Ice Boss

Ice Boss
7



Udara terasa dingin menusuk tulang.


Burung burung masih berada di sarang.


Matahari belum keluar dari persembunyiannya di ufuk timur.


Langitpun masih menampakkan warna gelapnya, tapi seorang gadis sudah menjalankan rutinitas paginya.


Zya sudah terbiasa dengan semua itu. Fajar adalah awal dari hari barunya. Setelah membersihkan seluruh isi rumah dari debu dia melanjutkan kegiatannya dengan memasak sarapan.


Setelah satu jam di dapur akhirnya sarapan sudah terhidang di meja makan dan peralatan dapur bekas masak pun sudah kembali bersih.


Zya memasuki kamar Eno dan sang empunya kamar ternyata masih bergelung di dalam selimut.


"Dek...bangun yok.. kan hari ini hari pertama kamu masuk sekolah" ucap Zya menarik selimut Eno.


"Engh..Iya nanti bangun" jawab Eno masih menutup mata.


"Mau bangun sekarang apa kakak siram pangeran tidur"


"Iya kakak.. ini Eno bangun" sahut Eno sambil bangkit menuju kamar mandi tapi matanya masih merem.


'Ada ada aja' batin Zya keluar menuju kamarnya untuk bersiap siap ke kantor.


Saat Zya sampai di meja makan ternyata Eno dan Vahren sudah menunggunya.


Setelah sarapan mereka menjalankan aktifitas masing masing. Zya ke kantor, Eno sekolah, dan Vahren bertemu klien.


---------------------


AnggaraCorp


Sesampainya di meja kerjanya Zya segera menghidupkan komputer dan melanjutkan pekerjaan yang kemarin sempat tertunda.


Tidak lama kemudian ada suara langkah dan ternyata yang datang adalah pak boss gila.


"Zya keruangan saya sekarang" kata El berlalu menuju ruangannya.


Tanpa menjawab Zya bergegas mengikuti El menuju ruangannya.


"Duduklah di sana" tunjuk El pada sofa di ruangannya.


Zya menuruti ucapan El. Setelah menaruh tas di meja kerjanya, El menghampiri Zya membawa sebuah paper bag.


El duduk di sebelah Zya setelah meletakkan paper bag yang dibawanya di atas meja dan dengan sekali tarikan Zya sudah berada di pangkuan El.


"Pak..." ucap Zya hendak protes.


"Sssttt..." El meletakkan jarinya di bibir Zya.


"Kamu sudah makan?" tanya El.


"Su..Sudah" jawab Zya gugup.


"Hahh....kok" cengo Zya.


"Ayolah sayang..." ucap El memelas.


"Oke tapi biarkan saya duduk sendiri" pasrah Zya.


"Nggak.... tetep kayak gini, aku mau peluk kamu" balas El mengeratkan pelukannya di pinggang Zya.


"Kalau ada yang lihat gimana, nanti aku digosipin jadi penggoda gimana?" tanya Zya.


"Nggak akan sayangku, kamu itu calon istriku, aku malah seneng kalau kamu goda" cengir El.


"Ngaku ngaku aja, Gila kamu tuh emang" Sewot Zya.


"Iya...gila gara gara kamu" jawab El


"Udah cepetan Aaaaa.... jangan ngomong mulu" Zya menyodorkan sesendok nasi goreng bekal El.


Entahlah tapi setiap di dekat El, Za seperti merasakan kenyamanan walaupun sering bertengkar. Tapi Zya tidak terlalu berharap banyak dari rasa itu, toh dia hanya bawahannya.


"Nanti pulang kantor ikut aku ya" ajak El di sela sela kegiatan makannya.


"Kemana?" tanya Zya.


"Ada deh pokoknya" jawab El sok misterius.


"Gak mau ah, mau pulang aja capek" balas Zya.


"Kok gitu sih... ayolah sayang" bujuk El.


"Bapak CEO yang terhormat kenapasih kamu manggil aku sayang mulu, kita kan nggak ada apa apa nanti kalau di denger orang bikin salah paham" kesal Zya.


"Kan aku udah bilang, aku maunya lebih sayang. Aku mau kamu jadi istri aku" jawab El.


"Ih...gila kamu mah" ketus Zya yang hanya ditanggapi senyuman oleh El.


"Udah selesaikan makannya, kalau gitu aku mau balik kerja" ketus Zya.


"Nanti aja, aku tuh masih kangen sama kamu" jawab El.


"Kamu kenapa sih kemarin nolak aku ajak nikah, Kamu udah punya calon atau kamu nggak suka sama aku?" tanya El.


Zya berfikir sejenak mungkin El memang harus tau alasan mengapa ia menolak diajak menikah.


"Bukan begitu, dulu aku sama seperti orang kebanyaan tapi karena suatu kejadian aku jadi takut menjalin hubungan, aku takut bakal disakitin, aku takut bakal di khianati, dan aku takut bakal di tinggalin, sedangkan menurtku nikah itu hal yang sakral, aku pengen cuma nikah sekali seumur hidup" jelas Zya.


"Aku janji aku nggak bakal kayak gitu sayang, aku beneran serius sama kamu, bahkan kamu tau sendiri bertahun tahun aku nungguin kamu, kamu harus percaya sama aku, kamu mau kan mencoba mengenalku?" tanya El lembut sambil memeluk Zya dari belakang.


Setelah berfikir beberapa saat akhirnya Zya menjawab dengan anggukan.


"Makasih sayang" ucap El bahagia mengeratkan pelukannya.