tau kalau arisan itu membosankan' pikir El.
"Baiklah.. tapi kau tidak boleh nakal" putus El.
"Siap ayahhh" jawab Kevin lantang.
"Kantor bagaimana El?" tanya papa.
"Sejauh ini baik baik aja pa" jawab El.
"Mantu mama kok nggak pernah kamu ajak ke sini?, apa kamu ditolak lagi?" ejek mama.
"Mama kalo ngomong sembarangan" sungut El.
"Ya makanya ajak kesini dong, mama juga pengen kenalan"
"Iya nanti kalo nggak sibuk, yaudah El berangkat dulu ayo boy"
El dan Kevin berangkat menuju kantor.
#####
Di perjalanan menuju kantor kali ini tidak hening seperti biasanya, celotehan Kevin yang rasa ingin tau nya begitu besar menghiasi suasana pagi ini.
"Ayah... Kevin pengen ice cream" pinta Kevin.
"Ini masih pagi nanti sakit perut, nanti siang aja ya" bujuk El yang diangguki Kevin dengan wajah cemberut.
"Kenapa Kevin tiba tiba mau ikut ayah kerja?, biasanya nggak mau" tanya El.
"Oma bilang katanya kalo Kevin ikut ayah kerja nanti ketemu bunda Kevin" jawab Kevin.
'Itu sih alasan mama aja biar nggak di ganggu Kevin' pikir El.
"Ayah emang bener kalo Kevin punya bunda?" tanya Kevin.
"Iya.. nanti ayah kenalin sama bunda" jawab El.
"Bunda Kevin cantik nggak yah?"
"Cantik dong... banget malah"
Tanpa terasa ternyata mereka sudah sampai di lobi kantor. El segera keluar dari mobil dan menuju ke pintu sebelah Kevin lalu membuka dan menggendong Kevin.
"Nggak boleh nakal oke?" peringat El.
"Siap kapten" jawab Kevin.
El memasuki lobi dengan muka dingin dan menggendong Kevin. Kehadiran Kevin pagi ini membuat semua orang bertanya tanya, siapa anak kecil itu?
Semua mata memandang kearah El dan Kevin, tapi El tidak mau ambil pusing soal itu. Dengan sikap bodo amat El memasuki lift khusus yang membawanya menuju tempat dimana ruang kerjanya berada.
"Ayah.. Kevin mau jalan sendiri" seru Kevin saat keluar dari lift.
Zya yang mendengar suara anak kecil segera menoleh dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui yang di panggil ayah oleh anak kecil itu adalah atasan yang merangkap sebagai kekasihnya.
Berbagai spekulasi muncul di dalam kepala kecilnya. El sudah punya anak?, El sudah menikah dong berarti, siapa istrinya, apa selama ini aku merebut suami orang?, atau jangan jangan El duda?, berbagai pertanyaan terus muncul sampai..
"Heyy sayang.. kenapa bengong?" tanay El yang sudah ada di depannya.
Zya mencari keberadaan anak kecil tadi tapi tidak menemukannya, dimana anak kecil itu?, apa tadi hanya halusinasi? pikirnya.
El yang melihat muka kaget Zya sambil mengedarkan pandangan mengerti apa yang ada di fikiran Zya saat ini.
"Kamu nyari Kevin?, udah aku suruh masuk ruanganku dia" ucap El.
"Hah.. Kevin?" cengo Zya.
"Iya sayang... anak kecil yang sama aku tadi namanya Kevin" jelas El.
"Kamu udah punya anak?" tanya Zya hati hati.
"Bwahahahaahha....." El menanggapinya denga tawa.
"Kok ketawa sih.. bukannya jawab" kesal Zya.
"Dia bukan anak aku sayang.. dia anak sepupu aku dansekarang dititipin ke aku karena ortunya ada perjalanan bisnis" jelas El.
"Dia manggil kamu ayah" ucap Zya.
"Emang iya dan dia bakal manggil kamu bunda"
blusshh
El yang melihat wajah Zya memerah mendaratkan kecupan di dahi Zya dan..
blusshh
Muka Zya semakin memerah.
"Bye sayang aku kerja dulu" ucap El melangkah menuju pintu ruang kerjanya meninggalkan Zya yang masih mematung.