
Tahu nggak, stereotip apa yang paling aku benci ketika aku memutuskan kuliah di Jurusan Ilmu Sejarah? Anak Ilmu Sejarah katanya susah move on. Mereka selalu mengingat-ingat masa lalu. Kalau patah hati pasti akan menyusahkan.
Tadinya aku tidak percaya dengan stereotip itu. Susah move on? Aku pernah patah hati sebelumnya dan aku baik-baik saja setelah menangis satu minggu. Setelah itu hidupku berjalan seperti biasa. Aku stalking cowok-cowok tampan lagi di media sosial. Tak sengaja berpapasan dengan mantan pun aku tidak peduli. Apanya yang susah move on?
Well, itu dulu. Itu dulu sebelum aku mengenal Jevan, cowok yang aku pacari selama satu tahun terakhir dan telah selingkuh dua kali. Aku sempat memaafkannya satu kali, saat dia ketahuan selingkuh dengan Mila, seorang sexy dancer. Okay, aku memang tolol karena sudah memberinya kesempatan. Namun siapa yang tega melihat Jevan menangis sambil minta maaf dan berlutut di hadapanku?
Aku pikir dia benar-benar menyesal. Aku salah. Jevan kembali mengulangi hal yang sama. Dia kembali berhubungan dengan sexy dancer lain, Vanya. Dia berhasil membuatku marah, kecewa dan sedih di saat yang bersamaan. Tidak ada jalan lain, aku minta putus. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan memaafkannya.
Untuk kesekian kalinya aku menangis di depan sahabatku, Junot, yang selalu kudatangi ketika aku patah hati. Aku mendengarnya menghembuskan napas berat. Dia selalu begitu tiap kali aku memberi kabar putus.
“Kali ini siapa orangnya?” tanya Junot. Dia bahkan tidak pernah tahu nama pacarku. Dia tidak peduli karena tahu suatu saat aku akan menangis dan menyebut nama orang yang membuatku patah hati.
“Jevan,” jawabku sambil menyedot ingus. “Selingkuh.”
“Ck,” Junot berdecak. “Kenapa sih pacaran sama orang yang doyan selingkuh? Terakhir sama siapa itu, Herman ya? Dia selingkuh juga kan?”
“Hendra,” kataku mengoreksi. “Gue mana tahu bakal diselingkuhi lagi, Jun!”
“Makanya pinteran dikit.”
“Ish, hibur gue kek!” protesku. “Gue lagi patah hati berat, tahu!”
“Kirana, gue harus menghibur lo kayak gimana? Gue yakin seminggu lagi lo bakal baik-baik saja. Kan biasanya begitu.”
“Tapi ini nggak biasa, Jun! Gue bener-bener kecewa Jevan selingkuh.” Aku mengusap air mataku dengan kasar. “Tapi gue sebenarnya masih pengen pacaran sama dia, Jun. Dia sweet banget ke gue!”
“Sinting!”
“Jun!” aku memukul lengan Junot yang terlihat tidak peduli dengan ceritaku. “Di antara semua mantan gue, Jevan yang paling sweet. Dia tahu cara threat gue dengan baik. Jadi ini patah hati yang berat banget buat gue! Dia selingkuh dua kali, sama sexy dancer pula!” aku menangis lagi sejadi-jadinya.
“Ya makanya udah bener lo putus sama dia. Lo tinggal butuh waktu untuk reset otak sama hati lo, gue yakin deh seminggu juga cukup. Lagian laki hobi selingkuh begitu apa bagusnya sih. Lo bisa cari cowok lain, come on!”
Aku menggeleng. “Nggak mau. Gue trauma diselingkuhi. Gue benci cowok yang inisialnya J! Hobi selingkuh!”
Junot melotot. “Heh, sembarangan! Inisial gue juga J!”
“Ya kecuali elo!”
Junot geleng-geleng kepala. “Lo labil banget sih, Na? Tadi bilang pengen pacaran lagi sama Jevan, sekarang bilang benci cowok yang inisialnya J. Itu idola lo di kampus namanya Javier kan, inisialnya J juga. Lo bahkan selalu nonton dia main basket hampir tiap sore. Mau lo apa sebenarnya?”
“Gue juga bingung.” Aku menyedot ingus lagi. “Tisu dong, Jun! Ingus gue banyak ini!”
