Ice Boss

Ice Boss
8



Di negara yang berbeda seorang pria paruh baya memandangi sebuah foto yang menampilkan gambar seorang gadis kecil sangat cantik di dalam gendongan pria kecil yang beberapa tahun lebih tua.


'Hai sayang.... apa kalian baik baik saja nak? ayah sangat merindukan kalian. Maaf kan ayah yang sudah meninggalkan kalian nak. Di mana kalian sekarang? Andai waktu bisa di putar kembali ayah tidak akan pernah meninggalkan kalian nak'


Hanya ratapan dan penyesalan yang bisa diungkapkan oleh pria paruh baya itu setiap harinya.


Dia sudah bertekat akan mencari keberadaan putra putrinya dan menebus semua kesalahannya selama ini. Dia yakin bahwa putra dan putrinya masih hidup. Namun, semesta seperti enggan membantunya. Walaupun sudah banyak sekali orang yang dikerahkan untuk mencari keberadaan putra putrinya tapi sampai sekarang hasilnya masih nihil.


Dulu dia memang sangat bodoh karena mau saja diajak istrinya yang sangat gila harta itu untuk pindah ke luar negeri dan meninggalkan buah hati mereka.


Bahkan perbuatannya melebihi kejahatan orang tua tiri. Dia masih tidak habis fikir kenapa istrinya tega meninggalkan anak mereka begitu saja, itu anak kandung mereka dan bodohnya dia mengikuti kemauan istrinya.


Sekarang dunianya sudah hancur. Istri yang sangat di cintainya meninggalkannya dan menikah dengan pebisnis yang dulu lebih kaya darinya dan sampai sekarang dia belum bisa menemukan keberadaan putra putrinya.


tok tok tok


Suara ketukan pintu menyadarkannya dari lamunan.


"Masuk" perintahnya.


"Selamat siang tuan, kami sudah menemukan keberadaan putra dan putri tuan" lapor sang sekretaris.


Seketika air mata kebahagiaan di sertai senyuman muncul di wajah pria paruh baya itu. Harapan hidup baru seolah menariknya agar bangkit.


Sang sekretaris ikut menyunggingkan senyumnya. Sudah sangat lama atasannya itu tidak pernah menyunggingkan senyum kebahagiaan. Semoga ini awal kebahagiaan baru untuk atasannya.


"Benarkah.. dimana mereka sekarang?" tanyanya antusias.


"Menurut data yang kami dapat mereka ada di negara Indonesia, tetapi mereka tinggal di kota yang berbeda. Putra tuan di kota X dan putri tuan di kota Z" jelas sang sekretaris.


"Saat ini putra tuan sedang ada di kota Z untuk menengok adiknya dan satu lagi, mereka memiliki seorang anggota keluarga baru yang diangkat menjadi adik putra dan putri tuan" lanjut sekretaris itu.


"Apa kita ada jadwal kunjungan bisnis ke kota Z?" tanya pria itu.


"Ada tuan, dua minggu lagi kita ada kunjungan untuk kerja sama dengan perusahaan AnggaraCorp" jawab sekretaris bernama Putra itu.


"Baiklah putra atur semuanya agar saya bisa sekalian berlibur di sana" perintah atasannya.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" Putra meninggalkan ruangan atasannya untuk mengurus semua perintah tuannya.


'Semoga kalian mau memaafkan ayah sayang' batin pria itu.


Kembali ke belahan bumi sebelah


AnggaraCorp


Setelah makan siang bersama masih ada waktu istirahat 30 menit untuk El dan Zya.


El dan Zya menghabiskan waktu istirahat mereka di ruangan El, sekedar untuk bersantai merenggangkan otot.


"Yang.." panggil El menoleh pada Zya yang duduk di sampingnya.


"Hmmm.." jawab Zya masih memperhatikan hp.


"Sayang" panggil El lagi.


"Hmm.." jawab Zya tetap fokus pada hp.


El yang kesal merebut hp Zya dan menjauhkannya. Lalu Hap.. El memeluk Zya erat.


"Ada apa?" tanya Zya akhirnya.


"Kamu tuh diajak ngomong malah asik sendiri sebelkan aku jadinya" sewot El.


"Maaf deh.. emang ada apa sih?" tanya Zya lagi.


"Dua minggu lagi kita ada meeting kerja sama denga perusahaan luar, aku mau kamu dampingin aku" kata El.


"Tumben...biasanya kalau ada meeting kamu berangkat sendiri" jawab Zya cuek.


"Ih...ga gitu sayang. Beneran deh kali ini aku butuh bantuan kamu. Mau ya.....?" bujuk El.


"Hmm.." jawab Zya.


"Hmm apa sayang?" kata El menggoda.


"Iya.......puas" jawab Zya ketus.


"Ketus amat buk... jadi tambah sayang" kata El.


"Gausah ngegembel deh.." jawab Zya.


"Iya nyonya.. galak amat" El mengalah.


Setelah perdebatan itu jam istirahat selesai dan mereka kembali bekerja.