
Aku menelan ludah. Kalau boleh memilih, aku lebih baik mundur ke zaman Dinasti Joseon di Korea. Tahun 1800-an di Indonesian itu berat. Namun aku belum bisa kemana-mana, maju ke 2023 atau lebih mundur lagi.
“Kamu sudah siap masuk keraton, Kirana?” tanya Mas Yudha.
“Oh, jelas tidak siap, dan tidak akan pernah siap,” tukasku. “Kenapa aku harus jadi mata-mata?”
“Karena cuma kamu yang bisa masuk ke sana tanpa terlihat mencurigakan,” jelas Mas Yudha. ”Bukankah kemarin kamu mengatakan sudah siap menjalankan tugas? Kenapa sekarang berubah pikiran?”
“Sepertinya memang ada yang salah denganmu, Kirana,” ujar Jantaka. “Apa kamu sudah berhenti mengagumi Pangeran Natawijaya? Kamu mau menerima pekerjaan ini karena ingin menjadi dayang-dayangnya kan?”
Aku melotot. Jadi aku penggemar Pangeran Natawijaya? Berarti pangeran ini tampan. Apa aku iyakan saja tugas dari Mas Yudha?
“Jumanta biar Jantaka yang urus,” kata Mas Yudha. “Kalau dia melihatmu, dia pasti akan mendekatimu lagi.”
Aku menarik napas panjang. Baiklah, aku perlu tahu siapa Jumanta ini, dan juga Pangeran Natawijaya yang konon aku kagumi. Masa aku tidak tahu wajah mantanku? Kalau aku tidak sengaja bertemu dengannya bagaimana? Aku juga harus tahu wajah idolaku di tahun 1809.
“Baiklah. Beri tahu aku harus apa,” kataku.
“Aku akan menemanimu ke kadipaten, Jantaka akan menemui para pekerja dan mengawasi gerak-gerik Jumanta,” jelas Mas Yudha.
“Jumanta korupsi kali,” cetusku.
“Apa maksudmu?” tanya Jantaka.
“Korupsi,” aku menekankan. “Bisa jadi dialah yang mengambil hak para pekerja. Bukankah dia yang ditugaskan mengawasi proyek oleh Belanda?”
“Mungkinkah seperti itu?” Jantaka mengerutkan kening. “Daendels sangat kejam. Aku rasa Jumanta pun hanya menerima upah untuk dirinya. Tujuan awal Daendels memang ingin memanfaatkan orang-orang pribumi. Dia memaksa dan mengancam demi pembangunan jalan hingga menelan banyak nyawa. Rakyat tidak bisa apa-apa selain patuh.”
“Padahal waktunya cukup singkat di Indonesia,” gumamku.
“Apa katamu?” tanya Jantaka.
“Ah tidak,” aku menggeleng. Aku hampir keceplosan.
“Kau tahu sesuatu, Kirana?” tanya Mas Yudha.
“Tidak, tidak,” aku mengelak. “Firasatku Daendels tidak akan lama di tanah Jawa. Itulah sebabnya dia mendorong proyek supaya cepat rampung.”
“Maksudmu, dia hanya sebentar ditugaskan di sini?”
“Mungkin saja.”
Mas Yudha tampak memikirkan kata-kataku. Ingin rasanya aku tersenyum geli melihatnya. Mas Yudha di tahun 1809 jauh lebih baik dibanding Mas Yudha di tahun 2023. Setidaknya Mas Yudha versi jadul tidak sok tahu dan mau mendengar pendapatku.
Ya Tuhan, apa yang membawaku ke zaman ini? Bagaimana caranya aku bisa kembali ke 2023? Dan bisakah aku membawa Mas Yudha versi jadul ke masa depan dan menukarnya dengan Mas Yudha versi 2023? Kakakku itu perlu tahu susahnya zaman kerja paksa!
***
Aku dan Mas Yudha pergi ke Kadipaten Sukaraja dengan menumpang gerobak bahan makanan yang akan dikirim ke keraton. Aku masih belum tahu dimana persisnya aku sekarang berada. Yang jelas bukan Batavia karena aku tidak melihat trem.
Perjalanan ke pusat kota memakan waktu tiga jam. Itu artinya tempat Jantaka tadi tidak terlalu jauh dari pusat kota, mengingat kami menaiki kereta yang ditarik dengan kuda, mirip dengan model delman di masa depan. Kami melewati persawahan dan pemukiman warga sampai akhirnya memasuki gapura kadipaten.
“Wow, keren banget,” gumamku. Ini seperti yanh kulihat di situs-situs foto lawas. Rasanya seperti berada di dalam film kolosal.
“Rasanya ini bukan pertama kali kamu ke kadipaten,” kata Mas Yudha. “Namun kamu terkesan seolah-olah ini pengalaman pertamamu.”
“Ah, aku hanya bersemangat,” sahutku.
Kami turun di depan pondok dekat pasar. Dari kejauhan kami bisa melihat gerbang keraton yang dijaga ketat. Pondok ini sendiri merupakan milik seorang tabib yang menjadi guru Mas Yudha. Setidaknya begitulah yang kutangkap dari kata-kata Mas Yudha.
“Kamu sudah tak sabar bertemu Kinasih kan?” tanya Mas Yudha.
Aduh, siapa pula Kinasih ini? Apakah dia temanku? Putri dari sang tabib?
Kami baru saja akan mengetuk pintu saat papan kayu itu dibuka dari dalam. Aku melihat sosok wanita cantik di baliknya. Senyumnya manis dan tulus, rambutnya digelung ke atas, membuat lehernya yang tampak jenjang. Kain putih gading melilit tubuhnya. Auranya seperti tumpah keluar.