“Aish, jorok banget sih?” Junot menyodorkan tisu yang ada di dekatnya. Aku melihat Mbak Siti, ART Junot mengintip dari balik dinding ruang tamu dengan tampang prihatin. “Lo mau minum nggak? Mumpung ada Mbak Siti noh, biar diambilin.”
Aku mengangguk. “Boleh.”
“Mbak Siti, tolong ya, bikin minuman yang manis, hidup orang ini udah pahit banget soalnya,” kata Junot ke Mbak Siti yang kaget karena ketahuan ngintip. Dia pun hanya mengangguk dan langsung ke belakang untuk menyiapkan minuman.
“Lo nggak harus ngapa-ngapain, lo belajar aja yang bener, bukannya sejarah Indonesia lebih menarik buat lo dibanding sejarah percintaan lo?”
“Asem lo!” aku menonjok lengan Junot lagi. Aku lalu mencoba menenangkan diri, berusaha untuk tidak mengingat-ingat kenangan manis bersama Jevan. Rasanya jadi pahit ketika tahu kenangan itu tidak hanya kurasakan sendiri, tetapi Jevan juga membaginya bersama orang lain.
Usahaku untuk tenang gagal. Aku menangis lagi, makin keras. Junot lagi-lagi menghela napas dan geleng-geleng kepala, tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi manusia yang tidak kapok-kapok patah hati ini.
Esok harinya aku ke kampus dengan hati yang pura-pura tegar. Padahal aku masih sangat tidak bisa terima Jevan selingkuh dengan sexy dancer. Momen manis yang harusnya secara eksklusif aku miliki bersama Jevan, harus kubagi dengan cewek itu. Ish!
Aku berjalan dengan langkah cepat sebelum orang-orang di sekitarku sadar kalau mataku sembap. Sepertinya aku terlalu overthinking. Orang-orang mungkin tidak sebegitu peduli dengan mataku yang sembap. Aku hanya Kirana, anak Jurusan Ilmu Sejarah yang kurang terkenal.
Aku berbelok dengan cepat di koridor. Namun sial aku tak sengaja menabrak seseorang. Dengan kepala tertunduk aku minta maaf dan ingin buru-buru pergi. Sayangnya, orang yang tidak sengaja kutabrak itu justru menghalangi jalanku.
“Eit, mau kemana?”
Aku otomatis mendongak. Aku melihat sosok tinggi menjulang yang sedang menatapku penasaran. Aku mengenalnya sebagai Juan, cowok sok asyik yang hobi flirting sana-sini. Lagi-lagi cowok inisial J!
“Eh, abis nangis ya? Kok matanya sembap gitu?” tanya Juan.
“Nggak usah kepo,” tukasku judes.
“Jangan galak-galak gitu. Lo nangis kenapa? Baru putus?” desak Juan lagi.
Ya ampun, anak ini sok akrab banget sih. Padahal kami nggak saling kenal lho, aku cuma tahu namanya Juan karena dia memang termasuk mahasiswa populer.
“Bisa nggak sih, nggak usah kepo sama urusan orang?” kataku. “Minggir gih.”
“Nggak mau.” Juan menggeleng. “Kasih tahu dulu.”
“Apanya?”
“Nama. Kasih tahu dulu siapa nama lo.”
“Ogah.” Aku berusaha mengambil jalan lain untuk menghindari Juan. Namun langkah kakinya yang panjang berhasil menghalangiku lagi. “MINGGIR! GUE LAGI BENCI BANGET SAMA COWOK INISIAL J!!”
Tanpa sengaja aku berteriak dan orang-orang di sekitarku mulai memusatkan perhatian mereka kepada kami. Ah, sial.
Juan tersenyum. “Jadi lo udah tahu nama gue?” Juan sepertinya tidak menduga aku tahu namanya. “Oh, inisialnya J ya, yang bikin mata lo sembap kayak gini?”
“Tolong minggirlah, gue lagi males, sumpah!” Aku mendorong pelan badan Juan dan membuatnya minggir, lalu kembali melangkah cepat. Kenapa sih, pagi-pagi sudah bikin repot? Ada apa dengan cowok-cowok inisial J ini? Kenapa nyebelin banget?
Kali ini Juan tidak menghalangiku. Dia hanya berdiri sembari tersenyum melihatku pergi. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Sebaiknya aku tidak perlu repot-repot mencari tahu isi kepalanya.