Ice Boss

Ice Boss
2



Sebenarnya penghasilan dari usaha yang dimiliki Zya lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya. Namun, entahlah.. Zya ingin merasakan bekerja pada orang lain. Memang menjadi seorang bawahan tidak mudah karena mendapat tekanan dari atasan sehingga tidak bisa bebas, tapi itulah Zya dia senang bekerja yang dibatasi deadline. Zya bilang dikejar deadline itu membuatnya semakin semangat untuk bekerja.


Hari ini adalah hari libur Zya bekerja di kantor. Jadwal Zya hari ini adalah mengecek salah satu restorannya yang berada di kota ini. Walaupun tadi pagi moodnya sempat down karena gangguan dari pak boss, siang ini moodnya sudah kembali membaik.


Setelah bersiap-siap Zya segera menuju mobil dan berangkat takut kesorean.


"Selamat siang pak" sapa Zya kepada pak satpam saat melewati posatpam.


"Selamat siang mbak" jawab pak satpam.


Sesampainya di restoran Zya memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam restoran. Baru memasuki restoran Zya mengucapkan syukur berkali kali karena restorannya tidak pernah sepi pengunjung, apa lagi saat jam makan siang seperti sekarang ini.


Zya melangkahkan kakinya menuju ruangan Rere, orang yang dipercayanya untuk mengelola restorannya.


Dari pembicaraannya dengan Rere barusan membuat Zya tersenyum semakin lebar. Bagaimana tidak, restorannya bulan ini mengalami peningkatan yang signifikan dan beberapa menu baru menjadi menu favorit para pengunjung.


Zya sekarang sedang duduk di meja dekat dinding kaca yang menghadap jalan. Dia menikmati jus mangga sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan. Tanpa sengaja pandangannya terfokus pada lelaki remaja yang berdiri di samping sampah depan reatoran.


"Sedang apa remaja itu?" batin Zya.


"Apa yang kamu lakukan dek?" tanya Zya saat sudah berdiri dibelakang remaja itu.


Remaja itu terlihat terkejut dan hendak lari, tapi Zya segera menahannya.


"Hey.. kenapa kamu mengorek tempat sampah ini dek, ini kotor lho" ucap Zya lembut.


"Maaf kak, aku sedang mencari makanan" jawab remaja itu. Seketika Zya terdiam, teringat masa lalunya.


"Kamu mau makan kan?, ayo ikut kakak" ajak Zya.


"Tapi kak..."


"Tidak ada tapi tapian" ucap Zya memotong omongan remaja itu lalu menarik lembut tangan remaja itu untuk mengikutinya.


Remaja itu hanya pasrah saat ditarik Zya, "kakak ini sepertinya baik" begitu pikirnya.


Zya membawa remaja itu ke salah satu meja private karena takut remaja itu minder jika ia mengajaknya ke meja umum.


Zya memesankan memesankan makanan untuk remaja itu.


"Kak maaf, tapi aku tidak punya uang" ucap remaja itu.


"Tenang saja, kakak akan mentraktirmu" jawab Zya mengulas senyum.


Sambil menunggu makanan datang, Zya mengajak remaja itu mengobrol. Dari obrolan mereka Zya mengetahui bahwa nama remaja itu adalah Rave dan dia adalah anak yatim piatu.


Setelah makanan Rave datang, Zya pamit sebentar. Dia pergi ke ruangannya yang ada di restoran itu untuk menelfon kakaknya. Zya memiliki kakak laki laki yang bernama Vahren Elvano Agasa. Lelaki yang menjadi sandaran Zya selama ini.


tuutttt ttuutttt tttuuuttt


"Halo" sapa orang diseberang telepon.


"Kakak bagaimana kabarmu?" ucap Zya.


"Kakak baik dek.. bagaimana keadaan mu?" tanya Vahren.


"Adek baik kak, kak Adek mau bicara sesuatu" ucap Zya.


"Iya katakan saja" balas Vahren.


Zya menceritakan tentang kejadian pertemuannya dengan Rave dan meminta izin tentang rencananya yang ingin menjadikan Rave adik angkat mereka.


"Kamu serius dek?" tanya Vahren.


"Adek serius kak, barusan adek sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya dan semua yang dia katakan itu benar adanya, dia orang yang baik dan jujur kak" jawab Zya menjelaskan.


Jangan tanyakan keakuratan informasi yang Zya terima dari orang kepercayaannya, karena orang yang bekerja pada Zya adalah orang yang handal.


"Ya sudah kalau itu keputusanmu, kakak percaya sama kamu" ujar Vahren mendukung.


"Terima kasih kak, aku tutup dulu ya" ucap Zya mengakhiri.


Dari pertama melihat Rave, Zya sudah menyukai kepribadian remaja itu. Dan dari cerita Rave tadi Zya ada rasa ingin melindungi remaja itu. Zya tidak gila dengan mencintai Rave yang usianya sangat jauh dari dia, rasa yang dimiliki Zya hanya rasa seorang kakak kepada adiknya.