Aku terpana. Jadi ini sahabatku?
“Kirana? Kenapa bengong?” tanya Yasmin, ah salah, ini pasti Kinasih, putri sang tabib.
Bahkan suaranya pun berubah lebih lembut. Sepertinya Yasmin telah menyelamatkan dunia di kehidupan sebelumnya. Dia tampak sempurna di versi jadul ini.
“Kau masih memikirkan Jumanta?” tanya Kinasih lagi.
Aish, Jumanta lagi. Siapa sih si brengsek ini? Aku menggeleng keras.
“Tidak! Masa bodoh dengan Jumanta!” kataku ketus.
“Wah, ada apa ini Mas?” tanya Kinasih ke Mas Yudha. “Terakhir kali Kirana kemari, dia menangis sampai susah berhenti karena Jumanta bermain dengan perempuan lain. Rupanya kamu sudah sadar betul Kirana, kalau Jumanta bukan pemuda baik-baik.”
WHAT?!
Jadi di masa lalu pun aku diselingkuhi? Hidup kok gini amat ya? Sepertinya aku menerima kutukan jadi korban selingkuh tujuh turunan.
“Kenapa sekarang kamu kelihatan kaget, Kirana?” tanya Kinasih. “Kamu baik-baik saja? Apa kamu bertemu Jumanta lagi?”
Aku menggeleng lagi. “Aku cuma gugup karena harus menjalankan misi.”
Kinasih tersenyum. “Ada aku di sini. Pegawai keraton diizinkan keluar saat jam-jam tertentu. Kita bisa bertemu di sini, tidak akan jadi masalah kau berkunjung ke rumah tabib.”
Aku mengangguk.
“Mari kita bicara lebih pelan,” ajak Mas Yudha. “Dimana Ki Sura?”
Kinasih menuntun kami ke ruang tengah yang lebih lapang. “Ayah pergi ke Mulyosari, banyak pekerja yang butuh pengobatan. Kerja paksa itu benar-benar keterlaluan.”
Kami duduk melingkar di atas tikar dari daun kelapa.
“Apakah mereka makan dengan baik?” tanyaku.
“Kau lihat sendiri, Kirana. Mereka hanya makan seadanya. Bukankah Jumanta sering mengajakmu menemaninya ke proyek jalan itu?” tukas Mas Yudha.
Argh, Jumanta lagi. Aku jadi kesal lagi.
“Mungkin maksud Kirana, setelah dia tidak datang lagi, apakah ada orang lain yang peduli dengan makanan mereka? Dulu Kirana sering membagikan makan siang, meski gara-gara itu dia ribut dengan Jumanta,” jelas Kinasih.
“Sudah tahu sifatnya seperti itu, kenapa masih mau dengan si brengsek itu,” gerutu Mas Yudha.
Nah, ini baru Mas Yudha. Suka menggerutu saat dipikirnya aku salah milih cowok.
“Anggap saja waktu itu aku dibutakan oleh cinta,” kataku cuek.
“Jangan sampai kau dibutakan lagi oleh cinta. Tugasmu di dalam sana cukup berat,” Mas Yudha mengingatkan sambil menunjuk arah keraton. “Jangan sampai lengah karena ketampanan pangeran. Kau harus cari tahu, apa rencana keraton.”
Aku mengangguk. Jika yang kuselidiki adalah seorang pangeran, itu artinya dia keturunan langsung dari raja dan memerintah kadipaten. Dia sudah mendapatkan gelar dan jabatan, beda dengan Raden yang belum diberi jabatan untuk memerintah.
Aku mencoba mengingat-ingat siapa Pangeran Natawijaya ini. Aku pernah membacanya, tapi beliau tidak sepopuler Paku Alam.
“Kau akan datang ke seleksi pegawai keraton besok pagi, menginaplah di sini semalam,” kata Kinasih. “Aku akan mengajarimu aturan-aturan keraton lebih dulu.”
Aku tidak punya pilihan lain. Aku sudah telanjur ke kadipaten. Aku juga ingin tahu rupa pangeran yang biasanya kulihat di buku sejarah. Benarkah sosoknya seperti yang digambarkan buku sejarah?
“Ah, satu hal yang harus kamu ingat, Kirana,” kata Kinasih lagi. “Kau mudah jatuh cinta, ada satu orang yang harus kau waspadai. Dia sepupu Pangeran Natawijaya yang juga putra dari bupati Mulyosari, namanya Raden Ananta. Dia senang main perempuan dan sering berada di dekat pangeran, jangan sampai dia melihatmu.”
Mas Yudha tersenyum. “Tidak apa-apa, kalau Raden Ananta mendekatimu, gali informasi sebanyak mungkin. Dia memang acuh tak acuh, tetapi dia pasti mendengar rencana ayahnya,” katanya.
“Jangan gila, Mas,” cegah Kirana. “Terlalu berbahaya mendekati Raden Ananta. Dia senang membawa gadis yang disukainya ke kediamannya di Mulyosari. Kau mau menyerahkan adikmu pada laki-laki seperti itu?”
“Bagaimana menurutmu, Kirana? Kemampuan beladirimu sudah semakin baik bukan?” tanya Mas Yudha.
Heh? Beladiri? Aku tidak pernah belajar beladiri. Ya Tuhan, bagaimana ini? Bolehkah aku kembali ke tahun 2023 sekarang juga?