
----------------------
KEDIAMAN EL
Setelah mengakhiri teleponnya dengan Zya, El segera bersiap siap dan bergegas pergi. Tepat di tangga terakhir El berpapasan dengan mamanya.
"Mau kemana kamu tumben udah rapi, biasanya kalo libur kucel" sapa sang mama.
"Mau apel dong mam, nyamperin calon mantu mama biar cepet nikah aku" jawab El.
"Yakin tuh ceweknya mau?, entar ditolak lagi" timpal sang papa yang tiba tiba datang.
"Mama sama papa gitu ah, ga ngedukung anaknya banget" sahut El cemberut.
"Gausah sok imut gitu mukanya jatohnya amit amit" ucap mama.
"Gausah ditekuk mukanya, tambah jelek tuh, papa nggak jadi punya mantu entar pada kabur semua" goda papa.
"El berangkat ajalah, mama sama papa jahat sih" El langsung melangkah keluar diiringi derai tawa kedua orang tuanya.
-----------------------------
APARTEMENT ZYA
Zya bingung bagaimana caranya memberitahu sang kakak kalau yang akan datang adalah pacarnya, pasalnya Zya belum bercerita apapun pada kakaknya.
Zya duduk di sebelah kakaknya yang sedang menonton tv dengan gelisah.
"Kamu kenapa sih princess?" tanya Vahren yang menyadari kegelisahan adiknya.
"Em.....emm...aku mau ngomong" jawab Zya memilih kata yang tepat.
"Iya...ngomong apa?" jawab Vahren menatap Zya. Yang ditatap malah semakin gugup.
"Kakak tau boss aku kan?" tanya Zya.
"Iya.. tau orang tiap hari kamu ceritain" jawab El.
"Sebenernya.. aku tuh udah pacaran sama dia" Zya menggigit bibir bawahnya.
"WHATTT.... yang bener kamu?, kapan?, kok nggak cerita ke kakak" tanya Vahren beruntun.
"Ini juga cerita, baru beberapa hari" jawab Zya.
"Teruss?" tanya Vahren.
"Apanya yang terus?, yaudah gitu pokoknya" jawab Zya.
Seketika Vahren memeluk adiknya.
"Princess kakak udah dewasa dong... udah tau cinta cintaan, Jadi gadis yang baik ya nak. Dan yang perlu kamu ingat sampai kapanpun sampai kamu punya cucu sekalipun kamu tetep princess kecil kakak. Kakak bahagia kalau kamu bahagia princess" ucap Vahren.
Yah...ini lah tempat berlindung Zya selama ini, dalam pelukan kakaknya. Dia adalah pahlawan Zya, sandaran Zya, bahkan yang Zya tau dirinya lah prioritas Vahren. Betapa beruntungnya dia dianugrahi malaikat tak bersayap dalam wujud kakaknya.
Tiba tiba seseorang ikut berpelukan.
"Kalian melupakanku" ucap Eno cemberut.
"Ululu...kakak punya bayi besar" sahut Zya.
"Kakak udah ngerasain bagaimana rasanya punya anak cewek, sekarang kakak bakal ngerasain bagaimana nakalnya anak cowok bahkan sebelum kakak menikah" ucap Vahren terkekeh.
Saudara nggak harus ada ikatan darah kan.(kalo kalian ga setuju sama pernyataan ini gapapa hehe)
"Oh iya lupa... dia mau kesini kak" ucap Zya mengingat apa tujuan awalnya.
"Yaudah kakak izinin, tapi kakak mau pergi ini. Eno di rumah aja ya" kata Vahren.
"Siap kapten" jawab Eno.
"Oke. kakak pergi dulu" pamit Vahren.
Tak lama setelah kepergian Vahren ada orang yang mengetuk pintu apartement Zya. Karena Zya sedang kebelakang jadi Eno yang membuka.
"Maaf om nggak nerima permintaan sumbangan" ucap Eno asal setelah membuka pintu.
"Hah...ini kediaman Zya bukan?, dan kamu yang waktu itu kan?" tanya El.
"Ya betul, berarti om nggak pikun" jawab Eno.
"Ada apa sih dek?" tanya Zya yang berjalan dari dalam.
"Ini si om minta sumbangan" jawab Eno enteng.
"Sembarangan kamu" jawab Zya terkekeh setelah melihat siapa yang datang.
"Ayo masuk" aja Zya.
El duduk di ruang tamu sedangkan Eno memilih masuk kamar dan Zya membuatkan minum.
"Mana kakak kamu yang?" tanya El saat Zya kembali.
"Udah pergi tadi sebelum kamu kesini" jawab Zya.
El merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Zya bantal.
"Kangen kamu aku tuh" ucap El.
"Aduh manjanya... melebihi Eno malah" ucap Zya.
"Adik kamu absurd yang" kata El.
"Hahaha itu belum seberapa, kakak aku lebih parah absurdnya" kata Zya sambil mengelus kepala El.
"Mau jalan apa di rumah aja yang?" tanya El.
"Di rumah aja lah, males keluar aku" jawab Zya.
"Sayang.. aku laper" kata El.
"Yaudah aku masak dulu ya" kata Zya.
El bangkit, mendudukkan dirinya di sebelah Zya lalu memeluk Zya.
"Nanti aja masih kangen pengen peluk" ucap El.
"Kamu ini ada ada aja, kalo dilihat Eno malu" jawab Zya.
El tidak menghiraukan ucapan Zya sedikitpun