Ice Boss

Ice Boss
10



"Anda tahu apa yang terjadi pada adik saya setelah kalian meninggalkan kami?, anda tahu betapa menderitanya kami saat itu?, sebelum saya memberi kesempatan kepada anda, dengarkan cerita saya terlebih dahulu" ucap Vahren.


"Jujur saya tidak pernah membenci anda, tetapi saya marah dan kecewa kepada anda. Orang bilang seorang ayah adalah cinta pertama untuk putrinya tapi anda malah menjadi orang pertama yang menyakiti hati adik saya. Dulu adik saya orang yang ceria, setiap hari senyum tidak pernah luntur dari wajahnya, tapi itu dulu. Sekarang semuanya sudah berubah, senyum itu tidak pernah terlihat lagi, kebhagiaan hanya tinggal kenangan, semua berubah semenjak hari itu. Setiap hari saya berjuang keras. Apapun saya lakukan agar senyum di wajah princess saya kembali, tapi semua sudah hilang. Princess kecil saya sudah hilang. Hanya senyum palsu yang saya lihat setiap harinya. Hati saya sakit melihat itu. Adik saya rapuh dan saya tidak bisa melakukan apapun. Kemana kalian saat kami membutuhkan sosok ayah?, kemana kalian saat kami membutuhkan sosok ibu?, kemana kalian saat kami butuh sandaran?, kemana kalian saat adik saya sakit dan menangis tanpa henti memanggil kalian?, Kami berjuang melawan kejamnya kehidupan tanpa tujuan. Anda tahu... bagaimana perasaan saya disaat adik saya menangis sepulang pengambilan raport karena teman temannya didampingi orang tua sedangkan dia hanya punya saya?, hati saya sakit. Mungkin untuk menjadi sosok kakak dan sahabat saya berhasil, tetapi bagaimanapun saya berusaha saya tidak pernah mampu menjadi sosok ayah dan ibu untuk dia. Hati saya hancur saat melihat dia menangis dalam diam di setiap malam. Saya sakit menerima persembahan lagu sayang dari dia saat hari ayah atau hari ibu. Tapi saya berusaha tegar. Saya harus kuat karena tujuan hidup saya hanya satu, membuat dia bahagia. Jika kedatangan anda saat ini hanya untuk membuka luka lama itu saya mohon jangan lakukan itu. Saya hanya ingin Zya bahagia. Saya tidak mau dia meneteskan air mata untuk yang kesekian kalinya. Hanya dia yang saya punya. Dia alasan saya tetap hidup dan berdiri sampai saat ini, maka jika anda membuat dia merasa sakit lagi itu sama saja dengan membunuh saya secara perlahan" Vahren bercerita panjang lebar dengan linangan air mata.


Tidak jauh beda dari keadaan Vahren, sang ayahpun menangis mendengar cerita penderitaan anak anaknya selama ini. Penyesalan dalam dirinya semakin membumbung.


"Tidak nak, ayah tidak akan menyakitinya lagi, ayah janji. Ayah akan menebus semuanya. Ayah menyayangi kalian dari dulu sampai sekarang. Maafkan ayah karena telah menelantarkan kalian. Maafkan ayah yang saat itu gelap mata sehingga menuruti perintah ibumu untuk mengikutinya dan meninggalkan kalian. Ayah menyesal. Ayah selalu mencari keberadaan kalian tapi baru sekarang ayah menemukan kalian. Ayah mohon beri ayah kesempatan untuk menebus semuanya. Ayah sudah tua nak, ayah ingin menghabiskan masa tua ayah bersama kalian" jelas sang ayah dengan air mata yang terus mengalir.


"Bagaimana dengan ibu?, apa beliau setuju?, walaupun beliau ibu kandung kami tetapi beliau sangat membenci kami" tanya Vahren.


"Ayah sudah tidak ada hubungan dengan ibumu, dia pergi meninggalkan ayah dan menikah dengan rekan bisnis ayah yang lebih kaya dari ayah" jelas ayah yang sudah mulai tenang.


Vahren sangat terkejut mendengar penuturan ayahnya. Dia heran mengapa ibunya sangat tergila gila oleh harta hingga menumbalkan keluarga.


Setelah berfikir lama akhirnya Vahren memutuskan memaafkan ayahnya dan memberi kesempatan kepada ayahnya. Dia fikir mungkin ini bisa membuat adiknya bahagia. Tidak ada hal yang paling membahagiakan untuk Vahren selain melihat adiknya bahagia.


----------------------


APARTEMENT


Vahren memasuki apartement dan langsung duduk di ruang TV.


"Udah pulang kak?, kok lama banget olah raganya, sampai siang gini?" tanya Zya.


"Iya tadi muter muter dulu pengen liat liat sekitar sini, kan udah lama nggak pernah keliling" jawab Vahren berbohong.


Sebenernya Vahren nggak sepenuhnya bohong sih, dia tadi memang muter muter biar pas pulang nggak kelihatan habis nangis.


Vahren menjawab dengan mengacungkan jempolnya.


Saat Zya memasuki kamar, bertepatan dengan hp nya berbunyi tanda ada panggilan masuk.


"Halo" sapa Zya.


"Halo sayang, lagi apa?" tanya El di seberang sana.


"Lagi rebahan" jawab Zya.


"Aku main kerumah kamu ya.. kangen yang" ucap El.


"Terserah kamu aja sih" jawab Zya. Zya emang cuek orangnya.


"Ada orang kan dirumah?, takutnya timbul fitnah"


"Ada kok. Ada kakak sama adik aku"


"Oke deh... aku siap siap dulu bye sayang" ucap El.


"Bye"


Dan panggilan berakhir.