Ice Boss

Ice Boss
4



Hari ini Zya pulang tepat waktu. Tadi pagi Zya sudah berjanji kepada Eno akan membawanya berbelanja pakaian. Eno besok sudah bisa mulai bersekolah. Zya mendaftarkan Eno di sekolah bertaraf internasional karena menurut informasi yang Zya dapat Eno dulu siswa berprestasi yang putus sekolah karena faktor ekonomi setelah dinyatakan naik ke kelas 12.


Eno memang sudah besar tapi tingkahnya kadang masih seperti anak kecil. Hidup Zya lebih berwarna setelah ada Eno. Melihat Eno seperti berkaca pada kehidupannya dahulu. Nasib mereka sama walaupun jalan hidupnya berbeda.


~Apartemen Zya~


"Eno...." panggil Zya berjalan memasuki pintu apartemen.


"Eno...." panggil Zya lagi tapi masih tidak ada jawaban.


Zya mencari keberadaan Eno dan ternyata anak itu tertidur di ruang keluarga dengan tv yang masih menyala menampilkan kartun tom and jerry.


"Hey... bangun dek" ucap Zya menepuk pipi Eno. Zya malah merasa seperti mempunyai bayi besar.


"Hmmm" gumam Eno perlahan membuka matanya.


"Kakak kapan pulang?" tanya Eno.


"Barusan, mandi sana kan kita mau belanja" ucap Zya.


"Iya" jawab Eno beranjak menuju kamarnya.


 ~~~~~


Sesampainya di mall Zya mengajak Eno ke toko pakaian dan perlengkapan sekolah. Setelah 1 jam berkeliling mereka memutuskan untuk makan di salah satu restoran.


Zya dan Eno sedang menunggu pesanan. Tiba tiba ada orang yang duduk disebelah Zya tanpa permisi. Zya menoleh dan terkejut dengan siapa yang ada disampingnya.


"Kamu sedang apa disini" tanya El.


"Bukan urusan anda" jawab Zya ketus.


"Semua yang berhubungan dengan mu itu urusanku" ucap El.


"Siapa anda?" tanya Zya kesal.


JLEBB


"Aku kan calon suamimu" jawab El santai.


"Ekhemm..." belum sempat Zya protes suara deheman Eno lebih dulu mengintrupsi mereka.


 


"Hai om, kau masih ingat aku?" tanya Eno pada El.


"Hai boy tentu saja, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya balik El.


"Aku jauh lebih baik semenjak bertemu kak Zya" jawab Eno.


El bingung, tidak mengerti dengan ucapan Eno. Sedangkan Zya bingung melihat interaksi dua pria beda generasi itu.


"Kau mengenalnya Eno?" tanya Zya.


"Tidak, tetapi dulu om ini pernah menolongku kak" jawab Eno.


"Apa aku setua itu boy, hingga kau memanggilku om?" tanya El.


"Terserah kau saja" balas El pasrah.


Setelah makan mereka berpisah dan pulang ke rumah masing masing. Sesampainya di apartemen Zya dan Eno langsung membersihkan diri dan setelah itu mereka menonton tv di ruang keluarga ditemani berbagai macam camilan.


"Eno" panggil Zya.


"Iya kak" jawab Eno.


"Kakak punya seorang kakak laki laki, namanya kak Vahren dan besok dia akan berkunjung kemari" ucap Zya.


"Apa dia akan menyukaiku?" tanya Eno takut.


"Dia akan menyukaimu, percaya sama kakak" ucap Zya menenangkan.


"Bagaimana jika dia tidak menyukaiku dan malah mengusirku?" tanya Eno lagi.


"Dia akan menyukaimu dek, kau kan anak yang baik" kata Zya berusaha menenangkan Eno.


Setelah mengobrol panjang Zya dan Eno memutuskan untuk tidur.


 


---------


Keesokan Paginya


 


Zya dan Eno sedang sarapan tiba tiba terdengar suara katukan pintu.


"Biar aku yang membukanya" pinta Eno.


"Baiklah" jawab Zya.


Setelah membuka pintu Eno mendapati seorang lelaki tampan berdiri di depannya.


"Maaf...anda mencari siapa?" tanya Eno sopan.


"Aku mencari Zya adikku. Siapa kau, kenapa bisa ada di apartement adikku?" tanya Vahren tegas dan tatapan tajam.


"Maaf" jawab Eno ketakutan.


Zya yang mendengar suara kakaknya segera beranjak dari meja makan menemui kakaknya. Saat sampai di depan, Zya mendapati kakaknya sedang menjaili Eno dan membuat eno ketakutan.


"Sudahlah kak... jangan menjailinya, lihat dia sangat ketakutan" ucap Zya.


"Bwahahaahha....." Vahren tertawa kencang membuat Eno heran dan Zya geleng geleng.


"Maafkan kakak boy, kakak hanya bercanda" ucap Vahren merangkul Eno.


"Owh... aku sangat takut" jawab Eno.


"Sudahlah lebih baik kita sarapan sekarang" timpal Zya


Mereka semua berjalan menuju meja makan dan melanjutkan sarapan yang tertunda tadi.